TITISAN

TITISAN
2 ORANG TERKAPAR


__ADS_3

3“Pergi dari sini! Tinggalkan tempat ini! Jangan tempati ini lagi ! Jika tidak, rasakan akibatnya!”


Suara sember dan besar itu menggema dan terngiang- ngiang jelas di telinga ustad Jalal yang sudah dalam kondisi diujung kesadarannya.


Sebelum pandangannya kabur dan menjadi gelap gulita, ustad Jalal masih dapat melihat sosok Genderuwo di depannya perlahan memudar menjadi siluet bayangan transparan lalu hilang.


Sebelum sosok genderuwo itu menghilang sepenuhnya, ustad Jalal sudah terlebih dahulu hilang keaadarannya. Ustad Jalal pinsan tergeletak dibawah saka masjid sisi serambi kiri masjid.


Sementara itu kelima guru pembimbing yang terdiri dari ustad dan ustazah, yang sebelumnya berjalan duluan dan menunggu ustad Jalal di luar masjid, terheran- heran gelisah.


“Ustad Jalal kok belum muncul juga,” ujar ustad Sofyan.


“Iya, nggak biasanya lama banget nutup jendela pintu masjidnya,” timpal ustazah Faridah.


“Coba susul aja ustad,” sela ustazah lainnya.


“Ya sudah saya susul dulu,” ujar ustad Sofyan.


Ustad Jalal yang ditunggu- tunggunya tak juga kunjung muncul, akhirnya ustad Sofyan pun menyusulnya.


Ustad Soyan sedikit keheranan melihat pintu depan masjid sudah tertutup tetapi ustad Jalal tak terlihat disana. Ia pun melangkah ke samping kanan luar masjid untuk memeriksa pintu samping dan jendela.


“Pintu dan jendela ini juga sudah di tutup, kemana ustad Jalal?” batin ustad Sofyan sambil memeriksa serambi samping.


Setelah memperhatikan sekitar serambi samping tidak menemukan ustad Jalal, Ustad Sofyan pun balik badan berjalan kembali berniat untuk melihat ke bagian sisi kiri masjid.


“Lampu- lampunya sih sudah dimatikan semua. Ah.. pasti ada di sebelah sini,” gumamnya.


Lampu- lampu yang ada di masjid sudah semuanya dimatikan, sehingga suasana di luar masjid pun nampak temaram hanya ada bias cahaya dari lampu- lampu dari luar masjid.


“Ustad... ustad Jalal...” panggil ustad Sofyan sembari melangkah ke sisi kiri masjid.


Namun tidak ada sahutan dari ustad Jalal, ustad Sofyan merasa keheranan memperhatikan kesenyapan masjid dan tidak ada tanda- tanda adanya ustad Jalal.


“Meski seringkali berbuat iseng, rasanya nggk mungkin ustad Jalal, iseng ngerjain pergi tanpa memberitahukan kita,” gumam ustad Sofyan.


DI sudut tembok luar masjid, ustad Sofyan menghentikan langkahnya. Ia berdiri menghada ke depan mememeriksa keadaan sisi kiri serambi masjid dari tempat itu berharap menemukan ustad Jalal ada disana.


“Kok Nggak ada ya?” batin ustad Sofyan melihat suasana serambi samping yang temaram.


Beberapa saat lamanya ustad Sofyan mencari- cari ustad Jalal, namun tak ada seorang pun di depannya. Ia pun segera membalikkan badannya hendak kembali.


Bersamaan membalikkan badan, sudut matanya menangkap samar- samar seonggok bayang- bayang hitam di balik saka masjid.

__ADS_1


Ustad Sofyan mengurungkan balik badannya, matanya kembali tertuju memperhatikan seonghok bayangan hitam diatas lantai dibawah saka masjid.


“Itu apa?!” pekik ustad Sofyan ragu- ragu.


Sekian detik ustad Sofyan memperhatikan bayangan hitam itu, samar- samar akhirnya ia bisa melihat dengan jelas seonggok bayangan hitam yang tergeletak diatas lantai itu adalah sebuah kepala.


Pandangannya hanya menangkap bagian kepala saja yang nongol dibalik saka masjid. Ustad Sofyan termangu sejenak, ia ragu- ragu untuk mendekatinya.


Setelah pandangannya memastikan seonggok bayangan hitam itu benar- bemar sebuah kepala, akhirnya dia pun memberanikan diri mendekatinya.


“Bismillahirohmaanirohiim, lah haula wala kuwwata illa billah!”


Ustad Sofyan mengeraskan bacaannya untuk menguatkan tekadnya menghampiri sosok bayangan hitam yang menyerupai kepala itu.


Selangkah...


Dua langkah...


Tiga langkah...


Empat langkah...


Lima langkah...


Tujuh langkah...


“Astagfirullahal adziim!” pekik ustad Sofyan.


“Tolooong.... tolooong.... toloooong...!” teriak ustad Sofyan histeris.


UStad Sofyan berdiri terpaku 3 langkah dengan posisi ustad Jalal yang tergeletak. Tubuhnya sedikit gemetaran melihat ustad Jalal tergeletak tak bergerak didepannya.


Tak lama setelah ustad Sofyan berteriak minta tolong, datang rekan- rekan ustad dan ustazah yang tadi menunggunya di depan masjid.


“Astagfirullahal aziim!”


“Masya Allah!”


“Ustad Jalal!”


Seruan pekikan saling menimpali dari mulut utad dan ustazah begitu sampai di tempat ustad Sofyan termangu.


“Ayo, ayo bantu ustad Jalal!” seru Ustad Azam, setelah berjongkok disisi ustad Jalal yang tergeletak pinsan.

__ADS_1


......................


Di ruang tengah rumah Tahfiz, dua orang terbaring berjajar beralaskan kanbal hijau. Kedua orang itu tak lain adalah Ki Wayan dan ustad Jalal.


Kondisi ustad Jalal sebelumnya sudah siuman setelah berhasil disadarkan ustad Azam sebelum dibawa ke dalam rumah induk.


Namun untuk saat ini rekan- rekannya belum bisa mengajaknya berbicara karena melihat kondisi ustad Jalal yang masih lemah dan shok berat. Mereka berinisiatif membiarkan ustad Jalal untuk beristirahat.


Tampak jelas pada raut wajahnya masih menggurat bekas ketakutan yang teramat sangat. Sehingga rekan- rekannya tak tega untuk menanyai penyebab ustad Jalal pinsan.


“Ustad apa sebaiknya pak haji diberitahu tentang kejadian ini?” ucap ustad Shodik berusia sebaya dengan ustad Jalal 25 tahunan.


“Mmm, jangan dulu lah. Kasihan pak haji, mungkin beliau baru sampai di rumahnya. Kasihan kalau harus balik lagi kesini,” sahut ustad Azam setelah berfikir sejenak.


“Iya ustad, selain itu kondisi ustad Jalal juga sudah siuman dan semakin membaik,” timpal ustad ikhwan.


“Kenapa dengan ustad Jalal ustad?” sela Udin yang nampak bingung.


Udin yang sedari awal kedatangan para ustad yang membawa ustad Jalal kedalam rumah sama sekali belum mengetahui penyebabnya terlihat planga- plongo.


Salah satu ustad pun menceritakan kejadian pinsannya Ustad Jalal, itupun mereka menceritakannya hanya sampai diketemukannya saja.


“Iya mang Udin, saya menemukannya sudah tergeletak di bawah saka masjid dalam kondisi pinsan,” sambung ustad Sofyan.


Di temani 5 orang ustad dan Udin yang menginap di rumah induk pesantren tersebut, mereka duduk setengah melingkar menghadap Ki Wayan dan Ustad Jalal yang terbaring.


Udin dan Ki Wayan terpaksa harus menginap karena kondisi Ki Wayan yang belum pulih sepenuhnya. Jika dipaksakan pulang dikhawatirkan terjadi apa- apa di jalannya.


Hal itu atas amanat yang diberikan haji Abas usai kejadian siang itu. Selain itu Udin dan Ki Wayan pulang mengendarai sepeda motor dengan berboncengan. Sehingga membuat haji Abas sangat mengkhawatirkan keselamatannya.


“Kalau Ki Wayan gimana keadaannya mang Udin?” Tanya ustad Shodiq.


“Tadi sewaktu masih melek sih katanya udah mendingan. Malahan minta ngajak pulang,” jawab Udin.


Sedangkan haji Abas, pendiri yayasan sendiri sudah pulang ke rumahnya tak lama setelah mengimami sholat isya. Alhasil, haji Abas tidak mengetahui peristiwa yang menimpa ustad Jalal.


“Ustad, saya beli makanan dulu ya. Pak haji sebelum pulang tadi suruh beli makan nih,” ucap salah satu ustad.


......................


BERSAMBUNG...


Setiap kalimat bermakna, jgn skip karena akan bingung sendiri, novel misteri tidak sama dgn novel lain apalagi seperti membaca berita.

__ADS_1


__ADS_2