
Sementara itu jauh di daerah pinggiran perbatasan Bandung dan Sumedang, seorang pengusaha meubeler bernama Wayan berusia 65 tahun sedang di pusingkan oleh pesanan seorang rekannya sesama pengusaha meubel asal Jakarta.
Wayan mendapat order membuatkan 10 set meja makan yang salah satu meja bahannya minta berasal dari akar dan pangkal pohon beringin. Katanya pesanan tersebut untuk sebuah restoran namun terpaksa di limpahkan kepada Wayan, dia sendiri angkat tangan karena susah mencari bahannya.
Meskipun pada awalnya Wayan sangat senang menerima orderan tersebut karena budget yang ditawarkan sangatlah besar. Untuk 1 set meja makan di hargai sebesar 100 juta rupiah dan Wayan menerima order pembuatan meja makan tersebut sebanyak 10 set.
Namun dalam order tersebut, meminta yang satu set meja makan bahannya harus dari tunggak kayu beringin yang berukuran besar. Hal itulah yang membuat pekerjaannya terhambat karena ia kesulitan menemukan bahannya.
Saat itu di kepalanya hanya terbayang bakal mendapatkan omset 1 miliyar dari orderan tersebut dipotong komisi yang tak seberapa.
Sementara tenggat waktu yang di berikan untuk menyelesaikan orderan tersebut sampai dua bulan dan sudah terpotong waktunya 1 minggu mandek di tangan pengusaha meubel di Jakarta.
Wayan sendiri terkenal pengrajin meubel dan memiliki jaringan bisnis hingga di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatera. Ia dikenal pembuat ukiran kayu, khususnya Tunggak (akar) jati dan sudah digelutinya selama bertahun-tahun lamanya.
Awalnya menggeluti meubeler karena hobi mengukir yang kemudian berubah menjadi sebuah profesi membuat Wayan merasa enjoy saja dengan pekerjaannya. Meski soal hasil tidak dapat dipastikan, kadang melimpah kadang juga seret.
Untungnya hidup dilingkungan pedesaan yang tidak begitu besar tuntutan hidupnya di bandingkan dengan hidup di kota. Manakala orderan sedang sepi, Wayan dan keluarganya masih dapat makan dengan layak sebab istrinya membantu berjualan dengqn membuka kios depan rumah. Istri Wayan membuka toko klontong kecil-kecilan, sehingga bisa membantu di kala pekerjaannya lagi sepi.
Sudah tiga hari ini Wayan dipusingkan dengan pesanan dari seorang pengusaha meubel asal Jakarta itu. Nilainya memang cukup menggiurkan, namun tinggal satu set meja lagi yang belum di garapnya. Sebab bahan ukirannya sangat susah didapatkan, yaitu Tunggak (akar) pohon Beringin yang lebarnya lebih dari dua meter.
Alasannya yang 1 set meja menggunakan bahan tunggak akar pohon beringin untuk di jadikan ikon restoran. Menurut pemesannya itu ingin meja tersebut nampak alami dengan untaian- untaian akar beringinnya.
Tunggak Beringin ukuran besar seperti itu mulai dirasakan Wayan sangat sulit dicari. Hutan -hutan disekitar perkampungannya sudah di jelajahi semua namun tidak ketemu juga, meskipun ada tetapi kebanyakan pohon-pohon beringin memiliki batang kecil.
Biasanya batang dengan ukuran jumbo tersebut berusia sangat tua. Dan dirasa sangat susah mencarinya di jaman yang sudah modern ini.
Entah sudah puluhan kali Wayan berusaha kesana-kemari, dan juga menghubungi teman-teman sesama meubel maupun meminta bantuan pada pihak perhutani untuk membantu mencarikannya, namun belum juga membuahkan hasil.
Hingga pada sore hari, Wayan sedang duduk di balai depan rumah sederhananya sambil menikmati singkong rebus dan secangkir kopi. Pikirannya sedang melayang kemana- mana yang sekuranya dapat menemukan pohon beringin.
"Assalamualaikum..." ucap suara seorang laki- laki.
"Wa' alaikum salam..!" sahun Wayan sedikit terkejut.
__ADS_1
Datang seorang tetangganya berjalan menghampiri Wayan dengan wajah sumringah. Wayan mengerutkan keningnya penuh tanda tanya dalam hati.
"Mari, mari duduk Din..." sambut Wayan.
"Muhun, Kang..." jawab tamu yang bernama Udin kemudian duduk di bangku kayu di samping Wayan.
"Dari tadi saya lihat wajah kamu sumringah gitu Din, ada apa nih?!" tanya Wayan heran.
"Anu, kang katanya kemarin kang Wayan sedang nyari pohon Beringin?" jawab Udin.
"Muhun, muhun Din. Ada?" ujar Wayan antusias seketika matanya berbinar- binar senang.
"Iya, ada kang. Kata anaknya Abah Aep si Parno, sedang nyari orang untuk menebang pohon beringin di kota," jelas Udin.
"Wah, kebetulan nih. Besar nggak pohonnya Din?" tanya Wayan penasaran.
"Katanya sih lumayan besar," jawab Udin.
"Kalau begitu saya aja gitu yang menebangnya. Nanti bayarannya buat kamu Din, itung- itu sebagai komisian lah, hehehehe...." kata Wayan.
"Iya Din, secepatnya ya," kata Wayan.
Beberapa saat lamanya Wayan dan Udin ngobrol, kemudian Udin pun berpamitan untuk segera menghubungi Parno.
Sepeninggal Udin, Wayan pun segera mengeluarkan hapenya menghubungi seseorang.
"Mas...pesananmu sudah kudapatkan. Kemungkinan orderan bisa selesai sesuai dengan waktunya," Ucap Wayan berbicara dengan seseorang melalui sambungan hapenya.
"Ok, baguslah kalau begitu. Saya tunggu perkembangan selanjutnya pak Wayan. O iya kalau sudah selesai semuanya segera kabari, saya akan transfer untuk pelunasannya," Sahut suara dari seberang telepon.
"Baik, baik pak..." ucap Wayan mengakhiri telponnya dengan wajah sangat gembira.
Bagi Wayan bukan hal yang baru untuk menebang pohon- pohon yang besar. Dari mulai pohon asam yang berusia sangat tua, pohon mahoni hingga pohon jati, semuanya sudah dilakukannya puluhan tahun.
__ADS_1
Wayan sangat memahami karakter pohon- pohon besar dan berusia tua yang rata- rata angker karena kebanyakan didiami mahluk gaib. Dan Wayan menyadari itu semenjak terjun di dunia mebeler.
Makanya bekal utama tatkala menebang pohon adalah kekuatan spiritualnya. Beraneka ragam peristiwa mistis saat menebangnya atau pun sesudah menebangnya sudah seringkali dialaminya. Akan tetapi semua itu mampu di lawannya dan di atasi dengan aman.
......................
Selepas isya di ruang tamu rumah Tahfiz, haji Abas sedang menerima tamu. Tamu itu tak lain adalah pak RT Parno yang hendak menyampaikan kabar yang dimintai tolong oleh haji Abas sehari lalu.
"Pak Haji, saya sudah dapat orang yang bersedia menebang beringinnya," kata pak RT Parno.
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu pak RT. Kapan rencananya untuk mulai menggarapnya?" tanya haji Abas.
"Katanya besok pagi orangnya mau kesini pak haji dan bisa langsung di kerjain," ujar pak RT Parno.
“Soal biayanya biasanya berapa pak RT?” Tanya haji Abas.
“Mm...” pak RT Parno diam beberapa saat berpikir keras, didalam otaknya langsung merangkai keuntungan untuk dirinya.
Pak RT Parno mengetahui kalau Wayan yang hendak menebang pohon itu sangat membutuhkan tonggak akar pohonnya. Yang artinya dirinya akan memperoleh keuntungan dari upah yang di calonya dan juga dapat komisi dari pohon beringinnya.
Pak RT Parno menyeringai jahat, sebelum ia menjawabnya dengan pertanyaan pula; “Nanti kayu pohonnya diminta pak haji atau suruh dibawa yang nebangnya pak haji?"
"Sekalian dibawa aja lah, kalau ditinggal disini buat apa?" ujar haji Abas.
Seringai menang terlukis di wajah Parno yang tanpa disadari haji Abas. Di dalam hatinya pak RT Parno tertawa senang karena sesuai perkiraannya kalau haji Abas tidak bakal menginginkan kayunya.
"Kalau begitu biasanya lima juta pak haji kalau dengan kayunya. Tapi kalau tidak dengan kayu biayanya delapan sampai sepuluh juta," kata Pak RT Parno dengan senyum kemenangan.
"Ya sudah kalau begitu, kayunya dibawa aja pak RT," ujar haji Abas.
"Yes!" begitu teriak pak RT Parno dalam hati.
Pak RT Parno membayangkan akan mendapatkan uang dari upah dan dari pohonnya. Ia menyampaikan ke Udin kalau upahnya itu Rp 3 juta berarti dirinya bakal mendapat keuntungan Rp 2 juta. Di tambah lagi akan mendapatkan uang lagi dari kayu beringin tersebut.
__ADS_1
......................