
Sosok Guntur yang ngantor dua hari berturut-turut membuat heboh para karyawan dan karyawati PT. ELANG TRABAS. Rata-rata para karyawan yang menyaksikan dan melihat sendiri itu merasa bingung sendiri, bagaimana sosok Guntur itu lewat didepan mereka dan tiap kali itu juga mereka menyapanya ketika soaok Guntur berjalan menuju ruangannya di lantai dua benar-benar melihatnya sebagai Guntur seperti hari-hari biasanya.
Setelah kedatangan empat petugas polisi menangkap pak Iwan, para karyawan justru memperbincangkan soal sosok Guntur. Mereka lebih tertarik membahas dan menelisik kejanggalan dan keanehan-keanehan yang dirasakan dari masing-masing karyawan tersebut dibandingkan mempersoalkan kejahatan pak Iwan.
“Sumpah, demi Tuhan gue mendengar dan berbicara dengan pak Guntur saat pak Guntur memanggil gue lewat extention ini,” kata Renata sambil menunjuk telpon diatas mejanya.
“Iya, setiap pagi kita semua kan lihat dan menyapa pak Guntur saat lewat menuju ruangannya,” timpal Jolin.
“Iya aku juga lihat tuh tapi nggak ada yang aneh deh,” sahut Jojo.
“Eh, tapi kalau gue perhatiin sih selama dua hari ini pak Guntur tidak pernah tersenyum,” ujar Renata dengan mendelikkan matanya yang bulat.
“Eh, iya bener.. bener...” sahut salah satu karyawan.
“Ingat nggak tadi sewaktu pak Iwan digiring petugas, dia berteriak-teriak memanggil pak Guntur. Berarti pak Iwan juga melihatnya kan?!” kata Joko.
“Iya juga ya, tapi sewaktu kita tengok ke ruangannya kenapa pak Guntur nggak ada ya,” timpal Jojo.
Wajah-wajah mereka diliputi keheranan dan mengerutkan keningnya masing-masing. Nalar dan logika mereka saling tumpang tindih didalam isi kepalanya dengan tanda tanya besar menggantung memenuhi pikiran mereka.
“Tapi kata polisi-polisi tadi pak Guntur kecelakaan mobilnya masuk jurang. Itu juga masuk akal karena Vina yang pergi bersama pak Guntur tidak masuk dalam dua hari ini. Tapinya yang heran itu kok bisa pak Guntur berangkat kantor seakan-akan tidak ada masalah gitu,” ujar Jolin.
“Eh, jadi ingat Vina, gimana rencana kesananya, jadi nggak? Kalau jadi jam dua aja kita ke rumah sakit nengok pak Guntur dan Vinanya?” seru Renata.
“Iya, iya, siapa aja yang ikut? Kita pake mobil kantor aja,” kata Joko.
“Saya ikut,”
“Saya ikut,”
“Aku juga,”
“Siap!”
“Wah, aku nggak bisa kayaknya. Anakku lagi sakit,” timpal Rini di meja sebelah Jojo.
“Oh yaudah, nggak apa-apa Rin. Berarti... satu, dua, tiga, empat, lima, enam...” Renata menghitung tangan yang diacungkan.
Empati yang ditunjukkan para karyawan dan karyawati itu mencerminkan keberhasilan Guntur dalam membangun chmistery didalam perusahaannya. Sehingga para karyawan dan karyawatinya memiliki rasa bukan hanya sebatas menganggapnya sebagai hubungan kerja antara atasan dan bawahan, melainkan rasa yang sudah melekat dan terbangun dengan suasana kekeluargaan yang sudah tertanam semenjak Aryo hidup dan menjadi bossnya. Jika lingkungan kerja sudah terbnagun seperti itu semua karyawannya akan bekerja dengan sepenuh hati dan tulus pastinya. Mereka pun akan membela mati-matian pimpinannya apabila ada yang menyinggungnya atau berbuat jahat terhadapnya.
......................
__ADS_1
Rumah Sakit, Batang-Jawa Tengah.
“Gimana kondisinya Kun?” Tanya mamah Karmila disamping ranjang Kunto.
“Alhamdulillah sudah lebih baikkan tante, Cuma saja masih suka nyeri di punggung,” ucap Kunto.
“Syukurlah, keluarga kamu sudah tau belum?” Tanya mamah Karmila lagi.
“Nggak usah dikasih tau lah tante, mereka gampang panikkan terutama ambu, hehehe...” jawab Kunto.
Kondisi Kunto sudah berangsur-angsur membaik. Luka-luka bekas tembakkan yang di jahit sudah mulai mengering. Kunto perlahan-lahan berusaha bangun dari posisi tidurannya.
“Gun, gun... sini sebentar bantu Kunto duduk,” ujar mamah Karmila.
“Iya mah,” sahut Guntur.
Guntur yang sedang ngobrol dengan Hafizah dan pak Asrul, langsung balik badan melangkah menuju ranjang Kunto disusul Hafizah dan papahnya.
“Jangan manja...” ujar Guntur begitu sampai dipinggir ranjang Kunto.
“Guntur.... nggak boleh gitu ah” timpal mamah Karmila.
“Nah, gitu dong... Kudu sayang sama sodaramu ini,” balas Kunto nyengir.
“Hahahaha...”
Mamah Karmila, Hafizah dan pak Asrul pun tertawa melihat tingkah pola Guntur dan Kunto.
“Gimana kondisimu mas?” tanya Hafizah.
“Jangan ditanya neng, dia malah makin manja,” timpal Guntur.
“Dih, cemburu...” sungut Kunto yang sedang dibimbing Guntur duduk.
“Rebahin lagi nih!” balas Guntur.
“Hahahahaha...”
“Hahahahaha...”
“Hahahahaha...”
__ADS_1
Gelak tawa kembali membuat ramai seisi kamar rawat itu. Guntur yang dirawat satu kamar dengan Kunto memang sedang berbunga-bunga hatinya. Semenjak kehadiran Hafizah menjenguknya kondisi kesehatannya meningkat drastis. Bahkan kehadiran mamah Karmila dan juga Hafizah membuatnya dapat menghilangkan sejenak rasa trauma kejadian penembakkan yang membuat mobilnya masuk jurang. Suasana kamar itu menjadi ramai, sesekali terdengar derai tawa dari Karmila, Hafizah, pak Asrul dan Guntur memenuhi kamar perawatan tersebut.
Tok... tok... tok...
Kreeoootttt...
“Permisi pak Guntur, mohon ijin,” ucap seorang pria tegap berseragam polisi didampingi dua anggota dibelakangnya.
“Ya, silahkan, silahkan pak. Gimana perkembangannya pak Heru?” tanya Guntur membaca nama yang tertera di dada kanan seragam.
“Operasi penangkapan para pelaku yang mencelakai pak Guntur dan kawan-kawan sudah tertangkap semua,” ungkap polisi.
“Alhamdulillah...” jawab Guntur, mamah Karmila, Hafizah dan pak Asrul bersamaan.
“Terima kasih banyak bantuannya pak. Saya, teman-teman saya dan keluarga sangat mengapresiasi bantuan pihak kepolisian. Lalu, bagaimana bisa secepat ini menangkap para pelakunya dan apa kira-kira motifnya pak?” tanya Guntur penasaran.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Jabar, bahwa kasusnya dilimpahkan di kepolisian Jawa Barat meskipun TKP nya berada disini. Berhubung pelaku utamanya sekaligus otak dibalik rencana pembunuhan terhadap anda ditangkap di Bandung, maka kasusnya kami serahkan sepenuhnya disana. Kami hanya membantu memenuhi kelengkapan laoprannya,” terang Polisi berpangkat Aiptu itu.
“Pelaku utamanya di Bandung?” tanya Guntur menegaskan lagi.
“Betul pak Gintur,” jawab Aiptu Heru.
“Siapa namanya pak?” tanya Guntur lagi kian penasaran.
“Dari informasi yang kami terima, pelaku utamanya adalah salah satu karyawan pak Guntur sendiri. Na...” kalimat Aiptu Heru terpotong.
“Hah?!” Guntur terkejut dengan mulut ternganga.
“Siapa namanya pak?!” sambungnya.
“Namanya Iwan Sasongko,” jawab Aiptu Heru.
“Hah?! Pak Iwan?!” Guntur terperangah, dirinya tidak menyangka sama sekali.
Wajah Guntur seketika geram membesi. Dirinya tidak menyangka ditikam dari belakang oleh salah satu orang kepercayaannya. Guntur penasaran apa yang membuat pak Iwan itu tega berniat membunuhnya.
"Kalau begitu kami permisi pak Guntur, ibu, bapak, neng..." ucap Aiptu Heru.
"Oh, i,iya pak. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih. Kalau pak Heru kebetulan berkunjung ke Bandung jangan lupa untuk mampir pak, ini kartu nama saya." ucap Guntur mengulurkan kartu nama yang diambil dari dalam dompetnya.
......................
__ADS_1