TITISAN

TITISAN
SERGAP


__ADS_3

Suara letusan-letusan tembakkan dari dalam kamar nomor 20 terdengar hingga keluar dan langsung menarik perhatian orang-orang yang berada disekitarnya. Seketika suasana panik dan membuat heboh orang-orang yang sedang menunggui kerabatnya yang di rawat. Dari dalam kamar-kamar perawatan, orang-orang terlihat berhamburan keluar dari kamar. Mereka saling menatap satu sama lain mencari jawaban atas suara tembakkan tersebut. Tak lama kemudian tatapan para pengunjung rumah sakit yang berada di area perawatan VIP itu mengarah pada kamar nomor 20 bersamaan dengan pintu terbuka. Empat orang berpakaian preman nampak sedang menyeret seorang pria berbadan besar yang berlumuran darah dan meninggalkan noda diatas lantai yang memanjang membentuk garis.


“Mohon perhatian semuanya, sebelumnya kami memohon maaf telah mengganggu kenyamanannya, Kami petugas kepolisian sedang melaksanakan tugas meringkus pelaku kejahatan. Sekali lagi kami memohon maaf, silahkan kembali masuk dan beraktifitas seperti biasa, terima kasih.” Kata salah satu petugas berpakaian preman.


Sebagian orang yang menyaksikan kembali masuk ke kamarnya namun ada juga yang masih penasaran melihatnya hingga rombongan petugas yang menyeret penjahat itu berlalu meninggalkan kamar nomor 20.


Polisi membawa Carok ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang terletak di sisi samping gedung RSUD untuk dilakukan pengangkatan proyektil yang bersarang di betis, paha dan lengan kanannya.


......................


Di parkiran Rumah Sakit,


Gombloh, Cungkring dan Kancil duduk gelisah di dalam mobil sedan hitam, mata mereka tak berkedip memperhatikan lalu lalang orang-orag yang keluar masuk pintu masuk rumah sakit. Diantara lalu lalang orang tersebut terlihat dua orang pria yang nampak seperti layaknya orang selesai besuk berjalan keluar dari pintu utama rumah sakit.


Satu pria memakai celana pendek, kaos oblong bersandal jepit dan kepalanya memakai topi hitam, sedangkan pria satunya memakai kaos oblong dan celana jeans yang tampak kumal. Kedua pria tersebut nampak melihat kesekelilingnya sesaat dan terlihat bisasa-biasa saja seolah-olah sedang menunggu jemputan kendaraan. Pria yang satunya terlihat sedang menelpon sambil matanya menyapu keseluruh area parkir.


Kedua pria itu kemudian berjalan beriringan menuju parkiran lalu berhenti 10 langkah dibelakang mobil sedan hitam. Satu pria masih terlihat sedang menelpon dan seorang pria satunya yang berdiri disebelahnya nampak merogoh saku celana mengambil bungkus rokok lalu diambilnya satu batang dan menyalakannya.


Tak berselang lama, di pintu utama rumah sakit muncul seorang wanita berseragam perawat dan dibelakangnya diikuti dua orang pria yang terlihat seperti masyarakat biasa sehabis menjenguk orang sakit.


“Si bos lama banget ya,” gumam Cungkring di jok belakang.


“Kira-kira target kita ada di rumah sakit ini nggak ya?” tanya Kancil.


“Cih, harusnya yang kalian pikirkan itu, targetnya sudah mampus belum,” timpal Gombloh.


Tiga orang didalam mobil sedan hitam itu melihat semua aktifitas orang-orang tersebut. Tak seorang pun luput dari pengamatan Gombloh, Kancil dan Cungkring, namun mereka mèlihat aktifitas lalu lalang orang keluar masuk rumah sakit itu nampak wajar-wajar saja.

__ADS_1


“Sssttt... ssssttt.. itu Suster cantik banget yeuh!” kata Cungkring menekan suaranya.


“Mana, mana?” sergah Kancil sambil celingukkan melihat ke samping.


“Anjriit! Kalau saya punya istri suster itu saya mah berhenti melakukan kerjaan ini,” timpal Cungkring.


“Huh! Mimpi lu ketinggian Kring!” sungut Gombloh turut memperhatikan Suster yang berjalan didepan tempat mobilnya parkir.


Suster dan dua pria itu terlihat berdiri didepan mobil sedan hitam berjarak sekitar 10 langkah. Ketiga orang itu sejenak mengedarkan pandangannya seolah-olah sedang mencari mobilnya di parkiran.


“Tapi kira-kira siapa dua orang pria bersama suster itu ya?” gumam Cungkring lagi.


“Dilihat dari gerak-geriknya pastinya kedua pria itu bukan suaminya semua,” timpal Kancil.


Tiba-tiba ketiga orang didalam mobil sedan itu terkejut bukan main ketika jendela disamping Gombloh diketuk seseorang dari luar. Gombloh langsung menoleh, dilihatnya seorang pria berjaket parasit sedikit membungkuk memberi kode meminta Gombloh untuk keluar.


“Tukang parkir kali Bloh,” timpal Kancil.


Kancil dan Cungkring memperhatikan dari dalam mobil, terlihat pria yang tadi mengetuk jendela mobil berbicara agak menjauh lima langkah dari samping mobil. Kancil dan Cungkring penasaran, keduanya terus memperhatikan Gombloh dan pria itu tanpa mereka tahu apa yang sedang dibicarakan. Namun seketika wajah Gombloh terlihat berubah terkejut dan melihat pria itu mengeluarkan pistol dan menodongkannya.


“Cil, polisi Cil!” Pekik Cungkring langsung panik.


“Anjrit!” Teriak Kancil begitu melihat pri itu mengeluarkan borgol di tangan satunya.


Cungkring dan Kancil buru-buru membuka pintu mobil disebelahnya masing-masing bergegas untuk kabur. Akan tetapi begitu kedua pintu mobil terbuka, sepucuk pistol sudah menempel di kepala Cungkring dan Kancil.


“Angkat tangan!” hardik dua pria dikedua sisi mobil.

__ADS_1


Bersamaan itu pula seorang suster dan dua pria yang semula berdiri didepan mobil sedan hitam itu langsung berlari sambil mengeluarkan pistol dari balik bajunya. Ketiganya lantas berdiri siaga didepan mobil sedan hitam sambil mengarahkan pistol kedalam mobil.


Cungkring dan Kancil tak bisa berbuat banyak. Wajah pria berbadan kerempeng dan gemuk itu terlihat ketakutan dan pasrah.


Cungkring dan Kancil tak bisa berbuat banyak. Wajah pria berbadan kerempeng dan gemuk itu terlihat panik dan pasrah keluar dari dalam mobil. Keduanya tak berkutik ketika petugas berpakaian preman mengalungkan borgol dikedua tangannya kemudian digelandang untuk pengusutan lebih lanjut.


......................


30 Menit Sebelum Penyergapan,


Didalam ruang IGD, Carok terus-menerus mengerang kesakitan ketika dokter mengangkat proyektil yang bersarang di beberapa bagian tubuhnya. Operasi kecil pengangkataan proyektil peluru itu bagi Carok tak ubahnya seperti sebuah penyiksaan yang sakitnya tiada terkira. Satu demi satu peluru diambil menggunakan alat penjepit dimulai dari lengan kanan, lalu betis dan terakhir timah panas itu dikeluarkan dari paha.


Operasi berlangsung cepat hanya 15 menitan. Operasi kecil tanpa diberikan obat bius itu tentu saja membuat rasa sakit yang tak henti-hentinya dirasakan Carok. Lengkingan teriakkan demi teriakkan terdengar keras seiring dokter mengambil tiga peluru itu. Setelah selesai operasi, petugas langsung menginterogasi Carok. Dugaan polisi Carok datang bersama komplotannya.


“Dimana teman-temanmu yang lain?!” sentak petugas.


“Ddddi, di par..kir..an...” jawab Carok menahan sakit.


“Berapa orang teman-temanmu?!” tanya petugas lagi.


“Addd...a... ti.. ga...” jawab Carok terbata-bata.


“Mereka berada di mobil apa? Dimana posisi parkirnya?!” tanya petugas.


Dengan terbata-bata menahan kesakitan, Carok memberikan keterangan dengan detil mengenai posisi mobil, jenis mobil dan nama-nama beserta ciri anggota komplotannya.


Setelah mendapatkan informasi lengkap, pemimpin unit reskrim langsung membuat strategi penangkapan terhadap tiga rekan Carok yang sedang menunggu didalam mobil. Lima orang petugas berpakaian preman langsung bergerak menjalankan strategi penyergapan yang diinstruksikan komandan mereka.

__ADS_1


__ADS_2