TITISAN

TITISAN
BANGUNAN DIBALIK POHON


__ADS_3


"Loh, perasaan tadi ke belakang. Kok munculnya dari depan?!" kata Kunto terkaget-kaget melihat kemunculan Guntur dan pak Suro di pintu depan.


"Hehehehe... Habis ngajak pak Suro keliling melihat-lihat rumah Kun," jawab Guntur tertawa kecil menutupi kebohongannya, kemudian kembali duduk ditempatnya semula.


Tidak terasa malam sudah larut menunjukkan pukul 23.19 wib. Pak Suro dan Adi terlihat gelisah ditempat duduknya, didalam hatinya sedikit bimbang memikirkan bagaimana pulangnya karena angkot jurusan Tamansari sudah tidak ada lagi. Guntur melihat dan mengerti kegelisahan pak Suro dan Adi sehingga ia mengajaknya untuk menginap saja.


"Pak sebaiknya nginap aja disini, ya Di ya..." ucap Guntur menatap penuh harap pada pak Suro dan Adi bergantian.


Pak Suro menoleh kearah Adi seperti meminta persetujuan dari Adi. Begitupun Adi menatap pak Suro seperti menunggu jawaban darinya dan secara refleks keduanya sama-sama menganggukan kepalanya. Guntur pun tersenyum lega melihat respon Pak Suro dan Adi yang menunjukan menerima tawarannya.


"Ya sudah Adi tidur di kamar bareng A Kunto ya, pak Suro sama saya ya pak, yuk..." ajak Guntur kemudian berdiri dari kursinya diikuti yang lainnya lalu melangkah meninggalkan ruang tamu.


......................


"Di ini pake selimutnya biar nggak kedinginan nanti," ucap Kunto memberikan selimut pada Adi.


"Nggak biasa selimutan A," ujar Adi duduk sejenak di bibir kasur sambil menekan-nekan pantatnya.


"Sekarang sih belum begitu dingin Di tapi nanti kalau sudah lewat jam dua belas keatas mah, brrrrrrrrhhh... dingin banget," ucap Kunto tersenyum melihat tingkah Adi yang terlihat seperti baru merasakan kasur seempuk itu.


"Empuk banget ya A, hehehe..." kata Adi polos kemudian kembali memantul-mantulkan pantatnya diatas kasur.


Adi kemudian langsung merebahkan tubuh kecilnya sembari merapatkan selimut yang diberikan oleh Kunto. menutupi tubuhnya. Kunto menyusul menjatuhkan tubuhnya disebelah Adi sembari merapatkan selimutnya. Beberapa saat lamanya tidak ada lagi obrolan antara Adi dan Kunto, ternyata keduanya sudah tertidur pulas.


Sementara itu didalam kamar Guntur, sedang terlibat obrolan seru diatas kasur. Guntur dan pak Suro duduk diatas kasur bersandar pada dinding dengan santai. Guntur sensiri nampaknya sangat bersemangat sekali mendengar penuturan pak Suro, banyak hal yang menarik perhatian Guntur pada cerita-cerita yang disampaikan pak Suro itu. Nampaknya pak Suro lebih leluasa mengungkapkan pembahasan kejadian-kejadian yang dilihat oleh pak Suro, sesekali Guntur bertanya disela-sela ucapan pak Suro.


"Lalu apa pengaruhnya terhadap keluarga saya pak?" Tanya Guntur ditengah-tengah pak Suro menuturkan penglihatannya pada bangunan tak kasat mata dibalik pohon rindang dibelakang rumah.

__ADS_1


"Ada dua hal Gun, positif dan negatif atau diuntungkan dan dirugikan," ujar pak Suro mengerutkan keningnya.


Guntur semakin penasaran dibuatnya, ia terus mencecar pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia pendam sendiri terutama tentang sosok mahluk hitam dengan bulu lebat disekujur tubuhnya yang mengaku dirinya adalah bapaknya.


"Positifnya dulu pak," sergah Guntur membetulkan posisi duduknya diatas kasur.


"Positifnya ya kamu dan keluargamu seperti mendapat perlindungan dari orang-orang yang berbuat jahat," ucap pak Suro.


Guntur tertegun mendengar hal positifnya, ingatannya langsung melayang pada banyak peristiwa-peristiwa yang tak masuk akal yang dialaminya. Dan itu sudah dirasakannya semenjak masa kanak-kanak sampai dengan sekarang. Dan semua keanehan itu hingga dirinya duduk di bangku kuliah sama sekali masih tidak dimengerti olehnya. Berarti perlindungan itu berasal dari mahluk gaib itu? dalam hati Guntur tersenyum-senyum.


Kemudian Guntur mengingat mamahnya, sepertinya juga aman-aman saja padahal seringkali mamahnya ditinggal sendirian di rumah. Papahnya tidak pernah menginap sedangkan dirinya sedang ada kegiatan kampus sampai tidak pulang. Tetapi Mamahnya tidak pernah mengeluh ketakutan ataupun memberitahukan ada kejadian yang menjahatinya.


Ya, memang secara fisikly dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya perlindungan tersebut terbukti sudah berkali-kali dirinya diselamatkan dari aksi orang-orang yang menjahatinya. Lalu saat Guntur teringat papahnya, wajahnya berubah dingin tertunduk. Kenapa papahnya tidak dilindungi hingga terjadi kecelakaan mobilnya tertimpa pohon tumbang dan membuatnya meninggal?


"Mmm... negatifnya pak?" tanya Guntur sedikit ragu dan takut-takut mendengarkannya.


"Negatifnya jika ad..."


Ucapan pak Suro mendadak terhenti oleh suara gebrakkan dari atas plavon kamar sekaligus membuat Pak Suro dan Guntur terkejut bukan main. Suara itu seperti dipukul keras-keras. Pak Suro langsung mengerahlan Mata Batinnya untuk memeriksa sekeliling kamar terutama diatas palvon.


Mata Batin pak Suro melihat dengan jelas sesosok mahluk hitam berbulu lebat dalam posisi setengah berjongkok sedang memandangnya dengan sorot mata merahnya. Wajahnya menyiratkan kemarahan terhadap pak Suro, mahluk itu menyeringai menampakkan dua taring dikedua sudut bibirnya.


"Jangan mengusik keluarga ini!" Seru mahluk hitam dari balik plavon.


Bukan hanya pak Suro yang tersentak kaget mendengar suara itu, Guntur pun demikian. Guntur tak kalah terkejutnya karena dia juga dapat mendengar suara yang tak asing di telinganya itu, suara besar dan sember.


"Siapa yang mengusik?!" balas pak Suro dengan suara bergetar.


"Pergi kau dari rumah ini!" hardik mahluk hitam itu.

__ADS_1


"Apa hakmu menyuruh saya pergi dari rumah ini?" balas pak Suro kemudian mulutnya terlihat komat kamit membaca sesuatu dengan tangan terkepal.


Guntur yang semula terdiam terpaku mendadak emosinya muncul manakala mahluk gaib itu mengusir pak pak Suro. Ia merasa mahluk itu tidak punya hak mengusir tamunya, memangnya siapa dia?!


"Hei, memangnya kamu siapa?! Berani-beraninya mengusir teman saya!" sergah Guntur tubuhnya bergetar penuh kemarahan.


Setelah Guntur mengatakan itu mahluk itu tidak lagi bersuara. Pak Suro melihat mahluk hitam itu langsung berkelebat pergi kearah belakang setelah Guntur berkata.


"Gun, dia sudah pergi kearah belakang," ucap pak Suro.


"Apa dia ke rumahnya pak?" Tanya Guntur penasaran.


"Iya Gun, nampaknya mahluk itu tidak suka kalau saya dekat dekat dengan kamu Gun," ujar pak Suro.


"Ah, biarin aja pak jangan pedulikan mahluk itu. Apa haknya melarang-larang begitu, memangnya dia siapa?" ucap Guntur geram.


Pak Suro terdiam mendengar luapan emosi Guntur, didalam hatinya berkecamuk rasa kebimbangan. Isi kepalanya berpikir keras sedang menimbang-nimbang apakah dirinya berterus terang saja ataukah jangan sekarang untuk menceritakan sosok mahluk gaib itu. Ada rasa ketidak tegaan jika diceritakan siapa sesungguhnya mahluk gaib itu sehingga begitu resfeknya pada Guntur.


"Ah, belum saatnya untuk diungkapkan sekarang," gimam pak Suro dalam hati.


"Pak bagaimana kalau pohon itu ditebang saja?!" tanya Guntur antusias.


Didalam hati Guntur timbul perasaan gemas ingin sekali menyingkirkan mahluk gaib itu dari rumahnya. Dia menilai mahluk gaib itu sudah mencampuri urusan pribadinya terlalu jauh. Ditambah lagi, mengingat perkataannya yang mengaku bahwa mahluk itu adalah bapaknya sehingga membuatnya semakin tidak menerima dengan keadaan itu dan batinnya berontak tidak mau menerima pengakuan itu.


"Kamu yakin ingin menebang pohon itu?!" tanya pak Suro menatap serius.


"Sangat yakin pak, nanti saya bicarakan dengan mamah untuk menebang pohon itu." ujar Guntur geram.


Pak Suro hanya manggut-manggut mendengar keseriusan Guntur untuk menebang pohon itu. Pak Suro tidak dapat berkata-kata untuk menanggapi keinginan Guntur itu dan tidak pula untuk melarangnya. Namun didalam hatinya ada kekhawatiran yang sangat besar jika benar-benar pohon itu akan ditebang.

__ADS_1


......................


__ADS_2