TITISAN

TITISAN
KARBALA


__ADS_3

Hari Minggu pagi ini benar-benar dimanfaatkan Guntur untuk beristirahat total dari kesibukkannya sebagai Pimpinan di perusahaan peninggalan papahnya. Kini hari-harinya disibukkan dengan urusan pekerjaan di kantornya, berangkat pagi pulang sore bahkan kadang-kadang harus pulang malam ketika ada proyek yang harus ditinjaunya jauh diluar kota.


Akitifatsnya di kantor yang padat membuat kuliahnya keteteran. Hal ini pula yang menjadi dilema bagi dirinya, disatu sisi ia merasa berat jika harus meninggalkan bangku kuliah namun disisi lain ia pun harus menjalankan perusahaannya atas wasiat papahnya yang juga tak kalah pentingnya. Mau tidak mau Guntur harus mengambil satu keputusan untuk memilih salah satunya, apakah melanjutkan kuliah dan menyerahkan perusahaan kepada pak Iwan atau fokus mengembangkan perusahaan.


Dilema itu terus membayanginya semenjak dua pekan lalu setelah Guntur menjalaninya secara bersamaan antara kuliah dan berkantor, ternyata keduanya tidak bisa dijalaninya secara bersamaan. Apalagi saat ini Perusahaannya sedang bersaing untuk memenangkan tender sebuah proyek besar dengan nilainya ratusan miliyar, Guntur benar-benar dituntut fokus jika tak ingin santapan empuk itu lepas dari perusahaannya. Dia harus gesit melobi kesana kemari dari satu relasi ke relasi lain dan tak jarang harus melakukan pertemuan-pertemuan secara intens melobi dengan orang-orang penting dibalik tender itu.


Nama besar Aryo Satriaji setidaknya dapat meringankan usahanya dalam memenangkan proyek-proyek ditunjang dengan kinerja Guntur yang tak kalah briliyannya dengan papahnya. Dikalangan tertentu sosok papahnya itu sangat berpengaruh dan perusahannya sudah terkenal memiliki reputasi bagus serta sangat disegani. Meski terbilang masih sangat muda untuk terjun keduania kontraktor yang penuh dengan persaingan sengit tidak lantas membuat para kompetitornya merasa diatas angin. Justru berkat kecerdasan yang dimiliki Guntur dengan ide-ide dan terobosannya yang cemerlang terbukti mampu dapat membuat para kompetitornya berpikir ulang untuk mengalahkannya. Terbukti untuk tender-tender yang dibilang kecil yang nilainya hanya ratusan juta untuk ukuran perusahaannya sangat mudah dimenangkan Guntur.


Akhirnya karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dijalani secara bersamaan, akhirnya Guntur membuat keputusan setelah dipikirkannya matang-matang. Dirinya memutuskan untuk mengambil cuti pada kuliahnya terlebih dahulu dan memilih fokus menangani perusahaan. Keputusan tersebut membuat sahabatnya ketiban pulung, Kunto mendapat warisan sepeda motor sportnya untuk tunggangannya berangkat kuliah karena Guntur mamakai mobil peninggalan papahnya yang sudah di servis sebelumnya.


Didalam kamarnya, Guntur sedang sibuk didepan layar monitor komputer. Matanya fokus tertuju meniti sebuah artikel yang menjelaskan tentang dunia supranatural dari salah satu situs. Kadang-kadang dahinya terlihat mengerut dalam-dalam dipaksa untuk berfikir keras oleh karena penjelasan yang tidak dimengertinya bahkan seringkali ia harus mengulang-ulang kalimat-kalimatnya untuk dapat memahaminya. Imajinasinya turut melayang jauh masuk kedalam dunia kebatinan sembari menganalisa mencocokkan dengan apa yang dirasakan pada dirinya selama ini. Guntur baru kepikiran kembali dengan telapak misterius yang ditemukqn didalam rumahnya beberapa hari yang lalu yang sempat terlupakan karena kesibukkannya di kantor.


Tok.... tok... tok...


Tok.... tok... tok...


“Guuun, tolong bukain ada tamu tuh, mamah lagi tanggung,” seru mamah Karmila dari dalam dapur.


"Iya maaaah..." sahut Guntur kemudian beranjak meninggalkan meja komputernya bergegas menuju pintu.


Guntur keluar kamarnya, sejenak menengokkan kepalanya kedapur terlihat mamah Karmila sedang sibuk menggoreng. Kemudian pandangannya dialihkan ke kamar Kunto yang pintunya masih tertutup rapat mungkin dia masih lelap tidur, Guntur pun melanjutkan langkahnya membuka pintu yang terdengar masih terus diketuk dari luar.


Kreteeeeeekkk.. pintu dibuka Guntur, dihadapannya berdiri seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan dengan berpenampilan rapih namun santai langsung tersenyum ramah. Wajahnya lumayan tampan dengan kumis tipis menghias diatas bibir, lelaki itu mengenakan kemeja berwarna krem bergaris-garis kecil hitam lengan panjang yang dilipat setengah lengan dipadukan dengan celana blue jeans.


"Permisi mas, ibu Milanya ada?" ucap lelaki itu begitu pintu dibuka.


"Mmm, punten Om siapa ya, darimana?" Tanya Guntur menaruh curiga dialam hatinya.


"Oh, kenalkan mas saya Aji, Satriaji..." jawab lelaki itu mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Guntur kontan tercengang begitu lelaki itu menyebutkan namanya. Dadanya bergetar, mengingat "Satriaji" nama itu merupakan nama belakang papahnya membuat Guntur hanya melongo menatap lelaki itu.

__ADS_1


"Saya teman satu sekolahnya ibu Mila waktu di SMA, kebetulan saya lagi ada urusan pekerjaan di Bandung jadi sekalian mampir," ujar Aji menjelaskan ketika melihat ekspresi Guntur yang tercengang yang dinilainya sebagai ekspresi kecurigaan.


"Oh, ya ya silahkan masuk Om, sebentar saya panggilkan mamah dulu." ucap Guntur mempersilahkan Aji duduk di ruang tamu.


Guntur berlalu meninggalkan Aji di ruang tamu, dengan perasaan bertanya-tanya maksud lelaki itu bertandang ke rumahnya. Sikapnya menjadi siaga penuh mengingat saat ini status mamahnya sebagai janda yang tidak dipungkiri masih terlihat cantik dengan tubuh proporsionalnya dan sebagai anak satu-satunya ia harus menjadi pelindung bagi mamahnya dari godaan-godaan para lelaki hidung belang dan BUDAR alias buaya darat. Gintur melangkah cepat-cepat menemui mamah Karmila yang masih sibuk memasak.


"Mah, ada yang ngapelin tuh," ucap Guntur menggoda mamahnya.


"Hussst, ngaco! Jangan sembarangan kalau ngomong, itu doa loh Gun," sungut mamah Karmila menoleh pada Gunturm


"Yeee, beneran mah itu di ruang tamu katanya teman waktu SMA mamah, namanya Aji katanya," ujar Guntur.


"Aji?" ucap mamah Karmila mengerutkan dahinya yang putih dalam-dalam.


"Tuh kan, melamun... siapa mah, mantan waktu di sekolah ya, hikhikhik..." seloroh Guntur mencolek lengan mamah Karmila yang sedang menggoreng ikan.


"Guntuuuur...!" sungut mamah Karmila mengacungkan sodetan kearah Guntur.


"Ya sudah gantiin mamah goreng ikan, nih..." ujar mamah Karmila sambil menyerahkan sodetnya atau orang Indramayu bilang susruk atau juga bahasa kerennya spatula atau juga sutil.


"Oke, oke mamahku yang syantiiiik..." timpal Guntur menerima sodet.


Mamah Karmila berlalu dari hadapan Guntur namun tidak langsung menuju ruang tamu menemui Aji melainkan masuk ke kamarnya untuk berganti baju yang lebih tertutup karena sebelumnya hanya mengenakan baju tangtop dengan bawahan celana jeans minim. Beberapa saat kemudian Karmila keluar melangkah menemui Aji yang sudah menunggunya di ruang tamu.


"Mila, apa kabar?" ucap Aji excited begitu Karmila nongol dihadapannya.


Aji tertegun menatap Karmila yang masih terlihat cantik bahkan menurutnya lebih cantik dibandingkan waktu sekolah dulu.


"Kamu kelihatan lebih cantik sekarang, hehehe..." ucap Aji mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang langsung disambut jabat tangan Karmila.


"Ah, bisa aja kamu Ji. Eh, kok kamu tau sih alamat rumahku yang sekarang?" Karmila mencoba mengalihkan godaan Aji tidak mengindahkan pujiannya meskipun didalam hatinya melayang merasa tersanjung.

__ADS_1


"Saya pernah ke rumah kamu sudah lama sih, kata ibumu kamu sejak pernikahan itu katanya kamu tinggal di Bandung ikut suami. Terus saya meminta alamatnya dan kebetulan kemarin ada urusan kerjaan di Bandung, iseng-iseng cari alamat lewat Google maps eh ternyata dekat juga dengan hotel tempat saya menginap, jadi deh bisa mampir," ucap Aji dengan senyumannya yang tak pernah berhenti.


"Oh ya, mana suamimu Mil?" tanya Aji.


Karmila yang semula senyum-senyum saja mendengar cerita Aji, tiba-tiba wajahnya langsung berubah muram. Pikirannya dipaksa harus kembali untuk mengingat Aryo oleh pertanyaan yang dilontarkan Aji.


"Kenapa Mil?" tanya Aji kembali melihat perubahan ekspresi wajah Karmila.


"Mas Aryo sudah meninggal mau sebulan ini Ji," ucap Karmila pelan menundukkan wajahnya.


"Innalillahi wainna ilaihi rojiun, maaf, maaf... saya sungguh-sungguh nggak tau Mil," ucap Aji mencoba meraih tangan Karmila.


"Iya nggak apa-apa Ji, ya mungkin sudah takdirnya," ucap Karmila pelan.


Hatinya berdesir merasakan sesuatu yang menyenangkan saat Aji menyentuh tangannya bahkan Karmila pun tidak berusaha untuk menghindar ketika Aji menggenggam tangannya.


Akan tetapi suasan yang nampak romantis itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja kaca jendela di ruang tamu pecah seperti dipukul seseorang hingga menimbulkan suara yang sangat mengagetkan seisi rumah. Karmila langsung menarik tangannya dari genggaman Aji dengan mata terbelalak lebar, posisi duduknya yang menghadap jendela sehingga dengan sangat jelas dia melihat bagaimana kaca itu tiba-tiba pecah.


"Karbala???" pekik Karmila dalam hati.


Bersamaan kaca jendela pecah Karmila spontan menoleh dan ia melihat kelebatan sosok mahluk hitam dengan bulu lebat menutupi sekujur tubuhnya yang sudah sangat dikenalnya.


"Ada apa mah?!" seru Guntur berlari dari dapur dan celingukkan melihat sekeliling ruang tamu.


"Ada apa Gun?!" susul Kunto keluar dari kamar dengan wajah kebingungan.


"Nggak tau Gun, itu kaca jendela tiba-tiba pecah," ujar mamah Karmila menunjuk kaca jendela pura-pura tidak tahu.


Semuanya langsung bergegas menuju ke jendela yang kacanya pecah. Guntur celingukan dibawah jendela diikuti oleh Kunto, mereka pikir ada yang sengaja melemparnya dengan batu namun setelah diperiksa disekitar jendela tidak ada batu sebutir pun yang tergeletak dilantai dibawah jendela.


......................

__ADS_1


__ADS_2