
"Hai pak Guntur, apa kabar?" Suara seorang pria datang menghampiri meja Guntur beserta mamahnya dan Kunto yang sedang menikmati hidangan.
"Pak Robi, alhamdulillah kabar baik baik pak. Mari duduk bergabung disini pak," sahut Guntur langsung berdiri menyambut pak Robi.
Guntur dan pak Robi berjabat tangan kemudian Guntur menarik kursi disebelahnya dan mempersilahkan pak Robi untuk duduk. Kursi di meja bulat itu tersedia empat sehingga pak Robi dapat mengisi kursi yang kosong.
"Kenalkan pak, ini mamah saya dan yang keriting itu Kunto asisten saya," ucap Guntur mengedipkan mata pada Kunto tanpa diketahui pak Robi.
"Asisten? Sejak kapan bos jomblo mengangkat saya jadi asistennya? ucap Kunto dalam hati kemudian memelototkan matanya penuh tanda tanya pada Guntur.
Pak Robi berjabat tangan dengan Kunto yang posisi duduknya paling dekat berada disebelahnya dan keduanya pun menyebutkan namanya masing-masing. Kemudian sesaat berikutnta pak Robi berganti menjabat tangan mamah Karmila dengan wajah sedikit surprize.
"Ibu Mila? Saya turut berbela sungkawa ya bu. Mohon maaf nggak bisa datang langsung," ucap Pak Robi sambil menjabat tangan mamah Karmila.
"Almarhum pak Aryo bercerita banyak tentang ibu dan baru sekarang ketemu langsung. Pak Aryo rekan bisnis saya yang paling baik bu, beliau sangat loyal dan sportif. Ssstttt... tidak seperti orang yang disebelah sana tuh, huuuuhhh kejam! Hikhikhik.." Sambung pak Robi terkekeh sambil memberi kode menunjuk seseorang di meja tengah.
Guntur, Mamah Karmila dan Kunto sponton menengok melihat orang yang dimaksud oleh pak Robi. Di kursi tengah nampak seorang pria berusia 60 tahunan berbadan gemuk berjambang dan berkumis tebal duduk bersama seorang pemuda berambut gondrong dan seorang wanita dengan dandanan super kaya. Tubuhnya dipenuhi aneka ragam pernik-pernik perhiasan dari rambut, leher dan tangan dan mungkin juga gelang di kakinya, entahlah karena tidak terlihat.
"Memang siapa dia pak?" tanya Guntur polos.
"Masa pak Guntur nggak tau? Itu boss pemilik PT Anggoro Barata Kingdom," ujar pak Robi memelankan suaranya.
"Oooo.. Mmm, Ang.. Anggo.. Anggoro?!" Tanya Guntur ragu-ragu.
"That right!" ucap pak Robi.
Guntur hanya melirik sekilas lalu kembali mengaduk-aduk salad diatas mejanya sambil berucap, "Saya nggak terlalu mengenalnya pak Robi hanya saja namanya sangat populer dibicarakan para kontraktor."
"Syukurlah, kalau bisa jangan sampai deh pak Guntur, dia sangat licik dan tak segan-segan main kekerasan," bisik pak Robi.
Ditengah obrolan hangat itu datang pak Asrul bersama Hafizah disebelahnya, "Pak Robi, Guntur, bu Mila maaf kalau hidangannya tidak berkenan," ucap pak Asrul merendah.
"Oh, pak Asrul, mari-mari pak, neng..." ucap pak Robi sedikit kaget dengan kehadiran pak Asrul di belakangnya.
"Om, hidangannya lebih dari cukup Om. Mari silahkan Om, Ha..Hafiz," ucap Guntur gerogi saat hendak menyebut nama gadis cantik itu, Guntur kemudian memberikan kode pada Kunto untuk mencarikan kursi.
"Kok, Hafiz?" sela Hafizah manja kemudian ditertawakan oleh papahnya, mamah Karmila, Kunto dan pak Robi.
__ADS_1
Kunto dengan tanggap mengerti maksud Guntur segera berdiri lalu mengambil dua kursi didekatnya yang tidak terisi dan meletakkannya diantara Guntur dan pak Robi. Pak Asrul sengaja mengambil posisi duduk disebelah pak Robi memberikan putrinnya duduk disebelah Guntur.
"Maklum baru mengenal cewe pak," celetuk Kunto sambil meletakkan kursi. Derai tawa kembali menghiasi meja Guntur. Guntur terasa kian nervous, jantungnya berdegub seperti mortoGP kencang. "Sialan juga nih si keriting," ucapnya dalam hati geram. Guntur hanya senyum-senyum saja tanpa mau merevisi ucapannya lagi untuk mengucapkan nama Hafizah.
"Ulangi ah, nggak afdol ya pah?" rajuk Hafizah menoleh pada papahnya.
"Ya sono bilang sama Guntur, kok nengok ke papah," ujar pak Asrul kemudian derai tawa kembali membuncah.
"Ulangi..." rajuk Hafizah dengan nada suara manja.
"I, i..ya, HAFIZAH HANUM DEWABRATA.." ucap Guntur mantap setelah dapat menguasai keadaannya lagi.
"Ih, kok tau?" Tanya Hafizah mengerutkan dahinya.
Semua yang ada di meja Guntur kembali tertawa melihat aksi drama romantis muda mudi itu. Hafizah benar-benar membuat Guntur mati kutu dihadapannya. Guntur hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal untuk mengalihkan rasa nervousnya.
"Kalian ini sangat serasi dan cocok sekali. Pak Asrul saya sangat mendukung kalau Guntur dan Hafizah menyatu tuh, hikhikhik..." ucap pak Robi membuat derai tawa tak berhenti.
"Amiiiin...!" seru Kunto kencang tanpa sadar membuat tamu-tamu undangan disekitarnya menoleh.
"Hahahahahaha...:
"Hahahahahaha...:
"Hahahahahaha...:
Ditengah keseruan obrolan itu dari meja tengah bos Anggoro dan putranya melotot tajam memandang kearah meja Guntur melihat pak Asrul dan putrinya tertawa-tawa disamping Guntur. Wajahnya menggurat ketidak sukaan seraya bergumam, "Awas!"
......................
"Ayo buru Kun, mumpung masih jam 8 pagi, biar sampai rumah nggak kesorean!" seru Guntur sedikit kesal.
"Iya sebentar nyari kunci mobil!" sahut Kunto dari dalam kamar.
Guntur dan mamah Karmila sudah berada diluar kamar tinggal menunggu Kunto keluar. Setelah menunggu dua menitan kemudian Kunto pun muncul keluar kamar sambil cengengesan.
"Ketemu?" Tanya Guntur pasang wajah grgetan.
__ADS_1
"Hehehehe...iya lupa kunci mobilnya ada di saku celana belakang, nih!" ucap Kunto cengengesan sambil menunjuk saku celana jeans belakangnya.
"Huuuhhh!" sungut Guntur kemudian hendak mengacak-acak rambut Kunto.
"Eeeeehhh...sudah, sudah malu sama tamu hotel!" sergah mamah Karmila.
"Ayo cabut!" sungut Guntur.
Guntur, mamah Karmila dan Kunto kemudian bergegas memasuki lift turun kelantai bawah untuk chekout dari hotel bintang lima itu. Setelah sampai di lantai bawah, Kunto langsung menuju parkiran mengambil mobil dari pintu keluar yang ada disamping sementara Guntur dan mamahnya menuju meja resepsionis.
......................
Di pinggir jalan depan hotel Emerald, sebuah mobil Avanza hitam terparkir. Didalam mobil itu ada empat pria bermuka sangar dengan perawakan besar-besar mengawasi lalu lalang kendaraan yang keluar masuk hotel itu. Dua orang duduk di jok tengah pada kedua tangannya dipenuhi tato matanya tak berkedip mencermati hotel Emerald. Dua orang lagi duduk didepan salah satunya duduk memegang kemudi. Mereka sedang mèngamati keluar masuk kendaraan di hotel Emeral tempat Guntur, mamah Karmila dan Kunto menginap.
"Hallo boss, target menginap di hotel Emeral tak jauh dari kediaman pak Asrul," kata seorang pria berbicara melalui telpon selulernya yang duduk di depan.
"Posisi kalian dimana sekarang?" sahut suara seberang telpon.
"Kami berada didepan hotel," kata pria itu.
"Lakukan sesuai rencana. Ingat harus clean!" terdengar menyahut suara berat dari seberang telpon.
"Ok boss. Kami masih memantau situasi dan menunggu kemunculan target," kata pria itu.
"Awas, jangan sampai gagal dan jangan sampai mengotori nama saya!" tegas suara dari seberang telpon.
"Beres boss, siap eksekusi!" sahut pria itu menutup telpnnya.
"Gimana Jon?" tanya temannya duduk dibelakang kemudi.
"Eksekusi!" jawab pria itu tegas.
"Dimana TKP nya Jon?" tanya salah seorang pria lainnya yang duduk di jok tengah.
"Sesuai rencana yang pertama," sahut pria yang dipanggil Jon.
Selang beberapa menit kemudian sebuah mobil Pajero berwarna putih nampak keluar dari halaman hotel Emerald. Lalu mobil itu melaju di jalan Bintaro berbaur bersama kendaraan-kendaraan pribadi lainnya memadati jalanan.
__ADS_1
"Itu target kita! Ayo jalan Boy!" seru pria yang duduk di jok depan.
......................