TITISAN

TITISAN
TRAGEDI PUTRI 4


__ADS_3

Pak RT Parno mendadak berhenti menceritakan kelanjutannya setelah mengatakan saat ustad Syukur melafalkan doa lalu muncul hembusan angin yang menerpa tubuh dirinya, Jin An dan ustad Syukur.


Haji Abas mengernyitkan keningnya dalam- dalam, dia menoleh sekilas melihat wajah pak RT Parno yang nampak muram. Namun ia sangat penasaran ingin sekali mengetahui kelanjutan ceritanya, apa yang akan terjadi malam itu.


“Apa selanjutnya yang terjadi pak RT?!” Tanya haji Abas antusias.


Bibir pak RT Parno sedikit bergetar tatkala memulai lagi bicaranya menceritakan tragedi yang terjadi pada Putri itu.


"Saat itu...." ucap pak RT Parno melanjutkan kisah malam tragedi itu.


......................


Parno melirik sekilas pada ustad Syukur dengan perasaan was- was, wajah Parno terhenyak melihat tubuh ustad Syukur nampak bergetar- getar beberapa detik.


Ustad Syukur masih terlihat khusuk, pada kening ustad Syukur yang mengerut dalam keluar bulir- bulir keringat. Sedangkan bibirnya nampak masih terus bergerak- gerak melafalkan doa- doa dengan mata terpejam rapat.


Getaran pada tubuh ustad Syukur yang berlangsung beberapa detik itu berangsur- angsur mereda lalu tak lagi nampak bergetar. Kini ustad Syukur terlihat tenang, lalu perlahan- lahan membuka matanya.


“Alhamdulillah...” ucap ustad Syukur sambil meraupkan kedua telapak tangan ke wajahnya.


“Bagaimana ustad hasil penerawangannya?! Apakah Putri benar ada di alam gaib?!” Parno langsung bertanya setelah melihat ustad Syukur selesai melakukan penerawangannya.


“Apakah anak perempuan itu berusia kurang lebih 10 tahunan?” Ustad Syukur balik bertanya.


“Bbbe, bbbenar ustad!” sergah Jin An.


Seketika Mata Jin An berbinar- binar, ia seperti mendapat secercah harapan besar terhadap putrinya. Dan penuh harap kepada ustad Syukur dapat mengembalikan Putrinya ke alam kasat mata lagi.


Bulu kuduk Ustad Syukur langsung meremang sektika saat Jin An membenarkan apa yang di lihatnya. Pada raut wajahnya terpancar kebimbangan bercampur cemas dan kengerian.


Sebab dalam penglihatan melalui mata batinnya, ustad Syukur mengamat ada seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahunan sedang tertidur di sebuah kamar yang besar dan indah.


Di dalam kamar itu banyak sekali mainan- mainan anak- anak seperti boneka, alat- alat memasak, rumah- rumahan dan entah masih banyak lagi mainan khas anak- anak perempuan.


Namun ustad Syukur tidak menceritakan semuanya secara detil situasi dan kondisinya, ia hanya memastikannya saja kalau penglihatan batinnya itu tidak salah bahwa anak perempuan yang ada di rumah itu yang hilang.

__ADS_1


“Anaknya berkullit kuning langsat?” tanya ustad Syukur.


“Benar ustad!” sahut Jin An cepat, nada suaranya terdengar bergetar.


“Apakah rambutnya di kepang dua dan memiliki poni?” ustad Syukur memastikan kebenaran penglihatan batinnya lagi.


“Benar ustad! Itu pasti Putri!” seru Jin An mulai terbawa emosional.


“Tolong ustad, kembalikan putri saya. Berarapa pun bayaran yang ustad minta pasti akan saya berikan!” kata Jin An bergetar hebat.


Parno yang melihat majikannya mulai terhanyut dalam emosionalnya mencoba menenangkannya. Ia menepuk- nepuk pundak majikannya, “Tenang pak... tenang... sabar.... ya pak,” ucap Parno pada Jin An.


Ustad Syukur terdiam menundukkan kepalanya dalam- dalam. Dari wajahnya nampak ada keraguan dan bimbang.


Di dalam hatinya berkecamuk hebat, bukan karena tergiur oleh ucapan Jin An tentang berapa pun yang dimintanya, akan tetapi ia merasa ragu apakah dirinya mampu menghadapi genderuwo itu?


Wujud genderuwo kembali membayangi ingatannya. Saat itu belum lama ia memperhatikan seorang anak perempuan di dalam kamar, tiba- tiba muncul sosok genderuwo tepat menghalangi pandangan batinnya.


Bersamaan munculnya genderuwo itu, hempasan angin yang besar menerpa tubuhnya hingga terdorong mundur.


Ia merasakan energi kekuatan yang sangat besar dari genderuwo yang menatapnya penuh dengan kemarahan itu. Hatinya bergetar menangkap kilatan dari sorot mata berwarna merah itu.


Sebelum melakukan penerawangan batinnya, ustad Syukur tidak mengira sama sekali akan terlihat oleh mahluk gaib itu. Ketika mendapat serangan yang tiba- tiba, ia pun merasa bimbang belum siap dengan kondisi seperti itu.


Ustad Syukur buru- buru pergi dari kediaman genderuwo secepatnya sebelum mahluk gaib itu melakukan sesuatu pada dirinya.


“Punten, mohon maaf pisan pak. Ini bukan soal bayaran. Akan tetapi....” ucapan ustad Syukur terhenti, nampak ia ragu- ragu untuk mengatakannya.


“Tetapi apa ustad!? Saya sangat mohon sekali ustad, bantu mengembalikan putri saya dari alam gaib...” sergah Jin An, kemudian ia beranjak dari duduknya.


Jin An mendekat ke tempat duduk ustad Syukur hendak bersujud di kakinya memohon agar ustad Syukur membantunya. Namun ustad Syukur buru- buru mencegahnya, ia menahan kedua pangkal lengan Jin An sebelum tubuhnya bersujud.


“Astagfirullah! Pak Jin An, jangan! Jangan seperti ini pak!” Sergah ustad Syukur, kemudian memberdirikan tubuh Jin An.


Ustad Syukur langsung memeluknya penuh haru, menenangkan emosional Jin An. Kedua mata Jin An sudah berlinangan air mata, dengan beragam perasaan berkecamuk di hatinya.

__ADS_1


Namun ustad Syukur menyadari tidak sepenuhnya menyalahkan perlakuan Jin An hingga mau bersujud memohon- mohon agar dapat membantu untuk anaknya.


Dalam situasi dan kondisi seperti yang dialami Jin An, siapa pun akan melakukan seperti itu manakala menemukan secercah harapan demi untuk menyelamatkan anaknya. Dengan segala cara yang dia mampu.


Meski terkadang pada realita kehidupan semodern ini mungkin ada bagian kecil pada keluarga yang kurang beruntung begitu terabaikan perjuangan seorang bapak. Dan sepertinya tak tampak berarti apa- apa di mata anak- anaknya.


Bahkan tak jarang yang dialami keluarga yang kurang beruntung yang hidupnya pas- pasan itu dimana seorang bapak berjuang mati- matian hanga untuk melihat anak- anaknya senang dan memenuhi keinginan mereka.


Bahkan jarang ada yang tidak diketahui oleh anak- anaknya, ketika anak- anaknya berkata enteng meminta sesuatu sesungguhnya bapak sudah berusaha keras untuk dapat memenuhinya.


Tanpa sepengetahuan mereka, di luar sana bapaknya pontang- panting mencari pinjaman untuk memenuhi permintaan anaknya agar anak- anaknya bahagia.


Seorang bapak akan berkorban memasang badannya untuk melindungi anaknya dari ancaman atau juga akan melakukan apapun untuk menyelamatkan anaknya.


Demikian seperti halnya yang di lakukan oleh Jin An. Pada situasi dan kondisi seperti itu harta kekayaan menjadi tidak ada gunanya lagi apabila sudah menyangkut nyawa seorang anak.


"Pak Jin An tenangkan hati ya... Insya Alllah saya akan coba berusaha mengeluarkan putri bapak," ucap ustad Syukur.


Kemudian ustad Syukur menuntun Jin An untuk kembali duduk di tempatnya. Parno mengulurkan tisu pada Jin An yang berlinangan air mata, Jin An pun menerimanya dengan tangan gemetaran.


"Saya akan meminta bantuan sahabat saya pak. Saya tidak bisa sendirian untuk melakukan ini," kata ustad Syukur lagi.


Ustad Syukur mengeluarkan hapenya dari saku baju koko, lalu mencari kontak orang yang akan di telponnya.


Wajah Jin An langsung terlihat bersemangat kembali dan nampak sumringah ketika melihat ustad Syukur benar- benar menghubungi seseorang.


"Assalamualikum, Ji..." ucap ustad Syukur berbicara dengan seseorang di telpon.


Ustad Syukur lantas menceritakan situasi dan kondisi yang terjadi di rumah Jin An. Lalu di akhir ceritanya, ia meminta bantuan pada sahabatnya itu.


"Ya sudah, di tunggu di sini ya Ji. Nanti di jemput dari sini... assalamualaikum." Ustad Syukur mengakhiri telponnya.


Malam semakin larut dan udara dingin kota Bandung kian terasa di rasakan oleh ketiga orang di ruang tamu itu.


......................

__ADS_1


__ADS_2