TITISAN

TITISAN
NIAT GUNTUR


__ADS_3

Tiiin...


Tiiin...


Suara-suara klakson dari belakang mobil Guntur menyalak-nyalak terus dari tadi membuat Guntur mendengus kesal. Sudah tahu jalanan kota Bandung menjelang magrib selalu padat merayap tetapi mobil dibelakangnya seolah tak sabar ingin cepat-cepat melaju. Ditambah lagi angkot-angkot yang berhenti mendadak menurunkan penumpang ataupun menaikkan penumpang semakin menambah tersendatnya arus lalu lintas. Seperti itulah yang terjadi di jalan Ir. H. Juanda yang saat ini Guntur lalui.


"Semoga saja pak Suro buka lapaknya," gumam Guntur kemudian tangan kirinya meraba tape mobil menyalakan musik.


Sepulang dari kantor Guntur berniat menemui pak Suro. Rencana untuk merekrutnya menjadi karyawan di kantornya sudah dipikirkan sebelumnya. Niatnya hanya satu yakni ingin mengangkat perekonomian pk Suro dan anak angkatnya, Adi dan dirinya juga berniat untuk menyekolahkan Adi namun semua itu tergantung pak Suro dan Adi sendiri, apakah mereka menerima niat baik Guntur atau tidak Guntur tak bisa memaksa.


Guntur menyalakan musik di mobilnya untuk mengurangi kebisingan suara-suara klakson dari kendaraan-kendaraan lain yang tak henti-henti menyalak. Tak lama kemudian terdengar alunan musik mendayu-dayu dari suara penyanyi balad salah satu legendaris Indonesia, Ebiet G Ade;


Di matamu masih tersimpan


Selaksa peristiwa


Benturan dan hempasan


Terpahat di keningmu


Kau nampak tua dan lelah


Keringat mengucur deras


Namun kau tetap tabah, hm-hm


Meski nafasmu kadang tersengal


Memikul beban yang makin sarat


Kau tetap bertahan


Secara kebetulan lagu yang muncul adalah lagu yang judulnya AYAH dari suara khas Ebiet G Ade. Guntur terbuai oleh setiap lirik lagunya. Tanpa disadari angannya melayang tergambar diingatannya pada sosok papahnya. Nampak ada senyum mengembang dari bibir Guntur, ia merasa dirinya sangat beruntung sebab secara materi kehidupannya sangat tercukupi, namun senyumannya seketika lenyap berubah sendu. Dia menggigit bibir bawahnya teringat hubungannya sebagai ayah dan anak tidaklah wajar.


Sejujurnya Guntur tidak merasakan belaian kasih sayang dari seorang sosok ayah. Yang dia rasakan hanya kasih sayang yang sangat besar hanya dari mamahnya semenjak dari kecil hingga sebesar sekarang. Maka dari itu pada saat ketika papahnya meninggal, Guntur tidak terlalu merasakan kehilangan. Sebab bagi dirinya keadaannya tidak jauh berbeda pada saat papahnya masih hidup atau pun sudah tiada.


Ayah, dalam hening sepi kurindu


Untuk menuai padi milik kita


Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

__ADS_1


Anakmu sekarang banyak menanggung beban


Engkau telah mengerti


Hitam dan merah jalan ini


Keriput tulang pipimu


Gambaran perjuangan


Bahumu yang dulu kekar


Legam terbakar matahari


Kini kurus dan terbungkuk, hm-hm


Namun semangat tak pernah pudar


Meski langkahmu kadang gemetar


Kau tetap setia


Tidak beberapa lama, Guntur membelokkan mobilnya masuk kedalam area parkiran Bandung Indah Plaza dilantai bawah untuk menaruh mobilnya. Tidak mungkin mobilnya diparkir dipinggir jalan didepan lapak pak Suro seperti menaiki sepeda motor sportnya karena akan menimbulkan kemacetan.


Sebelum melangkah turun Guntur melepaskan baju kemeja dan dasinya menggantinya dengan kaos oblong. Kemudian ia mencopot sepatunya juga dan menggantinya dengan memakai sandal yang sudah tersedia didalam mobil agar tidak kelihatan mencolok sebagai seorang pegawai kantoran. Guntur bergegas melangkah keluar gedung parkiran melalui jalan masuk mobil yang dilaluinya tadi.


Dari ujung masuk parkiran mall itu Guntur dapat melihat lapak pak Suro sudah ramai dikerubuti konsumennya. Pak Suro orangnya baik sangat baik bahkan, terhadap pengunjung sangat wellcome. Mau yang berniat membeli hingga yang berniat hanya sekedar baca saja, sikap pak Suro tetap sama ramahnya. Tidak seperti penjual buku loak yang ada disebelahnya, katanya ketus dan melarang pengunjung yang hanya sekedar baca-baca ditempat saja. Guntur menjadi tahu perbandingan itu bukan menurut penilaiannya akan tetapi dari ucapan-ucapan orang-orang yang mengunjungi lapak pak Suro menyampaikan keluh kesahnya.


Situasi-situasi kehidupan bersosial seperti inilah yang dipetik Guntur dan diterapkannya baik dalam kepribadiannya maupun dalam bersikap dalam menjalankan perusahaannya sehingga banyak hal positif yang tak ternilai dimata relasi-relasi terutama para karyawannya. Meskipun tidak pernah belajar langsung dari papahnya namun sifatnya sangat mirip dengan papahnya salah satunya yaitu jiwa sosialnya sangat tinggi.


Seperti biasanya Guntur melangkah kebelakang dimana pak Suro duduk mengahadap jualan buku bekasnya karena setengah melingkar konsumen rapat mengerubuti lapak tersebut.


"Assalamualaikum..." ucap Guntur berjongkok dibelakang punggung pak Suro.


"Waalaikum salam," sahut pak Suro spontan menolehkan kepalanya kebelakang tanpa tahu siapa yang mengucap salam.


"Hai Gun, gimana kabarmu? Lama sekali nggak kelihatan, kemana aja? Mari, mari duduk sini," sambung pak Suro memberondong pertanyaan.


Beberapa pengunjung dihadapan lapak pak Suro mendelik dengan kening berkerut kearah pak Suro dan Guntur yang nampak sudah sangat akrab. Mungkin mereka heran seorang pedagang kecil seperti pak Suro bisa kenql dengan pemuda yang penampilannya seperti orang kaya. Walau Guntur sudah berusaha menutupi dengan penampilannya yang sederhana tetapi tetap saja aura sebagai orang kayanya tak bisa di tutupi.


"Where ever"

__ADS_1


Disinilah terkadang status sosial merasa tidak adil. Sebagaimana pun orang yang biasa hidup kekurangan kemudian didandani seperti orang kaya tetap saja aura kemiskinannya masih nampak tak bisa dihilangkan. Berbeda dengan orang kaya, meskipun nge-prank menjadi gembel tetap saja masih terlihat aura orang kayanya.


"Alhamdulillah, saya dan mamah kabarnya baik. Gimana dengan pak Suro dan Adi kabarnya?" Jawab Guntur lalu balik bertanya kemudian duduk disebelah pak Suro.


"Alhamdulillah kabar bapak dan Adi juga baik Gun. Eh, mana Kunto?" ucap pak Suro baru menyadari tidak terlihat adanya Kunto yang biasanya selalu datang berdua.


"Pak yang ini berapa?" sela pengunjung mengulurkan sebuah buku sekaligus memotong percakapan Guntur dan pak Suro.


"Dua lima aja mas," jawab pak Suro kemudian membungkus buku tersebut dan mengulurkannya kembali sambil menerima uang pas.


"Pak, punten pendidikan sejarah tahun sembilan puluhan ada? Apa tuh namanya ya?" cerocos seorang gadis disela-sela pengunjung lain.


"Oh, PSPB, kelas berapa?" kata pak Suro.


"Iya iya itu PSPB, kelas satu sampai tiga SMP pak," jawab gadis itu.


"Sebentar bapak cari ya neng, kayaknya ada." Jawab pak Suro kemudian mencari-cari di tumpukkan buku deretan pelajaran sekolah.


Guntur turut membantu pak Suro mengangkat tumpukkan-tumpukkan dari buku satu ke tumpukkan buku lainnya.


"Ini dia, kelas satu, dua dan tiga, lengkap. Sudah Gun, dapat nih," ucap pak Suro kemudian memperlihatkan buku-buku pada gadis itu.


Gadis itu menerima buku yang diulurkan pak Suro, sejenak dibaca-baca dari sampulnya ketiga buku itu. Lalu mengembalikannya lagi seraya bertanya, "Berapa semuanya pak?"


"Dua puluh ribuan aja neng, jadi semuanya enam puluh ribu." jawap pak Suro.


Pak Suro menerima kembali buku itu untuk dibungkus, sekaligus menerima uang seratus ribuan. Guntur lantas meraih buku-buku itu dari tangan pak Suro untuk membantu membungkuskannya sementara pak Suro mencari kembalian didalam tas pinggangnya.


Beberapa saat lamanya, pengunjung lapak pak Suro sedikit demi sedikit mulai berkurang saat suasana mulai memasuki magrib. Lampu-lampu pertokoan dan lampu-lampu jalanan sudah nampak menerangi setiap sudutnya berpadu dengan lampu-lampu kendaraan yang lalu lalang dijalan didepan lapak pak Suro.


"Pak, pulang sekarang saja ya, nggak usah sampai jam sepuluh malam lagi. Biar nanti saya ganti pak, ada hal penting yang ingin saya obrolin sama bapak," ucap Guntur sambil menepuk-nepuk lengan pak Suro.


"Penting Gun?" hanya itu yang terucap oleh pak Suro yang nampak tertegun dengan dada yang tiba-tiba berdebar.


"Iya pak, Adi mana pak? Dari tadi nggak kelihatan," ucap Guntur mengarahkan pandangannya pada sebuah pohon Angsana yang biasa Adi duduki.


"Biasanya jam segini menjajakan korannya di lampu merah satunya Gun. Biar nanti bapak yang samperin, bapak beres-beres dulu." ucap pak Suro kemudian meraih karung-karung yang diaimpan dibelakangnya.


Guntur pun turut membantu memasukkan buku-buku bekas jualan pak Suro itu kedalam karung. Lumayan banyak juga koleksi buku-buku bekas tersebut sampai tiga karung buku itu semua sudah dimasukkannya. Terakhir pak Suro menggulung terpal yang dijadikan alas lapaknya.


......................

__ADS_1


__ADS_2