TITISAN

TITISAN
KELEMAHAN KARBALA


__ADS_3

Bandung, pukul 8.09 wib.


Kedatangan Wayan dan Udin di rumah haji Abas disambut baik oleh haji Abas yang didampingi beberapa ustad dan pak RT Parno. Pak RT Parno sendiri sebagai penghubung untuk mendatangkan Wayan dan Udin untuk menebang pohon Beringin.


Wayan dibantu Udin membawa alat perlengkapan menebang pohon seperti gergaji mesin, tambang dan perkakas laiñya. Keduanya berangkat menuju rumah haji Abras dengan menaiki sepeda motor selepas subuh hari.


“Assalamualaikum...” ucap Wayan berjalan di depan menuju haji Abas dan yang lainnya yang sedang menantinya di teras.


“Wa’ alaikum salam...” sahut haji Abas dan yang lainnya bersamaan.


“Nah, ini Ki Wayan dan yang itu Udin teman main waktu kecil saya dulu pak haji,” timpal pak RT Parno.


“Mari, mari.. ayo duduk dulu Ki, wedangan dulu,” sambut haji Abas.


Setelah Wayan dan Udin menyalami haji Abas dan yang lainnya, keduanya pun duduk di kursi yang sudah disediakan.


“Punten, mau minum apa Ki, pak Udin?” Sela salah satu ustad.


“Kopi hitam saja ustad, Din?” jawab Ki Wayan kemudian menoleh kearah Udin di sebelahnya.


“Abdi teh tubruk kang,” sahut Udin malu- malu.


Ustad yang menawarkan minum tadi pun langsung beranjak dari kursinya masuk ke dalam rumah.


“Mm, punten sebelumnya Ki sekedar memberitahukan saja. Pohon yang akan Ki Wayan tebang itu ada penunggunya,” kata haji Abas membuka obrolan.


“Oh, muhun, muhun pak haji. Ya, sudah lumrah kalau soal itu mah. Rata- rata pohon yang usianya sudah tua 99 persen pasti didiami mahluk halus,” ujar Ki Wayan.


Haji Abas manggut- manggut puas, ia merasa tenang dan yakin kalau pohon beringin itu bisa di singkirkan. Dari sorot mata Ki Wayan, haji Abas dapat merasakan kalau Ki Wayan memiliki kekuatan supranatural.


Sebetulnya haji Abas mengatakan itu hanya untuk menjajaki kemampuan ilmu kebatinan Ki Wayan untuk sekedar meyakinkannya.


“Punten pak haji, dimana pohon yang mau saya tebang?” Tanya Ki Wayan.


“Di belakang rumah Ki,” jawab haji Abas.


“Kalau begitu saya langsung ke lokasi saja pak haji, sambil menyiapkan peralatan,” ujar Ki Wayan.


“Loh, nggak nanti istirahat minum dulu Ki,” kata haji Abas.


“Biar di lokasi aja pak haji, keburu panas cuacanya,” ujar Ki Wayan.

__ADS_1


Setelah sempat nyasar dan berkeliling mencari alamat rumah yang diberikan oleh pak RT Parno, akhirnya Wayan dan Udin sampai juga. Andai saja keduanya sudah tahu rumahnya, mereka bisa sampak di rumah haji Abas sekitar pukul 7 pagi.


“Assalamualaikum...” ucap Wayan berjalan di depan menuju haji Abas dan yang lainnya yang sedang menantinya di teras.


“Wa’ alaikum salam...” sahut haji Abas dan yang lainnya bersamaan.


“Nah, ini Ki Wayan dan yang itu Udin teman main waktu kecil saya dulu pak haji,” timpal pak RT Parno.


“Mari, mari.. ayo duduk dulu Ki, wedangan dulu,” sambut haji Abas.


Setelah Wayan dan Udin menyalami haji Abas dan yang lainnya, keduanya pun duduk di kursi yang sudah disediakan.


“Punten, mau minum apa Ki, pak Udin?” Sela salah satu ustad.


“Kopi hitam saja ustad, Din?” jawab Ki Wayan kemudian menoleh kearah Udin di sebelahnya.


“Abdi teh tubruk kang,” sahut Udin malu- malu.


Ustad yang menawarkan minum tadi pun langsung beranjak dari kursinya masuk ke dalam rumah.


“Mm, punten sebelumnya Ki sekedar memberitahukan saja. Pohon yang akan Ki Wayan tebang itu ada penunggunya,” kata haji Abas membuka obrolan.


“Oh, muhun, muhun pak haji. Ya, sudah lumrah kalau soal itu mah. Rata- rata pohon yang usianya sudah tua 99 persen pasti didiami mahluk halus,” ujar Ki Wayan.


Haji Abas manggut- manggut puas, ia merasa tenang dan yakin kalau pohon beringin itu bisa di singkirkan. Dari sorot mata Ki Wayan, haji Abas dapat merasakan kalau Ki Wayan memiliki kekuatan supranatural.


Sebetulnya haji Abas mengatakan itu hanya untuk menjajaki kemampuan ilmu kebatinan Ki Wayan untuk sekedar meyakinkannya.


“Punten pak haji, dimana pohon yang mau saya tebang?” Tanya Ki Wayan.


“Di belakang rumah Ki,” jawab haji Abas.


“Kalau begitu saya langsung ke lokasi saja pak haji, sambil menyiapkan peralatan,” ujar Ki Wayan.


“Loh, nggak nanti istirahat minum dulu Ki,” kata haji Abas.


“Biar di lokasi aja pak haji, keburu panas cuacanya,” ujar Ki Wayan.


Kemudian haji Abas, Pak RT Parno, Ki Wayan, Udin dan tiga orang ustad berjalan menuju pohon beringin di belakang rumah.


......................

__ADS_1


Sebelumnya, pada pada malam hari sebelum Ki Wayan berangkat ke rumah haji Abas...


Pada tengah malam, di dalam ruang kamar khusus, Ki Wayan duduk bersila. Di hadapannya tersaji sesajen di atas nampan berupa kembang 7 rupa dan di tengah- tengah nampak teronggok pedupaan kecil yang mengeluarkan asap. Bau khas kemenyan menyerbak memenuhi ruangan kamar itu.


Ki Wayan menutup matanya rapat- rapat sembari mukutnya terus- menerus komat- kamit merapalkan sesuatu. Suaranya hanya terdengar samar- samar lebih mirip dengan suara gerendengan. Ki Wayan nampak sangat berkonsentrasi penuh.


Suasana tengah malam yang sangat dingin terasa sangat sunyi dan senyap, hingga suara serangga- serangga lembah di sekelilingnya yang sangat kontras terdengar saling bersahutan.


Setelah beberapa saat lamanya tubuh Ki Wayan nampak sedikit bergetar. Ekspersi wajahnya terkejut seperti sedang melihat sesuatu, kedua telapak tangannya mengepal erat dibarengi dengan gerakan mulutnya yang semakin cepat berkomat- kamit.


“Jagat batara Dewa!” Pekik Ki Wayan tersentak.


Namun keterkejutannya hanya sesaat, setelah itu ia tersenyum penuh makna sambil mengangguk- anggukkan kepalanya.


Kemudian Ki Wayan menyudahi terawangannya, ia membuka matanya perlahan lalu mengusapkan kedua telapak ke wajahnya.


“Genderuwo itu bukan sembarang genderuwo. Dia rajanya genderuwo, usianya sudah sangat tua,” gumam Ki Wayan sambil geleng- geleng kepala.


Kening Ki Wayan berkerut, otaknya berpikir untuk menyiapkan cara agar mahluk gaib penghuni beringin itu tidak membahayakannya saat pohon itu ditebang.


"Ini pasti sangat merepotkan!" pikirnya.


Sekian lamanya Ki Wayan terpekur mengingat- ingat kembali pengalaman- pengalamannya dalam menaklukkan berbagai macam mahluk gaib saat ia melakukan penebangan.


Ekspresi di wajahnya nampak berubah- ubah, kadang berkerut dalam- dalam kadang kembali datar tanpa ekspresi. Beberapa saat kemudian senyum di bibirnya tersungging.


Selain sebagai seorang pengrajin meubel yang memiliki khas ukirannya, Ki Wayan juga tak dapat dikatakan sebagai seorang penebang pohon. Sebab dua profesi itu sangat berkaitan erat, pengalamannya menebang bermacam jenis sangat lah banyak.


Begitu pula dengan hambatan- hambatan yang beragam yang harus ia hadapi dari gangguan- gangguan mahluk gaib yang mendiami pohonnya.


Setelah berhasil menemukan siasat untuk memuluskan pekerjaannya besok menebang pohon beringin, Ki Wayan pun segera menyiapkan segala sesuatunya.


"Sepertinya cukup membawa Ki Selo dan Ki Samber nyawa dan yang ini sebagi umpannya, hehehe.. " ucap Ki Wayan pelan lalu menyeringai.


Ki Selo dan Ki Samber nyawa yang disebutkan Ki Wayan tidak lain adalah dua benda berupa keris pusaka. Sementara yang disebutkan umpan merupakan sebuah barang yang terbungkus kain hitam.


Semua barang- barang itu ia masukkan kedalam satu tas khusus. Setelah dirasa semuanya lengkap, Ki Wayan pun menyudahi persiapannya untuk digunakan esok hari.


......................


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2