
Sesaat setelah Ki Wayan mengambil sebilah keris berwerangka dari punggung dibalik bajunya, Ki Wayan langsung mencabut keris itu dari werangkanya lalu diacungkan tinggi- tinggi tegak keatas diikuti kepalanya yang turut mendongak ke langit.
Sementara Karbala yang terus merangsak kearah Ki Wayan, kini tinggal 5 langkah lagi. Kedua tangannya sedikit direntangkan dengan terkepal kuat- kuat.
Dengusan nafas kemarahan Karbala terdengar jelas di telinga Ki Wayan. Ki Wayan yang merasakan mahluk Genderuwo itu sudah mendekat langsung menurunkan tangannya yang menggenggam keris itu.
Ki Waya menodongkan keris ditangannya kearah Karbala lurus- lurus. Tangan Ki Wayan yang menggenggam keris tampak bergetar, entah karena kekuatan magis yang terkandung dari kerisnya atau karena gemetar, tidak ada yang tahu.
Kening Ki Wayan berkerut dalam- dalam sambil menyipitkan kedua matanya memperhatikan Karbala yang datang kearahnya semakin dekat.
Ki Wayan terkesiap menatap sosok Karbala. Seiring langkah kaki Karbala yang semakin mendekat kearahnya, wujud Karbala dilihatnya semakin membesar dan bertambah tinggi.
Ki Wayan membelalakan matanya tak percaya melihat sosok mahluk gaib di depannya. Kini tinggi Ki Wayan hanya sebatas perut dati Wujud Karbala.
Baru kali ini ia melihat dengan nyata dan jelas sosok maluk Genderuwo yang ternyata sangat menyeramkan sekali.
Selama ini yang ia lihat setiap kali bertemu atau bertarung dengan mahluk gaib, rata- rata mahluk gaib yang ditemuinya itu hanya menunjukkan wujudnya secara samar- samar dengan bentuk siluet dan bayang- bayang.
“Oh Dewata hiyang Agung..!” pekik Ki Wayqn lirih menatap sosok Karbala.
Dengan tubuh bergetar, mulut Ki Wayan tak henti- hentinya berkomat- kamit melafalkan bacaan- bacaan ilmu kebatinan yang dimilikinya. Matanya menatap langkah Karbala lekat- lekat.
Tiba- tiba langkah Karbala terlihat melambat saat hendak melangkahkan kaki selanjutnya. Gerakan kakinya sekonyong- konyong berat dan seperti ada yang menahan langkahnya.
Hingga akhirnya langkah Karbala terhenti total, namun dia terlihat tetap memaksakan diri berusaha sekuat- kuatnya menggerakkan kakinya untuk terus melangkah mendekat. Langkah kaki Karbala terhenti di 3 langkah lagi dari jarak posisi Ki Wayan.
“Berhasil! Ajian Benteng Kedaton itu berhasil menahannya!” seru Ki Wayan dalam hati.
Ki Wayan menyeringai bangga, ia merasa saat ini sudah berada diatas angin. Melihat mahluk Genderuwo diam di tempat dan terus menggerakkan tubuhnya dengan liar, Ki Wayan bergerak maju sambil menjulurkan keris berwarna hitam legam itu kearah Karbala.
Ki Wayan menyadari kalau wujud Karbala yang tinggi, ia hanya bisa mengincar bagian perut Karbala. Sehingga keris hitam di tangannnya sedikit diangkat keatas menyesuaikan posisi Karbala yang sudah berubah meninggi.
“Aku harus dapat menggoreskan keris pusaka ini. Racunnya akan melumpuhkan mahluk genderuwo itu!” Batin Ki Wayan.
Ki Wayan yang sarat pengalaman menaklukkan berbagai golongan mahluk gaib, merasa sangat yakin Genderuwo itu akan langsung jatuh tak berdaya setelah tergores oleh kerisnya.
__ADS_1
Selintas di ingatannya sudah puluhan mahluk gaib bahkan mahkuk gaib yang sama dengan yang ada di hadapannya saat ini tumbang ketika tergores kerisnya.
Akan tetapi perasaan gamang mendadak menghantui perasaannya. Sebab sepertinya Genderuwo di depannya tidak sama dengan beberapa Genderuwo yang sudah di taklukkannya hingga di musnahkannya.
Perasaan gamang Ki Wayan itu menimbulkan keraguan di dalam hatinya sehingga membuat gerakkan tusukkannya sedikit melambat karena ketidak yakinannya yang mendadak timbul.
“Aaaauuuuuhhhhhgggg...!!!”
Karbala seketika meraung keras menatap tajam pergerakkan manusia di hadapannya. Suaranya yang sember dan besar itu ternyata membuat gerakkan menusuk Ki Wayan yang merangsak itu sesaat tertahan.
Ki Wayan nampak seperti terkesiap ketika mendengar suara yang menggidikkan itu sehingga secara tak sadar, ia menahan gerakkan menusuknya.
Dalam perasaan tak menentu itu, tiba- tiba Ki Wayan merasakkan ada hawa panas yang berhembus dari arah atas kepalanya.
Lagi- lagi Ki Wayan terkesiap lalu dengan reflek mendongak keatas sekaligus membuat Ki Wayan hilang konsentrasinya dalam melakukan serangannya ke perut Karbala.
Hembusan hawa panas diatas kepala Ki Wayan rupanya berasal dari ayunan tangan Karbala.
Telapak tangan Karbala yang besar mengembang meluncur deras megarah pada Ki Wayan yang berdiri membatu dengan mata membelalak dan mulut ternganga.
Wuuuuusss...
Telapak tangan Karbala meluncur deras mengeluarkan kekuatan hawa panas seperti memantek menuju tubuh Ki Wayan dengan kuat dari atas kepala Ki Wayan.
Sepasang mata Ki Wayan terbelalak lebar, mulutnya ternganga menyadari bahaya yang mengancam nyawanya mendekat. Ki Wayan terpaku membatu di tempatnya melihat telapak tangan hitam dengan lengan besar dipenuhi bulu- bulu lebat itu terkibas keatas menuju kearahnya berdiri.
Baju yang Ki Wayan kenakan berkibar- kibar oleh derasnya hawa panas yang menghujam deras dari atas. Bahkan kain batik yang mengikat kepalanya seketika terlepas terpental entah kemana.
Boooom....!
Terdengar suara dentuman keras menimbulkan getaran di tanah itu sekwtika membuat debu- debu menggumpal di tempat Ki Wayan berdiri.
......................
Sementara di tempat haji Abas dan yang lainnya yang sedang melihat detik- detik tangan mahuk Genderuwo hanya bisa melotot tegang.
__ADS_1
Mata mereka membelalak lebar- lebar menyaksikan telapak tangan hitam berbulu lebat itu meluncur deras menghantam tubuh Ki Wayan.
Boooommmm...!!!
Seketika haji Abas serta yang lainnya terlonjak kaget dan saling terpelanting kebelakang. Tubuh mereka terjengkang saling menindih bertumpukkan satu sama lain.
Suara dentuman dan getaran itu membuat beberapa genteng masjid berjaduhan. Kanopi diatas haji Abas dan yang lainnya jatuh terjengkang pun turut bergetar- getar namun untungnya tidak ambruk.
......................
Di tempat Guntur dan mamah Karmila berada...
Guntur dan mamah Karmila terkesiap kaget tiba- tiba mobilnya bergetar dan bergoyang- goyang bersamaan mendengar suara dentuman itu.
“Hah! Jangan- jangan...” batin Guntur menduga- duga.
“Gun, ayo cepat pergi dari sini!” Pekik mamah Karmila yang duduk di kursi sebelahnya.
“I, iyy, iya mah...” sahut Guntur cepat.
Guntur segera menghidupkan mesin mobilnya. Kemudian segera memundurkan mobilnya keluar dari halaman rumah Tahfiz.
Wajah Guntur dan mamah Karmila terlihat panik. Mamah Karmila tak memalingkan tatapannya dari sudut rumah dulunya itu dimana Karbala menghilang dibalik tembok rumah.
Ingin rasanya melihat keadaan Karbala setelah mendengar dentuman keras itu. Namun instingnya cepat- cepat menyadarkannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana kalau si dukun itu mati?!” batin mamah Karmila.
Bibir merah tipisnya mengatup rapat- rapat sambil terus menatap halaman samping hingga pandangannya terhalang lalu tak kelihatan lagi bersamaan mobil yang disetiri Guntur sudah keluar dari halaman rumah taffiz.
Sementara itu Guntur sambil mengendalikkan mobilnya, juga terlihat begitu tegang. Tak berbeda jauh dengan yang di khawatirkan oleh mamahnya, Guntur pun memikirkqn nasib si penebang pohon tersebut.
"Bagaimana kalau dia mati?!"
......................
__ADS_1