
Sesosok mahluk berwujud hitam berdiri di halaman depan rumah Guntur menatap tajam kedalam rumah melalui jendela. Cahaya lampu taman yang temaram namun cukup terang menyinari keberadaan mahluk itu dengan jelas. Tinggi mahluk yang menampakkan diri itu seukuran orang dewasa pada umumnya akan tetapi memiliki tubuh besar dan lebar dengan perut buncit dan sangat tidak seimbang dengan bentuk kedua kakinya yang lebih kecil. Sekujur tubuhnya dari wajah hingga kaki dipenuhi dengan bulu-bulu tebal, sesekali kilatan cahaya terlihat dari kedua taringnya yang mencuat tertimpa cahaya lampu taman.
Pak Suro sempat terkesiap melihat sosok mahluk diluar jendela itu hingga membuatnya tersedak saat menyuapkan makanan kedalam mulutnya pada suapan terakhirnya. Namun Guntur, Kunto dan Adi hanya mengira kalau pak Suro tersedak biasa akibat makannya tergesa-gesa. Beberapa saat Pak Suro terdiam setelah meneguk minuman di gelas kemasan yang diulurkan Guntur, dirinya kebingungan hendak menyampaikan apa yang dilihatnya itu pada Guntur.
Guntur sendiri memang mengetahui adanya sosok mahluk seperti itu dirumahnya tetapi Kunto sama sekali tidak mengetahuinya. Meskipun sudah satu mingguan dia tinggal bersama Guntur namun Kunto belum sekalipun diganggu atau melihat kemunculan mahluk gaib bahkan tak sekalipun ia merasakan kejanggalan-kejanggalan atau keanehan yang menunjukkan adanya mahluk gaib dirumah itu.
Pak Suro terdiam beberapa saat lamanya, otaknya berputar-putar berpikir keras mencari cara untuk menyampaikannya pada Guntur agar tidak membuat takut atau panik Kunto dan Adi. Sesaat kemudian bersamaan dengan Guntur menghabiskan makanannya, akhirnya terlintas ada satu ide muncul di kepala pak Suro untuk bisa menyampaikannya pada Guntur secara empat mata apa yang dilihatnya itu.
"Gun, punten bapak mau ke kamar kecil," ucap pak Suro wajahnya menatap Guntur namun matanya melirik fokus pada sosok hitam diluar jendela yang masih berdiri tegak menatapnya.
"Oh, mangga, mangga pak..." sahut Guntur kemudian berdiri siap mengantar pak Suro ke belakang.
Didahului langkah Guntur meninggalkan ruang tamu. Saat langkah keduanya berada di ruang tamu, pak Suro bergegas mensejajarkan langkahnya disamping Guntur sambil memberikan isyarat agar menghentikan langkahnya.
"Kenapa pak?" tanya Guntur spontan menoleh ke pak Suro.
"Ssssttt... bapak melihat mahluk itu ada diluar Gun, sepertinya dia tidak senang ada bapak disini," ucap pak Suro berbisik-bisik kemudian celingukkan khawatir ada orang lain yang mendengar.
Guntur seketika terkesiap kaget mendengar keterangan dari pak Suro. Didalam hatinya dibuat penasaran ingin melihatnya secara langsung mumpung ada pak Suro yang mendapingi, pikirnya dalam hati.
"Saya ingin melihatnya pak, tapi bapak ke kamar kecil dulu deh." ujar Guntur.
__ADS_1
"Sebetulnya nggak niat ke kamar kecil sih, bapak hanya ingin menyampaikan ini Gun. Kamu benar ingin melihatnya?," tanya pak Suro celingukkan khawatir ada orang lain yang mendengar.
"Iya pak, mumpung ada bapak..." ucap Guntur.
"Ada pintu samping nggak atau pintu belakang, kita jangan lewat pintu depan nanti Kunto dan Adi bisa ketakutan," ucap pak Suro pelan setengah berbisik.
"Ayo pak, lewat pintu samping." ucap Guntur kemudian melangkah dari ruang tamu lalu berblok ke kekiri dibalik dinding pembatas dengan dapur diikuti pak Suro.
Guntur dan pak Suro melangkah pelan-pelan menuju pintu samping yang ada di dapur. Tetapi saat hendak membuka grendel pintu keduanya dikejutkan oleh suara seorang wanita.
"Loh, loh.. mau pada kemana Gun?"
Guntur dan pak Suro terkejut bukan main tiba-tiba suara mamah Karmila terdengar dari dapur sehingga menghentikan langkah keduanya. Guntur tidak tahu kalau mamahnya masih berada di dapar, ia pikir sudah masuk kamar. Guntur garuk-garuk kepalanya padahal tidak gatal, ia berpikir keras mencari alasan. Lalu beberapa detik kemudian jawaban itu terlintas di kepalanya.
"Anu, mah ini pak Suro mau lihat-lihat tanaman herbal milik mamah," ucap Guntur sambil menoleh ke arah mamahnya walau sedikit terlambat responnya.
"Ohhh, mangga, mangga..." sahut mamah Karmila singkat kemudian kembali fokus menata gelas-gelas didalam set box.
Guntur dan pak Suro akhirnya bisa bernafas lega keluar rumah dari pintu samping. Udara dingin kota Bandung langsung menerpa tubuh mereka yang berjalan mengendap-endap menuju ke halaman depan. Guntur tak henti-hentinya menahan nafas dengan dada berdebar-debar sepanjang melangkah. Tetapi baru tiga langkah Guntur baru teringat kalau posisi mahluk gaib yang dijelaskan pak Suro itu berada disisi kanan.
"Pak, pak.. maaf jalannya harus memutar, kalau dari sisi ini agak kejauhan dari posisi mahluk itu," bisik Guntur.
Karena posisi pintu disisi kiri sedangkan posisi mahluk gaib itu ada disisi kanan, Guntur pun mengarahkan pak Suro untuk mengambil jalan memutar lewat belakang. Keduanya melangkah dengan sedikit dipercepat agar mahluk gaib itu tidak keburu menghilang.
__ADS_1
Ketika sampai di halaman belakang, pak Suro tiba-tiba menghentikan langkahnya sambil menahan tangan Guntur yang berjalan didepannya. Matanya menoleh kesebelah kiri seolah-olah ada sesuatu energi besar yang menggetarkan batinnya.
"Gun, itu pohon apa?" bisik pak Suro menunjuk sebuah pohon rindang yang sangat lebat di sudut halaman belakang.
"Saya kurang tau pak, pohon itu sudah ada sejak saya kecil dan sepertinya tidak pernah berubah. Ya begitu begitu itu," ucap Guntur.
Sekejap berikutnya pak Suro nampak tercengang! Didalam penglihatan mata batin pak Suro, ia melihat pada posisi dimana pohon besar itu berdiri bukanlah sebuah pohon melainkan sebuah bangunan yang sangat megah seperti layaknya bangunan rumah mewah. Bangunan utamanya berarsitektur menyerupai kastil kuno namun memiliki pintu yang besar, pada halaman depan terdapat dua buah menara dengan bentuk yang sama masing-masing dibagian atasnya mengerucut. Cahaya-cahaya dari lampion-lampion berwarna keemasan bertebaran dimana-mana menerangi halaman dan bangunan itu.
"Ada apa pak..." tanya Guntur menggugah-gugah lengan pak Suro yang terdiam lama menatap pohon rindang itu.
Pak Suro terkesiap oleh guncangan pada tubuhnya, pemandangan yang menampilkan bangunan mewah di alam tak kasat mata itu seketika lenyap, yang dilihatnya kini hanyalah pohon besar dengan dedaunannya yang rindang. Pak Suro mengerjap-kerjapkan matanya, nyatanya pemandangan yang dilihatnya itu tidak sepenuhnya dalam kesadarannya.
"Ayo pak, nanti keburu menghilang..." ucap Guntur menekankan suaranya.
Isi kepala pak Suro masih dipenuhi dengan bayangan pemandangan di alam tak kasat mata itu. Ada rasa takjub sekaligus kengerian di wajah pak Suro. Andai saja suasana siang hari, wajah pak Suro akan terlihat jelas perubahannya. Lampu-lampu taman belakang tak begitu cukup menyinari perubahan raut wajahnya. Pak Suro tidak serta merta menceritakannya langsung pada Guntur apa yang barusan dilihatnya. Dan Guntur pun tidak menyadari kalau ada keganjilan yang dilihat oleh pak Suro. Keduanya kemudian melanjutkan langkahnya dengan lebih cepat.
Beberapa saat kemudian Guntur dan pak Suro sampai pada sudut depan disamping tembok ruang tamu. Guntur berjongkok dengan detak jantung berpacu cepat membuat debar-debar di dadanya kian kencang. Pak Suro dengan posisi berdiri juga dipenuhi perasaan deg-degan, perlahan-lahan keduanya melongokkan kepalanya dengan nafas tertahan melihat halaman depan yang diperkirakan lurus dengan jendela ruang tamu.
Guntur dan pak Suro mengedarkan pandangannya menyapu ke setiap arah ke halaman depan rumah berulang-ulang. Akan tetapi keduanya tidak menemukan adanya sosok mahluk hitam yang menghadap jendela seperti yang diceritakan oleh pak Suro. Keduanya lantas saling berpandangan reflek sama-sama menggelengkan kepala.
"Nggak ada pak," bisik Guntur mendongak keposisi pak Suro yang berdiri dibelakangnya.
"Iya, Gun udah menghilang. Ya udah lah kita masuk lagi," ucap pak Suro yang nampak kecewa.
__ADS_1
Guntur dan pak Suro pun akhirnya keluar dari persembunyiannya untuk mengintai sosok mahluk gaib itu meneruskan langkahnya ke halaman depan lalu masuk kedalam rumah melalui pintu depan.
......................