
"Ambil lajur kiri aja Kun, lima ratus meter lagi," kata Guntur sambil melihat google maps di tangannya.
"Siap boss," jawab Kunto kemudian menyalakan sen kiri.
Suasana menjelang Duhur arus lalu lintas di jalan RC Veteran, daerah Bintaro itu tak jauh berbeda dengan di Bandung, padat dan merayap namun tidak macet. Selain terkenal kawasan elite, daerah Bintaro juga merupakan salah satu kawasan bisnis yang ada di Jakarta Selatan. Meskipun ini akhir pekan tetapi tetap saja arus lalu lintas masih saja padat oleh kendaraan-kendaraan pribadi yang memenuhi jalanan hendak mencari tempat wisata ataupun menikmati liburan keluar kota.
Mobil Pajero Sport putih yang dikemudiakan Kunto itu hati-hati melaju pelan mengambil lajur kiri sesuai petunjuk Guntur dari Google Maps.
"Itu hotelnya Kun," ujar Guntur menunjuk sebuah nameboard besar yang terpampang diatas 50 meter didepan.
Tak lama kemudian Kunto membelokkan mobilnya memasuki hotel tersebut lalu berhenti tepat di depan pintu masuk lobi hotel. Guntur dan mamah Karmila pun turun dari mobil lebih dulu sementara Kunto mencari tempat parkir.
"Ditunggu di lobi Kun," ujar Guntur sebelum Kunto melajukan mobilnya kembali.
Kunto mengangguk saja lalu melaju mencari tempat parkir memasuki lantai bawah. Beberapa saat kemudian Kunto terlihat berjalan melalui jalan sebelumnya menuju lobi hotel yang sudah ditunggu Guntur dan mamahnya.
......................
Di rumah pak Asrul,
Sebuah rumah besar dengan pagar besi tinggi terlihat hilir mudik orang keluar masuk gerbang yang terbuka lebar. Dua orang penjaga berbadan tegap berdiri didepan pos penjagaan yang berada diujung pintu gerbang, sesekali mengarahkan mobil yang masuk maupun orang yang bertanya.
Dihalaman depan rumah mewah yang luas itu terhampar rerumputan nan hijau menyejukkan mata layaknya permadani raksasa menyebar diantara tanaman-tanaman bougenville yang nampak terlihat indah dan asri. Di halaman sedikit kesamping terlihat berdiri sebuah panggung setinggi setengah meter dihiasi bermacam dekorasi bunga-bunga berwarna-warni. Backroundnya transparan yang memperlihatkan dinding pagar yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman bougenville yang tengah berbunga bermekaran. Diatas panggung itu tidak ada spanduk apapun hanya ada tulisan "TASYAKUR PUTRI KAMI HAFIZA HANUM DEWABRATA" yang ditempel dengan benang sehingga terlihat melayang.
Pak Asrul berdiri tak jauh dari panggung itu hanya mengamatinya saja melihat orang-orang yang sedang bekerja mendekor dan juga menata kursi-kursi. Disebelah pak Asrul berdiri seorang gadis berkerudung hijau toska. Wajahnya sangat cantik mirip wajah orang Uzbekistan, mukanya putih, memiliki hidung mancung serasi dengan bibirnya yang tidak terlalu tebal namun juga tidak terlalu tipis tanpa make up.
"Neng, papah mau ngenalin neng sama anaknya teman papah," ucap pak Asrul tanpa menoleh.
"Ihh papah, apaan sih," sahut gadis itu yang tak lain adalah Hafizah.
__ADS_1
"Kamu nyesel loh kalau nggak mau papah kenalin. Anaknya tampan, baik, cerdas, sukses, executife muda," ujar pak Asrul menoleh meyakinkan Hafizah.
Wajah Hafizah bersemu memerah mendengarkan papahnya sedang mempromosikan seorang pemuda. Hafizah menunduk tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Didalam hatinya, untuk mahluk bernama laki-laki itu serasa masih asing, meskipun banyak teman-teman pria di kampusnya yang berusaha mengambil hatinya namun tak seorang pun dapat menggetarkan dan meluluhkan hatinya hingga membuatnya jatuh cinta.
"Sebentar, sebentar... maksud papah apa nih?" tanya Hafizah menyelidik.
"Ehem.." Pak Asrul sengaja berdehem membuat jeda berpikir untuk menyampaikan maksudnya agar putri semata wayangnya tertarik.
"Gini, gini neng... " pak Asrul kembali berhenti tidak meneruskan kata-katanya.
"Apa sih pah, kok susah amat," sungut Hafizah melirik papahnya yang sedang mengelus-elus dagunya.
"Mmm, duh susah nyeritainnya neng, gimana ya?" ucap pak Asrul kali ini mengusap-usap tengkuknya sambil menunduk.
"Ih, papah sepertinya berat banget sih pah, tinggal ngomong aja," Hafizah merajuk penasaran sambil meraih tangan papahnya.
"Untuk sekarang yang penting neng kenalan aja dulu deh ya, selanjutnya biar waktu yang mengaturnya dan Tuhan yang menentukan, ok?" ucap pak Asrul wajahnya nampak tertekan seperti menyimpan rahasia besar.
Braakkkk!
"Pokoknya saya tidak mau tau, pak Asrul harus bisa membujuk Hafizah! "seru seorang lelaki gemuk berusia 50 tahunan menggebrak mejanya.
Wajah pak Asrul membesi, ia hanya bisa terdiam tangannya mengepal kuat-kuat menahan gejolak yang terus memberontak didalam hatinya. Kalau masalah menyangkut putrinya apapun akan dilakukan untuk melindunginya.
"Jika sampai keinginan saya ini gagal atau kamu tolak, kamu akan tau akibatnya! Saya tidak segan-segan membatalkan semua kontrak kerja sama dan menarik aset-aset saya yang ada di perusahaanmu serta lunasi seluruh hutangmu. Dan satu lagi camkan ini baik-baik, nyawamu ada di tangan saya!" Seru lelaki paruh baya itu dengan wajah seram mengancam pak Asrul.
Pak Asrul kian jijik dengan rencana keinginan salah satu Boss besar yang bekerja sama dengannya itu. Harus diakuinya boss besar bernama Anggoro yang ada dihadapannya saat ini memang salah satu rekan bisnis yang paling banyak memberikan kontribusi pada petusahaannya bahkan jika dirinya memerlukan uang berapapun jumlahnya Boss Anggoro selalu mrmberikannya meskipun dengan cara hutang yang berbunga.
Jauh dilubuk hati pak Asrul, sebetulnya dirinya tidak takut apabila semua aset-aset dan kontrak kerja samanya putus, tetapi satu ancaman yang membuatnya berpikir dua kali yaitu "DIBUNUH". Seandainya dirinya dibunuh bagaimana nasib Hafizah? Petusahaannya? Bisa jadi semuanya akan direnggut oleh keserakahan Anggoro.
__ADS_1
Satu-satunya cara menghindari itu semua Hafizah harus cepat-cepat dinikahkan dengan seorang pemuda yang baik. Ketika bertemu Guntur, ide itu langsung tercetus di kepalanya begitu saja. Kalaupun setelah itu dirinya benar-benar dibunuh, ia akan mati dengan tenang sebab Hafizah sudah ada yang akan bertanggung jawab melindunginya.
"Pah, papah!" seru Hafizah menggoyang-goyangkan lengan papahnya.
"Eh, ya ya, neng... kenapa?" sahut papahnya gelagapan membuyarkan lamunannya.
"Loh, gimana sih pah... Kok nanya kenapa," ujar Hafizah kebingungan.
"Oh i, iya gini neng, yang penting kenalan aja dulu ya sama putra temannya papah. Terlepas suka atau tidak sih urusan hati neng, ya kan?" ucap pak Asrul menenangkan hati Hafizah sekaligus menghindari pertanyaan Hafizah lebih dalam tentang beban pikirannya.
"Oh, gitu ya pah, oke deh," sahut Hafizah.
"Aduuuh, duh, duh...seru amat ngobrolnya, ngobrolin apa sih?" celetuk suara seorang wanita paruh baya dari belakang Hafizah dan papahnya.
"Eh, mamah..." ucap Hafizah dan papahnya berbarengan.
Seorang wanita tinggi memakai hijab putih nampak masih terlihat cantik meski usianya sudah tak muda lagi melangkah mendekat lalu berdiri sejajar disebelah Hafizah. Wajah khas kearab-arabannya tersenyum melihat keakrabat papah dan putrinya lalu merangkul putrinya penuh kasih sayang.
"Gimana sudah beres semanya sayang?" tanya mamah Hafizah dengan logat asingnya.
"Sudah mah, tinggal poles-poles panggung utama aja nih," jawab Hafizah.
"Ok, good... undangan teman-teman kamu sudah pada sampai kan?" tanya mamah Hafizah lagi.
"Sudah semua mah tapi ada beberapa teman yang nggak bisa datang mah, katanya masih di luar negeri," ujar Hafizah.
"Oooh, its oke, its oke..." ucap mamah Hafizah sambil mengusap-usap lengan tangan Hafizah.
"Semoga besok lancar acaranya ya, sayang..." sambung mamah Hafizah.
__ADS_1
"Amiiiin...." sahut Hafizah dan papahnya.
......................