
Pagi hari sekitar pukul 8.15 wib suasana didalam kantor PT. ELANG TRABAS, para karyawan dan karyawati sibuk membicarakan acara meeting yang akan digelar pukul 10.00 wib. Mereka saling ngobrol dari balik meja kerjanya masing-masing yang terhalang oleh sekat-sekat dari papan. Kasak kusuk kabar yang beredar ditengah-tengah karyawan bahwasannya acara rapat tersebut akan memperkenalkan Boss baru mereka menggantikan Aryo, boss mereka sebelumnya yang meninggal.
"Semoga saja pengganti pak Aryo orangnya baik kayak pak Aryo ya," ucap Karin menongolkan kepalanya ďiatas sekatan melihat rekan-rekannya dari balik meja kerjanya.
"Iya ya, Rin..." timpal Vera.
"Eh, eh ingat nggak terakhir kali sebelum pak Aryo kecelakaan?" sela Joko.
"Iya nggak nyangka ya, makan bersama itu sebagai salam perpisahan pak bos," timpal Karin.
"Menurut orang tua-orang tua sih itu tandanya kalau orang itu baik. Ya semoga pak Aryo mendapat syurga di sisi Allah subhanahu wataala, amiin..." ucap Joko.
"Amiiin..." Ucap mereka saling menyahut.
"Kira-kira siapa pengganti pak Aryo ya?" giliran suara Vera menongolkan kepalanya.
"Apa pak Iwan ya?" celetuk Karin.
"Waduh gawat kalau dia yang jadi bos mah bisa-bisa kita disiksa, hikhikhik..." timpal Joko.
"Husssttt, jangan keras-keras, kedengeran dia bisa dipecat lu. Mau jadi tukang ngobor kodok lu?" seloroh Gusti yang sedari tadi fokus melihat laptopnya dan hanya mendengarkan.
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
Suasana ruang kerja menjari riuh oleh canda tawa para karyawan. Namun tertawa mereka tidak lama berhenti karena orang yang dibicarakannya terlihat dari kaca sedang memasuki kantor.
"Sssssstttt...!" seru salah satu karyawan mengingatkan rekan-rekan untuk diam.
__ADS_1
Tak lama kemudian Pak Iwan yang mereka tertawakan itu muncul melintasi area kerja para karyawan dengan wajah seramnya. Sosok Pak Iwan sendiri sudah terkenal sifat arogannya terhadap bawahan seperti mereka.
"Pagi paaaak..." sapa para karyawan bersahutan.
"Pagi..." balas pak Iwan tanpa menoleh langsung melangkah menuju ruangannya disebelah kanan yang terletak menghadap area karyawan.
Sebagai seorang Manager Area, pak Iwan bisa dibilang orang nomor dua dibawah Aryo sebelumnya. Dia yang bertanggung jawab menangani proyek-proyek yang sedang berjalan maupun yang akan dikerjakan. Pak Iwan pula yang akan menunjuk arsitekturnya untuk ditugaskan dalam pengerjaannya. Namun nyaris seluruh karyawan dan karyawati di perusahaan milik Aryo itu tidak terlalu menyukainya karena sikapnya yang arogan dan pelit.
Setelah masuk ruangannya Pak Iwan langsung menghempaskan tubuhnya di kursi besar dibalik meja kerjanya. Pagi ini raut wajahnya terlihat muram, pandangannya dilemparkan keluar ruangan menatap area karyawan dibalik dinding kaca ruangannya yang terlihat jelas.
"Siapa pengganti pak Aryo? Kenapa tidak ada pemberitahuan sama sekali tentang penggantinya, apakah bukan saya?" Gumam pak Iwan gelisah, kemudian tangannya meraih gagang telpon diatas meja.
"Halo Vin, ditunggu di ruangan bapak ya sekarang," ucap pak Iwan memanggil salah seorang karyawati.
Vina merupakan sekertaris prbadi almarhum Aryo, dia yang mengatur semua jadwal kegiatan Aryo terkait perusahaan, bisa dibilang dia salah satu karyawan yang mengetahui banyak tentang rahasia perusahaan termasuk dengan semua klien-kliennya Aryo.
Tok... Tok...
"Masuk..." sahut pak Iwan.
"Duduk Vi," ujar pak Iwan lalu membuka lembaran kertas yang sudah ada di mejanya.
"Ada apa pak?" tanya Vina turut melihat kertas yang sedang dilihat pak Iwan.
"Gimana persiapan meeting jam sepuluh ini?" tanya pak Iwan menatap Vina.
"Semuanya sudah siap pak sesuai yang diamanatkan Pengacara perusahaan," jawab Vina tak berani menatap mata pak Iwan, namun pandangannya dialihkan menatap kancing baju pak Iwan agar tetap terlihat respek.
"Apa kamu tahu informasinya, siapa yang akan menggantikan pak Aryo?" tanya pak Iwan penuh selidik.
"Saya kurang tau pak, tidak ada informasi tentang orang yang akan menggantikan pak Aryo," jawab Vina masih dengan pandangan yang sama.
__ADS_1
"Kamu kan sekertaris pribadinya, masa kamu tidak tahu!" kata pak Iwan sedikit meninggikan nada bicaranya.
"Untuk yang satu ini saya benar-benar tidak tau pak, satu-satunya orang yang tau hanya pak Adrian kuasa hukumnya pak Aryo," jelas Vina.
"Ya sudah kamu kembali," ucap pak Iwan menunjukkan raut wajah kecewa.
"Permisi pak," ucap Vina berlalu dari hadapan pak Iwan.
Seperginya Vina keluar dari ruangan, Pak Iwan menyalakan komputernya penuh dengan kegelisahan. Isi kepalanya dipenuhi ambisi dan pengharapan besar untuk dapat menggantikan posisi Aryo sebagai boss besar di perusahaan ini. Dia merasa di perusahaan ini tidak ada lagi orang yang pantas dan sepadan dengan dirinya untuk menggantikan posisi Aryo. Bahkan setelah mendapat kabar Aryo meninggal, jauh di lubuk hatinya merasa senang. Pak Iwan sudah sangat percaya diri memastikan dirinya yang akan duduk di kursi Big Boss. Akan tetapi setelah ditunggu-tunggu tidak kunjung ada selentingan kabar secuil pun yang menyinggung-nyinggung dirinya sebagai pengganti Aryo. Hingga tiba-tiba ada pemberitahuan dari kuasa hukum Aryo untuk mengadakan meeting dan pengenalan kepada Boss baru.
Namun tetap saja hatinya masih memiliki harapan dan sangat percaya diri kalau meeting tersebut sebagai kejutan untuk dirinya sehingga dirinya tidak diberitahu terkait pengganti Aryo. Mengingat itu pak Iwan tersenyum lebar dengan perasaan berdebar-debar yang muncul diciptakan sendiri oleh ambisinya.
......................
Tepat pukul 10.00 wib, seluruh jajaran direksi dan karyawan karyawati sudah menempati tempat duduk yang telah disediakan didalam ruang meeting dengan meja panjang melingkar oval. Satu kursi di meja paling ujung dengan backround layar screen putih yang biasa diduduki Aryo kali ini masih nampak kosong. Di meja sebelah kanan diurutan pertama ditempati pak Iwan dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya yang tebal. Disamping pak Iwan mulai urutan kedua dan seterusnya di duduki jajaran personalia dan bagian keuangan. Sementara disisi kiri seperti biasa dikursi pertama ditempati oleh Vina selaku sekertaris pribadi Aryo, lalu disebelahnya dan seterusnya hingga ujungnya diisi oleh para arstik-arsitek kebanggan Aryo.
Penuh dengan antusias mereka semua berharap-harap cemas menanti kedatangan Kuasa Hukum yang membawa kabar siapa orangnya yang akan menduduki kursi diujung depan itu. Hati mereka dipenuhi dengan tanda tanya besar yang tak seorang pun tahu jawabannya kecuali Kuasa Hukum Adrian soal pengganti posisi Aryo.
"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya..." ucap suara seorang pria memasuki ruang meeting bersama seorang pemuda.
"Waalaikum salam, pagi paaaak..." sahut mereka kompak.
Kontan saja semua tatapan mata langsung menyerbu kedatangan dua orang itu. Kedua orang yang datang tak lain adalah Adrian Kuasa Hukum Aryo, ia datang bersama seorang pemuda dengan senyum bersahaja menghiasi bibirnya menyapa semua yang ada di ruangan meeting. Pemuda itu berpenampilan sangat rapih memakai kemeja berwarna krem dipadu dengan dasi berwarna cokelat menambah nilai ketampanannya.
Kontan saja pemuda gagah dan tampan itu menjadi objek cuci mata bagi karyawati-karyawati dengan segala tingkah gestur tubuh yang dibuat buat untuk menarik perhatian. Sampai-sampai sayang dilewatkan walau untuk berkedip dengan senyum yang terus tersungging dibibir merahnya.
"Mohon perhatiannya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk waktunya. Anda semua sudah mengenal saya tentunya tapi anda pasti belum mengenal orang yang disamping saya ini," kata Adrian mengawali meetingnya.
"Iya paaak..." sahut mereka namun suara karyawati terdengar yang paling bersemangat.
"Baik, langsung saja pada pokok acara pagi ini. Saya sebagai Kuasa Hukum almarhum pak Aryo mendapatkan amanat jauh sebelum beliau meninggalkan kita semua yang harus disampaikan pada seluruh karyawan dan karyawati PT. ELANG TRABAS terkait posisi yang ditinggalkan almarhum pak Aryo Satriaji. Saya akan bacakan surat wasiat sekaligus menetapkan posisi Direktur Utama PT. ELANG TRABAS," kata Adrian dengan tegas.
__ADS_1
Semua mata terfokus memandang kearah Adrian yang akan membacakan surat wasiat dengan segenap perasaan menebak-nebak siapa pengganti pak Aryo. Namun tidak dengan pak Iwan yang nampak senyum-senyum penuh percaya diri, dia sangat meyakini kalau posisi itu akan jatuh ke tangannya. Hadirnya seorang pemuda bersama Kuasa Hukum itu tak sedikit pun dilirik oleh pak Iwan, dia menganggap pemuda itu merupakan asistennya Adrian.
......................