
Sementara itu diluar area prosesi penebangan pohon, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Akan tetapi pagi ini belajar mengajarnya tidak seperti di tempat biasanya di dalam masjid.
Beberapa ustad dan ustdzah pembimbing sengaja mengumpulkan anak- anak santri dan santriwatinya di ruangan aula yang berada di samping kanan rumah utama sesuai dengan arahan dari haji Abas.
Sebelumnya haji Abas sudah memberikan penjelasan kepada para guru pembimbing bahwa pagi ini akan dilakukan penebangan pohon beringin. Dan untuk menghindari dampak yang berpotensi mengganggu para santri, dia meminta untuk memindahkan kegiatan belajar mengajarnya di ruang aula.
Para ustad dan usradzah pembimbing sangat memahami kemistisan pohon beringin itu. Haji Abas pun mewanti- wanti untuk tidak memberitahukan anak -anak santrinya agar tidak menimbulkan kegaduhan.
......................
Di sudut belakang halaman, saat ini tubuh Ki Wayan yang terdorong oleh hempasan angin kekuatan gaib yang datang dari pohon beringin, langsung berhenti setelah kedua tangannya berhasil mencengkeram rumput.
Setelah Ki Wayan dapat menahan dorongan itu dari sudut bibirnya nampak tersungging sebuah senyuman.
"Hehehehe... sesuai rencana!" seru Ki Wayan dalam hati.
Ki Wayan segera menyudahi meditasinya yang bertujuan untuk mengganggu mahluk gaib penunggu pohon beringin, Karbala. Dia sengaja melakukan itu untuk memancing Karbala keluar dari sarangnya.
Ki Wayan membuka isi tasnya yang diletakkan disampingnya bersama dengan gergaji mesin yang siap menyalak. Lalu tangannya merogoh sebuah benda yang terbungkus kain kresek berwarna hitam.
Berbekal pengalamannya, Ki Wayan sangat tahu betul dalam menghadapi mahluk dari golongan genderuwo. Dan semua itu sudah ia persiapkan semuanya.
Ki Wayan segera mengeluarkan semua barang- barang yang dibawanya dari dalam kantong kresek hitam tersebut. Dengan bekal yang sudah di persiapkan sebelumnya, Ki Wayan pun mulai melakukan proses siasatnya.
Pekerjaannya sebagai pengrajin ukiran meubeler, Ki Wayan harus mencari kayu- kayu pohon besar untuk di jadikan bahan meubelnya yang berkualitas. Seringkali ia harus keluar masuk hutan untuk mencari pohon tertentu sesuai pesanan.
Dan pada umumnya pohon yang di carinya itu merupakan pohon- pohon besar yang sudah berusia tua. Dan tak jarang pula nyaris 99 % pohon- pohon besar berusia tua itu dihuni oleh mahluk- mahluk gaib. Dan butuh upaya keras sebelum menebamgnya.
Setiap kali itu pula Ki Wayan harus bertarung terlebih dahulu menaklukkan mahluk gaib penghuni pohon tersebut.
Untungnya Ki Wayan sudah memiliki bakat kekuatan supranatural keturunan dari ayah dan kakek moyangnya, sehingga ketika dalam melakukan penebangan pohon yang dihuni oleh mahluk gaib tidak terlalu menyulitkannya.
__ADS_1
Pengalamannya sangat banyak, sudah bermacam- macam mahluk gaib sudah pernah dihadapinya, termasuk mahluk gaib jenis genderuwo.
Ilmu kebatinan Ki Wayan tergolong tinggi, sebab selama ini belum pernah menemui kendala berarti setiap kali berurusan dengan mahluk gaib penunggu pohon yang di tebangnya.
......................
Ki Wayan segera merogoh kantong kresek hitam mengambil barang- barang yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Yang pertama diambilnya adalah sebatang lilin merah besar ia keluarkan dan di letakkan di depannya. Sesaat kemudian Ki Wayan kembali mengambil barang berikutnya, kali ini ia menggenggam seonggok daging berwarna hitam.
Tersungging senyuman di bibir Ki Wayan, seraya berkata;
“Panggangan gagak ini saya hadiahkan untukmu!”
Ki Wayan sejenak celingukkan melihat keadaan sekelilingnya, ia menoleh ke arah kanannya lalu menoleh kebelakang. Keningnya mengerut terlihat sedang berpikir, lalu ia tersenyum sambil memandang sudut halaman depan rumah.
"Din..! Kemari cepat!" seru Ki Wayan kepada Udin sambil melambaikan tangan.
"Din kamu bakar daging ini di sudut pagar sana, cepat!" tegas Ki Wayan sembari memberikan lilin merah, korek api minyak dan daging panggang burung gagak pada Udin.
Udin segera menerima barang- barang itu kemudian cepat- cepat berlari menuju sudut halaman depan.
Prosesi penebangan pohon kali ini merupakan pengorbanan yang mahal bagi Ki Wayan, sebab burung gagak peliharaannya yang tinggal satu- satunya terpaksa harus disembelihnya untuk memuluskan siasatnya menaklukkan genderuwo.
Sehari sebelumnya setelah Udin mengabarkan kalau seorang temannya sedang mencari penebang pohon beringin itu, Ki Wayan langsung bisa menduga kalau penghuninya adalah genderuwo.
Karena pengalamannya yang sudah terbiasa menghadapi beragam mahluk gaib sehingga tak sulit baginya untuk mengetahui cara- cara mengatasinya.
Sudah Ki Wayan duga sebelumnya tidak ada mahluk gaib yang akan dengan suka rela tempat tinggalnya di hancurkan. Rata- rata mereka akan melakukan perlawanan terlebih dahulu walau pun pada akhirnya kalah dan terpaksa menyingkir atau pun di musnahkan oleh Ki Wayan.
Sementara itu di bawah kanopi belakang rumah tempat Haji Abas dan yang lainnya berdiri terus memperhatikan apa yang sedang dilakukan oleh Ki Wayan.
__ADS_1
Sementara itu Udin di sudut halaman depan nampak sudah mulai membakar seonggok daging hitam diatas nyala lilin merah. Tak butuh waktu lama tercium bau harum dari bakaran daging gagak itu hingga ke tempat haji Abas dan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian tiba- tiba mata haji Abas dan yang lainnya membelalak lebar! Mereka melihat dengan jelas dan nyata sosok mahluk berpostur besar mirip kera dengan dibalut bulu- bulu lebat hitam pekat disekujur tubuhnya muncul dari batang pohon beringin.
Beberapa saat kemudian tiba- tiba mata haji Abas dan yang lainnya membelalak lebar! Mereka melihat dengan jelas dan nyata sosok mahluk berpostur besar mirip kera dengan dibalut bulu- bulu lebat hitam pekat disekujur tubuhnya muncul dari batang pohon beringin.
Sosok itu mula- mula terlihat samar dan menyatu dengan batang pohon beringin yang besar. Tetapi tak lama kemudian sosok itu kian jelas menampakkan wujud kasarnya.
“Astagfirullah!!!” Pekik haji Abas dan yang lainnya bersamaan.
Mereka tersurut mundur melihat penampakkan mahluk di depan matanya yang teramat sangat mengerikan.
"Genderuwo!" suara haji Abas tercekat di kerongkongan.
Haji Abas bergidik ngeri, baru kali ini ia melihat penampakkan mahluk gaib dalam wujud nyata. Raut ngeri juga nampak pada wajah pak RT Parno dan ketiga ustad itu.
Di jarak pandang yang tak begitu jauh, mereka melihat sorot kedua mata mahluk itu menyala merah darah, taringnya yang besar berkilat putih mencuat di kedua sudut bibirnya yang meneteskan air liur. Lidahnya menjulur keluar dan nampak basah meneteskan air liur.
Kedua mata merah genderuwo yang bernama Karbala itu bergerak- gerak liar seperti mencari- cari sesuatu. Hidungnya yang kecil terlihat mengendus- endus bersamaan dengan gerakkan kepalanya mencari sumber bau daging panggang.
Sesaat kemudian mata merahnya menatap lurus ke kejauhan tertuju pada sudut halaman depan. Karbala terlihat bernafsu mengendus- endus bau panggangan daging gagak dan tidak menghiraukan keberadaan Ki Wayan.
Sementara Ki Wayan tak bergeming di tempatnya berusaha tak menimbulkan suara. Namun matanya terus memperhatikan dengan cermat pergerakkan Karbala.
Tak lama kemudian Karbala mulai bergerak. Perlahan- lahan tubuh gempal berbulu hitam lebat itu melangkahkan kakinya melewati posisi Ki Wayan yang masih duduk bersila.
Ki Wayan memiringkan badannya sedikit sambil menunduk manakala kaki besar Karbala lewat diatas kepalanya. Hempasan angin dapat dirasakan Ki Wayan saat kaki yang dipenuhi bulu lebat itu melintas.
......................
BERSAMBUNG....
__ADS_1