
"Papiiih... papiiih... papiiihh..." seru Putri.
Jin An yang sedang memeriksa berkas- berkas diatas mejanya langsung menghentikan aktifitasnya. Ia buru- buru menoleh ke belakang dimana suara Putri itu di dengarnya.
"Putriiii..." pekik Jin An.
Jin An terkesiap melihat putrinya berdiri dengan tangan mungilnya yang menggapai- gapai. Putri nampak seolah- olah meminta pertolongan.
Jin An melihat sekelilingnya gelap gulita seperti sebuah ruang tanpa sekat. Yang terlihat hanya ada dirinya, meja dan kertas- kertas berserakan diatas mejanya dengan secercah sorot cahaya yang menerangi dari atas.
Jin An segera berdiri bermaksud untuk menghampiri Putri yang terus -menerus memanggilnya sambil tangannya menggapai- gapai kearahnya.
Jin An bergegas bergerak melangkah mendekat untuk menghampiri Putri yang nampak melayang sedikit diatas tinggi badannya. Meski sudah merasa melangkah akan tetapi jarak dirinya dengan Putri tidak kunjung sampai.
Jin An mempercepat langkahnya agar lebih mendekat ke Putri, namun tetap saja jaraknya seperti tidak pernah berubah. Ia mulai sedikit berlari menuju tempat Putri yang berdiri melayang sambil mengulurkan tangan kanannya menggapai- gapai. Tetapi jarak yang 10 langkah itu masih tak berubah.
"Putriiiii....! Putriiiii...!" teriak Jin An mulai panik.
Jin An mempercepat larinya akan tetapi ia tak juga kunjung mendekat ke tempat Putri. Disaat yang sama seakan- akan Putri juga menjauh sehingga jarak dirinya dengan Putri tetap sama.
"Papiiiih.... papiiiih...." suara Putri begitu jelas terdengar di telinga Jin An.
Jin An merasa sudah sangat maksimal berlari untuk menghampiri Putri, tepi tidak kunjung sampai. Ia masih terus berlari tak henti sambil melihat Putri dengan tangan menggapai- gapai kearahnya.
Beberapa saat kemudian perlahan- lahan sosok Putri terlihat mengabur, lalu Jin An melihat Putri tiba- tiba lenyap. Kini di hadapannya hanya ada pohon yang sangat rimbun.
"Putriii...!" pekik Jin An.
Tubuh Jin An seketika terlonjak langsung terbangun dari mimpinya dan terduduk diatas tempat tidur.
Jin An mengucek- ngucek matanya lalu menoleh ke sampingnya, dilihatnya istrinya nampak tertidur pulas. Pandanganna diedarkan melihat sekeliling ruangan kamar, Jin An melihat jam dinding menunjukkan pukul 3.17 wib dini hari.
"Putri..." gumam Jin An.
"Dimana kamu nak...." gumamnya lagi.
......................
__ADS_1
Pak RT Parno menghentikan ceritanya, ia menghela nafas dalam- dalam. Wajahnya mengguratkan kedukaan yang mendalam mengingat peristiwa masa lalu yang menimpa keluarga mantan majikannya itu.
Sementara Haji Abas membiarkan pak RT Parno larut dalam perasaannya. Ia hanya meliriknya sekilas sambil menyeruput teh tubruk menunggu pak RT Parno melanjutkan ceritanya.
"Ketika itu pagi hari sebelum berangkat ke kantor, Pak Jin An tiba- tiba mendatangi saya sewaktu saya sedang membersihkan halaman depan. Ia menceritakan tentang mimpinya semalam," ucap pak RT Parno melanjutkan ceritanya.
Saat itu Parno terperangah setelah mendengar penuturan Jin An tentang mimpinya semalam. Di dalam pikiran Parno timbul dugaan- dugaan buruk, kalau menghilangnya Putri berkaitan dengan mahluk penghuni pohon beringin itu.
Di dalam mimpi yang Jin An ceritakan, Putri menghilang berganti dengan pohon yang rimbun. Parno berkeyakinan pohon yang di katakan Jin An tak lain dan tak bukan, pastilah pohon Beringin.
“Apakah Putri di bawa mahluk penghuni pohon itu ya pak?” Kata Parno setengah tak yakin.
“Mahluk penghuni pohon beringin?” Timpal Jin An bingung.
"Iya pohon yanh di sudut belakang rumah," sahut Parno.
Jin An termasuk orang yang sukar untuk mempercayai hal- hal yang berbau mistis, apalagi hilangnya Putri dikaitkan akibat campur tangan mahluk gaib.
Logikanya lebih mendominasi pikirannya, rasanya tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke dalam alam mahluk gaib.
“Nggak, nggak mungkin No! Mana bisa manusia dibawa mahluk gaib ke alamnya!” sergah Jin An menggeleng- gelengkan kepala.
“Bagi masyarakat Jawa mempercayai hal itu bisa mungkin terjadi pak dan di kampung saya kejadian seperti itu lumrah terjadi,” ujar Parno.
Sedikit lama Jin An terdiam, nampaknya ia sedang berusaha untuk mempercayai kalau Putri hilang di bawa mahluk gaib.
“Oke, oke. Anggap saja Putri benar di bawa ke alam gaib, lalu apakah bisa mengembalikan dia No?!” Tanya Jin An terpaksa menerima dugaan Parno.
Parno tak langsung menjawab, dia langsung memikirkan seseorang yang benar- benar mumpuni yang dapat menolong mengeluarkan Putri dari alam gaib.
“Kita coba meminta bantuan seorang kiyai atau ustad pak,” jawab Parno setelah memikirkan matang- matang usulnya.
Jin An mengerutkan keningnya, ingatannya memunculkan sosok mbah Sakri yang pernah diminta tolong mengobati istrinya, namun hasilnya dukun itu menyerah.
“Apa bedanya ustad atau kiyai dengan dukun itu No?!” tanya Jin An.
Jin An yang notabene bukan seorang muslim benar- benar tidak mamahaminya. Di dalam perkiraannya seorang dukun dengan seorang ustad atau kiyai memiliki kesamaan dalam menangani hal- hal yang menyangkut mahluk halus.
__ADS_1
“Jelas beda pak, kalau dukun biasanya kebanyakan memakai cara ritual sesajen dan baca- baca mantra. Sedangkan ustad atau kiyai cukup mengandalkan doa- doa dari ayat- ayat suci al quran,” jawab Parno simpel.
Jin An makin bingung dengan jawaban Parno, yang menyebut mantra, doa, ayat ia sama sekali tidak mengerti.
“Ya sudah, nggak ada salahnya berusaha No. Kamu cari ustad atau kiyai itu ya, saya berangkat ke kantor dulu,” kata Jin An kemudian berlalu menuju mobilnya.
......................
Selepas waktu isya, Parno datang ke rumah Jin An bersama seorang pria paruh baya. Dari penampilannya pria itu nampaknya seorang ustad.
Pria berusia 50 -an tahun itu memakai kopyah hitam dan di tangannya menggenggam seuntai tasbih berwarna hitam legam.
“Selamat pak,” ucap Parno.
Jin An yang sudah menunggu di kursi teras depan menyambut kedatangan Parno dan pria tersebut dengan ramah.
“Silahkan, silahkan duduk pak...” sambut Jin An.
Setelah Parno dan pria itu duduk, Parno segera mengenalkan orang yang bersamanya.
“Pak kenalkan, ini ustad Syukur. Beliau dari sini juga, rumahnya tak jauh dari sini pak,” ucap Parno.
Ustad Syukur tersenyum dan menganggukkan kepala pada Jin An, Jin An juga membalas dengan anggukkan kepala.
“Apa yang bisa saya bantu pak?” tanya ustad Syukur.
Jin An pun menceritakan mimpinya seperti yang ia ceritakan pada Parno pagi tadi. Kemudian ia menyampaikan keinginannya untuk mengembalikan Putrinya jika memang benar putrinya hilang dibawa ke alam gaib.
Ustad Syukur manggut- manggut mendengarkan semua mimpi yang di ceritakan Jin An. Setelah Jin An selesai bercerita dan meminta bantuan menemukan putrinya, ustad Syukur pun nampak mulai merubah posisi duduknya.
Kedua tangan ustad Syukur diletakkan diatas kedua pahanya, matanya perlahan terpejam bersamaan dengan mulutnya terlihat membacakan sesuatu.
Berselang hanya dua menitan setelah ustaf Syukur duduk khuyuk sambil membaca doa- doa, tiba- tiba datan hembusan angin sedikit kencang menerpa ustad Syukur, Jin An dan Parno.
Ustad Syukur sedikit tersentak saat udara dingin menerpa wajahnya, nampak sedetik berikutnya tak bergeming. Dia masih terus membaca doa- doa tanpa menghiraukan hawa ganjil yang datang.
Sementara Jin An dan Parno langsung terkejut seketika hingga badan keduanya terlonjak dari tempat duduknya. Tangannya reflek menutupi wajahnya dengan punggung tangannya masing- masing.
__ADS_1
......................