TITISAN

TITISAN
KUNTO BERADA


__ADS_3

Mula-mula Kunto membuka matanya perlahan-lahan, pandangannya mentok pada dataran berwarna kecoklatan yang berjarak hanya satu panjang jari dari matanya. Ia baru menyadari saat ini tubuhnya dalam posisi tertelungkup, Kunto membalikkan kepalanya yang terasa pusing ke sisi kirinya. Kedua matanya melihat pemandangan yang sama yakni dataran tandus berwarna kecoklatan. Dataran tandus itu di selimuti asap kabut berwarna putih diatasnya.


Karena merasa aneh dengan apa yang di lihatnya, Kunto mencoba bangkit dari telungkupnya dengan berat. Kini di hadapannya Kunto melihat dengan jelas pemandangan yang benar-benar sangat asing di matanya. Dataran tandus berwarna coklat, hanya beberapa batang pohon yang berdiri itupun tidak ada daunnya.


“Saya dimana? Apakah ini sudah sore?”


Kunto menatap langit yang berwarna jingga kemerahan seperti suasana senja namun ia merasa ada yang janggal karena tidak melihat adanya cahaya matahari.


Kunto berdiri melihat sekitarnya, Kunto merasa sepertinya berada di sebuah pekarangan rumah. Di depannya ia melihat ada pagar besi yang nampak sudah sangat usang dan berkarat. Pandangannya terus di edarkan mengikuti panjangnya pagar besi itu, tiba-tiba Kunto mengerutkan keningnya dalam-dalam. Ia sangat heran tidak melihat dimana akhir dari ujung pagar besi itu, yang ada hanyalah bentangan pagar besi yang semakin kecil dan samar-samar membentang lalu tak terlihat tertutup kabut.


Kunto membalikkan badannya, di depan matanya terlihat sebuah bangunan tua menyerupai Kastil berdiri menjulang. Di depan sisi kanan dan kiri bangunan itu terdapat menara-menara yang menuulang tinggi melebihi atapnya. Ujung dua menara itu terlindungi sebuah atap berbentuk kerucut. Dari jendela-jendela yang tertutup nampak ada bias cahaya-cahaya lampu berwarna jingga menyeruak keluar dari dalam bangunan itu.


"Kastil?" gumam Kunto.


Kunto kembali membalikkan badannya melihat ke pintu gerbang. Di luar pintu gerbang ia melihat banyak orang berlalu lalang tetapi tidak ada satu pun yang menghiraukan keberadaannya.


Kunto beranjak dari tempatnya mematung menuju keluar gerbang besi yang tidak di kunci itu.


Kreeeeooooooootttttt


Suara menggidikkan tereengar dari pintu gerbang besi yang di buka Kunto. Kunto berdiri di sisi jalan lalu menengok ke kanan dan kirinya memperhatikan keadaan. Orang-orang yang berjalan melawatinya begitu saja sambil berjalan menundukkan kepala, jangankan untuk menanyakan kondisi dirinya yang terasa kaku dan pening atau sekedar basa-basi hanya sekedar menyapanya, untuk menoleh saja tidak.


Kunto tertegun penuh kebingungan, setelah beberapa saat lamanya terdiam dirinya baru menyadari tidak merasakan adanya hembusan angin padahal dirinya seperti berada di alam terbuka dan di tengah jalanan perkampungan.


Berjarak 5 meter, Kunto melihat dari sebelah kirinya ada seorang lelaki tua sedang berjalan hendak lewat di depannya, Kunto pun menyongsongnya sekaligus menghentikan langkah lelaki tua itu.


“Punten pak, desa apa ini?” tanya Kunto dengan sopan sambil sedikit membungkukkan badannya.

__ADS_1


Lelaki tua itu berhenti lalu mendongakkan kepalanya menatap Kunto dari kepala hingga ke ujung kaki dengan tatapan kosong yang sulit untuk di gambarkan. Entah tatapan kecurigaan, entah tatapan aneh atau mungkin juga tatapan tidak perduli.


Setelah menatap Kunto sedemikian rupa, lelaki tua itu melanjutkan langkahnya tanpa memberikan jawaban sepatah kata pun. Lelaki tua itu melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan badan Kunto yang berdiri dua langkah di depannya. Tidak mungkin bagi lelaki tua itu berjalan lurus karena jalannya terhalang oleh tubuh Kunto. Akan tetapi di luar dugaan Kunto, lelaki tua itu tetap melangkah berjalan seperti tidak ada apapun yang manghalangi di depannya.


Seketika Kunto terkesiap, ia merasakan ada hempasan angin menerjang tubuhnya, hempasan itu seperti halnya ketika dirinya berjalan di tepi jalan raya lalu melintas kendaraan besar yang lewat.


Wuuusss..


Kedua mata Kunto kian membelalak lebar sambil menoleh kebelakang, ia melihat lelaki tua itu terus melangkah berjalan menunduk setelah menembus tubuhnya.


“Aneh! Kok bisa menembus tubuh saya?!” gumam Kunto masih dengan mata terbelalak.


Kunto berdiri mematung terpaku menatap punggung lelaki tua yang barusan telah menabraknya tanpa ada rasa sakit sedikut pun di tubuhnya.


“Jam berapa ini? Ah, hape!” seru Kunto langsung merogoh saku celananya.


“Guntur?!” batin Kunto.


“Kok saya nggak dengar ada telpon masuk ya,” sambungnya di dalam hati.


Kemudian Kunto melihat jam di sudut atas layar haprnya, “Pukul 14.10 tapi kok seperti sudah mau magrib cuacanya ya?!”


Kunto seketika teringat kembali dengan telpon dari Guntur, ia pun buru-buru untuk telpon balik.


Tut tut tut tut tut tut


“Hadeuh, kok nggak aktif sih Gun!” sungut Kunto kesal.

__ADS_1


Kunto kembali mencoba menelpon Guntur hingga beberapa kali, namun nada sambungnya tetap sama, tidak aktif. Kunto pun memutuskan untuk berjalan saja tanpa tujuan mengikuti arah lelaki tua tadi yang sudah berjalan cukup jauh berjarak 25 meteran di depannya.


......................


Selepas waktu magrib, pak Suro sudah sampai di depan rumah Guntur. Sesuai janjianya, pak Suro datang untuk mencari keberadaan Kunto. Di dalam batin pak Suro merasa yakin sekali kalau hilangnya Kunto ada sangkut pautnya dengan Genderuwo yang ada di rumah Guntur.


Perkiraan pak Suro bukan tanpa alasan, sebab ia sendiri sudah melihat adanya mahluk gaib itu dan mahluk gaib itu berusaha menunjukkan eksistensinya yang menunjukkan ketidak sukaannya ketika dirinya melaksanakan sholat.


“Ini pasti ada yang salah yang di perbuat oleh Kunto,” batin pak Suro berdiri di depan pintu rumah Guntur.


Sejak siang tadi setelah Guntur menceritakan hilangnya Kunto, pak Suro terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan kemana Kunto menghilang. Sebab Guntur bilang saat itu ibu Mila sedang pergi belanja, pak Suro mengira-ngira kemungkinan saat itu Kunto pulang dan memarkirkan sepeda motor di depan sedangkan rumah itu dalam keadaan terkunci.


“Kemungkinan Kunto melakukan perbuatan yang membuat genderuwo itu marah. Apakah Kunto berusaha masuk dengan mencongkel rumah? Sehingga mahluk gaib itu marah,” batin pak Suro masih termangu di depan pintu.


Baru saja pak Suro hendak mengetuk pintu, tiba-tiba pintu di buka dari dalam. Sesaat pak Suro terkejut kemudian langsung tersenyum kecil bersamaan Guntur muncul di pintu.


“Loh ada pak Suro?!” Guntur pun terkejut mendapati pak Suro sedang berdiri di depan pintu.


“Baru saja mau saya ketuk-ketuk Gun, eh kamu buka duluan, hehehe...” ujar pak Suro tertawa kecil.


“Ayo, ayo masuk pak. Di luar dingin banget,” timpal Guntur kemudian mengajak pak Suro masuk dan kembali menutup pintu.


“Bapaknya Kunto jadi mau ke sini Gun?” tanya pak Suro sambil berjalan menuju kursi tamu.


“Kayaknya jadi pak, soalnya nggak ada telpon-telpon lagi. Kalau nggak jadi pastinya dia telpon lagi,” jawab Guntur melangkah di belakang pak Suro ke ruang tamu.


......................

__ADS_1


__ADS_2