
“Assalamualaikum...” ucap haji Abas saat memasuki rumah tahfiz.
“Wa’ alaikum salam...” sahut orang yang ada di ruang tamu bersamaan.
Ustad Jalal, Mang Udin dan Ki Wayan berdiri saat menyambut uluran tangan haji Abas untuk bersalaman. Kemudian tak lama setelah haji Abas masuk disusul ustad Sofyan muncul di belakangnya.
“Ki Wayan gimana kondisinya?” Tanya haji Abas setelah duduk di kursi.
“Sudah baikkan pak haji, o iya sekalian saya dan Udin mau pamitan pulang,” jawab Ki Wayan yang di iyakan oleh Udin.
“Loh baru aja saya datang, Ki Wayan langsung pamit aja,” seloroh haji Abas.
“Sudah dari pagi nunggu pak haji datang, tadinya mau pulang jam 6- an. Saya nggak tahu kalau pak haji nggak tidur disini, hehehe...” ujar Ki Wayan tertawa kecil.
“Tapi kondisi Ki Wayan beneran sudah baik Ki? Dua jam- an ya Din ke Sumedang tuh?” tanya haji Abas meyakinkan lalu menoleh kearah Udin.
“Muhun pak haji, sekitar segituan,” sahut Udin.
“Beneran nih Mang Udin dan Ki Wayan mau pulang sekarang?” Tanya haji Abas kembali meyakinkan.
Beberapa saat ngobrol basa- basi, akhirnya Udin dan Ki Wayan pun berpamitan pulang. Udin bergegas mengambil barang- barang perkakas penebangannya yang di taruh di dekat pintu depan.
“Ki, Mang Udin sebentar, sebentar dulu... sebelumnya saya pribadi memohon maaf dengan kejadian disini, ini upah yang sudah saya janjikan sebelumnya, mohon di terima ya Ki,” ucap haji Abas menghentikan langkah Ki Wayan dan Udin.
Ki Wayan mengerutkan keningnya dalam- dalam. Nampak ia tak menduga haji Abas akan memberikan upah walau pun gagal mengerjakan pekerjaannya.
“Ah, pak haji nggak usah, pekerjaan saya kan gagal. Jadi saya tidak berhak mendapatkan upahnya,” kata Ki Wayan sambil mendorong pelan amplop putih yang disodorkan haji Abas.
“Nggak apa- apa Ki, semua kegagalan itu bukan sepenuhnya kesalahan Ki Wayan dan Udin. Jadi tolong di terima ya, Ki...” ucap Haji Abas memaksa tangan Ki Wayan untuk menerkma amplop itu.
Ki Wayan tampak tak enak hati, ia ragu- ragu untuk menerima amplop yang sudah berada di genggamannya. Dirinya merasa tak pantas menerima upah yang menurutnya telah gagal melakukan pekerjaannya.
Namun karena haji Abas bersikukuh mendesaknya agar Ki Wayan mau menerima, akhirnya dengan perasaan tak enak hati Ki Wayan pun menerimanya.
Dengan diiringi tatapan mata haji Abas serta ustad Jalal dan ustad Soyan, Mang Udin dan Ki Wayan pun meninggalkan halaman rumah tahfiz dengan berboncengan menaiki sepeda motor.
__ADS_1
Setelah Udin dan Ki Wayan tak terlihat lagi, haji Abas serta uatad Jalal dan ustad Sofyan pun kembali masuk dan duduk di ruang tamu.
“Ustad tadi malam saya dapat telpon dari ustazah, kalau ente pinsan di masjid. Kenapa ustad?” tanya haji Abas pada ustad Jalal.
Ustad Jalal dan ustad Sofyan terkesiap, kedua ustad muda itu kaget ternyata haji Abas sudah mengetahuinya. Padahal semalam para ustad sepakat untuk tidak mengabarkan dulu pada haji Abas dengan pertimbangan kondisi ustad Jalal sudah siuman.
Selain itu alasan lainnya para ustad tidak mau merepotkan haji Abas yang baru saja pulang. Jika malam itu mereka melaporkan langsung, pasti haji Abas akan balik lagi ke rumah tahfiz. Mereka kasihan kalau haji Abas mesti balik lagi.
“I, iyy, iya pa haji,” sahut ustad Jalal.
“Semalam kita sudah sepakat untuk tidak langsung melaporkan kejadian ini sama pak haji karena kita nggak mau merepotkan pak haji. Soalnya pak haji kan baru saja pulang, kasihan nanti pak haji mesti balik lagi kesini,” timpal ustad Sofyan.
“Ya tadinya saya mau kesini lagi tad setwlah ustazah telpon itu. Cuma kata ustazah kalau keadaan ustad Jalal sudah siuman jadi saya mengurungkan kembali kesini,” ucap haji Abas.
“Jadi kenapa ustad Jalal bisa pinsan begitu? Ustad sakit?” tanya haji Abas sedikit cemas.
“A, anu pak haji, saya... sssaya..”
Ucapan ustad Jalal yang terbata- bata membuat haji Abas dan ustad Sofyan dibuat penasaran.
“Iya ustad, cerita aja. Ada apa?” timpal ustad Sofyan.
“Ssaaaya, saya melihat mahluk Genderuwo pak haji,” ungkap ustad Jalal bergetar.
“Hah!” pekik haji Abas dan ustad Sofyan spontan.
Ustad Jalal pun menceritakan kejadian tadi malam secara detil persis seperti kejadian yang dilihat dan dirasakannya.
“Mmm... masalahnya bukan itu pak haji,” ucap ustad Jalal dengan suara bergetar.
Haji Abas dan ustad Sofyan kontan saling berpandangan terheran- heran sekaligus penasaran. Haji Abas mendadak berdebar- debar menunggu ungkapan ustad Jalal selanjutnya.
“Apa ustad?!” Sergah ustad Sofyan.
“Sebelum saya tak sadarkan diri, saya sempat mendengar suara mahluk itu besar dan sember. Dia mengatakan, jangan menempati disini, jika tidak....” ungkap ustad Jalal.
__ADS_1
Haji Abas dan ustad Sofyan kian penasaran oleh ucapan ustad Jalal. Mereka berdua mengira ustad Jalal menggantung ucapan manhluk itu.
“Jika tidak apa ustad?!” buru haji Abas bertanya penasaran.
“Nggak tahu pak haji, mahluk itu hanya mengatakan begitu,” jawab ustad Jalal.
Deg!
Jantung haji Abas berdegup kencang, terbersit di hatinya kalau mahluk itu sungguh- sungguh dengan ancamannya.
Karena kalimat ancaman yang menggantung itu membuat haji Abas kian merasa ancaman itu lebih mengerikan. Akan lebih tenang andai saja Genderuwo itu mengatakan bentuk ancannya langsung.
Hal ini jelas membuat pikiran haji menimbulkan banyak menduga- duga dengan prasangka dan perkiraan buruk yang akan menimpa semua yang ada di lingkungan rumah tahfiz ini.
“Jadi bagaimana ini pak haji?!” tanya ustad Sofyan khawatir.
Haji Abas terdiam, pikirannya masih tertuju pada ancaman mahluk Genderuwo itu yang menimbulkan beragam kemunhkinan hal buruk.
Ini menjadi dilema bagi haji Abas sebagai seseorang yang taat agamanya. Dirinya merasa kalau manusia itu sebagai mahluk tuhan paling mulia apalagi dibandingkan dengan golongan jin dan syaitan.
“Masa harus kalah dan menuruti mahluk gaib itu!” batin haji Abas.
Wajah haji Abas seketika membesi, tersirat kemarahan yang mendadak muncul. Rasa gengsi sebagai manusia terlecut dari dalam hatinya.
"Tidak mungkin tidak ada orang yang tidak mampu melawannya, pasti ada!" batin haji Abas.
Meski begitu haji Abas tak mau bertindak gegabah. Bagaimana pun juga haji Abas membutuhkan pendapat- pendapat dari ustad- ustad pembimbing rumah tahfiz.
“Ustad tolong kumpulkan semua ustad dan ustazah pembimbing. Saya ingin memusyawarahkan masalah ini,” kata haji Abas pada ustad Sofyan.
“O, iya, jam berapa pak haji?” Tanya ustad Sofyan saat sudah berdiri.
“Saat jam istirahat aja ustad. Para santri dibebaskan saja dari kegiatan belajarnya, atau adakan kegiatan bersih- bersih halaman, ya.” Jawab haji Abas.
“Muhun pak haji, saya pamit sekarang.” Ujar ustad Sofyan.
__ADS_1
......................