TITISAN

TITISAN
NASIB PUTRI


__ADS_3

Ustad Syukur segera kembali berseru dengan melantunkan Iqomah;


"Allaahu Akbar, Allaahu Akbar...


Asyhadu allaa illaaha illallaa...Asyhadu allaa illaaha illallaah...


Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah...Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah...


Hayya 'alashshalaah.. ..Hayya 'alashshalaah....


Hayya 'alalfalaah... Hayya 'alalfalaah...


Qad qaamatish-shalaah... Qad qaamatish-shalaah...


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar,


Laa ilaaha illallaah..."


Begitu selesai ustad Syukur melantunkan iqomah, tiba- tiba suara ledakkan terdengar di sekitar pohon beringin.


Duarrrr!!!


Suara dentuman seketika terdengar dan menggetarkan tanah sekitar halaman rumah Jin An. Suara- suara seng atap kanopi belakang rumah pun gemerisik menambah riuhnya suasana tengah malam.


“Astagfirullahal azdim!” Pekik ustad Syukur dan kang Nawawi spontan bersamaan tubuhnya melenting terdorong kebelakang.


Sebuah udara hampa menghantam tubuh kang Nawawi dan ustad Syukur. Keduanya secara bersamaan terpental kebelakang, beberapa jengkal melenting keatas lalu jatuh keatas rerumputan taman dengan keras.


Bugggh!


Tubuh keduanya tak lagi berkutik setelah terhempas diatas rerumputan taman, tubuhnya tergeletak tak bergerak sama sekali.


“Ustad...! Kang Nawawi..!” pekik Parno dari tempatnya duduk di bawah kanopi belakang rumah.


“Ya Tuhan!” seru Jin An dengan mata terbelalak.


Beberapa detik Parno dan Jin An tertegun melihat peristiwa yang baru saja terjadi di depan matanya. Namun setelah tersadar buru- buru keduanya berhamburan menuju posisi ustad Syukur dan kang Nawawi tergeletak.


......................


Pak RT Parno menghentikan ceritanya, ia terdiam menghela nafas panjang sambil mendongakkan kepalanya menatap langit- langit ruang tamu.


Sementara haji Abas mengernyitkan wajahnya dalam- dalam, tergurat di wajahnya rasa khawatir dan cemas bercampur penasaran.


“Lalu bagaimana pak RT?!” Tanya haji Abas sangat ingin tahu kelanjutannya.


Kemudian pak RT Parno menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan, seraya berkata; “Kang Nawawi saat itu kondisinya terluka sangat parah. Saya lihat ada bekas hitam di bagian dadanya seperti bekas terbakar,"


"Sedangkan kondisi Ustad Syukur tidak dapat diselamatkan pak haji.” ucap pak RT Parno pelan.

__ADS_1


Wajah haji Abas terhenyak begitu mendapat jawaban pak RT Parno. Haji Abas diam membatu, di dalam hatinya berkecamuk perasaan geram dan penasaran.


“Sebegitu kuatkah mahluk penghuni pohon beringin itu?!” pikir haji Abas dalam hati sangat penasaran.


"Lalu bagaimana dengan Putri?!" tanya haji Abas antusias.


Setelah diam beberapa saat, pak RT Parno pun kembali melanjutkan cerita...


"Menurut penuturan kang Nawawi yang menceritakan sehari setelah kejadian itu setelah kondisinya sudah sedikit membaik..."


......................


Di Alam Gaib,


Dihadapan Kang Nawawi berdiri terlihat Karbala berdiri dengan tegak memandang tajam pada kang Nawawi. Bulu- bulu hitamnya kini tertutup oleh pakaian kebesarannya yang mirip dengan raja- raja zaman dulu.


Di kedua lengannya melingkar pernik- pernik berbentuk gelang berwarna emas. Begitu juga di kepalanya melingkar mahkota berwarna emas dengan manik- manik 3 permata berwarna merah membentuk segi tiga di bagian depan tengahnya.


Sepasang matanya berkilat cahaya merah, seraya bersekata; “Manusia lancang!” Seru Karbala dengan suaranya yang besar dan sember.


“Tttttu, tu, ttuan, sssaya minta ma, maaf ssseb... belumnya... ssa.. ya.. tidak ber.. maksud... berbuat lancang...” ucap kang Nawawi dengan suara gemetar.


“Apa tujuanmu datang ke wilayahku!” seru Karbala geram.


“Sssa.. saya mohon, ttu, tuan.. mmmee, melepaskan... putri,” sahut kang Nawawi dengan dada berdebar kencang.


“Apa kamu punya penggantinya?!” kata Karbala.


“Ttti, ti, tidak ada,” jawab kang Nawawi spontan.


“Hahahaha... berani sekali kau manusia datang menantangku!” kata Karbala diakhiri dengan suara tawa yang menggelegar.


Kang Nawawi tersurut mundur selangkah, dadanya kian berdebar kencang. Namun dia berusaha tenang dan tetap bersikap tenang meminta Putri untuk dikembalikan.


“Tapi ke, kekenapa tuan membawanya. Alamnha putri bukan disini, saya minta lepaskan putri,” ucap kang Nawawi.


“Anak itu telah membuat kesalahan besar!” seru Karbala mulai geram setelah sempat mereda.


“Kesalahan?! Kesalahan apa?!” tanya kang Nawawi heran.


Karbala terdiam mendapat pertanyaan itu, dia tampak terlihat bingung menjawabnya.


"Bukan urusanmu!" seru kang Nawawi.


Rasa gentar kang Nawawi sedikit demi sedikit mulai tergantikan oleh rasa geram. Amarah kang Nawawi pun timbul seketika melihat gelagat angkuh Karbala.


Merasa harga diri sebagai manusia yang kodratnya lebih mulia dari pada mahluk gaib seperti Karbala di rendahkan, sontak keberanian kang Nawawi berontak.


“Sekarang serahkan putri atau tidak?!” Ancam kang Nawawi sambil menyiapkan amalan supranaturalnya.

__ADS_1


Tangan kanan Kang Nawawi bergetar keras seiring mulutnya komat- kamit membaca amalan itu.


Sementara Karbala nampaknya merasakan ada energi kekuatan yang mengancamnya memancar dari tubuh kang Nawawi, segera Karbala menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya.


Tiba- tiba kang Nawawi bergerak dengan cepat menerjang kearah Karbala dengan mengacungkan telapak tangannya yang dibuka lebar- lebar, sambil melompat ia berteriak;


“Allahu Akbarrrr!”


Telapak tangan yang mengembang itu seketika di hantamkan mengarah kepala Karbala.


Karabala hanya menyeringai bengis melihat kang Nawawi datang menyongsong. Energi kekuatan yang terpancar di telapak tangan kang Nawawi tak membuat Karbala gentar.


Saat telapak tangan kang Nawawi tinggal 1 meteran lagi, dengan cepat Karbala menggerakkan kedua telapak tangannya yang semula ditangkupkan di depan dada.


Kilatan cahaya merah disertai hebusan angin yang deras seketika meluncur menyongsong energi kekuatan yang melesat dari telapak tangan kang Nawawi.


Dalam sekejapan mata, dua cahaya berkekuatan dahsyat saling bertabrakan ditengah- tengah diantara Karbala dan kang Nawawi.


Duarrrr!


Dentuman keras langsung membahana dan menggetarkan pijakan mereka. Karbala terdorong tersurut mundur setengah langkah akibat benturan kekuatan tersebut.


Sedangkan kang Nawawi, saat itu juga pandangan matanya menjadi gelap seketika. Tubuhnya langsung lenyap dari hadapan Karbala dan pasukannya.


Sebelum menghilang kang Nawawi masih sempat memekik mengucap; “Astagfirullahal azdim!”


......................


“Berarti Putri yang mengajak Zahra ke alam gaib itu putrinya Jin An?!” Tanya haji Abas terkejut.


“Kalau menyimak ceritanya pak haji tentang Zahra dan Putri, menurut saya pasti itu Putri yang hilang dahulu pak haji,” ujar pak RT Parno.


“Jika di hitung- hitung usia Putri sekarang berapa ya pak?” Tanya pak haji.


“Saat hilang itu Putri berusia 10 tahunan, setelah kejadian yang menimpa ustad Syukur seminggu kemudian keluarga Jin An pindah ke Jakarta,” jawab pak RT Parno.


“Rumah ini sempat kosong sekitar lima tahunan lalu di beli keluarga pak Aryo ibu Karmila. Kalau nggak salah keluarga pak Aryo menempati rumah ini sekitar 23 tahunan sekarang,” sambung pak RT Parno sambil memainkan jarinya menghitung.


“Ya kurang lebih 38 hingga 40 tahunan kalau misalkan Putri masih hidup dan bisa kembali ke alam ini lagi,” pungkas Pak RT Parno.


Haji Abas tercenung, hatinya tersentuh merasa iba dengan Putri. Apakah mungkin Putri masih hidup dan apakah mungkin bisa kembali muncul di dunia ini? begitu pikir haji Abas.


Pikirannya merangkai logika mengaitkan kejadian dengan yang dialami Zahra. Meskipun hanya dalam hitungan beberapa jam, nyatanya Zahra masih hidup dan dalam kondisi baik- baik saja.


"Bagaimana pak haji? Apakah masih tetap melakukan penebangan pada pohon itu?" tanya Parno.


"Eh, mmm..." haji Abas tergagap seketika menghentikan logika berpikirnya tentang kemungkinan Putri masih hidup.


"Nanti saya bicarakan dulu dengan ustad- ustad lainnya pak RT. Terima kasih banyak sudah mengingatkan saya disini, sebentar pak RT," ucap haji Abas, kemudian beranjak dari kursi lalu keluar rumah.

__ADS_1


Tak lama kemudian haji Abas sudah kembali seraya berkata; "Kita makan dulu ya pak RT, sebentar sedang membeli nasi goreng di depan." ucap haji Abas.


......................


__ADS_2