TITISAN

TITISAN
DURI PENGHALANG #3


__ADS_3

Mobil Pajero sport putih sudah melaju di jalan tol menuju Bandung. Guntur yang duduk disebelah Kunto nampak senyum-senyum sendiri sambil menatap lurus jalan didepannya namun tak tidak ada satupun sesuatu yang diperhatikannya. Matanya hanya memandang kosong mobil-mobil didepannya. Angannya sudah tidak berada didalam mobil tapi sedang melambung jauh mengingat kembali pertemuannya dengan Hafizah. Guntur tidak mengerti dengan perasaanya, kini hatinya sangat bahagia dan berbunga-bunga. Pikiriannya penuh sesak oleh wajah cantik Hafizah yang selalu muncul membayang-bayanginya terus semenjak kembali ke hotel sepulang dari acara itu.


"Apa sih lu, senyum-senyum sendiri. Dih, udah sarap lu ya, xixixixi..." celetuk Kunto cekikikan setelah mengetahui Guntur sedang senyum-senyum.


"Sialan, ganggu aja keritiiing!" sungut Guntur terkejut sekaligus membuyarkan siluet wajah cantik di angan-angannya.


Di jok tengah mamah Karmila ikut senyum-senyum melihat tingkah polah Guntur dan Kunto. Mamah Karmila mengerti dengan perasaan putranya yang sedang dilandai badai kasmaran. Dan baru kali ini mamah Karmila melihat Guntur bertingkah aneh seperti itu.


"Gun..." panggil mamah Karmila membuat cekikikan Kunto terhenti.


"Iya mah," sahut Guntur lalu menengok kebelakang.


"Kamu suka sama Hafizah?" tanya mamah Karmila lembut.


Deg!


Jantung Guntur serasa berhenti mendadak mendapat pertanyaan yang tidak terduga seperti itu. Dirinya bingung harus menjawab apa, didalam hatinya ada persaan malu untuk diungkapkannya. Sebab, baru kali ini pula dirinya mersakan jatuh cinta dan dapat dikatakan saat ini adalah cinta pertama. Ia benar-benar merasakan untuk pertama kalinya merasa jatuh cinta.


"Guuun...?" tegur mamah Karmila melihat Guntur terdiam lama.


"Eh, iya mah," sahut Guntur gelagapan.


"Ciye... ciye... bos jomblo jatuh cinta, hahahaha..." seloroh Kunto.


Kunto yang juga ikut menunggu jawaban dari Guntur saat mamah Karmila menanyakan itu langsung saja mengartikan kalau sahutan Guntur itu sebagai jawabannya.


"Apasih lu, ah..." sergah Guntur kemudian meninju pangkal lengan Kunto.


"Lah itu barusan, lu jawa iya hahahaha..." balas Kunto terbahak-bahak.


"Bener Gun?" sela mamah Karmila memastikan.


Guntur terlihat kikuk, dirinya merasa seperti seorang terdakwa dalam sebuah sidang pengadilan yang diminta menjawab kebenarannya. Dengan malu-malu akhirnya ia pun menjawabnya dengan suara tertahan.


"I, iya mah, hehehe..." usai menjawab wajah gantengnya terlihat merona.

__ADS_1


"Ya kalau mamah lihat sih Hafizah juga sepertinya suka juga sama kamu Gun. Mamah sih oke oke saja," ucap mamah Karmila.


"Kalau menurut saya ya Tan, sangat kebangetan kalau ada seorang cewe yang tidak meleleh hatinya melihat Guntur," celetuk Kunto.


"Mana buktinya Kun? Kalau iya banyak cewe yang suka, mana coba. Selama ini nggak ada tuh satu pun cewe yang dikenalkan ke tante sama Guntur, hikhikhikhik..." ucap mamah Karmila sambil melirik Guntur.


Guntur yang jengah dengan obrolan mamahnya dan Kunto langsung memalingkan wajahnya kesamping kiri. Pandangannya menembus keluar kaca jendela mobil melihat dikejauhan deretan gedung-gedung yang menjulang tinggi-tinggi.


"Yah tante nggak tau aja, beberapa cewe di kampus patah hati Tan, karena patah hatinya mereka menyebar berita hoax kalau Guntur nggak suka sama cewe tapi sukanya sama cowo," ujar Kunto.


"Sumpe lo?!" sergah Guntur melotot kearah Kunto.


"Nih, kuping saya Gun, jadi budek mah budek mendengarnya. Lah elu yang punya badannya cuek aja jadinya meneketehe," ungkap Kunto.


Tiiiiin...! tiiinnn...! tiiiinnnn..!


Suara klakson mobil dari sebelah kanan mengagetkan seisi mobil Guntur, sampai-sampai Kunto reflek menginjak rem sedikit. Suara decitan ban mobil terdengar keras. Sebuah mobil Avanza hitam muncul disisi kanan mensejajarkan posisinya lalu seseorang menurunkan kaca jendela sambil melambaikan tangannya memberi isyarat agar menepi.


"Ada apasih orang itu?" gumam Kunto tak mengerti maksudnya yang memintanya menepi.


Mamah Karmila dan Guntur mengerutkan dahinya dalam-dalam. Ada perasaan tak enak merasuki hatinya. Lalu sesaat kemudian Guntur mengatakan untuk menuruti permintaan mobil Avanza hitam itu.


Kunto dan mamah Karmila hanya mengangguk, ada benarnya juga ucapan Guntur. Bisa jadi itu memang orang surahannya pak Asrul yang hendak menitipkan sesuatu.


Kunto langsung menyalakan lampu sein kiri dan perlahan-lahan menepi mengikuti Mobil Avanza hitam yang langsung mengambil posisi didepan mobil yang disetiri Kunto. Beberapa saat kemudian Kunto menghentikan mobilnya bersamaan berhentinya mobil Avanza hitam didepannya. Suasana sekitar tempat berhentinya kedua mobil itu hanya ada hamparan hijau rumput dan semak belukar yang menggunung seperti tebing.


Kunto bermaksud turun dari mobilnya hendak menghampiri mobil didepannya untuk menanyakan petmasalahannya yang memintanya berhenti namun dicegah oleh Guntur.


"Jangan turun Kun! Biar saya saja yang menghapiri mereka," cegah Guntur menahan lengan kunto.


Sementara di jok tengah Mamah Karmila terlihat tegang, raut wajah cantiknya terlihat cemas seiring dadanya berdebar-debar kencang.


"Jangan Gun, firasat mamah nggak enak!" sergah mamah Karmila.


Namun sayangnya ucapan mamah Karmila sedikit telat karena Guntur sudah membuka pintu dan turun dari mobil. Bersamaan itu tiga orang berbadan tegap dengan tangan dipenuhi tato juga turun dari mobil Avanza hitam itu. Awalnya Guntur melihat ketiga orang yang turun itu nampak wajar dan seperti hendak menyampaikan sesuatu. Akan tetapi ketika jarak lima langkah darinya, ketiga pria berbadan tegap itu langsung mengeluarkan senjata tajam dari belakang jaketnya. Satu orang langsung meloloskan pedang Samurai dari sarungnta dan menyeretnya diatas permukaan aspal hingga menimbulkan percikan-percikan api, satu orang lagi menenteng celurit dan pria ketiga menggenggam pistol revolver di tangannya.

__ADS_1


Guntur terkesiap membelalakkan matanya, langkahnya terhenti. Dirinya tidak menyangka ketiga pria itu mengeluarkan senjata ditangannya masing-masing. Belum hilang keterkejutannya, dua orang yang memegang Samurai dan celurit dengan cepat menyongsong merangsak dengan cepat kearah Guntur sambil mengayunkan senjatanya.


Guntur yang tidak siap dengan keadaan itu secara reflek langsung mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya. Guntur hanya bisa pasrah menanti hujaman-hujaman senjata tajam itu sambil memejamkan matanya.


Buugggkkk..!


Buugggkkk..!


Doorrrr...! Dooor...!


Buugggkkk..!


Suara tubuh terbanting dan suara letusan senjata api sangat jelas terdengar di telinga Guntur membuat kedua tangannya kian rapat melindungi kepalanya.


"Ya, Allah.. saya ikhlas jika harus mati seperti ini," ucap Guntur dalam kepasrahan menanti hujaman-hujaman dan peluru menembus tubuhnya.


Setelah beberapa saat lamanya Guntur mendekap erat kepalanya namun kengerian yang dibayangkannya terkena hujaman senjata tajam dan tertembak itu tidak juga kunjung dirasakannya. Dengan perasaan penuh keheranan, perlahan-lahan Guntur mengintip dari sela-sela tangan yang menutupi kepalanya. Sekejap berikutnya Guntur melihat ketiga pria berbadan kekar itu tidak terlihat lagi didepannya akan tetapi saat melepas kedua tangannya dari kepalanya, dia melihat tiga pria itu sudah terkapar tak bergerak hanya erangan kesakitannya saja terdengar keras.


Sementara itu dari dalam mobil, mamah Karmila dan Kunto masih tercengang dengan mulut ternganga lebar setelah menyaksikan kejadian didepan mobilnya. Saat itu ketika ketiga pria mengeluarkan senjatanya mamah Karmila memekik dengan keras, akan tetapi sesaat kemudian pekikannya berganti dengan teriakkan kaget.


"Hah?!"


Mamah Karmila dan Kunto berteriak bersamaan, keduanya melihat dengan jelas ketika hendak menghujamkan Samurai dan celurit kearah Guntur tiba-tiba tiga pria itu tubuhnya terangkat setingi dua meteran sesaat melayang lalu terbanting dengan keras diatas aspal.


"Kuuuun, telpon polisi! Cepat telpon polisi!" Teriak Guntur keras dari luar.


Sementara itu setelah Guntur berteriak untuk memanggil polisi, mobil Avanza hitam langsung melaju dengan hentakkan keras lalu tancap gas melarikan diri meninggalkan ketiga temannya yang terkapar diatas aspal. Guntur kemudian melangkah mendekati salah satu pria yang menyerangnya dengan pistol yang kini terkapar dengan posisi terlentang dengan kedua tangan membentang kesamping. Guntur menginjak tepat pada pergelangan tangan pria yang dipenuhi tato itu.


"Suruhan siapa kalian?!" Bentak Guntur dengan tubuh bergetar menahan amarah.


Pria itu hanya menggerak-gerakkan matanya tidak bisa mengeluarkan suara. Tiba-tiba dari arah belakang Kunto datang dan langsung menendang kepala pria itu. Guntur terkesiap melihat Kunto yang tiba-tiba muncul dan kalap hendak menghakiminya.


"Kun, Kun... sudah, sudah... jangan, jangan!" cegah Guntur sambil menahan tubuh Kunto yang terus merangsak hendak menginjak-injak kepala pria itu.


"Jawab lu! Suruhan siapa?!" Hardik Kunto dengan nafas ngos-ngosan saking emosinya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian dikejauhan terdengar suara sirine mobil polisi. Kunto pun sudah mulai sedikit mereda emosinya mendengar itu. Sementara pria itu tidak tetap bungkam tidak menjawab pertanyaan Kunto dan Guntur.


......................


__ADS_2