
Sesuai dengan apa yang Guntur dan mamah Karmila lihat didalam mimpinya, Uďin dan pak RT Parno menubruk punggung Ki Wayan dan haji Abas karena berhenti mendadak. Kemudian disusul tubrukkan berikutnya dari ketiga orang ustad yang berjalan dibelakang Udin dan pak RT Parno.
Bukan tanpa sebab Ki Wayan tiba- tiba menghentikan langkahnya. Sesaat setelah melihat pohon beringin di kejauhan yang berada di sudut halaman belakang, tanpa di duga sebuah terpaan aura berkekuatan besar menyongsong tubuhnya.
Ki Wayan mersakan aura gaib yang berbenturan langsung dengan pandangan matanya yang membuat langkahnya tertahan.
"Nampaknya Genderuwo itu langsung bereaksi dengan kekuatan penolakan yang sangat besar!" batin Ki Wayan.
Beberapa saat Ki Wayan terdiam ditempat, mulutnya nampak komat- kamit seperti membacakan mantra. Bersamaan itu tangan kanan Ki Wayan terlihat bergetar- getar sembari mengembangkan telapak tangannya.
Ki Wayan merasakan ada kekuatan tak kasat mata yang saling mendorong bersumber dari pohon beringin itu. Situasi pertarungan kekuatan gaib tersebut berlangsung sekitar 1 menitan sebelum akhirnya Ki Wayan menyunggingkan senyumannya setelah ia melakukan hentakkan kakinya ke tanah sebanyak 3 kali.
Tap! Tap! Tap!
Setelah itu Ki Wayan pun memberi kode pada haji Abas dan yang lainnya untuk melanjutkan langkahnya.
Sementara itu di barisan paling belakang, Guntur dan mamah Karmila tak berkedip menyaksikan apa yang dilakukan Ki Wayan.
Debaran di dada Guntur dan mamah Karmila kian bergejolak. Ada perasaan cemas dan kekhawatiran menghinggapi hatinya memikirkan Karbala.
"Apa yang harus saya lakukan untuk menggagalkannya?!" batin Mamah Karmila dengan raut wajah kian menegang.
Guntur pun demikian, di dalam kepalanya terus berputar- putar mencari cara untuk menggagalkan rencana penebangan pohon beringin tersebut.
Tanpa sadar di dalam hati Guntur meneriakkan nama Karbala atau lebih tepatnya memanggil- manggil Karbala. Begitu pula dengan mamah Karmila, ia pun memekik meneriakkan nama Karbala di dalam hatinya.
Raut wajah Guntur dan mamah Karmila kian menegang melihat Ki Wayan nampak tersenyum penuh kemenangan dan melanjutkan langkahnya.
Tanpa mereka sadari, Guntur dan mamah Karmila seketika saling menoleh hingga beradu pandang setelah melihat aksi Ki Wayan.
Meskipun Guntur dan mamah Karmila mengalami mimpi yang sama, akan tetapi keduanya tidak ada yang berani saling cerita.
__ADS_1
Bagi mamah Karmila sendiri, memang tidak akan berniat menceritakannya kepada Guntur. Sebab didalam pikirannya selalu dipenuhi perasaan was- was sendiri jika berkaitan dengan Karbala.
Mamah Karmila merasa khawatir yang selalu menghantui pikirannya kalau- kalau Guntur akan memiliki kecurigaan kalau dirinya ada hubungan dengan Karbala.
Selama ini Mamah Karmila tetap menyimpannya rapat- rapat peristiwa- peristiwa terkutuk itu sendiri dan tidak akan pernah orang lain mengetahuinya, termasuk putranya sendiri, Guntur!
Sesaat Guntur dan mamahnya saling beradu pandang dengan ekspresi raut wajah seakan- akan saling meminta pendapat.
Namun sekejap berikutnya, mamah Karmila buru- buru membuang mukanya kembali menatap lurus kedepan.
Debaran di dadanya bertambah kencang, tetapi kali ini bukan karena memikirkan Karbala melainkan akibat perasaan takut diketahui oleh Guntur kalau dirinya pernah memiliki hubungan khusus dengan Karbala yang menyangkut dengan Guntur.
Ketakutan Mama Karmila itu sudah dipendamnya sangat lama yang selalu membayang- bayangi setiap saat. Mamah Karmila tak ingin Guntur mencurigainya sehingga menimbulkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan Karbala.
Guntur sendiri saat beradu pandang melihat tatapan mamahnya tak terlalu memperhatikan kegundahan yang tersirat di sorot matanya. Justru Guntur tak begitu memperhatikannya, ia sendiri berusaha menyembunyikan peristiwa mimpi yang dialaminya.
Guntur buru- buru mengalihkan pandangannya sehingga mengabaikan sorot mata mamahnya yang menyiratkan kekhwatiran.
Di dalam hatinya, Guntur terus mengingat- ingat menyamakan peristiwa demi peristiwa dari mimpinya dengan situasi yang sedang di hadapinya saat ini.
Mamah Karmila pun demikian tak berbeda jauh dengan apa yang sedang dipikirkan oleh Guntur. Hingga Guntur dan mamah Karmila pun seperti ada yang memberi aba- aba, tiba- tiba keduanya mendongak keatas langit secara serentak dan sama- sama bergumam;
"Mendung tebal!"
Guntur dan mamah Karmila sama- sama mengerutkan dahinya dalam- dalam. Kemudian keduanya kembali saling memandang dengan ekspresi keheranan saat menyadari dengan gumamannya masing- masing.
Namun di dalam pikiran Guntur tak terlintas sedikit pun mengira kalau mamahnya memiliki mimpi yang sama. Guntur menganggapnya wajar saat mendengar mamah Karmila bergumam "Mendung" karena memang di langit awan mendung menaungi rumah Tahfiz.
Dan bagi Guntur merasa situasi itu benar- benar sama dengan yang ada di dalam mimpinya. Tetapi ia menyangka kalau gumaman mamahnya itu karena melihat keadaan yang sebenarnya bukan menyamakannya dengam mimpi.
"Apa yang harus saya lakukan agar pohon beringin itu tidak ditebang?!" batin Guntur.
__ADS_1
Kali ini giliran Guntur yang memikirkan cara untuk mencegah Ki Wayan yang berhasil menumbangkan pohon beringin seperti di dalam mimpinya.
Pada awalnya Guntur merasa sangat kebetulan sekali ketika mamahnya meminta mengantarkannya untuk berkunjung ke rumah yang di beli haji Abas untuk rumah tahfiz itu.
Sebab seketika itu juga Guntur sangat penasaran ingin melihat kondisi pohon beringin yang berhasil di tumbangkan dan melihat Karbala sangat murka saat melihat pohon yang di huninya itu sudah tak ada lagi.
Terbersit di pikiran Guntur merasa sangat iba melihat bagaimana Karbala begitu marahnya hingga merangsak menyongsong Ki Wayan yang masih berusaha mengambil bonggol pohon beringin.
Tapi sayangnya Guntur keburu terbangun dari tidurnya sebelum melihat apa yang hendak dilakukan Karbala terhadap Ki Wayan.
Secara naluriah Guntur merasa sangat kasihan melihat bagaimana nelangsanya Karbala yang melihat tempat tinggalnya sudah di rusak.
Ketika mamahnya mengajak berkunjung, seketika itulah Guntur terpacu ingin melihat keadaan yang sebenarnya.
Penuh dengan perasaan penasaran Guntur pun antusias ingin melihat keadaan yang sebenarnya. Awalnya Guntur mengira kalau pohon beringin itu sudah berhasil di tebang.
Mamah Karmila pun awalnya mengira kalau pohon beringin itu sudah berhasil di tebang. Tetapi nyatanya saat ia dan Guntur datang di rumah haji Abas itu keduanya berada pada situasi sebelum Ki Wayan tiba.
Semenjak itu pula dirinya dan Guntur menyadari kalau kedatangannya di saat- saat yang tepat. Yang artinya peristiwa penebangan pohon beringin itu harus bisa di cegah.
Keduanya langsung memikirkan cara agar kejadian seperti di mimpi itu tidak terjadi. Namun belum memiliki ide cara untuk menggagalkannya.
Disisi lain Guntur dan mamah Karmila harus menjaga sikapnya karena tak ingin diketahui oleh haji Abas kalau kedatangannya untuk menggagalkan rencana penebangan pohon beringin tersebut.
Meski pun Guntur dan mamah Karmila tidak saling menceritakan mimpinya, akan tetapi di dalam hatinya memiliki tujuan yang sama.
Saat ini Guntur dan mamah Karmila hanya bisa mengikuti alurnya sambil terus menyamakan situasi mimpi dengan situasi selanjutnya yang akan terjadi.
......................
BERSAMBUNG....
__ADS_1