
"Ttto, tolll, tolo..." Kunto berusaha berteriak, akan tetapi suara teriakkannya nyaris tak terdengar bahkan terputus.
Tubuh Kunto ambruk tak sadarkan diri tergeletak diatas rumput tepat dibawah jendela kamar mamah Karmila.
......................
Pagi hari masih diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang. Pukul 7.25 Guntur keluar dari kamarnya sudah berpakaian rapih, ia memakai kemeja lengan panjang cokelat muda dengan corak beberapa garis, dipadu dengan dasi bergaris didominasi warna krem terlihat sangat elegan.
Sepatu pantofel hitam nampak mengkilap, ditangannya menenteng tas kantor melangkah penuh semangat hendak berangkat ke kantor.
Saat melewati kamar mamahnya, Guntur menghentikan langkah. Ia mengetuk- ngetuk pintu untuk berpamitan.
Tok... tok... tok...
“Mah, Guntur berangkat...” ucap Guntur mengeraskan suaranya saat melintas didepan kamar mamah Karmila.
Tok... tok.. tok..
Beberapa detik menunggu mamahnya menyahut, akan tetapi tak kunjung ada sahutan dari dalam kamar.
“Ah, mungkin mamah sudah ada di taman,” gumam Guntur.
Guntur pun kembali melanjutkan langkahnya mencari mamah Karmila di halaman samping.
Saat Guntur melintas di depan pintu kamar Kunto, tiba- tiba ia menghentikan langkahnya. Samar- samar telinganya mendengar suara seperti mengerang dari dalam kamar Kunto.
Guntur menajamkan pendengarannya, memastikan pendengarannya tidak salah. Ia segera menempelkan telinganya di pintu kamar Kunto.
“gggrrrmmmm... gggrrmmmmhh... hhhhhmmmkkkkhh....”
Tak salah lagi suara erangan itu dari dalam kamar Kunto, apakah Kunto sakit? Pikir Guntur.
Segera ia menggerakkan handel pintu untuk membukannya, namun tidak bisa. Pintu kamar itu nampaknya dalam kondisi terkunci dari dalam.
Guntur mencobanya lagi dengan mendorong kuat- kuat, tetapi tetap saja pintu itu tak juga bisa dibuka. Seketika perasaan cemas menyelimuti hati Guntur, lalu buru- buru mencari mamah Karmila untuk mengabarkannya.
“Maaah... mamaaaahhh...!” Guntur berseru memanggil- manggil mamah Karmila.
Guntur segera bergegas melangkah keluar mencari mamah Karmila di taman samping sambil terus memanggil- manggil mamahnya.
Dari kejauhan terlihat mamah Karmila nampak sedang asyik menyirami tanaman. Ditangannya yang putih menggenggam selang air yang diarahkan pada tanaman- tanaman di depannya.
“Maaahh... mamaaahh!” seru Guntur berlari kecil menuju mamahnya berdiri.
Mamah Karmila menoleh santai dan menatap Guntur yang berlari kecil kearahnya.
__ADS_1
“Napa Gun, kok teriak- teriak gitu...” ujar mamah Karmila kalem kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke tanaman yang sedang di siramnya.
“Mah, Kunto sepertinya sakit. Suaranya mengerang- ngerang didalam kamarnya,” ungkap Guntur cemas.
“Hah! Yang benar Gun?!” mamah Karmila tersentak mendengarnya lalu menoleh menatap Guntur lekat- lekat.
Raut wajah mamah Karmila terlihat sangat khawatir. Keningnya mengerut dalam- dalam dengan mulut ternganga.
“Kunci cadangannya dimana mah?!” Tanya Kunto mengabaikan ekspresi di wajah mamah Karmila.
“A, add, adda di kamar,” jawab mamah Karmila tergagap.
Jawaban mamah Karmila berasa penuh kegamangan, namun Guntur tak melihat dan menyadari itu semua.
“Ya udah aku ambil mah,” ucap Guntur.
“Bibiii, bbiar mamah aja Gun,” sergah mamah Karmila memghentikan niat Guntur beranjak balik badan.
Beberapa saat Mamah Karmila tertegun lalu bergegas mematikan kran air dan bruru- buru berjalan masuk rumah diikuti Guntur berjalan mensejajarinya.
Sepanjang jalan melangkah memasuki rumah, mamah Karmila hanya diam membisu. Namun dari ekspresi wajahnya, terlihat sangat jelas menggambarkan suasana hati yang tak menentu.
Raut wajahnya tergurat beraneka macam perasaan yang menyiratkan rasa kawatir, takut, cemas yang semuanya berusaha dipendamnya rapat- rapat dari perhatian Guntur.
Namun Guntur nampaknya tak memperhatikan itu semua, pikirannya sedang fokus mencemaskan keadaan Kunto.
Guntur segera meraih kunci itu kemudian dengan cepat memasukkannya kedalam lubang kunci.
Klak! Klak!
“Waduh, susah mah. Kuncinya nggak bisa masuk!” ucap Guntur.
“Ada kunci di dalamnya. Aduh gimana nih mah?!” sambungnya.
“Ya udah dobrak aja Gun!” Balas mamah Karmila.
“Dobrak?!” Guntur mengerutkan keningnya, lalu menganggukan kepala.
Guntur melangkah mundur mengambil jarak 4 langkah. Kemudian dengan gerakkan ala kungfu, sekuat tenaga kakinya menjejak pintu dengan keras.
Braaakkkkk! Pintu langsung dapat terbuka menimbulkan suara berisik yang sangat keras.
Didalam kamar suasananya nampak temaram dari bias terang cahaya pagi yang sedikit meneranginya. Kunto nampak tak bergeming sama sekali dengan suara yang sangat berisik itu.
Guntur cepat- cepat masuk ke dalam kamar diikuti mamah Karmila dibelakangnya. Sesaat mencari stop kontak lalu menyalakannya.
__ADS_1
Diatas kasur, Kunto terlihat sedang menggigil- gigil terbungkus selimut. Kedua tangannya dalam posisi menggenggam selimut kuat- kuat diatas dadanya.
Kedua matanya melotot memandang kosong keatas langit- langit kamar dengan mulutnya bergetar mengeluarkan suara erangan tak henti- henti.
Guntur terkesiap melihat kondisi sahabatnya itu. Sejenak ia tertegun memperhatikan ekspresi wajah Kunto yang tampak sangat ketakutan.
“Kun... Kun... Kunto..!” seru Guntur sambil mengguncang- guncangkan bahu Kunto.
Kunto terus saja mengerang dangan badan berguncang- guncang menggigil tanpa merespon panggilan Guntur.
Sementara dibelakang punggung Guntur, mamah Karmila menatap sayu menyipitkan matanya melihat kondisi Kunto. Dahinya mengernyit dalam- dalam, mengguratkan kekhawatiran di wajahnya sambil menutup mulutnya.
“Kun... Kunto kamu kenapa Kun?!” Guntur terus saja mengguncang- guncangkan tubuh Kunto lebih keras.
Akan tetapi Kunto sepertinya benar- benar dalam kondisi diluar kesadarannya, ia sama sekali tidak menyadari keberadaan Guntur dan mamah Karmila.
Guntur benar- benar dibuat panik melihat keadaan Kunto yang terus mengerang dan menggigil. Beberapa saat Guntur terbengong memandang Kunto, ia sangat kebingungan apa yang harus dilakukannya.
"Prilakunya sangat aneh, dia tidak merespon sama sekali." batin Guntur.
Hingga tiba- tiba suara lembut dari belakangnya menyadarkan pikiran Guntur yang hanyut dalam ketidak mengertiannya dengan kondisi Kunto.
“Cepat bawa ke rumah sakit Gun!” seru mamah Karmila tiba- tiba.
Tetapi Guntur tak langsung menanggapi ucapan mamahnya, ia malah terhanyut kedalam pikirannya sendiri.
Dirinya merasa seperti ada sesuatu yang hilang pada dirinya. Dalam situasi genting biasanya ada sesuatu yang biasanya muncul membantu secara tiba- tiba ketika dirinya ingin sekali menolong seseorang.
“Apakah keajaiban yang selalu membantuku sudah nggak ada lagi?!” Batin Guntur heran.
Beberapa saat lamanya Guntur diam tertegun memikirkan kekuatan yang biasanya muncul di saat dirinya membutuhkan, tetapi kini ia tak merasakan tanda- tanda kemunculan keajaiban itu.
“Gun, ayo cepat bawa ke rumah sakit!” seru mamah Karmila kedua kalinya sembari menepuk bahu Guntur.
Seketika Guntur tersentak kaget dan baru menyadari ucapan mamahnya. Ia pun segera merengkuh tubuh Kunto untuk di bopongnya.
Saat Guntur mulai merengkuh membopong tubuh Kunto, Guntur terkesiap. Ia merasakan tubuh Kunto seperti kaku meskipun tubuhnya terus- menerus bergerak- gerak mengigil.
“Mah, aneh! Tubuh Kunto kaku begini!” Pekik Guntur.
Wajah mamah Karmila seketika terhenyak. Rautnya campur aduk antara rasa cemas dan juga bingung dan juga tersirat ketakutan yang berusaha disembunyikannya.
Gelagatnya tersirat pula dari gestur tubuhnya yang menujukkan sikapnya yang nampak salah tingkah.
“Kke, kenapa bisa begitu Gun?!” Pertanyaan itu spontan keluar seperti menutupi perasaannya yang sedang bergejolak.
__ADS_1
"Nggak tahu Mah!" balas Guntur, kemudian sekuat tenaga mengangkat tubuh Kunto yang terbujur kaku dengan mata membelalak lebar.
......................