
Jegrekkk!
Suaran pintu ruangan tiba- tiba terbuka, sontak semua santri rumah tahfiz putra dan putri serta seorang ustad langsung menoleh kearah pintu.
Saat melihat orang yang muncul di pintu yang dibuka dari luar, anak- anak rumah tahfiz langsung berhamburan menyongsong orang yang berdiri di pintu.
Orang yang baru saja membuka pintu itu tak lain adalah haji Abas. Ia datang bersama beberapa ustad dan ustazah yang berdiri dibelakangnya.
Suasana ruangan belajar itu kontan menjadi riuh. Anak- anak histeris berlarian memempetkan diri mereka ke dinding ruangan jauh dari jangkauan dua anak yang sedang kesurupan.
Mereka saling berteriak kencang- kencang seakan sedang berlomba keras- kerasan teriak.
“Pak Haji, Danang dan Arif kesurupan!” seru ustad sofyan panik sambil memegangi dadanya.
“Kondisi ustad sendiri gimana ustad?!” tanya haji Abas cemas melihat ustad Sofyan nampak kesakitan.
“Saya kena hantam Danang pak haji, sampai- sampai saya terdorong dan menabrak kaca jendela itu,” jawab ustad Sofyan menunjuk salah satu jendela yang bolong dan menyisakan pecahan kaca dibawahnya.
“Ya sudah, ustad segera amankan keluarkan anak- anak dari sini!” perintah haji Abas.
“Baik pak haji. Hati- hati pak haji, nampaknya kekuatan mahluk halus yang merasuki Danang dan Arif itu sangat kuat,” ujar ustad Sofyan kemudian berlalu.
Haki Abas hanya mengangguk setelah diingatkan ustad Sofyan, lalu perhatiannya tertuju pada kedua anak yang berdiri ditengah- tengah ruangan.
Ustad dan ustazah segera mengevakuasi anak- anak keluar ruangan dan dipindahkan ke dalam ruangan satunya.
Setelah ruangan belajar itu kosong, kini hanya ada Haji Abas dan empat orang ustad yang rata- rata masih muda berdiri menghadap dua anak yang sedang dipengaruhi mahluk halus didalam tubuhnya.
Dua anak itu nampak kian marah setelah melihat kemunculan haji Abas serta para ustad pembimbingnya. Masing- masing mata kedua anak itu melotot tajam dan liar keaarah haji Abas.
Tangan kedua anak itu menggapai- gapai dengan jari terkembang seolah- olah hendak mencengkram.
“Ggggrrrraaaakkkkkhhh....”
“Ggggrrrraaaakkkkkhhh....”
“Ggggrrrraaaakkkkkhhh...”
“Ggggrrrraaaakkkkkhhh...”
Terdengar rauangan dari kedua anak itu saling sahut- menyahut.
Empat orang ustad pembimbing bergegas menyebar mengelilingi kedua anak tersebut. Samar- samar dari mulut keempat ustad itu terdengar bacaan- bacaan berbahasa arab.
__ADS_1
Sementara Haji Abas bergerak meraih sorban yang mengalungi lehernya, lantas dipegangnya dengan erat pada kedua ujung sorbannya.
Mulut haji Abas nampak komat- kamit membaca amalan yang dimilikinya. Tentunya amalan untuk menghalau gangguan dari mahluk halus.
Disaat yang bersamaan, kedua anak itu terlihat mulai melangkah berlawanan menyongsong kearah haji Abas berdiri dan ustad.
Salah satu anak yang bernama Danang merangsak kearah haji Abas sambil mengangkat kedua tangannya telapak tangannya yang terbuka seperti hendak menerkam.
Suara geraman keluar dari mulut anak kecil itu. Kedua matanya melotot liar menatap haji Abas.
Sementara haji Abas yang mendapat serangan seorang diri, langsung bersikap siaga. Ia mengangkat tangan kanannya yang menggenggam ujung sorban.
Ketika jarak anak itu terpaut tiga langkah dihadapannya, dengan cepat haji Abas menyambitkan sorbannya mengarah pada tubuh anak itu.
“Allahu akbar!” seru haji Abas dengan suara bergetar.
Bukkkk!
Bukkkk!
Sebanyak dua kali haji Abas menyambitkan ujung sorbannya ke tubuh Danang. Seketika tubuh anak kecil itu terdorong kebelakang dengan deras.
Sementara itu satu anak lagi yang bernama Arif yang sedang merangsak kearah salah satu ustad bernama Ikhwan itu tiba- tiba jatuh tersungkur.
Ustad Ikhwan bergerak cepat meringkus tangan Arif yang posisinya tertelungkup. Kemudian disusul 3 orang ustad lainnya bergegas membantu meringkus pula tubuh kecil Danang yang telah menubruk Arif.
Meski tubuh kecilnya telah diringkus, namun Arif masih terus meronta- ronta liar sambil mengeluarkan geraman.
Suara geraman anak kecil itu terdengar jelas bukan suara semestinya anak kecil. Suaranya terdengar berat dan sember.
“Kamu siapa?!” Tanya ustad Ikhwan bergetar sambil terus memegangi kedua tangan Arif.
“Grrrrrhhhhkkkkk....” “grrrrrtkkkkghhhh.....”
“Grrrrrhhaaaaakkkkhhh...!” bersamaan suara geraman yang ketiga itu, tiba- tiba tubuh ustad Ikhwan terpental mumbul ke udara setinggi setengah meter.
Tubuh ustad Ikhwan yang besarnya 3 kali lipat dari tubuh Arif itu kemudian jatuh terbanting diatas lantai.
Bukkk!
Suara terbantingnya tubuh ustad Ikhwan begitu jelas terdengar. Haji Abas serta 3 orang ustad sontak terkesiap kaget.
Sebaliknya anak kecil lainnya yang bernama Danang yang tersungkur setelah dihantam sorban haji Abas, tak mampu bangkit lagi.
__ADS_1
2 orang ustad lainnya segera menarik tubuh Danang ke pinggir ruangan, sedangkan seorang ustad lagi menolong ustad Ikhwan dan juga mengamankannya ke pinggir ruangan bersama tubuh Danang yang terkulai tak bergerak.
“Mahluk halus itu sudah keluar dari tubuh Danang, ustad!” kata ustad Ikbal setelah memeriksa dengan mata batinnya.
“Ayo bawa keluar Danang dan ustad Sofyan,” seru ustad Bunawi.
Kedua ustad muda yang seumuran itu lantas menggotong tubuh Danang keluar ruangan.
Kini di ruangan hanya ada haji Abas dan anak kecil bernama Arif. Keduanya saling berhadapan dan saling menatap tajam.
Haji Abas dapat merasakan kalau mahluk halus yang merasuki tubuh Arif itu memiliki kekuatan yang lumayan kuat.
Sayangnya haji Abas tidak bisa melihat dengan mata batin seperti ustad Ikbal, sehingga ia tidak tahu mahluk seperti apa yang merasuki tubuh Arif.
“Grrrrrrhhhkkkkk.... tinggalkan tempat ini! tinggalkan tempat ini!”
Haji Abas kontan terperangah mendengar suara dari anak kecil itu. Suara yang berat dan sember itu tak asing lagi ditelinganya.
Ia mengernyitkan keningnya dalam- dalam seperti sedang berpikir mengingat- ingat suara itu. Haji Abas merasa dirinya pernah mendengar langsung suara berat dan sember itu, tapi dimana?
“Grrrrrrhhhkkkkk.... tinggalkan tempat ini! tinggalkan tempat ini!”
Arif kembali mengeluarkan suara yang berasal dari mahluk halus yang merasukinya.
Barulah haji Abas teringat dengan kalimat yang diucapkan anak kecil itu, ia pun reflek berseru; “Genderuwo!”
Badan Haji Abas langsung bergetar, ia baru teringat dengan ucapan anak kecil itu. Ucapan itu sama persis seperti ucapan dari sosok Genderuwo yang diceritakan oleh ustad Ikbal.
“Kenapa harus pergi?! Rumah dan tanah ini sudah saya beli! Apa hakmu mengusir?!” Sentak haji Abas dengan suara bergetar hebat.
Sepasang mata Arif melotot liar menatap haji Abas penuh kemarahan. Geramannya terus- menerus menggema di ruangan itu dengan kedua tangannya membentang disamping kanan kirinya dengan telapak tangan terbuka.
Haji Abas lebih berhati- hati dan meningkatkan kewaspadaannya. Ia terus memperhatikan gerak- gerik anak kecil dihadapannya itu dengan seksama.
Diam- diam haji Abas sudah menyiapkan salah satu amlannya yang paling kuat yang dimilikinya. Tangan kanannya yang terkepal erat nampak bergetar- getar.
Akan tetapi Haji Abas terlihat gamang, otaknya berpikir keras menghadapi mahluk halus yang merasuki santrinya itu.
Haji Abas dihadapkan pada dilema yang paling sulit. Ia harus berhati- hati dalam melakukan serangan karena yang dihadapinya adalah tubuh seorang anak kecil bukan murni wujud dari Genderuwo itu.
Akan sangat berbahaya bahkan bisa fatal akibatnya apabila amalannya yang paling kuat itu dihantamkan pada tubuh Arif.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG....