TITISAN

TITISAN
RENCANA PAK SURO 2


__ADS_3

Pak Suro menekan tombol bel yang ada di tembok pagar sebelah kanannya. Tak lama kemudian pintu pagar di buka oleh seorang ustad muda, usianya sekitar 25 tahunan.


“Assalamualaikum...” ucap pak Suro begitu pintu pagar terbuka.


“Wa ‘alaikum salam, mari.. mari masuk pak,” sahut ustad muda itu dengan ramah.


“Saya mau ketemu pak haji. Ada pak hajinya?” Tanya pak Suro sebelum melangkah masuk.


“Kebetulan pak haji ada pak, mari...” jawab ustad muda.


Setelah menutup pintu pagar, ustad muda itu bergegas menuju ke dalam rumah mendahului pak Suro.


“Saya panggilkan pak haji ya pak, bapak duduk dulu ya,” kata ustad muda mempersilahkan pak Suro duduk di kursi yang ada di teras depan.


Pak Suro memandangi area teras yang tampaknya tak ada yang berubah. Ia menjatuhkan pandangannya pada jendela di sebelah kirinya.


“Hmmm....”


Pak Suro menghela nafas, jendela itu mengingatkan dirinya kembali dimana saat pertama kali ia melihat sosok wujud Karbala secara langsung.


Tiba- tiba lamunan pak Suro lenyap seketika dengan sedikit tersentak kaget saat terdengar suara derit pintu terbuka disusul suara berat dan berwibawa mengucap salam.


“Assalamualaikum...”

__ADS_1


“Wa alaikum salam, pak haji maaf mengganggu,” jawab pak Suro buru- buru berdiri menjabat tangan haji Abas.


“Ah, nggak apa- apa pak. Bukankah bapak itu yang waktu itu bersama pak Guntur ya,” kata haji Abas berkerut mengingat- ingat kembali orang di hadapannya.


“Muhun pak haji, nama saya Suro pak. Begini pak maaf langsung saja saya menyampaikan maksud dan tujuan saya ke mari pak haji," ucap pak Suro.


Tepat saat pak Suro membuka mulutnya kembali hendak menyampaikan tujuannya namun ucapannya di potong haji Abas.


“Punten pak Suro, apa sebaiknya bicara di dalam saja?” tawar haji Abas.


Nampaknya haji Abas dapat memahami maksud kedatangan pak Suro yang sangat penting. Sehingga mengajaknya untuk berbicara di dalam.


“Muhun, muhun pak haji, mangga...” balas pak Suro.


Keduanya beranjak dari kursi teras lalu berjalan masuk dan mempersilahkan pak Suro duduk di kursi tamu.


Setelah keduanya duduk di ruang tamu, pak Suro pun langsung menyampaikan maksud dan tujuannya datang menemui haji Abas panjang lebar tanpa ada yang ditutup- tutupinya.


Setelah mendengar cerita pak Suro, seketika ekspresi wajah haji Abas berubah geram. Ada gurat kemarahan yang tersirat dari wajahnya.


“Rupanya Genderuwo itu makin kurang ajar pak Suro. Beberapa kejadian juga menimpa santri- santri saya pak. Oh iya, Jangan- jangan salah satu ustad saya yang meninggal juga karena ulah mahluk itu!” Kata haji Abas.


“Salah satu ustad pak haji meninggal? Kapan?!” Tanya pak Suro kaget.

__ADS_1


“Baru dua hari yang lalu pak, tapi menurut analisis dokter sih akibat tenggelam di dalam bak mandi saat penyakit epilepsinya kumat. Tapi yang saya heran, saya melihat raut wajah pada almarhum itu tampak seperti sangat ketakutan sekali,” ungkap haji Abas.


“Mas Kunto juga begitu pak haji, raut wajahnya seperti orang ketakutan,” timpal pak Suro.


“Punten, apa yang akan pak Suro lakukan sekarang? Apa pak Suro bisa mengusirnya dari pohon beringin itu pak?” tanya haji Abas penuh harap.


“Saya akan coba berkomunikasi dulu pak haji. Kalau cara baik- baik ini ternyata mental, ya terpaksa saya akan menggunakan cara kedua,” terang pak Suro.


Pak Suro melirik kearah jam dinding yang terpasang diatas sisi ruang tamu. Lalu berkata; “Sebaiknya sekarang saya kesana pak haji.”


“Baiklah pak, mari saya antar ke belakang pak,” kata haji Abas.


Kemudian haji Abas beranjak dari kursi tamu disusul pak Suro mengekor dibelakangnya.


“Lewat depan aja pak haji, sandal saya ada disana,” sergah pak Suro saat haji Abas hendak berjalan kedalam rumah.


Haji Abas mengurungkan langkahnya dan berbalik menuju pintu depan.


Keduanya pun berjalan menuju belakang rumah melalui halaman samping rumah.


......................


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2