
Baru saja mulut Ki Wayan terbuka hendak menceritakan kejadian yang menimpanya, tiba- tiba datang terpaan angin dari arah rerimbunan pohon Beringin diatas kepala mereka.
Hempasan angin itu menerpa Ki Wayan serta yang lainnya dengan sangat kuat. Hingga membuat mereka semua limbung di tempatnya berjongkok yang semula sedang mengerubungi Ki Wayan.
Beberapa detik setelah kemunculan angin, muncul suara tawa yang menggidikkan. Suara tawa yang sember dan besar itu terasa tidak asing di telinga Ki Wayan dan mereka semua.
“HAHAHAHAHA... HAHAHAHA... Hai Manusia camkan ini baik- baik! Jangan mengusik istanaku! Jangan mengusik istanaku! Jangan mengusik istanaku! HAHAHAHAHA....!”
Seketika wajah mereka semua terkesiap memucat. Tanpa sadar mereka semua beringsut dari tempatnya semula berusaha menjauh dari bawah pohon beringin.
Ki Wayan serta yang lainnya kontan menolehkan wajahnya kearah rimbunan pohon beringin dengan mata membelalak.
Mereka melihat sesosok wajah menyeramkan muncul diantara rerimbunan daun beringin diatas kepala mereka. Sosok itu hanya menampilkan seraut wajahnya saja nampak sangat besar, meski nampak secara samar dan tranfaran.
Wajahnya hitam legam tertutupi sebagian rambut gimbalnya, namun sorot merah dari kedua matanya masih nampak jelas menyala.
Ki Wayan dan yang lainnya tak ada yang berani bersuara, mereka semua merasa bergidik ngeri melihat penampakan yang begitu menyeramkan sangat dekat dihadapan mereka.
Tiba- tiba muncul pusaran angin seperti sebelumnya hingga menerbangkan dedaunan kering disekitarnya.
Mereka semua kontan menutup matanya dengan lengan tangannya masing- masing saking kuatnya pusaran hembusan angin itu menerpa mereka.
Beberapa saat berlalu, pusaran angin yang berasal dari pohon beringin itu perlahan- lahan mereda lalu menghilang.
Ki Wayan, haji Abas, Udin, pak RT Parno serta 3 orang ustad kontan sama- sama membuka lengan yang menutupi mata mereka. Mereka semua mendongak keatas didalam rerimbunan beringin untuk melihat sosok wajah gernderuwo tadi.
Akan tetapi seraut wajah menyeramkan itu sudah tidak tampak lagi. Mereka saling berpandangan satu sama lain menyimpan tanya di hati mereka tanpa mengucapkan sepata kata pun keluar dari mulut mereka.
"Haahhhh...." Ki Wayan menghempaskan nafasnya kuat- kuat.
Helaan nafas berat Ki Wayan langsung menyadarkan haji Abas dan lainnya dari keterbengongannya atas kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Ki, bagaimana kondisinya?!" tanya Udin buru- buru menyentuh pundak Ki Wayan.
Haji Abas dan yang lainnya hanya memperhatikan karena memiliki pertanyaan yang sama dengan Udin. Mereka sama- sama menunggu jawaban dari Ki Wayan.
Ki Wayan memegangi dadanya, raut wajahnya nampak menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kini ia benar- benar merasakan sakitnya, selepas melewati suasana tegang sesaat setelah dirinya tersadar dari pinsannya.
Rasa sakit di dadanya sempat tak dirasakan karena tersamarkan oleh ketegangan melihat kemunculan wajah Genderuwo.
“Aaaahhhkkkkhh...”
Ki Wayan mengerang sambil terus memegangi dadanya. Lalu perlahan- lahan ia merebahkan tubuhnya dibantu Udin dengan menopang punggung Ki Wayan.
“Sesak... hhhhaaa... hhhaaa...” erang Ki Wayan berusaaha bernafas dengan susah payah.
__ADS_1
Sesaat Haji Abas merasa kebingungan melihat kondisi Ki Wayan yang sangat mengkhawatirkan.
Ki Wayan memegangi dadanya, raut wajahnya nampak menahan rasa sakit yang teramat sangat. Kini ia benar- benar merasakan sakitnya, selepas melewati suasana tegang sesaat setelah dirinya tersadar dari pinsannya.
Rasa sakit di dadanya sempat tak dirasakan karena tersamarkan oleh ketegangan melihat kemunculan wajah Genderuwo.
“Aaaahhhkkkkhh...”
Ki Wayan mengerang sambil terus memegangi dadanya. Lalu perlahan- lahan ia merebahkan tubuhnya dibantu Udin dengan menopang punggung Ki Wayan.
“Sesak... hhhhaaa... hhhaaa...” erang Ki Wayan berusaaha bernafas dengan susah payah.
Sesaat Haji Abas merasa kebingungan melihat kondisi Ki Wayan yang sangat mengkhawatirkan.
“Ustad air, air...” ucap haji Abas.
Salah seorang ustad mengambil air yang tersisa 1 botol yang sebelumnya ia geletakkan di tak jauh dari tempatnya duduk.
Setelah membula tutup botol air mineral, mulut Hai Abas nampak bergerak- gerak membacakan sesuatu seperti ayat- ayat Alquran.
Selang 2 menit haji Abas selesai membacakan itu kemudian perlahan ia meniupkannya kedalam botol air mineral itu.
“Minum dulu Ki Wayan...” ucap haji Abas mendekatkan ujung botol pada bibir Ki Wayan yang nampak gemetaran.
Udin membantunya membangunkan tubuh Ki Wayan setengah duduk, tangannya terkulai disamping sudah tak kuat lagi di gerakkan.
Seperti orang yang sedang kehausan di tengah padang pasir, Ki Wayan meneguk air mineral dalam botol itu tanpa henti. Dadanya basah kuyup oleh air yang menetes dari sela- sela bibirnya.
Seketika air mineral didalam botol kemasan itu ludes tak tersisa masuk kedalam perut Ki Wayan.
“Hhhhaaaa....” Ki Wayan menghembuskan nafasnya kuat- kuat.
“Gimana Ki?! Mendingan?!” sergah Udin cemas.
“Panas Din sekujur badanku...” sahut Ki Wayan lirih.
“Sebaiknya kita masuk ke dalam Ki, biar Ki Wayan bisa istirahat.” sela haji Abas.
“Ki Wayan masih bisa jalan?” Timpal Udin.
“Nggak kuat Din,” jawab Ki Wayan menggelengkan kepala lemah.
Ki Wayan hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Di bantu pak RT Parno, Udin dan para ustad, mereka memapah tubuh Ki Wayan berjalan menuju rumah utama tahfiz.
......................
__ADS_1
Tiiin...! tiiin...! tiiin...!
Suara klakson mobil menyalak mengagetkan Kunto yang sedang tidur di kamarnya membuatnya terbangun.
Kunto meregangkan badannya dibawah selimut lalu setengah membuka matanya ia melirik ke jam dinding di sisi kirinya.
“Jam 10... Guntur!” gumam Kunto seperti baru menyadari bunyi klakson mobil.
Kunto langsung menyibakkan selimutnya meloncat turun dari tempat tidur. Berkaca sebentar di pintu lemari pakaiannya untuk merapikan rambut kritingnya dan megusap- usap mukanya dengan telapak tangan, kemudian Kunto bergegas keluar kamar untuk membukakan pintu gerbang.
Tiiin...! tiiin...! tiiin...!
“Iyaaa... iyaaaa...! Teriak Kunto sambil berlari keluar pintu menuju gerbang.
Grdeeeeeggg...!
Pintu gerbang pun di geser Kunto dan berdiri di pinggir pagar, ia menatap Guntur dibalik kemudi melajukan mobilnya.
“Huuuhhh, tidur mulu kriting!” sungut Guntur.
“Yaaa mumpung libur,” sahut Kunto garuk- garuk rambut kritingnya.
“Nyaut aja lu!” ujar Guntur.
Kunto sempat menangkap ekspresi raut wajah Guntur dan mamah Karmila terlihat muram.
“Kenapa Guntur dan mamahnya ya...?” Batin Kunto kemudian menutup kembali gerbangnya.
Sementara itu di dalam mobil, setelah Guntur mematikan mesin mobilnya mamah Karmila langsung berkata; “Mamah langsung masuk ke kamar ya Gun, mau istirahat dulu.”
“Iya mah...” sahut Guntur.
Pikiran Guntur masih di penuhi tanda tanya besar tentang kejadian di rumah tahfiz dan mamahnya. Ia masih sangat penasaran memikirkan mamahnya yang seperti mengalami mimpi yang sama dengan dirinya.
“Kok bisa- bisanya tiba- tiba mamah ingin berkunjung ke rumah yang dulu?!” pikir Guntur.
"Aku harus cari tau, soalnya mamah sepertinya menyimpan suatu rahasia tentang rumah itu. Atau...." dugaan Guntur buyar seketika mendengar suara keras di pintu mobil.
Brughh... bruuughhh..!
Suara pintu mobil digedor dari luar membuat Guntur terlonjak kaget bukan kepalang.
“Kriting sialan!” umpat Guntur kemudian membuka pintu mobilnya.
Kunto yang melihat Guntur kesal dari luar kaca jendela mobil, langsung ambil langkah seribu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG...