
Terik mata hari yang berada di titik kulminasinya tak membuat udara lembab dan gerah namun masih terasa ada hawa sejuknya. Udara kota Bandung kisaran tahun 90-an memang masih berasa bersih dan hijau.
Di kios buku loak, pak Suro duduk di kursi dibalik meja besar menikmati makan nasi bungkus. Ada dua orang pengunjung yang sedang baca- baca di hadapannya.
Pak Suro membiarkan pengunjung kiosnya bebas membaca sepuasnya meskipun pada akhirnya tidak membeli. Dia tidak merasa kesal atau marah sedikit pun karena sedari awal dia membuka lapak buku loaknya selain mengharap untuk hanya dapat membeli makan sehari- hari, dia juga sudah meniatkannya untuk berbagi buku bacaan.
Karena dia tahu yang datang ke kios buku loaknya 99 persen merupakan mahasiswa atau pelajar dari kalangan bawah. Dan tidak semua pengunjungnya punya niat untuk membeli buku.
Mereka terkadang sengaja datang ke kiosnya hanya untuk mencari pengetahuan dengan membaca- baca buku yang dia pajang. Pekerjaan itu sudah dijalaninya puluhan tahun penuh rasa ikhlas.
“Assalqmualaikum...” ucap seseorang.
“Wa’ alaikumsalam...” sahut pak Suro menghentikan makannya.
“Eh, pak Joko, mari, mari masuk...” sambung pak Suro.
“Wah, lagi makan pak? Maaf mengganggu pak. Kalau begitu terusin aja dulu makannya pak, biar saya nunggu aja,” ucap Joko tak enak hati.
“Ah, nggak apa- apa pak Joko. Ada apa, sepertinya penting sekali,” ujar pak Joko.
“Mm, begini pak barusan saya dan teman- teman dari rumah sakit. Kata pak Guntur bapak suruh kesana,” terang Joko.
“Hah?! Guntur kenapa?!” pak Suro meletakkan kembali sendok yang hendak disuap ke mulutnya.
Pak Suro sangat terkejut dikiranya Guntur mengalami musibah.
“Bu, bbuukan Guntur. Bukan pak Guntur yang sakit pak tapi mas Kunto,” terang Joko buru- buru.
“Hah?! Kunto?! Kunto kenapa?!” sergah pak Suro.
Rasa terkejut pak Suro justru tak hilang. Nalurinya langsung menduga- duga mengarah pada hal- hal diluar medis jika Guntur memintanya datang kesana.
“Saya sendiri kurang tahu kenapa- kenapanya pak. Hanya saja tadi sewaktu saya besuk itu mas Kunto sempat terlihat aneh...” terang Joko.
Joko pun menceritakan kejadian di rumah sakit pada saat Kunto menunjukkan kesadarannya kepada pak Suro.
“Ohw, iya saya langsung kesana sekarang. Makasih pak Joko ya,” ucap pak Suro.
Pak Suro pun tak mengajukan banyak tanya lagi. Ia nampak memahami situasi yang tengah di hadapi oleh Guntur.
__ADS_1
Setelah Joko berpamitan, pak Suro segera menuntaskan makan siangnya. Kemudian dengan sedikit tak enak hati, pak suro meminta maaf menyampaikan pada dua orang pengunjungnya yang sedang membaca buku kalau kiosnya akan di tutup karena ada keperluan mendadak.
Dua orang pemuda itu pun memahaminya dan mau meninggalkan kios pak Suro. Pak Suro segera menutup rooling door kiosnya dari luar lalu menguncinya dengan gembok.
Setelah mengunci rooling door, pak Suro beregegas masuk kedalam kiosnya lagi. Di dalam kios sedikit gelap namun pak Suro tak berupaya untuk menyalakan lampu.
Ia duduk di kursi plastik yang sebelumnya ia tempati untuk makan. Sesaat pak Suro menarik nafas dalam- dalam lalu dihembuskannya perlahan melalu hidung.
Kurang lebih 3 kali pak Suro melakukan pernafasan itu dengan kusyu. Matanya terpejam sedangkan mulutnya komat- kamit membacakan sesuatu.
Suasana di dalam kios sedikit gelap hanya ada cahaya masuk dari pintu belakang yang sengaja dibiarkan terbuka sedikit agar ada udara yang masuk.
Beberapa saat kemudian raut wajah pak Suro nampak terkesiap. Dahinya berkerut dalam- dalam masih dengan mata terpejam.
“Karbala... kenapa dia melakukan itu pada Kunto?!” batin pak Suro.
Pak Suro pun membuka matanya kembali sambil mengusapkan telapak tangan di wajahnya dan mengucapkan hamdalah.
Kemudian pak Suro bergegas keluar dari dalam kios dan menutup pintu serta menguncinya.
......................
Guntur terus memandangi wajah Kunto yang terbaring dengan mata terpejam rapat. Kedua tangan Kunto terkulai lemah disamping tubuhnya.
Raut wajah Kunto kini terlihat kembali tenang, setelah sempat menunjukkan ekspresi tegang dan ketakutan yang luar biasa.
Kunto tertidur usai dokter Hilman menyuntikkan obat penenang. Itupun hanya bersifat sementara yang berarti reaksi yang sama akan kembali terjadi pada Kunto apabila pengaruh obat penenangnya hilang.
Guntur nampak gelisah memperhatikan Kunto dari kursi yang ada di sisi ranjang bersama mamah Karmila.
Sampai dengan detik ini, Guntur melihat raut wajah mamahnya memang terlihat khawatir dan mencemaskan Kunto. Akan tetapi Guntur tidak tahu yang sebenarnya sedang dicemaskan mamah Karmila.
“Mm, Gun kalau mamah pulang dulu nggak apa- apakan?” Ucap mamah Karmila memecah keheningan didalam kamar.
“Eh, i, iyya mah. Nggak apa -apa, nanti juga ada pak Suro datang kesini,” jawab Guntur.
“Eh, tapi mah, pulangnya naik apa?” sambung Guntur.
“Biar mamah naik taxi online aja Gun,” ujar mamah Karmila.
__ADS_1
Guntur bermaksud mengantar mamahnya hingga ke luar rumah sakit menemani mamah Karmila sampai naik taxi online, tetapi mamah Karmila langsung mencegahnya saat keluar dari kamar.
“Kamu temani Kunto saja Gun disini, biar mamah jalan sendiri ke depan ya,” ucap mamah Karmila.
“Iya deh mah,” balas Guntur mengiringi kepergian mamahnya.
Setelah mamah Karmila hillang dibalik koridor rumah sakit, Guntur tak langsung masuk ke kamar. Ia duduk di kursi tunggu di depan kamar berniat menunggu kedatangan pak Suro.
Dalam lamunannya, Guntur kembali mengingat tentang hal mistis yang diucapkan oleh dokter Hilman. Di dalam hatinya masih dipenuhi tanda tanya besar.
“Hal mistis apa yang menimpa Kunto? Lalu kenapa bisa Kunto terkena hal semacam itu?” Batin Guntur.
“Setahu saya Kunto orangnya penakut tidak mungkin dia main- main dengan hal- hal mistis. Apakah mungkin Kunto di guna- gunai temannya? Dia berbuat apa?”
Gejolak batinnya terus berperang argumen dengan logika yang Guntur ketahui tentang pribadi sahabatnya itu.
“Assalamualaikum...” ucap seseorang sedikit mengagetkan Guntur.
“Wa, wa’ alaikum salam..” Guntur tergagap sesaat lalu mendongak kearah sumber suara.
“Pak Suro, mari duduk... duduk pak,” ucap Guntur setelah melihat orang yang mengucap salam.
Pak Suro pun duduk di sebelah Guntur dengan sedikit mengerutkan wajah melihat Guntur yang nampak sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu kenapa Gun, kayak orang bingung gitu?” tanya pak Suro menepuk pundak Guntur.
“I, iyya pak. Ini soal Kunto, kata dokter Kunto terkena hal mistis gitu. Tapi saya bingung juga hal mistis apa yang membuat Kunto seperti itu,” ungkap Guntur.
“Seperti itu gimana maksudnya Gun?” tanya pak Suro penasaran.
“Dari raut wajahnya, Kunto nampak sangat ketakutan sekali pak. Matanya melotot lebar seperti sedang melihat sesuatu dan kondisi itu kalau tidak diberi obat penenang akan terus seperti itu. Tubuhnya juga kaku sekali,” terang Guntur.
Pak Suro sebenarnya sudah mengetahui sumber dari sakitnya Kunto melalui penerawangan mata batinnya. Akan tetapi yang menyebabkan Kunto seperti itu, ia tidak bisa mengetahuinya. Pasti ada sebab akibat yang membuat Kunto harus mengalami itu.
"Gun, bapak tahu yang membuat Kunto sakit seperti itu..."
......................
BERSAMBUNG....
__ADS_1