TITISAN

TITISAN
TAKLUK


__ADS_3

Suasana kios pak Suro nampak masih sepi pengunjung, maklum hari masih pagi. Seperti hari-hari biasanya kalau jam-jam 9-an sangat jarang ada pengunjung yang datang ke kios buku loaknya. Kebetukan pagi ini Pak Suro menerima kiriman buku-buku bekas dari langganannya, ia pun menyibukkan diri dengan menata-nata buku-buku koleksi barunya.


"Assalamualaikum pak, wah lagi sepi nih," ucap seseorang dari luar kios.


"Wa'alaikum salam, eh Guntur... Ya biasa jam-jam segini memang sepi Gun, tumben-tumbenan pagi-pagi sudah kesini, apa nggak sibuk?" sahut pak Suro kemudian menghentikan kesibukannya.


"Ada perlu sedikit pak, ada yang mau saya bicarakan sama bapak," ucap Guntur kemudian melangkah masuk dan duduk disamping pak Suro di belakang meja lapaknya.


"Ada masalah apa Gun, kelihatannya penting banget," ujar pak Suro.


Guntur pun menceritakan semua tentang kejanggalan-kejanggalan yang dirasakannya aneh sehingga membuat calon-calon pembeli rumahnya mundur begitu saja tanpa sebab yang dirinya tidak tahu. Ia juga menceritakan satu demi satu tentang hal-hal aneh yang menimpa setiap calon pembeli rumah yang rata-rata menunjukkan sikap ketakutan.


"Padahal awalnya mereka sangat antusias dan sangat tertarik pak," tutup Guntur mengakhiri curhatnya.


Pak Suro nampak terkejut mendengar keseluruhan cerita yang diutarakan Guntur. Beberapa saat kemudian pak Suro nampak terdiam, pikirannya spontan menganalisis keanehan dan keganjilan itu. Dan hatinya sangat yakin kalau semua itu ada campur tangan Karbala, tetapi meski sudah menemukan jawaban dari semua keganjilan dan keanehan yang menggagalkan pembeli rumah itu namun ia tidak langsung mengatakannya.


Ada perasaan bimbang di hati pak Suro, jika dirinya langsung mengatakan kalau semua itu disebabkan oleh Karbala, kemungkinan besar Guntur akan sangat marah dengan Karbala. Dan di khawatirkan Guntur akan berbuat lebih jauh untuk membuat perhitungan dengan Karbala. Tetapi disisi lain ia sangat ingin membantu Guntur agar rumah itu cepat terjual.


Beberapa saat lamanya pak Suro memikirkan bagaimana cara melakukannya agar tidak membuat Guntur marah dengan Karbala dan juga agar rumah itu cepat-cepat laku. Lalu satu ide tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Kalau menurut bapak, coba kamu sampaikan niat menjual rumah itu pada Karbala dulu Gun," ucap pak Suro hati-hati.


"Maksud bapak gara-gara Karbala itu?!" sungut Guntur.


"Bbbu, bu, bukan itu maksud bapak Gun. Ya siapa tahu dia turut membantu agar calon pembelinya itu menjadi tertarik dan membelinya," kata pak Suro meredam emosi Guntur yang mulai naik.


Benar saja dugaan pak Suro, kalau saja dirinya langsung mengatakan penyebab itu semua karena Karbala, sudah pasti Guntur akan sangat marah besar. Dan pak Suro tahu dengan menyampaikan menyuruh Guntur mengutarakan niatannya menjual rumah pada Karbala, pasti Karbala akan menurutinya.


Tulilitttt... tuliliiit... tuliliiit...


Tiba-tiba hape Guntur berdering ada panggilan telpon. Guntur pun langsung mengangkat menerima panggilan tanpa melihat siapa penelponnya.


"Ya hallo assalamuaikum," ucap Guntur.


"Wa'alaikum salam, dengan pak Guntur yang menjual rumah?" sahut suara seorang pria paruh baya dari seberang telpon.


"Iya betul pak," ucap Guntur.


"Begini pak, saya Haji Abas sangat berminat membeli rumah yang bapak tawarkan di surat kabar itu. Kira-kira masih bisa kurang nggak ya?" sahut penelpon yang mengenalkan namanya Haji Abas.


"Lihat-lihat aja dulu pak haji, soal harga gampanglah," ucap Guntur.


"Soalnya gini pak Guntur, bajetnya terbatas. Rencanya untuk kami buat pesantren Tahfiz, ya perkiraaan saja dulu pak Guntur siapa tahu sesuai dengan bajet," sahut Haji Abas.


"Oh buat pesantren pak haji, kalau begitu saya bisa kasih satu koma lima aja pak," ucap Guntur.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bener pak Guntur satu setengah?!" sahut haji Abas girang.


"Muhun, iya pak haji. Itung-itung turut membantu, kapan mau surveynya?" ucap Guntur.


"Insya Allah nanti malam ba'da Isya pak Guntur," sahut haji Abas.


Guntur tidak langsung menjawab, ia menjauhkan telponnya lalu menoleh pada pak Suro dan berbisik, "Ba'da Isya artinya apa pak?"


"Sesudah isya," balas pak Suro berbisik pula.


Guntur langsung menyahut dan mengatakan, "Mangga, mangga, saya tunggu ya pak haji." Sambungan telpon pun selesai dan Guntur menutup telponnya lalu kembali meneruskan ngobrolnya dengan pak Suro.


"Gimana nih pak, nanti malam mau ada yang lihat rumah lagi dan harganya pun sudah sepakat," ungkap Guntur.


"Ya sudah, kalau begitu sebelum magrib kamu harus menyampaikan niatmu menjual rumah sama Karbala dulu ya," ujar pak Suro.


"Saya usahain pak," ucap Guntur seperti enggan melakukannya.


"Nanti bapak bantu, apa bapak boleh ikut ke rumah Gun?" Pak Suro tahu melihat gelagat Guntur tidak akan melakukannya.


"Wah, ya tentu boleh pak." timpal Guntur berubah semangat.


......................


Kumandang azan Isya sudah lewat 30 menit yang lalu, Guntur, pak Suro, Kunto dan mamah Karmila duduk di kursi teras sambil menunggu tamu yang hendak membeli rumah. Tiba-tiba sebuah sorot cahaya menerangi halaman rumah datang dari depan pagar.


Kunto mengerti maksud Guntur, ia pun langsung berlari untuk membuka pintu pagar rumah. Sebuah mobil sedan Civic warna hitam memasuki halaman dan berhenti di depan teras dimana Guntur dan yang lainnya duduk.


Guntur berdiri lalu turun menyambut tamunya, "Assalamualaikum pak haji," sapa Guntur begitu seorang pria paruh baya turun dari mobil.


"Wa'alaikum salam, pak Guntur?" balas pria paruh baya.


"Muhun, betul pak saya Guntur dan itu mamah, yang itu Kunto sama pak Suro," ucap Guntur mengenalkan.


"Saya Haji Abas..." balas pria paruh baya itu kemudian menyalami satu persatu.


"Mari, silahkan masuk pak," ucap Guntur lalu menuju ruang tamu diikuti Haji Abas dan mamahnya.


Sementara pak Suro dan Kunto tetap tinggal di teras depan sambil menikmati suasana dinginnya udara malam.


"Kun, enak nih makan gorengan mah," kata pak Suro.


"Iya juga ya pak, ayo kita keluar pak. Di depan dekat lampu merah situ biasanya ada tukang gorengan tuh," ujar Kunto.


"Ayo Kun nongkrong disana." timpal pak Suro.

__ADS_1


Keduanya pun melangkah berjalan keluar menuju tukang gorengan yang ada di pinggir jalan dekat lampu merah.


Di dalam rumah di ruang tamu, Guntur, mamah Karmila dan haji Abas sudah terlibat obrolan serius. Haji Abas menceritakan niatnya untuk mendirikan rumah tahfiz dan berencana memindahkan santri-santrinya ke tampat yang lebih besar ini agar dapat menampung semuanya. Karena tempatnya yang sekarang sudah tidak tertampung lagi.


"Sebentar saya ambilkan surat-suratnya dulu ya pak haji," sela Guntur setelah haji Abas selesai berbicara.


Guntur pun berlalu dari ruang tamu, sedang mamah Karmila sedang membuat air minum di dapur. Tinggallah Haji Abas sendirian di ruang tamu, ia sibuk memandangi ruangan tamu yang cukup besar dengan beragam hiasan rak-rak keçil yang tertata rapih.


Ketika pandangannya mengarah pada sudut ruangan bagian depan yang terdapat tanaman hias didalam pot berukuran sedang, tiba-tiba matanya melihat sesosok menyeramkan dibalik kaca jendela.


Haji Abas terkejut bukan main, matanya terus menatap sosok mahluk besar berbulu hitam itu dengan mata terbelalak lebar. Meski sempat merasa ngeri, namun sedetik berikutnya Haji Abas dapat menguasai dirinya kembali.


Sesaat kemudian Haji Abas yang tertegun melihat kemunculan genderuwo yang tak lain Karbala di luar jendela terlihat komat-kamit membacakan sesuatu. Lalu di tiupkan ke arah Karbala dengan hentakkan keras.


Wuuusssshhh....!


Entah mengenai Karbala atau tidak tetapi yang jelas Karbala sudah tak nampak lagi di luar jendela. Bersamaan dengan itu Guntur dan mamah Karmila muncul bersamaan di ruang tamu. Keduanya sempat keheranan melihat perubahan di raut wajah Haji Abas yang nampak menegang.


"Kenapa pak haji?!" ucap Guntur sekaligus mengagetkan Haji Abas.


"Ah, nggak apa-apa pak Guntur. Itu tadi kayaknya ada tikus melintas di jendela," ujar Haji Abas menutupi adanya penampakkan.


"Oh, iya pak haji kadang-kadang tikus-tikus berseliweran tapi di luar aja sih," timpal Guntur kemudian menunjukkan surat-surat tanah dan bangunan.


Meskipun barusan Haji Abas jelas-jelas melihat ada penampakkan yang menyeramkan di rumah ini tetapi tidak mengurangi minatnya dan tidak menghalanginya untuk tetap membelinya. Haji Abas kemudian memeriksa satu persatu akte tanah maupun bangunan dengan seksama. Dia manggut-manggut memeriksa lembar demi lembar surat-surat itu.


"Baiklah pak Guntur, surat-suratnya lengkap dan tidak ada masalah. Bagaimana dengan harganya pak Guntur, sesuai kesepakatan di telpon kan? Satu koma lima?" kata Haji Abas.


"Apakah nggak sebaiknya pak haji melihat-lihat dulu. Mungkin bangunan rumah atau luasan tanahnya pak haji," ujar Guntur.


"Nggak perlu pak Guntur, saya percaya dengan isi surat-surat ini sesuai. " kata Haji Abas.


Guntur menoleh pada mamah Karmila meminta pendapatnya. Namun nampaknya mamahnya sepertinya menyerahkan semua keputusannya pada Guntur. Di dalam pikiran Guntur sebetulnya sudah langsung menerima tawaran harga tersebut pasalnya jika melihat dari nominal keuntungan, ya sudah pasti untung 2 X lipat. Tetapi Guntur tak mau membuat keputusan sendiri tanpa meminta persetujuan dari mamahnya lebih dulu.


"Baiklah pak, saya terima!" Jawab Guntur tegas.


"Alhamdulillah..." ucap Haji Abas.


Haji Abas mengulurkan tangannya bersalaman dan disambut Guntur sambil sama-sama mengucapkan kata, "Diel!"


"Uangnya cash atau transfer pak Guntur?" lanjut Haji Abas.


"Transfer aja deh pak haji, biar nggak ribet dan beresiko ya," jawab Guntur.


Nyawa Karmila mendadak seperti lepas dari raganya, sekujur tubuhnya berasa lemas begitu mendengar kata "DIEL" yang di ucapkan Guntur dan Haji Abas. Ada perasaan yang mendadak hilang mendapati kenyataan rumah ini benar-benar terjual. Namun ia menutup perasaannya rapat-rapat agar tidak membuat Guntur kecewa, atau lebih tepatnya tidak membuat Guntur menaruh kecurigaan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan Karbala? Kenapa dia tidak berupaya mencegah calon pembeli seperti sebelum-sebelumnya?!" batin Karmila.


......................


__ADS_2