
Dada mamah Karmila kian berdebar- debar mendengar percakapan tersebut. Karmila mengernyitkan keningnya karena percakapan itupun samar- samar sudah di dengarnya di dalam mimpi.
Guntur pun mengalami hal yang sama, jantungnya langsung berdegup kencang karena mendengar percakapan itu sudah di ketahuinya.
Namun Guntur dan mamah Karmila hanya diam memperhatikan saja, keduanya tak mau menunjukkan apa yang sudah diketahuinya. Apalagi untuk mencegah maksud kedatangan Ki Wayan dan Udin ke rumah haji Abas tersebut karena tak punya hak apapun.
“Oh iya, ini pak Guntur dan ibu Mila Ki. Beliau yang menempati rumah ini sebelumnya,” ucap haji Abas memperkenalkan.
Guntur dan mamah Karmila tersenyum simpul mengangguk kecil pada Ki Wayan. Ki Wayan reflek melihat kearah Guntur dan mamah Karmila sambil tersenyum ramah.
Akan tetapi tiba- tiba senyumannya perlahan surut manakala pandangannya melihat Guntur dan mamah Karmila. Raut wajahnya nampak berubah, ada kerutan yang menunhukkan keterkejutan di wajahnya.
“Aura kedua orang ini seperti tak asing lagi. Apakah ada kaitannya dengan itu...” batin Ki Wayan lalu buru- buru mengalihkan pandangannya kembali pada haji Abas.
Ekspresi Guntur dan mamah Karmila datar dan biasa- biasa saja tak berusaha untuk bertanya apapun dengan maksud dan tujuan kedatangan Ki Wayan dan Udin.
Keduanya menutup diri rapat- rapat pura- pura tidak tahu rencana haji Abas dengan mendatangkan Ki Wayan di hadapan mereka.
Raut wajah Guntur dan mamah Karmila datar tidak menunjukkan atau bahkan tidak berusaha untuk mengungkapkan kalau mereka sudah mengetahuinya.
“Ki Wayan ini akan menebang pohon beringin di belakang itu loh pak Guntur, bu Mila,” ujar haji Abas menjelaskan.
Deg!
Serasa mendengar gelegar petir di siang bolong, jantung mamah Karmila serasa berhenti berdetak. Meskipun ia sudah mengetahui dari peristiwa mimpinya, namun tetap saja mamah Karmila merasa terkejut tak terkira.
Ekspresi keterkejutan pada wajah Karmila tidak dapat di sembunyikannya karena keluar spontan begitu saja.
Begitu juga dengan Guntur, namun Guntur terkesiap karena ia merasakan situasi tersebut benar- benar sama persis dengan yang dilihatnya dalam mimpi itu.
“Nggak apa- apakan pak, bu?!” buru- buru haji Abas melanjutkan saat melihat perubahan pada ekspresi wajah mamah Karmila.
“Ohh, i, iyya pak haji,” sahut Guntur dan mamah Karmila berbarengan sedikit tergagap.
“Itu kan sudah menjadi haknya pak haji sepenuhnya,” sambung Guntur yang di anggukkan oleh mamah Karmila.
Akan tetapi tidak ada yang tahu kalau didalam hati Guntur dan mamah Karmila sesungguhnya sangat tidak rela.
Guntur hanya bisa berdoa tak henti- hentinya, berharap ada kejadian yang membuat penebangan pohon itu gagal.
Sementara mamah Karmila tanpa sadar didalam hatinya terus- menerus menyebut nama Karbala, seperti mengharapkan kehadirannya agar mengetahui rencana haji Abas tersebut.
__ADS_1
Guntur dan mamah Karmila tak berdaya sama sekali untuk mencegahnya. Keduanya hanya mengikuti arus situasi yang ada.
“Tapi, bolehkan saya dan mamah ikut mèlihatnya pak haji. Mumpung waktunya lagi luang dan santai,” ujar Guntur sebelum haji Abas menanggapi jawaban Guntur sebelumnya.
“Tentu saja boleh pak Guntur, hehehe...” tanggap haji Abas.
“Punten sebelumnya Ki sekedar mengingatkan saja, pohon yang akan Ki Wayan tebang itu ada penunggunya,” kata haji Abas mengalihkan pandangannya pada Ki Wayan dan Udin bergantian.
Lagi- lagi ucapan haji Abas itu membuat Guntur dan mamah Karmila terpana di tempatnya. Guntur dan mamah Karmila seperti sedang melihat tayangan ulang rangkaian sebuah film. Sebab, semuanya sama persis seperti yang di lihatnya di dalam mimpi.
“Pasti orang yang bernama Ki Wayan itu akan menjawab ‘lumrah’ dan mengatakan rata- rata pohon yang usianya sudah tua 99 persen pasti didiami mahluk halus,” batin Guntur menebak alur pembicaraan.
“Ya pak haji, sudah lumrah kalau soal itu mah. Rata- rata pohon yang usianya sudah tua 99 persen pasti didiami mahluk halus,” ujar Ki Wayan.
“Benar!” pekik Guntur dalam hati.
Wajah Guntur sedikit menegang tetapi untungnya tak ada yang memperhatikan perubahan ekspresi wajah Guntur.
Sedangkan mamah Karmila juga tercengang memperhatikan percakapan tersebut dengan wajah sedikit memucat.
Guntur dan mamah Karmila memperhatikan Haji Abas yang manggut- manggut puas setelah mendapatkan tanggapan dari Ki Wayan.
Terlihat haji Abas merasa tenang dan kelihatan yakin kalau pohon beringin itu bisa di tebang. Dari sorot mata Ki Wayan, haji Abas dapat meyakini kalau Ki Wayan memiliki kekuatan supranatural yang sangat besar dan sudah berpengalaman.
“Punten pak haji, dimana pohon yang mau saya tebang?” Tanya Ki Wayan.
“Di belakang rumah Ki,” jawab haji Abas.
“Kalau begitu saya langsung ke lokasi saja pak haji, sambil menyiapkan segala sesuatunya,” ujar Ki Wayan.
“Loh, nggak nanti saja istirahat minum dulu Ki,” kata haji Abas.
“Biar di lokasi aja pak haji, keburu panas cuacanya,” ujar Ki Wayan.
Guntur dan mamah Karmila sama- sama merasakan dadanya kian berdebar- debar. Semua yang dilihat dan didengar dihadapannya itu benar- benar sudah dilihatnya dalam mimpi.
Sementara mamah Karmila berpikir keras bagaimana caranya untuk menggagalkan penebangan pohon beringin itu seperti yang sudah dilihatnya juga didalam mimpinya.
Diantara Guntur dan mamah Karmila, tak satu pun mereka menceritakan mimpi yang dialaminya. Padahal keduanya mengalami periatiwa mimpi yabg sama dan mimpi itu sama persis dengan situasi dan kondisi yang sedang dihadapannya saat ini.
Guntur dan mamah Karmila kian penasaran tatkala Ki Wayan meminta diantarkan ke lokasi pohon beringin yang hendak di tebangnya. Keduanya juga sabgat ingin sekali melihatnya, sebab di dalam mimpinya pohon beringin itu sudah roboh berhasil di tebang Ki Wayan.
__ADS_1
"Kalau begitu mari saya antar Ki, mari pa Guntur, ibu Mila..." ucap haji Abas.
Beberapa saat kemudian haji Abas berdiri dari kursinya beranjak untuk mengantarkan Ki Wayan menuju ke halaman belakang.
Haji Abas berjalan di depan beriringan bersama Ki Wayan, disusul dibelakangnya berjalan pak RT Parno beriringan dengan mang Udin dan dibelakangnya berjalan 3 orang ustad pembimbing santri rumah tahfiz.
Guntur dan Karmila sesaat terpaku berdiri menatap iring- iringan haji Abas dan yang lainnya berjalan turun dari teras menuju halaman belakang melalui halaman samping.
"Apakah mereka akan saling bertubrukan?!" batin Guntur dan mamah Karmila kemudian segara berjalan menyusul iring- iringan itu yang tertinggal beberapa langkah di belakang mereka.
Beberapa saat setelah berbelok ke halaman samping dan sudah terlihat rimbunnya pohon beringin di kejauhan sudut halaman belakang, tiba- tiba teredengar suara pekikan saling mengaduh.
"Aduh...!"
"Aduh...!"
"Astagfirullahal azim..!"
Guntur dan mamah Karmila benar- benar terkesiap karena kejadian itu sudah di tebaknya menyamakan dari peristiwa mimpinya.
Kedua ibu dan anak itu tak turut menubruk rombongan iring- iringan haji Abas karena jarak keduanya berjeda sekitar 5 langkah dibelakang.
"Benar- benar nyata," gumam Guntur tanpa sadar.
Mamah Karmila tersentak bukan main mendengar gumaman Guntur. Mamah Karmila kontan menatap lekat- lekat wajah putranya di sampingnya dengan penuh tanda tanya besar dan keheranan, namun tidak menanyakannya.
"Apakah Guntur memimpikannya juga?!" batin mamah Karmila, tetapi tetap menyimpannya didalam hati.
Guntur dan mamah Karmila tak turut bertubrukan karena ada jarak 5 langkah dibelakang rombongan haji Abas.
Kejadian tubrukkan tersebut diakibatkan karena Ki Wayan tiba- tiba menghentikan langkahnya. Ki Wayan sangat terkejut saat pandangannya melihat pohon beringin yang berdiri kokoh dikejauhan yang terletak sudut halaman belakang di hadapannya.
Saat langkah kakinya berbelok menapaki halaman samping itu tanpa di duga sebelumnya posisinya akan langsung menghadap lurus ke pohon beringin.
Akan tetapi terkejutnya Ki Wayan bukan akibat melihat pohon beringin semata, melainkan akibat Ki Wayan mersakan aura gaib yang berbenturan langsung dengan pandangan matanya.
Aura gaib dari pohon beringin itu bereaksi dengan kekuatan penolakan yang sangat besar.
"Apa yang harus saya lakukan untuk menggagalkannya?!" batin Mamah Karmila dengan raut wajah kian menegang.
Guntur pun demikian, di dalam kepalanya terus berputar- putar mencari cara untuk menggagalkan penebangan pohon beringin tersebut.
__ADS_1
......................
BERSAMBUNG...