
"Yuk mah..."
Mamah Karmila terlonjak kaget, suara Guntur sangat mengejutkannya karena tiba-tiba terdengar dekat di telanganya. Ia kontan menoleh ke belakang, dilihatnya Guntur sudah berdiri di belakangnya dengan tampilan rapih namun santai, kaos oblong dan celana pendek jeans.
Bayang-banyang terkutuk itu kembali lenyap di lamunan Karmila. Raut wajahnya menggambarkan penyesalan yang teramat dalam, ia sekuat tenaga mrmbela diri kalau itu semua dilakukan bukan atas dasar kemauan hatinya, semuanya terjadi diluar kesadarannya.
Pembelaan itu mungkin berlaku untuk dirinya, namun apakah Guntur mau menerimanya atau mau memaafkannya? Rasanya harkat dan martabat seorang wanita sekaligus seorang ibu itu tidak pantas di sandangnya. Karmila merasa dirinya sangat kotor dengan semua kisah hidupnya yang masih tertutup rapat hingga sekarang.
Beberapa saat kemudian mobil Fajero sport warna putih terlihat keluar dari pagar rumah bercat cokelat dan berbaur dengan kendaraan lain di jalan raya menuju Cihampelas.
"Gun, lewat jalan rumah lama ya," ucap Mamah Karmila sambil matanya memandang padatnya arus lalu lintas di depannya.
"Loh, kalau lewat jalan Hartoyo kan jauh mah. Kenapa sih pengen lewat jalan itu?" tanya Guntur heran.
"Ya nggak apa -apa sih, mamah cuma kangen aja pengen lihat rumah itu," ujar mamah Karmila.
"Iya deh," sahut Guntur.
Karmila tak mengerti dengan perasaannya yang seakan tak bisa menolak hasrat ingin melihat rumah lamanya itu.
......................
Sementara itu suasana di rumah Karmila yang sudah dijual kepada Haji Abas, kejadian aneh yang menghambat prosesi memulai pembangunan masjid disikapi serius oleh Haji Abas.
Dari awal sebetulnya Haji Abas sudah menyadari kalau rumah yang dibelinya itu terdapat mahluk halus. Akan tetapi dia meyakini seiring jalan dengan aktifitas santri-santri di rumah Tahfiz nantinya dengan sendirinya mahluk halus tersebut akan menyingkir.
Namun kejadian barusan yang memporak-porandakan susunan sekat-sekat pembatas bangunan hingga nyaris me celakakan para pekerja dan ustad-ustad pengajarnya menjadi kekhawatiran yang sangat serius.
Setelah menyelesaikan prosesi azan empat penjuru mata angin, Haji Abas memanggil ustad-ustad yang mengumandangkan azan tersebut. Haji Abas membawa empat ustad tersebut menjauh dari lokasi pembangunan masjid yang berdampingan dengan pohon beringin itu.
Di sudut halaman satunya di bawah pohon Palm, Haji Abas mendiakusikan kejadian barusan yang dirasakannya ada campur tangan mahluk gaib.
"Bagaimana kondisi kalian?" tanya Haji Abas memulai diakusinya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja pak Haji," sahut salah satu ustad.
"Alhamdulillah kamj tidak apa-apa," timpal tiga ustad lainnya.
"Kira-kira tadi kenapa ya pa Haji?!" tanya salah satu ustad.
"Iya, justru saya mau membicarakan ini ustad Ikhwan. Kejadian tadi sepertinya ada mahluk halus yang tidak menginginkan kita disini," kata Haji Abas.
"Sejak awal saya sudah merasakan adanya kehadiran mahluk halus di sekitar pohon beringin itu pa haji," ujar ustad Ikwan.
"Iya pak Haji, saya dan ustad Jalal juga sempat ngobrol kalau pohon itu ada penunggunya. Sebab kami merasakan adanya energi lain yang sangat kuat di tempat itu," timpal Ustad Yusuf.
"Ya, ya, ya... Saya juga sependapat dengan kalian. Maksud saya mendiskusikan ini untuk mengambil langkah selanjutnya, barangkali ustad Ikhwan, ustad Jalal, ustad Yusuf dan Ustad Hadi punya solusinya," kata Haji Abas.
"Bagaimana kalau di tebang saja pohon beringin itu pak Haji?" ujar ustad Jalal.
"Nah, betul kata ustad Jalal pak Haji. Tebang saja pasti mahluk halusnya akan menyingkir dengan sendirinya," timpal ustad Yusuf.
"Jangan, kalau kita merusak tempat yang menjadi rumahnya itu akan sangat beresiko. Mahluk halus itu pasti akan melawan dan kita tidak tahu seberapa kuatnya dia," sergah ustad Ikhwan.
"Berdamai?! Maksudnya ustad?!" sergah ustad Ikhwan.
"Iya berdamai, kita buat dia tidak mengganggu kita dan kita juga tidak mengusiknya," ujar ustad Hadi.
"Tapi bagaimana caranya? Apa kira-kira bisa dilakukan negosiasi dengan mahluk gaib itu?" ujar Ustad Yusuf.
"Sebetulnya saya sudah mengetahui sejak awal adanya mahluk halus tersebut. Saat pertama kali saya kesini melakukan transaksi, mahluk itu muncul dibalik jendel ruang tamu itu," ungkap Haji Abas sambil menunjuk jendela ruang tamu yang terlihat dari sisi samping.
"Mahluknya sepertk apa pak Haji?!" tanya ustad Ikhwan.
"Mm, sekilas sih seperti Genderuwo ustad," jawab Haji Abas.
"Genderwo?!" sahut keempat ustad serempak.
__ADS_1
"Iya, saya rasa usulan ustad semuanya patut kita coba. Yang pertama saya coba untuk negosiasi, kalau tidak menemukan jalan keluar ya terpaksa kita tebang saja pobon beringin itu!" tegas Haji Abas.
"Maaf pak Haji, kalau untuk memindahkan santri- santrinya kira-kira kapan?" tanya ustad Ikhwan.
"Rencananya sih menunggu masjidnya jadk dulu," jawab Haji Abas.
"Apa tidak terlalu lama pak Haji, soalnya kalau nunggu masjid jadi bisa dua bulanan lagi. Sendangkan kondisi di rumah Tahfiz yang di sana sudah tidak cukup lagi menampungnya," sela ustad Hadi.
Haji Abas terdiam sejenak, nampaknya ia sedang menimbang-nimbang untuk mengambil keputusan. Lalu berkata, "Kalau begitu kita menunggu dua ruangan itu selesai saja agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan. Adapun untuk sholat Jumat untuk sementara bisa di lakukan di halaman saja."
"Kira-kira kapan rampungnya dua ruangan itu ustad?" sambung Haji Abas.
"Minggu depan juga sudah rampung pak Haji," sahut ustad Ikhwan.
"Ya sudah berarti minggu depan kita bisa pindahkan santri. O iya nanti malam kita berkumpul di halaman ini, kita coba melakukan komunikasi dengan mahluk halus itu ustad." kata haji Abas.
"Baik pak haji." sahut keempat ustad bersamaan.
"Silahkan kembali mengawasi pekerja, buat perlindungan di area pekerjaa mereka ustad agar tidak ada gangguan lagi." kata haji Abas mengakhiri diskusinya.
......................
Sebuah mobil Fajero sport warna putih terlihat berhenti di depan pagar rumah yang kini di depan pintu utamanya terpampang tulisan Rumah Tahfiz. Karmila memandang nanar rumah yang sudah 23 tahun di tempatinya itu. Rumah di hadapannya yang dulu sepi kini di dalam halaman nampak banyak pekerja bangunan yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Udah ya mah, orang-orang di dalam pada ngeliatin tuh," ujar Guntur.
"Hmm..." jawab mamah Karmila.
Guntur memahami perasaan mamahnya yang tampaknya masih berat dengan rumah lamanya. Tetapi pemahaman Guntut nyatanya lain dengan yang di rasakan mamah Karmila, ada sisi lain yang menariknya untuk sekedar melihat rumah itu dan sisi lain itu hanya Karmila yang tahu.
Guntur pun kembali melajukan mobilnya diikuti pandangan mata beberapa pekerja yang sedikit keheranan melihat mobil itu.
......................
__ADS_1
SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA BAGI YANG ME JALANKANNYA 🙏🙏🙏