
Pak RT Parno menghentikan ceritanya, ia menarik nafas dalam- dalam seolah- olah ingin melepas beban kisah lama didalam ingatannya. Selama ini kisah masa lalu tentang rumah yang pernah di beli Aryo, papahnya Guntur dan sekarang di beli oleh haji Abas itu tak pernah ia ceritakan kepada siapapun.
Baru kepada haji Abas saja ia menceritakannya, itupun dengan berat hati dan dengan terpaksa harus menceritakannya. Pak RT Parno berharap dengan sedikit kisah itu haji Abas mengurungkan niatnya menebang pohon beringin.
Pak RT Parno sengaja belum semuanya ia ceritakan tragedi rumah beringin itu dan itu hanya cerita awalnya saja. Sebetulnya dia tak ingin membuka lagi kisah tragedi mengerikan yang sudah disimpannya puluhan tahun itu.
"Kalau mendengar dari ciri- cirinya, apakah mahluk gaib itu sama dengan yang saya lihat di pohon beringin!?" tanya haji Abas dengan suara ditekan.
"Saya rasa sepertinya sama pak haji. Mahluk gaib itu yang mendiami pohon beringin, dia bernama Karbala," ujar pak RT Parno dengan suara sedikit bergetar.
Di dalam hatinya pak RT Parno menduga- duga kalau haji Abas memang sudah pernah melihatnya.
"Saya tetap ingin menyingkirkannya pak RT, apapun caranya. Sebab ini menyangkut keselamatan anak- anak santri disini," ucap haji Abas.
“Punten pisan pak haji, kalau menurut pendapat saya sebaiknya jangan di tebang,” serga pak RT Parno.
“Tapi pak RT mahluk gaib penunggu pohon beringin itu sangat membahayakan. Dan nampaknya tidak bisa diajak berteman dan hidup berdampingan dengan kita yang ada disini,” kata haji Abas.
Pak RT Parno terdiam menundukkan kepalanya. Hatinya mulai timbul kekhawatiran karena melihat gelagatnya haji Abas bersikukuh ingin menebangnya.
Disatu sisi, pak RT Parno merasa bingung juga karena tak memiliki solusi untuk mengatasi Karbala untuk mencegah agar tidak di tebang. Sebab dirinya merasa khawatir akan terjadi hal- hal yang lebih buruk.
RT Parno memperkirakan Karbala pasti akan melakukan perlawanan untuk mempertahankan tempat tinggalnya yang sudah ribuan tahun ditempatinya.
"Oh iya, Putri!" seru haji Abas tiba- tiba.
Pak RT Parno seketika mendongak menatap wajah haji Abas dengan tanda tanya besar. Lalu bertanya dengan suara bergetar; "Putri?! Pak Haji juga tahu tentang Putri?!" pak RT Parno terkejut karena haji Abas menyebut nama Putri.
"Iya Putri, katanya Zahra diajak sama Putri..." tegas haji Abas.
Raut wajah Pak RT Parno mendadak muram seketika, angannya tiba- tiba terbayang tentang anak kecil bernama Putri anak dari pasangan suami istri Jin An dan Mamih Osa.
Seketika pandangan matanya menjadi berkabut melihat haji Abas di depannya. Tanpa di sadarinya kedua matanya mulai berkaca- kaca.
Haji Abas teringat dari penuturan Zahra, kemudian haji Abas pun menceritakan kejadian salah satu santriwatinya yang bernama Zahra itu yang sempat hilang dan di temukan di bawah pohon beringin.
__ADS_1
Dengan pelan- pelan haji Abas menceritakan awal mulanya Zahra diajak oleh seorang anak perempuan yang seusianya. Ia menceritakan sama persis seperti penuturan Zahra, saat Zahra di bawa Putri ke alam gaib hingga diajak bermain dan tidur di dalam sebuah rumah.
"Begitulah ceritanya pak RT..." ucap haji Abas mengakhiri ceritanya.
Seketika tumpahlah air mata pak RT Parno. Air matanya tak dapat di tahan lagi meleleh membasahi kedua pipinya.
Haji Abas terkesiap, tak menyangka melihat pak RT Parno menitikkan air mata setelah mendengar cerita tentang putri. Pasti ada kisah yang sangat menyedihkan berkaitan dengan putri sampai- sampai pak RT Parno menangis, pikir haji Abas.
Jauh di dasar batinnya, pak RT Parno sebetulnya sama sekali tidak ingin membuka kembali keseluruhan kisah tragedi mengerikan itu. Namun mau tidak mau, pak RT Parno harus menceritakannya juga khususnya tentang nasib yang menimpa Putri, anak dari majikannya itu.
Pak RT Parno tercenung, wajahnya menyiratkan penuh kebimbangan. Haji Abas membiarkan pak RT Parno larut dengan pikirannya.
Beberapa saat lamanya suasana di ruang tamu hening. Hingga suara detakan jarum jam pun terdengar jelas di ruang tamu itu.
Haji Abas nampak memikirkan mencari- cari cara langkah apa yang hendak diambilnya agar Karbala pergi dari lingkungan pesantrennya Tahfiznya, jika pohon beringin itu tidak ditebang.
"Tebang saja pak RT, soal resikonya insya allah kami siap menghadapinya," tegas hani Abas memecah keheningan.
Sementara pak RT Parno merasa bimbang bercampur cemas, ia tidak bisa lagi berpikir menemukan solusi dan nampaknya benar- benar pasrah dengan keinginan haji Abas.
Pak RT Parno berpikir keras, seandainya pohon beringin itu di tebang, lantas apakah persoalannya benar- benar akan selesai? Demikian pikir pak RT Parno dalam hati.
Haji Abas pun terkejut dengan pertanyaan itu yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ia tercenung di dalam hatinya, haji Abas membenarkan pertanyaan itu.
Ketika haji Abas hendak menanggapi perkiraan pak RT Parno itu, tiba- tiba terdengar keras suara kaca pecah hingga sangat mengagetkan haji Abas dan pak RT Parno.
Praaaang...!!!
Haji Abas dan Pak RT Parno terlonjak dari kursinya saking kagetnya. Keduanya spontas menoleh kearah jendela di sisi depan ruang tamu.
Jendela ruang tamu itu sudah bolong melompong hanya terdapat sisa- sisa beling yang menempel di kusen- kusen jendela. Sedangkan di bawahnya berserakan pecahan kaca dimana- mana.
Haji Abas dan pak RT Parno terbengong- bengong melihat kaca jendela yang tiba- tiba hancur. Sempat terlintas pecahnya kaca jendela itu akibat di lempar dengan batu oleh orang iseng, akan tetapi tidak ditemukan batu disekitarnya.
Haji Abas beranjak dari kursinya untuk memeriksa jendela yang pecah. Ia menduga- duga jika melihat dari bolong dan pecahnya kaca jendela sepertinya kaca jendela itu ada yang memukulnya.
__ADS_1
Tak berapa lama di luar rumah tepat di depan jendela para ustad dan ustazdah serta beberapa santri berkerumun sambil melihat kearah jendela yang pecah.
“Ada apa sih?!”
“Kenapa jendela itu pecah?”
“Siapa yang memecahkan jendela itu?
“Jendela itu di lempar batu?”
Suara- suara celetukan dari para santri terdengar samar- samar saling bertanya penuh keheranan.
“Sudah, sudah... nggak ada apa- apa. Kalian semua kembali ke asrama,” kata haji Abas.
Beberapa ustad dan ustazdah terlihat membimbing para santri untuk kembali ke asramanya masing- masing. Sementara dua orang ustad, ustad Sofyan dan ustad Jalal masuk menemui haji Abas.
“Assalamualaikum, pak haji,” ucap ustad Sofyan dan ustad Jalal bersamaan.
“Wa’ alaikum salam...” jawab haji Abas dan pak RT Parno.
“Ada apa pak haji?!” tanya ustad Sofyan.
“Nggak tahu tiba- tiba saja pecah seperti itu. Ya sudah, ustad tolong bersihkan pecahan kaca itu ya,” kata haji Abas.
“Muhun pak haji.” Sahut kedua ustad muda itu.
......................
Rumah Guntur,
Di dalam kamar, Karmila tidur gelisah diatas pembaringannya. Dadanya berdebar- debar sejak 30 menit yang lalu. Jantungnya berdegub kencang tak henti hingga membuatnya sangat sukar untuk memejamkan mata.
“Firasat? Firasat apa ini?” Tanyanya pada diri sendiri.
Karmila menduga- duga akan terjadi sesuatu tetapi entah apa, dirinya tidak bisa menebak atau memperkirakan apapun. Pikirannya begitu kalut seolah- olah terus menerus membayanginya dengan sesuatu peristiwa.
__ADS_1
Bersambung....
......................