
Suasana makan malam di rumah Guntur berasa hangat oleh tingkah-tingkah konyol Kunto dan Guntur sehingga suara gelak tawa sesekali terdengar memenuhi ruang makan. Ada saja yang membuat mamah Karmila, Guntur dan Kunto tergelak bersama-sama oleh gurauan yang dilemparkan Kunto maupun Guntur.
“Gun, kamu kok di rumah aja. Inikan malam minggu?” Kata mamah Karmila di sela-sela makan malam.
“Tau tuh Tan, katanya sudah punya pacar tapi malam minggu kok di rumah aja,” Sindir Kunto.
“Sorry ya Kun, aku mah santai aja nggak kaya lu. Kalau mau malam minggu sudah dari pagi mikir-mikir nyari lokasi gelap buat malam mingguan, hahaha...” balas Guntur.
“Hussss..!” Sergah Kunto dengan wajah memerah, kemudian melirik ke mamah Karmila.
Mamah Karmila tidak bisa berpura-pura tidak mengindahkan percakapan Guntur dan Kunto yang menjurus kearah mesum, alhasil mamah Karmila pun tergelak juga mengikuti tawa Guntur. Sementara Kunto hanya senyum-senyum menahan malunya.
“O iya mah, aku lupa kemarin mau minta pendapat mamah. Kalau misalkan kita pindah rumah, gimana Mah?” tanya Guntur usai menelan makanannya.
“Loh memang kenapa Gun, kok tiba-tiba mau pindah rumah?” mamah Karmila balik tanya dengan raut terkejut.
“Kemarin rekan bisnis aku datang ke kantor Mah. Dia cerita banyak tentang kondisinya dan tujuannya menemui aku dan akhirnya dia nawarin rumah, katanya darurat buat bayar utang-utangnya Mah,” kata Guntur kemudian menyuapkan sesendok makanannya.
Mamah Karmila mengerutkan dahinya, raut wajahnya menunjukkan keberatan namun hanya di pendamnya saja di dalam hati.
“Di daerah mana Gun?” tanya mamah Karmila basa-basi.
“Rumahnya ada di daerah Dago atas Mah tapi belum aku lihat sih,” jawab Guntur tidak memperhatikan ekspresi wajah mamahnya.
Pikiran mamah Karmila sudah langsung melayang jauh. Raut wajahnya jelas-jelas menyiratkan keberatannya apabila harus meninggalkan rumah ini. Bukan soal lamanya sudah 23 tahun menempati rumah ini tetapi ada hal lain yang membuatnya enggan meninggalkan rumah ini.
“Bagaimana Mah?!” tanya Guntur lagi karena mamahnya belum juga merespon.
Mamah Karmila seketika tergagap dibuatnya, ia belum siap memberikan jawaban dan belum memiliki kalimat untuk pertanyaan itu.
"Kkka.. ka.. kalau misalkan pindah lantas rumah ininya gimana?" sahut mamah Karmila tergagap dengan raut penuh kekhawatiran.
"Ya kita jual aja, mah," ujar Guntur.
__ADS_1
“eh, dddi, di lihat aja dulu Gun,” jawab mamah Karmila sedikit menunjukkan kepanikannya.
“Iya deh mah, aku duluan ya mah.” ujar Guntur kemudian menyelesaikan makannya diakhiri meneguk segelas air putih.
“O iya Kun, besok temani liat rumah ya,” kata Guntur kemudian meninggalkan meja makan.
“Sssiap boss, uhukk... uhukkk,” sahut Kunto tersedak karena ia sedang minum saat Guntur mengatakan itu.
"Makanya jangan buru-buru!" sergah mamah Karmila.
"Maaf, maaf Tan. Ya udah saya duluan ya Tan," ujar Kunto kemudian meninggalkan meja makan menyusul Guntur.
Mamah Karmila hanya mengangguk, pikirannya masih dipenuhi kekhawatiran-kekawatiran mengenai niatan Guntur. Meskipun di dasar hatinya sangat menolak pindah rumah namun Karmila tidak ingin manampakkannya di depan Guntur apalagi untuk mengatakan terang-terangan melarangnya. Karmila mempertimbangkan seandainya dirinya langsung menolak dan melarangnya pindah, pasti akan banyak pertanyaan-pertanyaan yang akan menyulitkan dirinya memberikan alasan penolakkannya. Dan yang lebih di khawatirkannya lagi, dirinya merasa khawatir kalau-kalau akan menmbulkan kecurigaan Guntur atas keberatannya meninggalkan rumah ini.
Sementara itu di dalam kamar, Guntur duduk termangu di meja belajarnya memikirkan sikap mamahnya yang nampak terkejut ketika mengutarakan pindah rumah. Menurutnya sedikit aneh dengan sikap mamahnya yang langsung panik sehingga membuatnya timbul curiga. Pasti ada hal yang membuatnya demikian, pikir Guntur.
Jegrekkk!!!
"Ah, kriting sialan! Ketuk pintu dulu napa?! Bikit sport jantung aja lu!" sungut Guntur.
"Hehehehe... iya maaf, maaf.. napa sih, lagi melamun ya? khawatir si Neng jalan sama cowo lain yaaa..." ledek Kunto.
"Idih, sotoy lu! Ada apa sih? Hari ini rental game di tutup ya, sana... sana!" hardik Guntur.
"Yeee, siapa lagi yangbmau main game. Saya kesini cuma mau nanya, besok jam berapa lihat rumahnya? Ya secara gitu, besok kan off day word, hari libur sedunia, biar bangunnya nggak kesiangan," ujar Kunto.
"Kemarin aku janjinya jam 9 kesananya," kata Guntur.
"Oke deh," sahut Kunto kemudian ngeloyor keluar kamar begitu saja tanpa menutup pintunya kembali.
"Tutup lagi kriting!" seru Guntur gemas dengan tingkah Kunto sambil melempar pulpen di tangannya namun Kunto sudah lebih dulu kabur.
Guntur pun terpaksa menutup pintu kamarnya penuh kekesalan lalu kembali duduk memikirkan sikap mamahnya.
__ADS_1
Mengenai niatnya membeli rumah temannya itu hanya sebatas ingin membantu rekan bisnisnya yang sedang dalam kondisi kesusahan dan kelihatannya benar-benar sangat membutuhkannya. Namun Guntur merasa heran dengan sikap mamahnya yang sepertinya tidak terlalu respek apalagi saat dirinya bilang pindah dan menjual rumah ini.
......................
Minggu pagi pukul 8. 30 wib, udara kota Bandung terasa sejuk namun masih begitu dingin yang berpadu dengan hangatnya sinaran mentari. Suara-suara mesin kendaraan dari jalan raya yang sesekali terdengar bunyi klakson sudah menunjukkan kepadatan lalu lintas di pagi hari.
Di balik pagar besi di halaman rumah, Mamah Karmila sudah menyibukkan diri dengan bersih-bersih halaman yang nampak kotor oleh guguran dedaunan kering yang berserakkan. Daun-daun kering itu ia kimpulkan pada sudut kiri halaman depan.
"Maaaah...!" Guntur berdiri di teras rumah sembari celingukkan mencari mamah Karmila.
"Iyaaaa," sahut mamah Karmila.
Guntur menoleh ke sudut kiri halaman namun terhalang mobilnya, Guntur melangkah ke halaman. Barulah terlihat mamah Karmila sedang menyapu mengumpulkan daun-daun kering.
"Saya pergi dulu mah mau lihat rumah itu," kata Guntur.
"Oh, iya deh. Hati-hati ya, Gun. Eh sendirian? Katanya ngajak Kunto," ujar mamah Karmila kemudian melangkah ke tempat Guntur berdiri.
Belum sempat Guntur menjawab, Kunto pun muncul di belakang Guntur, seraya berujar; "Sama saya Tan."
Kemudian Kunto meneruskan langkahnya menuju pagar untuk membuka gerbang. Beberpa saat kemudian Guntur dan Kunto masuk ke dalam mobil dan keluar meninggalkan rumah.
Sepeninggal Guntur dan Kunto, Karmila duduk di tangga teras setelah menutup kembali pintu gerbang. Tiba-tiba perasaan diliputi kekhawatiran yang teramat sangat melihat Guntur begitu bersemangat hendak melihat rumah yang di tawarkan temannya itu. Ada kegundahan yang menghantui hatinya.
"Jika pindah, apakah yang akan Karbala lakukan?" batin Karmila.
Entah mengapa hatinya begitu mengkhawatirkan dengan apa yang akan di buat oleh Karbala jika benar-benar akan menjual rumah ini. Apakah dia akan melepaskannya begitu saja atau justru dia akan menghalangi atau melarangnya?
Yang jelas raut wajah Karmila nampak seperti ketakutan dengan reaksi Karbala. Hati Karmila gamang memikirkan semua itu. Rasa-rasanya untuk memghindarinya pun tidak mungkin, akan tetapi untuk tetap bertahan pun hanya akan membuat dirinya tersiksa dengan perasaan bersalah yang terus-menerus di pendamnya. Dan lagi bayang-bayang terkutuk akan tetap menjelma setiap saat meskipun sejujurnya dirinya sangat menikmatinya.
......................
🔴Bersambung
__ADS_1