TITISAN

TITISAN
MENCARI JEJAK 2


__ADS_3

Guntur hanya terbengong-bengong melihat kejadian yang barusan membuat gaduh para konsumen yang mengerubungi buku-buku loak jualan pak Suro hingga situasinya sempat menegang. Buku bekas yang nilai jualnya tak seberapa itu tega-teganya mencoba dicatut dengan memasukkan buku yang dicurinya kedalam tas. Namun bukan itu yang dipikirkan oleh Guntur dengan pertanyaan menggantung, kenapa pemuda itu sampai tidak dapat bergerak setelah menguntil buku padahal pak Suro tidak mengetahuinya.


Beberapa saat ketegangan mulai mencair dan kembali normal para penggemar buku-buku bekas itu seperti sudah melupakan kejadian pencurian barusan. Mereka kembali fokus melihat-lihat buku yang sekiranya menarik atau juga mencari-cari buku yang diinginkannya serta beberapa orang kembali meneruskan membaca bukunya.


"Pak, kenapa bisa begitu?" Tanya Guntur dengan berbisik.


Pak Suro menoleh hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Guntur sambil tangannya mengemas buku melayani pembelinya. Tanggapan dari pak Suro yang tersenyum membuat Guntur semakin dibuat penasaran dengan senyuman pak Suro.


Satu jam kemudian para konsumen buku bekas tampak sudah mulai lenggang hanya ada dua orang yang sedang melihat-lihat buku menyibakkan dari tumpukkan buku satu ke tumpukkan buku lainnya.


"Ada apa Gun sepertinya ada hal penting ya?" Tanya pak Suro memperhatikan Guntur dari samping.


"Oh iya pak, sebentar..." ucap Guntur merogoh saku celananya untuk mengambil hape.


Setelah hape sudah digenggamannya, Guntur membuka hapenya sesaat mencari-cari beberapa poto di galeri lalu diberikannya pada pak Suro sambil menunjukkannya.


"Pak kira-kira jejak kaki mahluk apa itu pak?" tanya Guntur menunjuk sebuah foto.


"Ini di rumah kamu Gun?" pak Suro balik tanya.


"Iya pak ketahuan pagi harinya, ada empat poto tuh pak, digeser aja." ucap Guntur kemudian mencontohkan melakukan gerakan menggeser pada layar hape.


Pak Suro kemudian menirukan seperti yang diberitahukan Guntur menggeser layar hape. Sesaat berikutnya wajah pak Suro nampak berkerut ada guratan terkejut menatap gambar di layar hape.


"Benar perkiraan saya, anak ini ada kaitannya dengan Genderuwo. Bisa jadi dia titisan," kata Pak Suro dalam hati.


Pak Suro termangu menatap gambar jejak kaki dengan jari empat dan berbentuk meruncing pada bagian tumitnya.


"Gambarnya bisa diperbesar pak, diginiin pak..." ucap Guntur kemudian mencontohkan dengan dua jarinya jempol dan telunjuk ditempelkan bersamaan diatas sreentuch lalu digerakan saling berlawanan secara bersama-sama.


Pak Suro makin mengerutkan dahinya dalam-dalam ketika melihat dengan jelas gambar telapak kaki di hape itu. Melihat ekspresi wajah pak Suro, Guntuŕ merasa yakin kalau pak Suro mengetahui dan memiliki jawaban yang sangat akurat.


"Gun, ini telapak kaki mahluk gaib. Tapi selama ini kamu merasa terganggu nggak? Atau ibu kamu mungkin," ucap pak Suro hati-hati agar tidak kelepasan bicaranya.


"Kalau mengganggu sih nggak pak, malahan saya merasa selalu dilindungi manakala saya dijahati orang atau ada hal yang membahayakan saya. Apakah itu juga ada kaitannya dengan mahluk gaib itu pak?" ucap Guntur kemudian mengusap-usap tompel dilengan kirinya tanpa sadar.

__ADS_1


"Apakah kamu pernah menjumpai mahluk itu Gun atau pernah ada komunikasi gitu?" Tanya pak Suro menatap serius wajah Guntur.


Guntur terkesiap mendengar pertanyaan pak Suro yang menurut dirinya sepertinya pak Suro mengetahui yang ada didalam pikirannya. Sejenak ia ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Bilang saja Gun, nggak apa-apa..." ucap pak Suro sedikit meyakinkan Guntur yang ragu-ragu.


"Iya pak, mahluk itu pernah muncul di kamar saya. Wujudnya hitam dengan tubuhnya berbulu lebat warna hitam hitam kelabu tapi wajahnya tidak begitu jelas," terang Guntur.


"Nggak jelas atau memang nggak melihat wajahnya?" ujar kembali menatap Guntur.


"Yah, lebih tepatnya saya takut untuk melihat wajahnya pak," ucap Guntur kemudian tersenyum masam.


"Oh iya pak, mahluk gaib itu selalu mengatakan kalau dirinya itu bapak saya. Ya jelas saya marah menolak keras pengakuannya, bapak saya kan papah Aryo bukan mahluk gaib," ujar Guntur.


Wajah tua pak Suro seketika berubah kuli di dahinya semakin jelas berkerut. Meskipun sebelumnya sudah mengetahui kalau Guntur titisan Genderuwo namun tetap saja ia kaget mendengar penuturan langsung dari Guntur.


"Saya khawatir mengganggu mamah pak, soalnya jejak jejak kaki itu berakhir di depan pintu kamar mamah," ujar Guntur.


"Lalu bagaimana kata mamahmu Gun?" tanya pak Suro menyelidik.


Pak Suro hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Guntur, jelas saja mahluk itu tidak mengganggu mamahnya karena memang memiliki hubungan khusus. Mamahnya pun nampaknya menutupi rapat-rapat tentang adanya mahluk gaib itu.


"Terus gimana, apa mau disingkarkan atau biar saja Gun?" tanya pak Suro.


"Emang bisa disingkirkan pak?" Guntur balik tanya.


"Ya bisa saja cuma ada dampaknya," ucap pak Suro.


"Apa dampaknya pak?" Guntur kian tertarik dan penasaran.


"Pilihannya ada dua Gun, dimusnahkan atau dipindahnkan," tegas pak Suro.


Guntur terdiam beberapa saat, didalam pikirannya bergelut pro dan kontra. Pikirannya masih mengambang apakah dimusnahkan atau dipindahkan. Andaikan dimusnahkan, toh mahluk gaib itu tidak pernah mengganggu dirinya dan ibunya dan bukan suatu ancaman yang membahayakan. Dan andai dipindahkan, tentunya dia sewaktu-waktu bisa kembali datang.


"Sebaiknya kamu pikirkan matang-matang sebelum memutuskan Gun. Coba nanti tanyakan ke mamahmu, ceritakan aja semuanya tentang mahluk gaib itu. Gimana reaksi mamahmu nanti," ucap pak Suro.

__ADS_1


"Iya pak nanti saya cerita ke mamah," ucap Guntur.


"Kalau papahmu giman Gun," tanya pak Suro.


"Papah?!" ucap Guntur sedikit kaget lalu dia sadar kalau pak Suro belum dikasih tahu kalau papahnya baru meninggal.


"Iya, papahmu. Kegapa kamu kaget begitu Gun?" tanya pak Suro keheranan.


"Papah baru sehari yang lalu meninggal pak," ucap Guntur terlihat menunduk.


"Innalillahi wainna ilaihi rojiuun, maafin bapak Gun. Bapak nggak tau," ucap pak Suro.


"Iya nggak apa-apa pak, saya juga lupa nggak mengabari bapak," sahut Guntur.


Pak Suro urung mau menanyakan lebih jauh lagi tentang papahnya melihat raut wajah Guntur nampak berubah murung. Ia merasa bersalah, mungkin karena pertanyaannya itu membuat pikirannya kembali terbayang akan papahnya, begitu pikir pak Suro.


"Sekali lagi maaf ya Gun, bapak turut berduka. Semoga papahmu mendapatkan tempat yang layak disisi Allah Subhanahu Wataala, amin..." ucap pak Suro mensoakan.


"Amiin, amiin... Makasih pak Suro doanya, o iya nanti malam kalau bapak nggak keberatan datang ke rumah ya pak, ikut tahlilan. Diajak Adi nya ya pak," kata Guntur.


"Insya Allah Gun, tapi bapak belum tahu rumahnya," ucap Pak Suro.


Guntur pun memberikan petunjuk alamat rumahnya dengan detil dan gamblang. Pak Suro manggut-manggut rupanya mengenal betul posisi rumah Guntur sehingga tidak butuh waktu lama Guntur menjelaskan alamatnya.


"Kalau begitu saya dan Kunto pamit dulu ya pak, sampai ketemu di rumah." ucap Guntur kemudian berdiri dari duduknya.


Kunto yang sedari tadi sibuk sendiri meladeni konsumen yang menanyakan buku-buku jualan pak Suro nampak terkejut ketika Guntur tiba-tiba mengajaknya berpamitan.


"Makasih banyak ya Kun, Gun sudah membantu bapak hari ini..." ucap Pak Suro sambil menerima ukuran jabat tangan Guntur dan Kunto.


"Hati-hati di jalan..." ucap pak Suro mengiringi kepergian Guntur dan Kunto.


"Muhun pak, assalamualaikum.." sahut Guntur diatas sepeda motor sportnya.


"Waalaikum salam..." balas pak Suro.

__ADS_1


......................


__ADS_2