
Karmila merasa sedikit keheranan sewaktu pak Suro meminta Guntur untuk menemui Karbala. Di dalam hatinya timbul was was, jangan-jangan pak Suro sudah tahu kalau antara Guntur dan Karbala ada suatu rahasia ikatan tersembunyi. Karmila sangat mengkhawatirkan itu apabila benar pak Suro mengetahuinya berarti secara tidak langsung rahasia terkutuknya dengan Karbala diketahui pak Suro namun cepat-cepat pikiran buruk itu ia singkirkan jauh-jauh dan ia tekan dalam-dalam di hatinya. Namun Karmila sangat yakin kalau Guntur sendiri tidak mengetahuinya dan sampai kapan pun ia tidak ingin putra semata wayangnya mengetahui semua itu dan dia akan tetap merahasiakannya dari Guntur.
Udara di luar semakin terasa dingin karena sudah lewat tengah malam. Dibawah sinaran lampu-lampu taman yang temaram, pak Suro dan Guntur berdiri di bawah pohon beringin dengan jarak sekitar 5 langkah pak Suro tanpa menghiraukan rasa kedinginannya yang menusuk tulang.
Guntur menolehkan kepalanya pada pak Suro sejenak seperti meminta persetujuan, pak Suro pun menganggukkan kepalanya sekaligus meyakinkannya. Tetapi bukan itu maksud Guntur, ia menoleh karena merasa bingung bagaimana cara memanggil genderuwo itu.
"Mmm, gimana saya memanggilnya pak?" tanya Guntur.
"Langsung saja kamu bilang, kami butuh bantuanmu. Dia pasti dengar," ujar pak Suro.
Guntur sedikit ragu karena lawan bicara yang akan di mintai tolongnya tidak kelihatan. Rasanya seperti orang gila jika ngomong sendirian, begitu yang terpikirkan di benaknya.
"Tinggal ngomong aja pak?" Tanya Guntur lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, sampaikan saja." ujar pak Suro.
"Saya butuh bantuanmu!" seru Guntur dengan suara bergetar.
Usai Guntur mengatakan itu, dalam hitungan 5 detik tiba-tiba Guntur dan pak Suro merasakan ada desiran angin menerpa tubuhnya. Sontak tubuh keduanya mengigigil kedinginan merasakan hembusan angin itu. Lalu tak lama setelah itu di hadapan Guntur dan pak Suro nampak sosok tubuh hitam berdiri 3 langkah di depannya. Guntur terpana melihat kemunculan genderuwo itu hingga tak mampu berkata-kata.
“Sssttt, ayo katakan Gun!” Bisik pak Suro sambil menyenggol lengan Guntur.
Guntur tersentak dari ketertegunannya, lalu segera tersadar dan langsung berkata; “Saya minta tolong, sembuhkan mbah Dadan!”
Suara Guntur terdengar bergetar sambil menatap sosok Genderuwo di hadapanya. Mahluk gaib penunggu pohon beringin itu menatap Guntur dengan dingin.
“Baik!” sahut Genderuwo.
Tanpa sadar Guntur masih termangu di tempatnya berdiri menatap mahluk gaib penunggu pohon beringin itu. Dalam kondisi kesadaran penuh, Guntur merasa bergidik mendengar suara Genderuwo yang sember dan besar itu.
"Kembali lah!" Kata Genderuwo lagi.
Suara sember dan besar itu kembali mengagetkan Guntur, ia seperti baru tersadar dan segera berkata, "Terima kasih."
Kalau sebelumnya ia juga mendengar suara genderuwo itu tanpa ada rasa takut, karena saat itu kondisinya dalam pengaruh amarah dan kepanikkan sehingga menghilangkan rasa takutnya. Tetapi sekarang dalam kondisi Guntur kesadaran sepenuhnya, ia benar-benar di buat ngeri melihat sosok Genderuwo seutuhnya.
"Ayo Gun," ajak pak Suro.
Pak Suro langsung menggandeng lengan Guntur yang masih tertegun di tempatnya. Keduanya langsung balik badan kembali ke dalam rumah mrninggalkan Karbala yang masih berdiri menatap kepergian Guntur dan pak Suro.
Sementara itu di dalam rumah di ruang tengah, Kunto, pak Asep dan Karmila tersentak kaget, tiba-tiba terdengar suara lenguhan mbah Dadan.
__ADS_1
"Aaaaakkkh...."
Semua mata terheran-heran memandang tubuh mbah Dadan tak lagi kaku, kedua tangannya yang semula merekat di dada kini terkulai kesamping kanan dan kirinya.
"Alhamdulillah..." pekik pak Asep girang melihat keadaan mbah Dadan yang terlihat sudah normal seperti sedia kala.
Mbah Dadan lantas bergerak bersusah untuk duduk, pak Asep dan Kunto yang melihat itu langsung membantunya.
"Saya... ada... di mana... pak... Asep...?" suara Mbah Dadan terbata-bata sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
"Mbah ada di dalam rumah bu Mila, mbah..." jawab pak Asep.
"Kunto? Kamu Kunto?" Tanya mbah Dadan terkejut melihat orang yang di cari-carinya kini ada di sampingnya.
"Muhun mbah..." sahut Kunto.
"Bagaiman kamu bisa kembali?" Tanya mbah Dadan lagi.
Sebelum Kunto menjawabnya, bersamaan itu muncul Guntur dan pak Suro di ruangan tengah dari belakang.
"Nak Guntur mbah Dadan sudah siuman!" seru pak Asep begitu melihat Guntur kembali.
"Alhamdulillah..." ucap pak Suro diikuti Guntur.
Sementara itu Karmila terlihat tersenyum kecil padahal di dalam hatinya begitu resah. Senyumnya hanya untuk menutupi perasaan tak tenang di hatinya. Karmila mendadak takut dan khawatir jika nanti Guntur memiliki kecurigaan dan menanyakan terkait Karbala.
"Mah, mamah!"
Karmila mengerjap kaget bahunya di guncang-guncangkan Guntur. Lamunan kecemasannya buyar seketika, "Ya Gun," sahut mamah Karmila spontan.
"Mamah dari tadi bengong aja, kenapa sih mah?" tanya Guntur.
Deg!
Jantung mamah Karmila berdegub kencang di tanya seperti itu. Dirinya tidak menyadari terhanyut ke dalam perasaan kecemasannya sendiri.
"Syukurlah, mamah hanya tertegun melihat mbah Dadan siuman Gun," jawab mamah Karmila spontan.
"O iya, Kun katanya mau cerita kalau Guntur sudah kembali. Nih, Gunturnya sudah disini," ujar mamah Karmila.
"Cerita apa sih mah?" Tanya Guntur bingung.
__ADS_1
"Itu bungkusan daun pisang itu tuh," kata mamah Karmila sambil menunjuk benda yang teronggok di tengah.
Guntur baru menyadarinya sekarang kalau Kunto membawa bungkusan itu sejak di ketemukannya tergeletak di bawah pohon beringin.
"Memang kenapa dengan bungkusan daun pisang itu, Kun?" Guntur mengalihkan pertanyaannya pada Kunto.
"Itu ikan goreng, saya beli di... di..." Kunto kelihatan bingung menjelaskannya.
"Beli dimana?" Guntur meneruskan kalimat Kunto nada bertanya.
"Anu, beli di... aduh, gimana menjelaskannya ya," ucap Kunto garuk-garuk kepalanya.
Pak Suro yang melihat Kunto seperti orang linglung lantas mengambil bungkusan daun pisang yang di katakan Kunto berisi ikan goreng.
"Coba lihat Kun," ujar pak Suro kemudian mengambil bungkusan daun pisang itu.
Perlahan-lahan pak Suro mulai membuka bungkusan daun itu. Setelah bungkusan daun pisang itu terbuka, semua mata terbelalak lebar memandang benda diatas daun pisang itu sambil berteriak mengucap istigfar.
"Astagfirullahal azim!"
Di dalam bungkusan daun pisang yang dikatakan Kunto sebelumnya adalah ikan goreng itu ternyata hanyalah pelepah daun pisang sebesar telqpak tangan orang dewasa yang sudah tidak utuh seperti ada bekas gigitan pada bagian pojoknya.
Kunto yang paling terkejut bukan kepalang, ia merasa sudah memakan pelepah pisang itu yang sebelumnya nampak ikan goren di matanya. Kontan saja Kunto merasa mendadak mual-mual serasa ingin muntah.
"Hoeeekhh... hoeeekkhh... hoeeekkkh..."
Kunto langsung bangkit dan berlari ke belakang menuju bak mandi. Mereka yang ada di situ hanya memandang heran melihat Kunto hendak muntah-muntah setelah melihat isi bungkusan daun pisang itu.
Beberapa saat kemudian Kunto sudah kembali ke ruang tengah sambil menenteng segelas air di tangannya. Wajahnya sedikit memerah, mungkin Kunto benar-benar memuntahkan isi perutnya.
"Kenapa sih Kun?!" Guntur langsung bertanya setelah Kunto kembali duduk di tempatnya.
"Sumpah, itu ikan goreng Gun. Saya tadi beli dua puluh ribu sama seorang ibu-ibu," ujar Kunto mengerutkan dahinya.
"Tadi? Beli dimana?" cecar Guntur penasaran.
"Tadi di, di... di... dimana ya?" Kunto kembali garuk-garuk kepala nampaknya susah untuk menjelaskannya.
"Ceritain deh, yang kamu alami sebelum kamu di temukan di bawah pohon itu," ujar Guntur.
Kunto kembali mengingat-ingat rangkaian peristiwa di alam yang tidak ia kenal. Bukan hanya membeli ikan goreng dan memakannya di dalam itu, namun juga beberapa peristiwa lainnya pun muncul di dalam ingatannya. Seketika kejadian-kejadian di alam asing itu baru dirasakannya aneh dan janggal sekarang.
__ADS_1
......................