TITISAN

TITISAN
TANDA TANYA


__ADS_3

Guntur baru saja turun dari mobilnya ditempat parkiran kantor langsung disambut Satpam Agus dengan pertanyaan-pertanyaan. Guntur sedikit terkejut juga darimana dia tahu.


“Pak Guntur tidak apa-apa?! Gimana ceritanya pak?” Tanya pak Agus.


“Tidak apa-apa apanya pak Agus, cerita apa nih?” Jawab Guntur setengah heran dan pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan pak Agus, kemudian melanjutkan melangkah memasuki kantor diikuti pak Agus.


“Itu loh pak boss kejadian yang kemarin di jalan tol itu,” ujar pak Agus penasaran.


“Kok pak Agus tau?” Tanya Guntur heran.


“Semua karyawan ngomongin pak Guntur, katanya pak Guntur hebat bisa ngalahin tiga orang penjahat,” ucap Pak Agus sambil ngacungin jempol.


“Hallahh, sok tau pak Agus ini ah. Pada tau darimana kejadian kemarin pak,” ujar Guntur terus berjalan.


“Hampir seluruh karyawan melihat Pak Guntur di televisi, termasuk saya, hehehe...” kata pak Agus.


Guntur menghentikan langkahnya lalu menoleh pada pak Agus, “Melihat di tivi?” Gumam Guntur garuk-garuk kepala.


“Ya sudah saya permisi pak boss, kembali ke markas, hehehe...” ucap Satpam Agus.


“ya ya pak Agus...” sahut Guntur melangkah di tangga teras.


“Selamat pagi pak,” ucap Satpam kemudian membukakan pintu.


“Pagi pak Arif...” sahut Guntur sambil tersenyum.


Ketika Guntur melangkah melewati pintu masuk, semua karyawan dan karyawatinya serentak berdiri menyambutnya dengan senyum-senyum kemudian semuanya bertepuk tangan. Guntur menghentikan langkahnya penuh keheranan, menurutnya ada yang aneh dengan situasi kantor hari ini.


“Pak Guntur hebaaaat....!”


“Pak Guntur hebaaaat....!”


“Pak Guntur hebaaaat....!”


Seru suara karwayan-karyawannya serempak dengan senyum lebar penuh rasa bangga memandangi Guntur. Guntur masih tertegun sedikit bingung melihat aksi surprize karyawan-karyawannya, dirinya masih belum menyadari sepenuhnya surprize yang ditunjukkan karyawan-karyawannya. Padahal sebagian besar warga masyarakat Bandung termasuk karyawan dan karyawatinya sudah melihat tayangan berita di televisi. Namun sepertinya Guntur sendiri belum melihat tayangan beritanya seperti apa.


"Cerita dong pak Guntur, gimana kejadiannya?" celetuk salah satu karyawan.

__ADS_1


"Katanya kalian sudah tau kok masih nanya aja sih," balas Guntur menatap karyawannya penuh perhatian.


"Ceritanya sama seperti itu, sudah sudah kembali bekerja ya..." ucap Guntur lagi kemudian melanjutkan langkah menuju ruangannya.


Dibalik ruangan yang menghadap area work karyawan, sepasang mata memperhatikan dari balik dinding kaca. Sorot matanya menyiratkan ketidak sukaan dengan euporia diluar sana. Gigi gerahamnya gemeretak, tangannya menggenggam keras yang terkepal lusuh.


"Kenapa bisa selamat?" umpat pak Iwan dalam hati.


"Tunggu saja saatnya, kamu pasti tidak akan selamat dan akan dilenyapkan tanpa jejak, hahahaha..." ucap pak Iwan dalam hati dengan senyum menyeringai.


Sementara itu di ruangan bertuliskan DIRUT, Guntur duduk termenung di kursinya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian sehari lalu di jalan tol. Kerumitan atas kejadian percobaan pembunuhan itu memaksanya berurusan dengan pihak kepolisian sehingga sedikit menghambat kepulangannya. Karena dirinya harus ke kantor polisi lebih dulu untuk memberikan laporannya. Beruntung ada pak Asrul yang membantunya untuk pengusutan lebih lanjut karena dari informasinya memudahkan kepolisian mengusut pelaku lainnya yang lolos dan juga mengungkap boss dalang dibalik percobaan pembunuhan tersebut.


Namun yang ada dipikiran Guntur bukanlah tentang siapa pelaku otak percobaan pembunuhan itu ataupun mempertanyakan mengapa ingin membunuhnya, karena ia tidak terlalu memikirkannya. Tetapi yang saat ini menjadi tanda tanya besar di kepalanya adalah siapa yang kembali melindunginya. Pikirannya sibuk menerka-nerka siapa gerangan yang kembali melindunginya, apakah mahluk gaib di rumahnya itu yang mengaku bapaknya?


"Ah, tidak mungkin!" Pekik Guntur melenguh dalam hatinya.


Batinnya tidak rela dan sangat tidak menerima kalau benar mahluk gaib itu yang melindunginya. Meskipun ada alasan kuat yang mengarah pada mahluk gaib tetapi Guntur bersikeras menolaknya.


"Kalau aku bukan titisannya lalu kenapa dia selalu melindingiku? aaaakkkhhh, tidddak! tidaaakkk!" pekiknya dalam hati.


Perkataan mahluk gaib itu kembali terngiang di kepalanya yang mengatakan kalau dirinya adalah anak dari mahluk gaib itu. Mengingat itu wajah Guntur berubah membesi, amarahnya muncul mengingat ucapan mahluk halus yang menyebut dirinya adalah anaknya. Kemudian dia teringat kalau mamahnya pernah meminta untuk menebang pohon dibelakang rumah.


"Sebaiknya aku tanya pak Suro dulu lah," gumamnya.


......................


Disebuah kios berukuran 3X4 yang berada disebelah tembok kantor Guntur, terlihat pak Suro sedang sibuk melayani konsumennya. Sebagian besar konsumen-konsumen baru yang datang, namun ada juga beberapa konsumen lamanya yang tetap mengunjungi jualan buku bekas pak Suro setelah sebelum pindahannya pak Suro sudah memberikan alamat tempat barunya.


"Wah, sudah enak sekarang tempatnya ya pak," kata salah satu pengunjung sambil menyodorkan sebuah buku cukup tebal.


"Ya alhamdulillah mas, yang ini bungkus?" ujar pak Suro menerima buku dari pelanggannya.


"Iya, pak berapa?" Tanya pembeli.


"Empat puluh ribu aja mas," jawab pak Suro kemudian dengan cekatan membungkus buku itu lalu dimasukkan kedalam kantong kresek dan kembali menyerahkan pada pembelinya.


"Pas ya pak," ucap pembeli itu memberikan uang dua lembar dua puluh ribuan.

__ADS_1


"Muhun, muhun mas," sahut pak Suro menerima uang kemudian kembali melayani pembeli lainnya.


"Assalamualaikum..." ucap seseorang disela-sela para pengunjung kios buku bekas pak Suro.


"Waalaikum salam, masya allah kok baru nongol. Sibuk ya Gun? Sini, sini ayo..." sahut pak Suro melambaikan tangannya.


Semua mata pengunjung itu memandang heran sekaligus terkesima terutama pengunjung wanita yang kebanyakan anak gadis SMA dan gadis kuliahan semester akhir. Mata mereka tak berkedip memandang wajah ganteng dengan pakaian formal dengan dasi menggantung dibawah lehernya sambil senyum-senyum sendiri seakan-akan ingin diperhatikan.


"Permisi, punten... punten ya neng," ucap Guntur menyelinap diantara para pengunjung gadis menuju tempat pak Suro duduk.


"Iyah, muhun... muhun," timpal beberapa gadis.


Pak Suro nampak sumringah melihat kedatangan Guntur yang baru sekali ini datang ke kiosnya semenjak mulai buka 5 hari yang lalu. Guntur kemudian duduk disebelah pak Suro dibalik meja menghadap para pengunjung.


"Pak punten minta buku yang itu," ucap seorang gadis berseragam SMA sambil menunjuk sebuah buku yang terpajang didinding kios.


Karena posisi buku yang ditunjuk gadis itu berdekatan dengan Guntur maka Guntur pun menyahutnya, "Yang mana neng, yang ini?" tanya Guntur menunjuk salah satu buku.


"Bukan A, yang satunya lagi. Nah, iya iya yang itu," ujar gadis itu bersemangat dengan senyum lebar karena dilayani Guntur.


"A, aku juga dong tolong ambilin majalah yang itu," ujar gadis SMA lainnya menunjuk ke deretan majalah yang dipajang di dinding kios.


Sambil tersenyum manis Guntur pun melayaninya dengan tulus, padahal instingnya mengatakan kalau gadis itu hanya pura-pura saja minta diambilin majalah itu tapi Guntur tetap melayaninya dengan ramah. Pak Suro hanya senyum-senyum saja melihat Guntur yang disibukkan oleh permintaan pengunjungnya.


"Pak, punten itu anaknya?," celetuk salah satu gadis kuliahan.


Pak Suro melongo sambil mesem-mesem kebingungan entah mau menjawabnya apa. Guntur pun terkejut mendengar celetukkan seorang gadis didepannya, lalu tersenyum.


"Iya neng, kenapa?" Goda Guntur iseng.


"Nggak apa-apa A, abisnya si Aa ganteng banget, hikhikhik..."


Pak Suro dibuat melongo oleh ulah Guntur, namun tak dipungkiri didalam hatinya merasa bangga kalau Guntur mangatakan dirinya adalah bapaknya tanpa merasa malu.


"Neng naksir yaaa.." goda pak Suro.


"Hehehehe... ya kalau boleh sih pak," timpal gadis itu.

__ADS_1


"Gun, gun... nggak di emperan trotoar, nggak di kios dagangan bapak jadi larissssss, hehehhe..." bisik pak Suro terkekeh pada Guntur.


......................


__ADS_2