
Angin Tornado dalam skala kecil itu terus berputar-putar semakin kencang hingga hempasannya terasa menerpa sampai ke tempat Guntur, pak Suro dan pak Asep berada yang berdiri di bawah kanopi belakang rumah yang berjarak 15 meteran dari pohon beringin itu.
Banyak dedauanan beringin beterbangan melayang-layang berjatuhan disekelilingnya. Pucuk pohon beringin yang terlihat samar-samar hitam dalam pekatnya langit malam seperti sebuah kepala raksasa yang sedang menggeleng-geleng penuh kemarahan.
Sementara mbah Dadan yang duduk bersila di bawah pohon itu terlihat sedang berupaya sekuat tenaganya menahan tubuhnya agar tidak terpelanting oleh kencangnya sapuan angin. Tangan kirinya masih bersedekap di dada sedangkan tangan kanannya mencengkeram rumput kuat-kuat disisi tubuhnya. Beberapa saat kemudian nampak tubuh mbah Dadan bergetar hebat, ia merasakan ada dorongan kuat dari energi yang ditimbulkan dari angin tersebut.
“Keluar kau!!!” bentak mbah Dadan.
Guntur, pak Suro dan pak Asep ikut tersentak kaget oleh bentakkan mbah Dadan saking kerasnya. Sementara itu di samping rumah di depan pintu dapur, Karmila melihat pemandangan di depannya bergidik ngeri, keningnya yang putih mengerut dalam-dalam sambil menyipitkan matanya. Jantungnya semakin berdegup kencang, pikirannya bergejolak di hantui bermacam-macam perasaan ada ngeri, ada khawatir, kasihan sekaligus takut. Semua perasaan itu bergumul di tujukkan untuk Karbala.
Karmila mengetahui persis apabila mahluk gaib yang berusia ribuan tahun itu mendapat perlakuan kasar akan sangat marah dan akan menunjukkan eksistensi dan kekuatannya. Akan tetapi sebaliknya jika di perlakukan baik maka dia akan membalas kebaikkannya berlipat-lipat.
“Keluar kau!!!” bentak mbah Dadan.
Suara bentakkan itu kembali terdengar jelas di telinga Karmila yang membuat Karmila semakin khawatir. Namun kekhawatiran tersebut kali ini bukan di tujukkan untuk Karbala melainlan untuk keadaan mbah Dadan sendiri. Karmila sangat cemas akan membuat Karbala marah dan akan melakukan sesuatu yang mungkin saja mengancam nyawa mbah Dadan sendiri.
Belum habis Karmila memikirkan kekhawatiran-kekhawatiran itu, tiba-tiba satu hempasan angin kuat menerpa tubuhnya. Kontan mata Karmila membelalak lebar, ia melihat tubuh mbah Dadan mendadak terpental kebelakang sejauh 10 meter dari tempatnya bersila. Tubuhnya sempat membumbung keatas setinggi 2 meteran lalu jatuh di atas tanah dengan keras.
Bukkk!!!
Guntur, pak Suro dan pak Asep terkesiap, mereka langsung berlari menghampiri mbah Dadan yang jatuh terlentang untuk menolongnya. Akan tetapi baru setengah jarak menuju posisi mbah Dadan tergeletak, langkah ketiga orang itu terhenti bersamaan terdengar suara tawa dari arah pohon beringin.
Suaranya besar dan sember sangat menggidikkan telinga. Ketiganya menoleh serempak kearah pohon beringin dimana sumber suara itu berasal. Mata Guntur, pak Suro dan pak Asep terbelalak lebar melihat sosok mahluk tinggi besar yang menyamai tingginya pohon beringin itu.
“Genderuwo!!!” pekik ketiganya bersamaan.
“Karbala!!!” pekik Karmila di tempatnya berdiri.
Karmila pun membelalakkan matnya lebar-lebar. Baru kali ini melihat wujud Karala sebesar itu dengan sorot mata berkilat merah terang. Seringaiannya begitu menakutkan memperlihatkan kedua taring yang mencuat di kedua sudut mulutnya.
Karmila menutup wajahnya saking ngerinya tak kuasa melihat wujud Karbala yang semerikan itu. Ia hendak berlari kearah Guntur dan yang lainnya berdiri namun di urungkan bersamaan terdengat teriakkan suara dari Guntur.
“Hentikan!!!” teriak Guntur lantang.
Pak Asep dan pak Suro tertegun keheranan melihat reaksi genderuwo itu yang tiba-tiba menuruti perintah Guntur. Genderuwo itu menghentikkan tawanya sekaligus menghentikan langkah kaki besarnya yang hendak mendekati mbah Dadan yang terkapar.
Mahluk menyeramkan itu hanya berdiri diam di tempat, hanya sorot matanya yang masih berkilat merah menatap mbah Dadan penuh kemurkaan.
__ADS_1
“Kalau kau sampai membuat orang tua ini celaka, aku akan membakar tempatmu!” sentak Guntur dengan suara bergetar.
Guntur tahu kalau mahluk tinggi besar di depannya itu sama persis dengan mahluk yang pernah menemuinya, baik dalam mimpi atau menemuinya secara langsung sehingga ia merasa tidak takut sedikit pun.
Semua yang menyaksikan itu kembali di buat tercengang! Setelah Guntur mengatakan itu, Karbala terdiam tanpa reaksi apapun. Dan perlahan-lahan kilatan merah dari sorot kedua mata mahluk gaib itu meredup lalu tubuhnya pun perlahan-lahan menyusut mengecil, mengecil dan mengecil hingga seukuran manusia.
Dari jarak 10 meter, Guntur melangkah dan berdiri tepat menghalangi tubuh mbah Dadan yang sudah tak berkutik. Hanya suara erangannya saja yang masih terdengar jelas di kheningan malam yang semakin larut.
“Jangan melukai orang-orangku, aku hanya menyuruhnya mencari keberadaan sahabatku. Apakah kamu yang menyembunyikannya, hah!” seru Guntur dengan nada tinggi dengan tubuh bergetar menumpahkan amarahnya.
Susana menjadi hening sesaat setelah Guntur mengatakan itu. Guntur menatap lekat-lekat wajah genderuwo yang kini berdiri sejajar di depannya menunggu jawaban dari mahluk gaib itu. Sosok genderuwo yang berdiri mematung di bawah pohon beringin itu hanya nampak terlihat samar-samar seperti gundukkan batu hitam karena terhalanh oleh bayangan pohon.
“Dia berada di alamku,” kata Genderuwo datar.
“Apa???!” Guntur sangat terkejut dan tak menduga kalau Kunto hilang karena ulah mahluk itu.
“Kembalikkan dia!!!” teriak Guntur kian murka.
“Baik,” jawab Genderuwo.
Pak Suro dan pak Asep tertegun cukup lama, kedua orang yang seumuran itu tanpa sadar saling pandang. Masing-masing matanya menyiratkan pertanyaan-pertanyaan di dalam hatinya. Bagi Pak Suro sendiri nampaknya tidak terlalu mengherankan melihat genderuwo itu tunduk dengan Guntur. Pak Suro sudah menduga sejak pertama kali bertemu dengan Guntur di lapak buku loaknya dulu setelah melihat tanda hitam dipenuhi rambut-rambut halus di tangan kirinya. Namun hingga kini ia tidak berani mengungkapkan isi hatinya kalau Guntur memiliki hubungan erat dengan mahluk genderuwo teraebut.
Dan peristiwa yang baru saja di lihat di depannya barusan, menjadi satu bukti kalau perkiraan pak suro itu tidak salah.
......................
Alam Gaib,
Kunto melangkah tanpa arah tujuan di daerah yang sama sekali sangat asing baginya. Semula hanya mengikuti arah lelaki tua yang sempat ia tanya namun lelaki tua itu hilang entah kemana perginya. Hingga tanpa teras Kunto berjalan memasuki sebuah tempat. Ia melihat di depannya banyak orang beraktifitas.
Tampak ramai sekali orang berlalu lalang. Ada yang berkerumun di satu tempat, ada yang berjalan dari satu meja ke meja lain, ada orang yang hanya duduk menghadap benda-benda yang tertumpuk diatas meja di depannya.
“Pasar?!” batin Kunto.
Spontan Kunto merogoh saku celananya, “Ada uang 20 ribu kembalian beli bensin, nih. Beli makanan ah,” gumam Kunto.
Kunto benar-benar tidak sadar dengan kondisi aktifitas yang di lihatnya seperti pasar itu. Jika dia sadar pasti akan merasa aneh, mana ada di jaman modern ini pasar yang di lihatnya itu seperti pasar tradisional di jaman kerajaan dahulu.
__ADS_1
Semua orang-orangnya memakai pakaian sangat tradisional, yang pria ada yang hanya telanjang dada, ada yang memakai setelan komboran. Dan semuanya memakai ikat kepala batik melingkar di kepalanya. Sedangkan kaum perempuannya, ada yang hanya memakai kain sebatas dada menjuntai hingga sampai mata kaki dengan kepala terlampir kerudung dan ada juga yang memakai kebaya dengan sanggul-sanggul besar di belakang kepalanya serta selendang terlampir mengalungi leher.
Pada satu meja yang sepi pembeli, Kunto berhenti. Ia melihat-lihat ikan goreng yang di jejer diatas meja dengan beralaskan daun pisang.
“Berapa satunya bu...?” tanya Kunto sopan.
Ibu paruh baya penjual itu lantas mendongak menatap Kunto tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapan matanya kosong dan dingin lalu kembali menunduk tanpa menjawab pertanyaan Kunto. Kunto tak memperdulikannya, mungkin karena dirinya bukan penduduk setempat yang terlihat asing di mata penjual itu, begitu pikir Kunto. Kemudian Kunto langsung saja meminta satu ikan yang besarnya setapak kaki orang dewasa, ia memperkirakan sendiri harganya paling tidak jauh dari 20 ribu.
“Bu minta ikan yang ini ya satu,” kata Kunto sambil mengambil ikan itu untuk di bungkus.
Ibu penjual ikan goreng itu lantas mengambil selembar daun pisan lalu membungkusnya dengan rapih kemudian di berikan kepada Kunto.
“Berapa bu?” tanya Kunto sambil mengulurkan uang pecahan 20 ribu.
Penjual itu hanya mengacungkan jari telunjuknya. Kunto sontak bingung, apakah jari satu itu mengisyaratkan seribu? Apakah 10 ribu? Apakah 100 ribu? Tapi Kunto tak menarik tangannya kembali, ia tetqp memberikan uang 20 ribuan itu. Dan ibu penjual itupun menerimanya sambil memperhatikan wajah Kumto dengan tatapan aneh lalu ia membolak balikkan uang kertas itu di tangannya.
Kunto pikir mungkin ibu penjual ikan itu tuna wicara dan rasanya tidak mungkin ikan goreng ini harganya sampai 100 ribu. Dan kalau pun harganya 10 ribu, ia sudah berniat mengikhlaskannya untuk tidak meminta kembalian.
“Sudah ya bu, hatur nuhun...” ucap Kunto lantas meninggalkan penjual ikan itu.
Kunto kembali berjalan tetapi baru tiga langkah ia tiba-tiba berhenti, “Sebaiknya kembali ke rumah itu.” Batin Kunto.
Daripada berjalan tanpa tujuan lebih baik dirinya kembali ke tempat semula, begitu pikir Kunto. Ia pun membalikkan badannya berjalan kearah yang tadi di lewatinya.
Kunto berjalan sambil menikmati ikan goreng yang baru saja di belinya sedikit demi sedikit sambil sesekali melihat jalan di depannya. Banyak orang-orang yang berlalu lalang yang melewatinya tidak ia hiraukan, ia sangat menikmati ikan goreng tersebut.
Setelah berjalan 10 meter sambil memakan ikan goreng di tangan kanannya sembari melihat kedepan, saat itulah mata Kunto tertuju pada seorang pria berpakaian seperti seorang prajurit kerajaan sedang berjalan di depannya berjarak 20-an langkah. Nampaknya pria berpakaian prajurit itu sedang tergesa-gesa dan naluri Kunto merasakan kalau orang tersebut sengaja akan menyongsongnya.
Benar saja dugaannya, tak berapa lama langkah prajurit kerajaan itu berhenti tepat di depannya. Kunto pun spontan menghentikan langkahnya dengan wajah tertegun karena jalannya di halangi. Baru saja Kunto membuka mulutnya hendak menegur pria berpakaian prajurit kerajaan itu, justru pria itu lebih dulu bertanya.
"Kamu manusia bernama Kunto?" Tanya prajurit kerajaan dengan suara datar.
"I, iy... iya bebebe..benar," jawab Kunto gugup sekaligus merasa ketakutan.
Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, prajurit kerajaan itu langsung menarik tangan kiri Kunto yang tidak memegang ikan goreng. Kunto merasakan tangan kirinya di hentak dengan keras lalu pandangannya gelap seketika.
......................
__ADS_1