
"Gun, bapak tahu yang membuat Kunto sakit seperti itu..." ucap Pak Suro.
Sontak saja seketika Guntur terlonjak dari tempat duduknya. Tanggapan pak Suro barusan sangat mengejutkannya sekaligus sangat membuatnya penasaran.
“Apa pak?! Bapak tau yang membuat Kunto sakit seperti itu?!” pekik Guntur penuh emosional.
“Gun, Gun... kamu tenang dulu, jangan emosi begitu. Duduk, duduk Gun... kamu harus tenang ya,” ucap pak Suro memegang lengan Guntur memintanya untuk duduk kembali.
“Mma, mmaaf pak,” gumam Guntur menyadari tindakkannya.
“Sekarang mamahmu ada dimana? Apa mamahmu ada di dalam?” tanya pak Suro.
“Maksud pak Suro, mamah yang melakukan itu pada Kunto?!” sergah Guntur.
“Bbu, bbuu, bukan Gun. Bapak hanya sekedar tanya apakah mamahmu ada di sini?” buru- buru pak Suro mengklarivikasi agar tidak salah paham.
Jantung pak Suro serasa berhenti berdetak melihat bagaimana reaksi Guntur. Pak Suro harus kembali berpikir mencari cara untuk dapat menjelaskan pada Guntur, agar sekiranya tidak membuat Guntur marah.
Pak Suro baru memahami karakter Guntur sekarang. Nampaknya Guntur hanya melihat dari sisi kebenaran dan sifat tolerannya yang tinggi sehingga tak perduli siapapun yang melakukan kesalahan walau pun itu ibunya sendiri.
“Mamah baru saja pulang lima belas menit yang lalu pak,” jawab Guntur.
Pak Suro menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Guntur. Pak Suro menghembuskan nafasnya lega karena merasa akan lebih leluasa ngobrol banyak dengan Guntur.
Akan tetapi Pak Suro merasa saat ini semakin sulit untuk menjelaskan situasi dan kondisinya lebih banyak lagi dan lebih terbuka lagi kepada Guntur. Ia tak ingin membuat Guntur tersulut emosinya yang akan berakibat kacau.
Pak Suro tidak ingin melihat keluarga Guntur yang harmonis menjadi berantakan. Apalagi mereka hidup hanya berdua.
“Jadi, sssi, ssiiapa yang memembuat Kunto sakit pak?” tanya Guntur lagi dengan suara bergetar karena menekan emosinya.
Sesaat pak Suro terdiam mendapat tekanan atas pertanyaan itu. Dirinya menyesali telah mengatakan mengetahui yang membuat Kunto sakit. Ia merasa terlalu cepat menyampaikan itu pada Guntur.
“Mmm, ada mahluk halus di rumah itu Gun,” terang pak Suro bijak.
“Mahluk halus?!” Guntur mengerutkan keningnya dalam- dalam.
Logikanya berusaha keras menerima keterangan dari pak Suro, namun seakan- akan menolak. Guntur merasa jawaban pak Suro sangat kompleks.
“Tapi pak, selama ini saya sendiri tidak pernah mengalami hal- hal aneh. Ada juga kejadian penampakkan kuntilanak pada saat pertama kali kita pindahan itu dan pak Suro sendiri yang menanganinya, kan?” sergah Guntur.
“Apakah mahluk halus itu lagi pak?!” cecar Guntur kian penasaran.
“Mm, nanti saja ngomongin mahluk halusnya ya, sekarang bapak pengen lihat keadaan Kunto Gun,” ucap pak Suro berupaya menenangkan Guntur.
“O, iya. Apa bapak bisa menyembuhkan Kunto pak. Kasihan sekali dia pak sepertinya ketakutannya terus menghantuinya,” ujar Guntur.
“Insya Allah, Gun. Ayo lihat Kunto.” Pak Suro meminta.
__ADS_1
“Mari, mari pak.” Sahut Guntur kemudian berdiri beranjak dari duduknya diikuti pak Suro.
......................
Sebuah taxi online berhenti tepat di depan pagar rumah bercat cokelat. Mamah Karmila turun setelah membayarnya dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu Karmila duduk di kursi dengan menyandarkan kepalanya setengah mendongak katas.
Pikirannya dipenuhi bayangan- bayangan kekhawatiran yang teramat sangat. Dirinya begitu takut dengan dugaan- dugaan peristiwa yang akan terjadi kedepannya apabila Kunto tersadar dan menceritakannya pada Guntur.
“Kuncinya ada pada Kunto!” Batin Karmila sambil memijat- mijat keningnya merasa pening.
“Apakah Kunto harus dilenyapkan?!” Godaan pikiran jahat terlintas di kepala Karmila.
“Tapi Guntur akan semakin curiga! aaaakhhh!” pekik Karmila menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dilema bagi Karmila, disatu sisi ia khawatir Kunto akan menceritakannya pada Guntur, tetapi di sisi lain dengan melenyapkan Kunto pun dirinya tidak begitu yakin apakah situasinya akan menjadi baik?
Pro dan kontra terus bergejolak didalam pikirannya. Karmila kian dibayangi rasa ketakutan sendiri dan sekejap berikutnya rasa penyesalan dihatinya menyeruak teringat peristiwa dimana Kunto tiba- tiba muncul di jendela melihat perbuatan terkutuknya.
“Kenapa juga Kunto bisa- bisanya mengintip?! Apakah dia mendengar suara dari dalam kamar?” Batin Karmila.
Terbersit di pikirannya, Karmila teringat kalau malam itu dirinya merasa spontan mengeluarkan suara erangan yang cukup keras akibat rasa nik mat yang tak tertahankan.
Perlahan- lahan Karmila membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya. Ketika ia hendak bangkit berniat untuk masuk ke kamarnya, tiba- tiba Karmila tersentak kaget memekik dengan keras.
“Aaaaakkkkkhhh!”
“Mas Aryo...” gumam Karmila dengan suara bergetar.
Sorot matanya memancar kerinduan yang teramat sangat memandangi sosok suaminya itu. Karmila terbuai sampai- sampai menghilangkan akal sehatnya.
Karmila tertegun menatap pria tampan yang berdiri tengah memandangi dirinya. Ia benar- benar hanyut oleh pesona Aryo hingga membuatnya melupakan kenyataan kalau suaminya itu sudah meninggal dunia.
“Apakah kamu ingin melenyapkan orang itu?” tanya sosok Aryo tiba- tiba dengan suara yang janggal.
Deg!
Karmila terkesiap, kesadaranya langsung kembali mendengar pertanyaan yang keluar dari Aryo. Akal sehatnya timbul dan seketika kedua matanya kian terbelalak memandang sosok Aryo di hadapannya.
“Karbala!” pekik Karmila.
“Tidak! Tidaaak! Kamu jangan melenyapkan dia!” teriak Karmila.
“Kenapa?!” Suara Aryo itu berubah menjadi sember dan besar seiring perubahan pada wujudnya.
“Dia sahabatnya Guntur dan Guntur pasti akan sangat marah sekali. Jika kamu lenyapkan dia, Guntur tak akan tinggal diam. Dia akan berusaha mencari tahu penyebabnya akibat kematiannya yang tak wajar!” Sergah Karmila.
__ADS_1
“Ggggrrrrhhhhkkkk....” sosok yang telah berubah menjadi Karbala itu hanya menggeram.
“Bisakah kamu membuatnya hilang ingatan?” tanya Karmila penuh harap sambil menundukkan wajahnya.
Terlintas spontan dalam pikirannya untuk membuat Kunto hilang ingatan agar tidak dapat menceritakan apa yang telah dilihatnya pada Guntur.
“HAHAHAHA... HAHAHAHA.... HAHAHA....” Suara tawa yang sember dan besar itu menggema didalam ruang tamu.
Perlahan- lahan suara tawa yang menggidikkan itu mengecil seperti menjauh. Dan saat Karmila mendongakkan wajahnya untuk melihat Karbala, sosok itu sudah tak ada lagi di hadapannya.
......................
Di kamar rawat nomor 15,
Pak Suro memperhatikan Kunto yang terbaring diatas ranjang. Wajah pak Suro nampak bergerak melihat Kunto dari ujung kaki hingga kepala lalu berhenti menatap tajam pada wajah Kunto.
Pak Suro menutup rapat- rapat kedua matanya, mulutnya komat- kamit merapalkan penglihatan batinnya untuk memeriksa kondisi Kunto dari sisi spiritual yang tak kasat mata.
Sesaat kemudian pak Suro terlihat mengernyitkan dahinya dalam- dalam. Raut wajahnya nampak terlihat penuh kebimbangan, lalu kembali membuka matanya.
“Gimana pak?!” tanya Guntur yang sedari tadi memperhatikan pak Suro.
“Aneh!” gumam pak Suro.
“Aneh gimana pak?!” cecar Guntur penasaran.
Pak Suro terdiam sejenak, ia kini sangat berhati- hati menyampaikan ucapannya pada Guntur. Atau lebih tepatnya menjaga ucapannya untuk tidak terlalu terbuka yang hanya menimbulkan pertanyaan- pertanyaan Guntur penuh emosional.
“Sukmanya tidak ada,” batin pak Suro.
Pak Suro hanya menjawabnya dalam hati. Kalau pun ia menyampaikannya pada Guntur, pasti Guntur tidak akan mengerti. Dan pastinya akan menkmbulkan banyak pertanyaan lagi.
“Biar bapak tangani Gun, insya Allah bapak bisa bantu,” ucap pak Suro.
“Syukurlah! Terus apa yang selanjutnya saya lakukan pak?!” tanya Guntur lagi.
“Kamu jagain Kunto saja disini Gun. Bapak akan mencoba menolongnya dari tempat lain,” jawab pak Suro.
“Tempat lain? Kenapa nggak disini saja pak? Kuntonya kan ada disini,” sergah Guntur.
“Ini harus dikerjakan dari tempat lain Gun. Nggak bisa disini,” tegas pak Suro.
Guntur hanya mengangguk dan tak lagi bertanya.
Tak mungkin bagi pak Suro untuk mengatakan dirinya akan mendatangi rumah Guntur yang dulu. Sebab pasti Guntur akan langsung tahu maksud dan tujuan pak Suro mendatangi rumah itu untuk menemui Karbala.
Hal itu akan menimbulkan prasangka buruk terhadap Karbala. Dan pastinya Guntur akan mengamuk jika mengetahuinya.
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG...