
Suara pekikan -pekikan dari dalam kamar mandi itu seketika membuat 5 orang ustazah mulai menggigil histeris. Ucapan innalillahi tersebut sudah sangat melekat ditujukan untuk orang yang meninggal dunia.
Hal itulah yang merasuki perasaan para ustazah. Beberapa ustazah pun tak kuasa membendung tangisnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi, haji Abas tercengang diam membatu menatap isi didalam bak air, bibirnya bergetar tak henti- henti mengucapkan kalimat innalillahi wainnailaihi rojiuun.
Mata haji Abas menatap nanar sosok tubuh manusia yang menyembul di dalam bak mandi yang terisi air setengahnya.
Pandangannya mulai berkaca-kaca terhalang oleh linangan air mata yang berusaha ditahannya. Dihadapannya nampak sosok tubuh mengambang didalam bak mandi dengan separuh wajah terbenam menghadap kebawah didalam air.
Beberapa saat lamanya haji Abas tertegun, hatinya meratap pilu memandangi jasad ustad Sofyan. Akan tetapi sesaat kemudian kesadarannya mendadak mèmunculkan rasa optimis dan segera bergerak mengangkat ustad Sofyan dari dalam bak.
Para ustad pun seperti tersadarkan oleh gerakkan haji Abas yang berupaya mengangkat tubuh ustad Sofyan.
Mereka bergegas membantu mengangkat tubuh ustad Sofyan dari dalam bak mandi. Ustad Ikbal mengangkat bagian tangan ustad Sofyan dari sudut kanan. Ustad Bunawi membantu mengangkat bagian punggung dari sisi tengah bak mandi beriringan dengan ustad Ikbal.
Sementara dua ustad lainnya mengangkat bagian kedua kaki dari sisi lain bersama haji Abas. Kecilnya ukuran bak mandi tak memungkinkan ustad masuk ke dalamnya untuk mengangkatnya.
Dengan sedikit susah payah akhirnya tubuh ustad Sofyan perlahan- lahan berhasil dikeluarkan dari dalam bak mandi dengan sangat hati- hati.
Saat diangkat dari dalam bak mandi tubuh ustad Sofyan nampak basah kuyup terkulai tak bergerak. Kedua matanya dalam kondisi terbuka, sedangkan ekapresi raut majahnya mengguratkan ketakutan.
“Baringkan disini ustad,” ucap haji Abas dengan wajah cemas tak terkira.
Tubuh ustad Sofyan kemudian di baringkan diatas lantai kamar mandi. Haji Abas segera melakukan tindakkan menekan- nekan bagian dada, berharap ada reaksi ada tanda- tanda kehidupan dari ustad Sofyan.
Beberapa kali upaya itu dilakukan, namun tubuh ustad Sofyan tak menunjukkan reaksi apapun. Tubuhnya masih nampak terkulai dengan wajahnya sudah terlihat pucat pasi. Bibirnya pun sudah terlihat kebiruan.
Namun haji Abas tak langsung berputus, harapan terakhirnya untuk menyelamatkan ustad Sofyan adalah melakukan tindakkan membuat nafas buatan.
Segera ditutupnya hidung ustad Sofyan, lalu dengan satu tarikan nafas haji Abas meniupkan udara melalui mulut ustad Sofyan.
__ADS_1
Sejenak haji Abas memperhatikan wajah ustad Sofyan, hatinya sangat berharap ada pergerakkan reaksi dari ustad Sofyan.
Setelah ditunggu- tunggu tak kunjung ada perubahan, ia pun kembali mengulangi melakukan memberi nafas buatan.
Hingga berulang kali upaya nafas buatan dilakukan, namun ustad Sofyan masih tek bergeming.
“Ustad, cepat telpon ambulan! Telpon ambulan!” seru haji Abas dipuncak keputus asaannya.
......................
Didepan ruang kamar Istalasi Gawat Darurat, nampak haji Abas dengan didampingi 3 orang ustad duduk gelisah.
Sesekali haji Abas berdiri melongok melihat kedalam ruangan IGD itu melalui celah- celah kaca yang blur. Kemudian berjalan mondar- mandir didepan pintunya terlihat sangat gundah sambil terus menggumamkan kalimat ‘Innalillahi wainna ilaihi rojiun.’
Sebenarnya kalimah ‘Innalillahi wainna ilaihi rojiun’ itu ditujukan setiap kali mendapat musibah atau melihat orang lain tertimpa musibah.
Karena lebih seringnya terucap manakala ketika mendapati kabar kematian, sehingga imej yang tertanam di pikiran masyarakat kalimah doa itu hanya diperuntukan untuk orang meninggal.
Sementara 3 orang ustad yang ikut menemani haji Abas, hanya duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang IGD. Mereka semua tertunduk dengan wajah muram.
Bagaimana tidak terpukul, dirinya masih bisa sempat ngobrol beberapa menit sebelum rekannya itu di temukan mengambang didalam bak mandi.
Hal ini pula yang menjadi ganjalan didalam pikiran haji Abas serta semua ustad dan ustazah. Bagaimana bisa ustad Sofyan sampai bisa masuk di dalam bak mandi dan tenggelam?
Meskipun merasa kejadian itu menimbulkan ketidak wajaran, namun mereka semua tak dapat menemukan fakta lain didalam kamar mandi nomor 1 itu.
Mereka semua diliputi keheranan yang tak berujung. Di sekitar tempat kejadian perkara, tak menemukan hal- hal janggal yang mencurigakan sebagai penyebab terceburny ustad Sofyan ke dalam bak itu.
Kurang lebih sudah 15 menit berlalu semenjak ustad Sofyan masuk ke ruang IGD, tiba- tiba pintu ruangan itu dibuka dari dalam.
Kontan Haji Aba beserta 3 orang ustad langsung menoleh kearah pintu yang terbuka dengan wajah dipenuhi guratan harap- harap cemas.
__ADS_1
Dari dalam ruangan IGD muncul sebuah belangkar yang didorong oleh seorang perawat.
Diatas blangkar itu ada sebujur tubuh yang terbaring dengan ditutupi kain putih yang menutupi dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Jantung Haji Abas seketika berdegub kencang melihat tubuh yang ditutupi kain putih itu. Spontan ia kembali berseru mengucapkan innalillahi wainnailaihi rojiuun diikuti oleh 3 orang ustad yang langsung berdiri melihatnya.
Sebenarnya haji Abas dan 3 orang ustad itu belum mengetahui pasti tubuh siapa yang berada dibalik kain putih itu.
Mereka hanya menatap nanar saat belangkar yang berisi mayat itu didorong keluar melewati mereka. Dan dibelakangnya seorang dokter yang masih memakai pakaian khas ruang IGD berwarna hijau berjalan menyusul.
Buru- buru haji Abas menyongsongnya untuk menanyakan keadaan ustad Sofyan yang sebelumnya masuk ke ruangan itu.
“Dokter bagaimana dengan orang yang saya bawa tadi?!” tanya haji Abas dengan wajah cemas bercampur panik.
“Maaf, bapak siapanya pasien tadi?” dokter balik tanya dengan tenang.
“Saya orang tua asuhnya dokter,” ucap haji Abas suaranya bergetar.
“Bapak yang sabar ya, kami sudah berusaha menyelamatkan nyawanya. Namun dugaan saya anak bapak itu sudah meninggal kurang lebih satu jam yang lalu,” terang dokter.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun...” gumam haji Abas dan 3 orang ustad berbarengan.
Mereka berempat tertegun menatap dokter dengan perasaan tak menentu.
“Silahkan menunggu jenazah selesai di mandikan. Itu jenazahnya yang tadi lewat, hendak dibawa ke kamar mayat,” ucap dokter lagi.
“E.. apa dokter tau kira- kira meninggalnya kenapa dok?!” sela haji Abas buru- buru.
“Dari hasil pemeriksaan pada tubuh serta organ dalam korban, sebelum korban tenggelam ia mengalami kontraksi akibat penyakit epilepsinya kumat. Saya menemukan fakta dari ciri- ciri korban mengidap epilepsi, tidak ada tanda- tanda tindak kekerasan di tubuhnya,” terang dokter.
“Masya allah, iya saya baru ingat,” gumam haji Abas memegang keningnya.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi...” ucap dokter kemudian pergi meninggalkan haji Abas serta 3 orang ustad.
......................