
Jumat sore hari sekitar jam 16.00 wib, mamah Karmila sedang menyirami tanaman di halaman depan. Tubuhnya hanya berbalut tangtop dan hanya mengenakan celana jeans sangat mini membuat tubuhnya terlihat sangat seksi sekali, memperlihatkan jenjang kakinya dengan kulit yang putih mulus khas orang sunda. Tak sedikit para pejalan kaki sengaja memelankan langkahnya ketika melewati depan pagar rumah. Matanya memelototi malu-malu melirik dari balik celah-celah jeruji besi pagar.
Sepertinya Karmila tidak menyadari kalau dirinya menjadi objek pemandangan indah bagi pejalan kaki, ia terus saja tak bergeming memperhatikan semprotan air dari selang pada tanaman-tanamannya. Matanya memang memperhatikan tanaman-tanaman itu akan tetapi didalam pikirannya sedang merasakan kecemasan mengingat peristiwa semalam.
"Apakah mungkin saya akan hamil? Tapi Guntur?" batinnya bertanya-tanya cemas.
"Ah, saya yakin Guntur itu darah dagingnya Aryo, bukan Karbala meskipun disaat itu mahluk sialan itu turut andil," gumam Karmila didalam hati.
"Apa sebaiknya saya membeli obat peluntur kandungan untuk berjaga-jaga?"
Batin Kamila berkecamuk bimbang, dirinya sangat khawatir apabila dari peristiwa terkutuk semalam itu mengakibatkan kehamilan. Bagaimana jadinya jika itu benar-benar terjadi? Apa kata orang-orang? Bagaimana bisa tidak punya suami tiba-tiba hamil? Tiba-tiba gejolak hati Karmila terhenti dikagetkan oleh suara klakson dari luar gerbang pagar rumahnya.
Diluar gerbang sebuah sepeda motor sport merah berhenti didepan pagar tepat didepan pejalan kaki yang sedang menolehkan kepalanya melihat kedalam rumah dimana Karmila sedang menyirami tanaman. Seorang pemuda diatas sepeda motor dengan sengaja membunyikan klaksonnya dua kali tetapi tetap saja pejalan kaki itu menubruk sepeda motor karena wajahnya terus melihat kedalam rumah dari sela-sela besi pagar.
"Aduh!" pekik pria berusia 40 tahunan meringis sambil mengelus-elus kakinya.
"Lihat apa sih mas?" Tanya pemuda dari atas sepeda motor sport merah itu kemudian ikut melongok-longokkan kepalanya kedalam pagar rumah namun tidak melihat apa-apa karena terhalang tirai transparan.
"Anu, itu.. nggak apa-apa A," ujar pejalan kaki itu cengengesan buru-buru berlalu.
Pemuda itu yang tak lain Kunto lalu turun untuk membuka pintu gerbang. Saat akan menjulurkan tangannya disela-sela jeruji besi tanpa sengaja pandangannya terbentur pada mamah Karmila yang sedang memegang selang air.
"Oooo... pantesan orang tadi kepalanya melintir aja, rupanya ada yang bening-bening," gumam Kunto kemudian melanjutkan merogoh kunci dibalik pagar melalui celah jeruji besi.
"Sore Tante..." sapa Kunto begitu pagar dibuka.
"Sore, eh Kun kamu sudah balik lagi?" Tanya mamah Karmila.
"Iya tan, di telpon Guntur suruh cepat-cepat ke Bandung lagi katanya bantuin pindahan pak Suro,. Saya masukin motor dulu tan," ujar Kunto kemudian membuka pintu pagar kecilnya.
Kunto melajukan sepeda motornya memasuki halaman rumah lalu memarkirkannya agak kesamping sebelah kiri depan rumah. Ia segera turun berjalan menyongsong mamah Karmila yang masih asyik menyirami dengan selang airnya.
"Tan, ini ada sedikit oleh-oleh dari bapak..." sapa Kunto dibelakang mamah Karmila kemudian menyalami mencium tangannya.
"Ealah, repot-repot amat Kun, apa itu?" tanya mamah Karmila menghentikan aktifitasnya kemudian menerima kantong kresek besar yang diulurkan Kunto.
"Ikan mujaer Tan, kebetulan empang tetangga lagi panen, bapak sengaja membelinya katanya buat Guntur dan mamahnya," ujar Kunto.
__ADS_1
"Wah, besar-besar Kun. Gimana kalau nanti malam kita bikin bakar-bakaran aja? Kan kalian pada jomblo semua, hikhik..." seloroh mamah Karmila terkekeh.
"Ide bagus tuh Tan, ya udah saya masuk dulu tan menemui bos jomblo, hikhikhik..." timpal Kunto menyusul kekehannya mamah Karmila.
"O iya Kun, kamu makan dulu belum makan kan?" ujar mamah Karmila.
"Tante tau aja, hehehehe... Bos jomblo kemana Tan?" tanya Kunto.
"Ada di kamarnya tuh," ujar mamah Karmila tidak menoleh lagi.
"Ya udah saya masuk dulu Tan, permisi..." ucap Kunto berlalu.
"Iya Kun.." sahut mamah Karmila menoleh sebentar lalu kembali pada aktifitasnya.
......................
Sementara itu didalam kamarnya, Guntur sedang duduk menatap layar monitor komputernya. Dia sedang membaca artikel-artikel para pengusaha besar dunia sehingga muncul ide dikepalanya untuk mengembangkan usahanya tidak bergerak melulu dibidang kontraktor dan distributor barang-barang impor saja. Terlintas dipikirannya ingin mendirikan sebuah perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan yang dikonsumsi sehari-harinya.
Namun angan-angannya seketika buyar oleh suara ketukan pintu kamarnya lalu disusul suara seseorang memanggil-manggilnya.
"Masuuuk Kun, nggak dikunci," seru Guntur tanpa menoleh.
"Kok kamu tau Gun saya yang manggil?" sergah Kunto begitu masuk.
"Biar pun kamu nggak manggil juga, saya pasti taulah. Soalnya nggak ada yang ngetuk kamar saya selain mamah sama eluuu," ujar Guntur manyun.
"Hehehe... Iya juga sih, eh Gun nanti malam bakar-bakar ikan. Tante tadi yang bikin rencana," ujar Kunto.
"Ikan darimana? Dadak beli? Ah, males gua," kata Guntur kembali melihat layar monitornya.
"Yeee, saya bawa dari kampung tuuuh, udah dikasihin ke tante," sela Kunto.
"O ya?"
"O ya, o ya, dasar bos jomblo!" sungut Kunto sambil meraih cemilan Sukro diatas meja komputer.
"Sialan lu Kun, sembarangan aja bos jomblo. Liat nih besok lusa hari minggu," ujar Guntur melempar sebiji sukro pada Kunto.
__ADS_1
"Ya elah, semua orang juga tau besok lusa mah hari minggu," sergah Kunto.
"Makanya dengerin dulu kritiiing! Besok lusa gua mau dikenalin ama cewek temennya mamah," kata Guntur exited.
"Masa? Orang mana?" Kunto dibuat penasaran.
"Orang Jakarte, yeee..." ujar Guntur kemudian melempar sukro kemulutnya lalu mengunyahnya.
"Jadi lusa mau pada ke Jakarta?" Tanya Kunto.
"Iya, tadi malam temennya papah datang mengundang syukuran anaknya yang baru lulus kuliah," terang Guntur.
"Ikuuuut...." ujar Kunto merajuk.
"Gimana ya Kun, bilang sama mamah aja sono deh. Sory gua nggak bisa ngasih keputusan, hahahahaha..." kelakar Guntur tertawa lepas.
......................
Selepas magrib Kunto dan Guntur sudah sibuk membuat api pada tungku khusus untuk membakar ikan ataupun daging di halaman depan sedikit menyamping kesisi kanan. Suasana arus lalu lintas yang nampak dari balik pagar terlihat padat ramai, maklum karena malam ini malam akhir pekan.
Mamah Karmila muncul menenteng tikar ditangan kanannya sedang tangan kirinya membawa tumpukkan piring. Guntur menyongsongnya membantu menggelarkan tikar sekitar empat langkah dari posisi Kunto yang sedang membuat bara api dari arang. Mamah Karmila kemudian kembali lagi masuk ke dapur untuk mengambil ikan-ikan yang tadi sudah dibersihkannya.
"Udah jadi belum Kun?" seru Guntur.
"Sedikit lagi nih, mana ikannya Gun? Kunto balik nanya.
"Lagi diambil mamah," ujarnya sambil membereskan lipatan tikar disudutnya.
Sementara itu mamah Karmila yang sudah berada di dapur sedang tertegun menatap ikan-ikan yang sebelumnya ditaruh diatas piring besar. Nampak sekali wajahnya kebingungan, kemudian ia menghitungnya lagi karena sepertinya ikan-ikan yang ditumpuk diatas piring itu sudah berkurang.
"Satu... dua... tiga... empat... li..ma, lima? Perasaan tadi ada tujuh," Karmila terdiam sejenak, penuh kebingungan.
Matanya diedarkan kebawah disudut-sudut lantai dapur barangkali jatuh atau diseret tikus. Namun tidak ada bekas apapun di lantai. Tiba-tiba terdengar suara jendela terbuka membuat Karmila tersentak kaget bukan main.
"Astagfirullah!" pekiknya.
Spontan matanya menoleh kearah jendela. Karmila melihat sekelebatan bayangan hitam melayang menjauh kearah belakang. Seketika wajah cantiknya berkerut menunhukkan amarah yang tiba-tiba meledak.
__ADS_1
"Karrrbala! Benar-benar kurang ajar!" seru Karmila sambil melongokkan kepalanya di jendela.
......................