TITISAN

TITISAN
RUMAH BARU DAN LAMA


__ADS_3

Satu minggu yang sangat sibuk bagi Kunto, ia diberikan tanggung jawab penuh oleh Guntur untuk mengurusi pindahan. Dengan dibantu pak Suro dan Adi mereka mengangkut perabotan-perabotan ke rumah baru di daerah Dago atas menggunakan mobil pick up.


Hani Abas memberikan waktu satu minggu untuk mengosongkan rumah karena Haji Abas ingin segera mempergunakan rumah tersebut dan secepatnya memindahkan santri-santri Tahfiz-nya ke rumah itu.


Hari ini adalah hari pertama Guntur, Mamah Karmila dan Kunto resmi menempati rumah baru. Mamah Karmila terlihat sangat senang dan merasa nyaman menempatinya.


Minggu pagi itu udara terasa lebih dingin dan sejuk karena lingkungan Dago atas posisinya berada dekat dengan di kelilingi perbukitan-perbukitan hijau serta datarannya berada lebih tinggi dibandingkan dengan di daerah rumah sebelumnya.


Karmila sangat menikmati suasana pagi itu dengan berjalan-jalan di halaman rumah yang kondisinya nyaris tak jauh berbeda dengan halaman rumah sebelumnya. Halaman yang luas dengan hamparan rumput hijau dan tanaman-tanaman bunga beraneka ragam menciptakan taman kecil yang indah dipandang mata.


Kemudian Karmila berbalik badan dan memandangi arsitektur bangunan rumah yang lebih modern dan berasa tidak semenyeramkan rumah terdahulunya yang berarsitektur sedikit kuno. Pemandangan itu sejenak membuat Karmila dapat melupakan segalanya tentang semua kenangan indah maupun cerita suram peristiwa-peristiwa terkutuk di rumah lamanya. Dan untuk saat ini dirinya benar-benar tidak ingin kembali terkungkung kedalam lingkaran Karbala.


Baru kali ini Karmila merasakan kenyamanan dan ketenangan luar biasa selama 23 tahun hidup di Bandung. Karmila seakan-akan merasakan hidup normal kembali sehingga terlintas dipikirannya untuk memulai hidup baru.


Bersuami? terbersit di batin Karmila membuatnya senyum-senyum sendiri. Namun cepat-cepat pikiran itu ditepisnya, batinnya bergejolak buat apa menikah lagi? Apa yang di cari dari penikahan itu? Lalu kebahagiaan apalagi yang ingin di cari? Saat ini sudah sangat bahagia!


"Maaah... Mamaaah..." suara panggilan Guntur seketika menghentikan lamunan liar Karmila.


"Iya Guuuun..." sahut mamah Karmila tanpa beranjak dari tempatnya berdiri.


Guntur terlihat datang menghampiri mamah Karmila, "Gimana mah, suka dengan tempat ini mah?"


"Mamah sukaaaaa buanget nget nget Gun," ujar mamah Karmila sambil tertawa kecil.


Guntur nampak puas melihat mamahnya begitu bahagia menikmati suasanya rumah baru. Kemudian Guntur dan mamah Karmila berjalan-jalan mengelilingi halaman rumah sambil ngobrol santai.


"Gun, nanti antar mamah beli tanaman-tanaman kesukaan mamah ya. Kayak di rumah yang dulu," ucap mamah Karmila sambil melangkah santai di samping Guntur.

__ADS_1


"Iya mah, sekalian aja belanja kebutuhan sehari-hari. Tuh di kulkas isinya air putih semua, hehehehe..." ujar Guntur.


"O iya, Kunto kemana? Kok belum kelihatan?" tanya mamah Karmila.


"Masih tidur mah, mungkin dia kecapekan. Semalam sampe jam 2 berbenah, kasihan dia," ungkap Guntur.


"Oh, sampe jam dua?! Aduh mamah udah pules kali ya saking nyamannya. Disini tenang nggak berisik Gun," ujar mamah Karmila.


......................


Di rumah lama Guntur,


Haji Abas sibuk mengatur orang-orang pekerja bangunan yang sedang membenahi beberapa ruang yang dialih fungsikan. Mulai dari ruang tamu yang berubah dengab disekat menjadi dua ruangan, dimana ruangan bagian depan di fungsikan untuk ruangan tata usaha sedangkan ruangan satunya untuk ruang tamu Tahfiz.


Beberapa pekerja juga nampak sibuk di halaman rumah sedang membangun ruangan-ruangan yang di fungsikan untuk kegiatan santri-santri Tahfiz. Sementara dua orang terlihat sedang menyiapkan sebuah nameboard besar untuk di pasangkan di depan gerbang masuk.


“Pak, pak, yang ini nanti pakai jendelanya dua aja ya pak tapi dibikin jendela yang semi permanen aja. Ruangan ini rencananya di pasang ac,” ujar Haji Abas.


Beberapa saat kemudian Haji Abas melanjutkan langkahnya mengamati pengerjaan yang lainnya. Ia pun melanjutkan langkah menuju para pekerja yang ada di belakang rumah.


Haji Abas tiba-tiba mengerutkan keningnya, dari kejauhan ia melihat dua orang pekerja berdiri di bawah rindangnya pohon beringin sedang terlibat obrolan serius dengan ekspresi wajah keduanya sama-sama tegang, sepertinya sedang terjadi pertengkaran kecil disana.


“Sumpah kang, rokoknya semuanya saya taruh di sini!” kata salah satu kuli bangunan yang masih muda.


“Ya tapi mana?! Nggak ada Din!” sahut kuli bangunan yang lebih tua.


“Sebentar, sebentar kang! Nah, kopi saya dan kopi punya akang kok habis padahal baru satu seruputan,” sergah kuli bangunan yang muda.

__ADS_1


“Lah, iya ya!” timpal seorang kuli bangunan yang lebih tua sambil garuk-garuk kepala.


Dari jarak 20 langkah Haji Abas hanya melihat kedua orang kuli bangunan itu bersitegang tanpa mendengar apa yang dibicarakan kedua orang itu. Melihat kedatangan haji Abas kedua kuli bangunan itu berhenti namun masih dengan wajah mengguratkan kekesalan sekaligus keheranan.


“Kenapa kalian ribut-ribut?” tanya Haji Abas menghampiri.


“Anu, pak Haji, ini... duh gimana kang menjelaskannya nih,” sahut pekerja yang muda.


“Begini pak Haji, rokoknya hilang dan saya menuduh si Udin yang menyembunyikannya. Dan ini gelas kopi tau-tau sudah tandas padahal baru sekali seruputan,” ungkap pekerja lebih tua.


“Udah, udah jangan di ributkan lagi, malu atuh ah! Nih beli lagi aja Din, jangan ribut-ribut lagi,” kata Haji Abas mengulurkan selembar uang kertas seratus ribu.


Setelah menerima uang pemberian Haji Abas, si Udin pun bergegas meninggalkan tempat itu menuju warung yang ada di depan rumah.


"Pak Dadang lanjutkan pekerjaannya ya," ucap Haji Abas.


"Muhun pak Haji," sahut pak Dadang kemudian meninggalkan Haji Abas sendirian di bawah rindangnya pohon beringin.


Meskipun matanya seperti melihat kearah pekerjaan yang sedang di kerjakan pak Dadang, namun didalam batin Haji Abas merasakan sesuatu keanehan di tempatnya berdiri. Haji Abas celingukkan memperhatikan ke sekelilingnya dengan seksama, tetapi semuanya nampak baik-baik saja dan tidak ada yang aneh.


Kemudian Haji Abas memutuskan untuk berteduh sejenak di bawah pohon beringin yang di rasakannya sangat teduh dan nyaman dengan hembusan semilir angin pelan-pelan menerpa tubuhnya. Haji Abas pun lantas mencari posisi duduk yang enak diantara akar-akar beringin yang bertonjolan lalu mengeluarkan bungkusan rokok dari saku baju kokonya.


Haji Abas duduk di salah satu celah akar sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon beringin itu, sedang kedua tangannya di letakkan diatas akar-akar yang ada di kedua sisinya seperti layaknya duduk di sebuah kursi saja. Kedua kakinya diselonjorkan lurus sembari memandang para pekerja yang sedang menghaluskan kayu-kayu.


Saking enaknya berteduh di bawah pohon beringin, perlahan-lahan kedua mata Haji Abas pun menutup. Dia terlelap!


......................

__ADS_1


🔴NYAMBUNG LAGI YA...


__ADS_2