
Pagi ini mendung yang memayungi kota Bandung serasa seperti masih pukul 6 pagi padahal sudah pukul 9.11 wib. Begitupun dengan rasa dinginnya yang menusuk sum-sum membuat kopi yang diminum Kunto sudah sangat dingin seperti minum air kulkas saja. Duduk lesehan bersandar pada tembok pagar, kunto memperhatikan salah satu penebang yang memakai topi cowboy yang sedang berdiri menghadap pohon Beringin melakukan ritual wajibnya sebelum menebang. Seorang lagi nampaknya sudah siap dengan gergaji mesinnya sedang menunggu rekannya selesai dengan ritualnya.
Mulanya pria berusia 60 tahunan yang berdiri itu terlihat biasa saja namun perlahan-lahan tubuhnya menegang, kedua tangannya mengepal erat disampingnya dan matanya menatap tajam kearah pohon Beringin. Sesaat berikutnya tubuhnya terlihat bergetar membuat topi cowboy-nya bergerak-gerak lungsur kebelakang bersamaan dengan kepalanya mendongak keatas. Wajahnya memerah, dari raut wajahnya tergurat amarah yang mendalam.
Orang yang memegang gergaji mesin melihat reaksi temannya turut menyiratkan ketegangan. Nampaknya dia memahami apa yang sedang terjadi, sebab bukan kali ini saja kondisi seperti itu dilihatnya. Biasanya jika ritual awalnya seperti yang terlihat saat ini berarti ada sesuatu pada pohon yang hendak ditebangnya. Sesaat kemudian penebang yang memakai topi cowboy itu menyudahi ritualnya lalu menoleh kearah rekannya dengan wajah tegang.
“Kenapa pakde?!” tanya rekannya yang memegang mesin gergaji mendongak menatap heran.
“Jang, ada penghuninya...” gumam orang yang dipanggil Pakde kemudian berjongkok dihadapan Ujang.
“Seperti biasa aja Pakde, dipindahin.” Ujar ujang.
“Sudah saya coba mengatakan itu tapi dia tidak mau dan tidak akan pindah,” ungkap Pakde.
“Penunggunya mahluk apa pakde?” tanya Ujang penasaran.
Sejenak Pakde terdiam dengan wajahnya sedikit tegang, ia ragu-ragu untuk menyebutkan sosok yang mendiami pohon Beringin itu.
“Genderuwo...” bisik Pakde.
“Hah?!” pekik Ujang tersentak.
“Sssssttt...!” sergah Pakde sambil melirik kearah Kunto duduk.
“Di kota seperti ini masih ada Genderuwo Pakde?” tanya Ujang keheranan.
“Katanya dia sudah tinggal di tempat ini sudah sejak lama sebelum disini menjadi kota seramai ini,” ungkap Pakde.
“Jadi gimana Pakde?!” timpal Ujang.
“Gimana ya Jang, kalau tidak dikerjain sayang banget bayarannya gede. Tapi kalau dikerjain kita akan berurusan dengan Genderuwo itu. Menurut kamu gimana Jang?” tanya Pakde sambil memegang tengkuk lehernya bimbang.
“Saya lagi butuh uang buat biaya istri saya melahirkan pakde,” gumam Ujang menunduk.
Pakde nampak bingung, pekerjaannya kali ini menimbulkan dilema. Kalau tetap memaksakan melanjutkan menebang pasti akan ada pertarungan tapi jika membatalkan dan menolak pekerjaan ini kasihan juga dengan Ujang yang sedang membutuhkan uang.
__ADS_1
Ditempatnya Kunto duduk, Kunto melihat kedua orang penebang itu duduk berhadapan saling terdiam beberapa saat lamanya membuat Kunto keheranan. Kemudian Kunto melangkah mendekati para penebang itu.
“Punten, ada apa ya pak?” tanya Kunto keheranan.
Pakde dan Ujang sedikit kaget karena tidak menyadari kedatangan Kunto yang sudah berdiri satu langkah dibelakang mereka. Kedua penebang itu mendongak dengan wajah penuh kebingungan.
“Kenapa pak?” tanya Kunto lagi karena tak ada yang menjawabnya kian membuatnya penasaran.
“A, a,anu mas, pohon ini ada penunggunya. Gimana ya mas?” Ujar Pakde sekaligus meminta pendapat Kunto.
Wajah Kunto nampak tertegun mendengar keterangan penebang. Kunto tidak begitu memahami dengan kata ‘penunggu’ tetapi yang terlintas ada dipikirannya yang dimaksud penunggu oleh penebang itu paling tidak hanyalah mahluk halus seperti kuntilanak. Itupun setelah teringat sebuah film horor Indonesia yang pernah ditontonnya. Ditambah lagi mengingat pesan Guntur bahwa pohon itu ditebang sehingga mendorongnya untuk tetap meminta para penebang itu melanjutkan pekerjaannya.
“Nggak apa-apa, potong aja pak. Kata si boss minta dipotong.” Ujar Kunto.
Ucapan Kunto sedikit dapat menguatkan hati Pakde dan Ujang mengurangi keraguannya. Lalu kedua penebang itu berdiri dari duduknya, seraya berkata; “Baik mas.”
Kunto bergegas meninggalkan Pakde dan Ujang yang sudah berdiri bersiap meneruskan menebang pohon beringin itu. Ujang yang bertugas memotong batang pohon langsung menghidupkan mesin gergaji. Ujang menarik tali penghidup mesin itu kuat-kuat, tarikan pertama mesin gergaji tidak hidup. Ujang kembali melakukannya, tarikan yang kedua juga mesin gergaji tidak juga hidup. Ujang berhenti sebentar lalu membuka tutup bahan bakar dan memeriksanya barangkali solarnya habis.
“Solar penuh, nggak biasanya mogok,” gumam Ujang kemudian mencoba menghidupkannya lagi.
Pada tarikan ketiga suara gergaji mesin langsung menyala menimbulkan suara sangat bising disekitarnya. Pakde pun memundurkan posisinya tiga langkah memberikan ruang buat Ujang memotong pohon itu. Saat Ujang akan mrnyentuhkan mata gergajinya di batang pohon beringin, Pakde buru-buru mencegahnya.
Rupanya Ujang tidak mendengar suara seruan Pakde karena kebisingan suara mesin gergaji. Dia terus saja mendekatkan mata gergaji ke batang pohon beringin itu. Pakde bergegas berlari mencegahnya dengan menahan pundak kanan Ujang. Ujang menoleh kaget ketika bahunya ditahan.
"Apa Pakde!" teriak Ujang bersaing dengan suara mesin gergaji.
"Stop, stop Jang! Aduh sampai lupa belum diikat tambang!" seru Pakde memegang kepalanya.
"Apa?!!" teriak Ujang tidak kedengaran.
Pakde langsung mencari kontak off untuk mematikan mesin gergaji. Ujang hanya melongo saja melihat Pakde meraba-raba tombol kontak. Setelah berhasil menekan tombol off, suara disekiranya pun langsung terasa senyap.
"Kenapa Pakde?!" Ujang bertanya keheranan.
"Lupa belum diikat tambang Jang, nanti robohnya ke rumah sebelah," ujar Pakde setelah suara mesin hilang.
"Oh iya Pakde," timpal Ujang menepak keningnya sendiri.
__ADS_1
Ujang kemudian melangkah menuju tas perkakasnya yang sudah kumal tak jelas warnanya teronggok di teras dekat pintu belakang rumah. Ujang mengeluarkan tambang sebesar ibu jari kaki orang dewasa yang tergulung melingkar dari dalam tas perkakasnya, lalu kembali ketempat Pakde berdiri dibawah pohon beringin itu.
Sementara cuaca di langit mendung semakin tebal memayungi langit diatas rumah Kunto. Suasana disekitar dua orang penebang pohon itu nampak semakin meredup. Meski begitu belum terasa ada tetesan-tetsan rintik air hujan yang turun.
"Ayo Jang keburu hujan, nanti lebih berat lagi pengerjaannya!" seru Pakde menoleh kearah Ujang yang sedang mengambil tambang.
Ujang terlihat datang tergopoh-gopoh setengah berlari membawa gulungan tambang yang diselempangkan di bahu kanannya. Dipikirannya sama sekali tidak terlintas dari kejanggalan-kejanggalan yang terjadi, dari mulai keraguan Pakde, mesin juga mogok hingga tidak biasanya sampai bisa lupa untuk mengikat pohon yang hendak ditebang. Padahal mengikat pohon dengan tambang dan menggencangkan ke sudut lapang agar ketika roboh tidak menimpa bangunan orang lain itu merupakan bagian ritual wajib setiap kali melakukan penebangan. Semua itu tidak disadarinya sebagai tanda-tanda bahaya yang sedang mengintainya.
"Ikatnya di batang tengahnya aja Jang tapj agak keatas, jangan mengikat di ranting atau akar-akar yang menjuntai nanti nggak bakal kuat menahan beban saat robohnya," ujar Pakde memberi instruksi.
"Muhun pakde," timpal pria berusia 30 tahunan itu.
Kemudian Ujang langsung bergerak mulai memanjat batang pohon Beringin itu. Tak sulit baginya untuk memanjatnya walaupun hanya berpegangan pada akar-akar yang banyak menjuntai hingga menyentuh tanah. Sekitar 10 menitan Ujang selesai mengikatkan tambangnya di batang pohon sesuai petunjuk dari Pakde, lalu Ujang pun bergerak turun dengan cekatan.
Ketika jarak tinggal 2 jengkal lagi akan sampai ditanah, kepala Ujang yang menghadap ke batang pohon melihat dengan jelas menyembul sebuah kepala tepat didepan matanya. Mata Ujang terbelalak melotot lebar, dia melihat dengan jelas, kepala dengan rambut gimbal itu menutup sebagian wajah dan hanya memperlihatkan satu biji mata besar berwarna merah sedang menatapnya dengan tajam. Ujang spontan melepaskan tangannya namun akibatnya sangat fatal! Tubuh Ujang meluncur deras jatuh dari atas pohon beringin itu dan terbanting keras menimpa akar-akar beringin yang bertonjolan keatas.
"Aaaaakkkkhhh...!" teriak Ujang dari atas pohon beringin.
Buugghh!
"Aduuuuuhhh... aduuuuhhh.." Ujang merintih kesakitan sambil memegangi punggungnya.
"Astagfirullah!" pekik Pakde kemudian menyongsong tubuh Ujang yang tergeletak mengerang kesakitan.
Dari tempat Kunto duduk, Kunto yang sedari tadi memperhatikannya pun terlonjak kaget melihat salah satu penebang pohon itu tiba-tiba jatuh dari dalam rerimbunan daun-daun Beringin. Kunto langsung berlari menuju dua orang penebang pohon itu.
"Kenapa pak?!" teriak Kunto sambil berlari.
"Ujang jatuh mas!" sahut Pakde dengan wajah panik.
"Astagfirullah al'azim!" Kunto langsung memeriksa kondisi Ujang penuh dengan kepanikan.
"Aduuuuh... aduuuuh..." Ujang tak henti-hentinya mengerang.
Kunto dan Pakde semakin panik melihat telapak tangan Ujang yang memegangi punggunya tiba-tiba dipenuhi oleh darah disela-sela jari tangannya. Kunto langsung menyingkapkan kaos oblong dibagian punggung Ujang, seketika mata Kunto dan Pakde terbelalak. Pada punggung Ujang terlhat ada luka akibat yanh memanjang dipenuhi oleh cairan merah. Lukanya terlihat menganga dipenuhi oleh darah yang deras mengucur. Luka itu sama halnya seperti luka akibat tebasan parang.
"Sebentar saya ambil motor pak, kita bawa ke rumah sakit!" seru Kunto panik kemudian bergegas lari mengambil sepeda motornya.
__ADS_1
......................