TITISAN

TITISAN
DUA SISI BERBEDA


__ADS_3

BANDUNG,


Pukul 14.10 wib, Mamah Karmila masih rebahan di ruang tengah sambil menonton televisi setelah Guntur dan Kunto pergi. Meski terlihat tenang tetapi perasaan gelisah dan berdebar-debar terlihat jelas pada raut wajahnya yang cantik. Rasa gelisah itu sudah dirasakannya semenjak Guntur dan Kunto pamitan pagi tadi. Dan dalam beberapa jam itu ia berusaha untuk tidak memikirkan hal-hal buruk terhadap Guntur dan Kunto, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan perasaan tidak tenangnya.


Praaank...!


Suara benda jatuh kontan saja membuat Karmilah terlonjak kaget tidak terkira. Karmila terlonjak dari rebahannya hingga terduduk di kursi risbangnya. Wajah langsung menoleh kesumber suara benda jatuh yang berasal dari ruang tamu. Kemudian Karmila bergegas bangkit melangkah tergesa-gesa menuju ruang tamu.


"Astaga!" pekik Karmila sambil menutup mulutnya.


Dibawah dinding terlihat pecahan kaca dari bingkai foto sudah hancur berserakkan. Pecahannya bertebaran kemana-mana.


"Guntur...." pekik Karmila.


Seketika tangan yang menutup mulutnya langsung bergetar, lututnya gemetar lalu tubuhnya lunglai menggelosoh terduduk diatas lantai. Degub jantungnya bedetak semakin cepat, angannya melambung jauh memperkirakan hal buruk terjadi menimpa Guntur dan Kunto. Beberapa lamanya Karmila terduduk lemas meratapi bingkai berisi foto Guntur yang hancur itu, air matanya mulai luruh mengalir di kedua pipinya. Kemudian sedetik berikutnya tiba-tiba dorongan akal sehatnya kembali berpikir positif, lalu Karmila segera bangkit mengambil telpon genggamnya berinisiatif menelpon Guntur untuk memastikan kabarnya.


Tut... tut... tut... tut..


Suara panggilan ke telpon seluler Guntur tidak dapat tersambung. Karmila mencoba kembali menekan nomor kontak Guntur.


"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan mencoba beberapa saat lagi." suara operator terdengar jelas.


Karmila terus mencoba menelponnya lagi hingga lebih dari 5 kali akan tetapi hasilnya sama saja nada suaranya "TIDAK DAPAT TERSAMBUNG." Karmila semakin panik, kemana lagi dirinya mencari informasi yang mengetahui kabar Guntur. Kunto! Karmila baru ingat kalau Guntur bersama Kunto, kemudian Karmila mencari nomor kontak Kunto dengan tangan gemetar.


Tut... tut... tut... tut..


Braaakkk!!!


Karmila melempar haprnya ke lantai hingga pecah. Tangisnya meledak tak bisa dibendung lagi. Bingung, cemas, panik, khawatir, marah, semua rasa itu menggumpal menjadi sebuah pergulatan didalam isi kepala Karmila. Disituasi seperti itu nalar seorang ibu lebih banyak berbicara, instingnya mendominasi akal sehat dan menjadikannya sebuah firasat buruk yang menyeretnya kedalam setengah keputur asaan.

__ADS_1


"Ya Tuhan, ada apa dengan anakku..." suara Karmila terdengar lirih.


......................


Hawa dingin malam hari tak menunda komplotan pembunuh bayaran melaporkan hasil misi yang sudah dilakukannya. Mobil sedan hitam terparkir dihalaman gedung kosong yang terbengkalai di tepi jalan Soekarno-Hatta Bandung. Kepulan asap rokok menyembul keluar dari èmpat sisi jendela mobil menunggu seseorang yang dijanjikan akan menemui mereka. Sekitar 15 menit kemudian terlihat sorot lampu sebuah mobil datang memasuki halaman gedung kosong tersebut. Mobil jenis sedan yang baru datang itu berhenti tepat menghadap mobil komplotan pembunuh bayaran dan langsung mematikan lampunya tanpa mematikan mesin mobilnya.


Pimpinan komplotan yang duduk di jok depan sebelah pengemudi langsung membuka pintu mobil untuk turun. Lelaki berbadan tegap mrmakai jaket kulit hitam itu berjalan ke sisi kiri pintu mobil sedan didepannya dan langsung membuka pintunya lalu masuk.


"Target telah ďimusnahkan boss," ucap pimpinan komplotan pembunuh bayaran dengan nada datar.


"Ini..." sambung lelaki berjaket kulit hitam kemudian menunjukkan beberapa foto pada lelaki kurus disebelahnya.


Lelaki kurus mengambil hape yang disodorkan pimpinan komplotan lalu diperhatikannya satu demi satu gambar didalam hape tersebut. Seringaian jahat merekah di bibir lelaki kurus itu melihat sebuah mobil berwarna putih berada didalam jurang dalam posisi tersangkut akar-akar pohon dan dalam kondisi rusak parah.


"Ambil tas di jok belakang itu, lalu segera menghilang dan jangan pernah hubungi saya lagi!" kata lelaki kurus menunjukkan tas yang teronggok di kursi belakangnya tanpa menoleh.


"Lihat ini! Hahahaha...." kata pimpinan komplotan sambil mengangkat tas hitam.


"Gampang betul mendapatkan dua ratus juta dalam sekejap. Kerjaannya enteng pula," timpal pria kurus di jok tengah.


Empat orang komplotan pembunuh bayaran itu tak lain adalah Si Bos, Gombloh, Kancil dan Cungkring yang mendapat order melakukan pembunuhan terhadap Guntur tanpa mempedulikan orang-orang yang bersama targetnya. Bagi mereka yang terpenting misi sudah dijalankan dan selesai lalu menerima bayarannya.


......................


"Hahahahaha... Akhirnya tak lama lagi perusahaan ini akan jatuh ketanganku juga," ucap pak Iwan di dalam hati sambil menyeringai.


Pandangan pak Iwan menatap keluar dinding kaca ruangannya memperhatikan para karyawan yang berada di area tem work yang sedang melakukan tugas di mejanya masing-masing. Saat itu juga mata pak Iwan terkesiap tak percaya melihat seorang pria muda nampak melintas melewati area team work. Pak Iwan mengucek-ngucek matanya lalu diperhatikannya pria muda yang sedang melintas itu dengan tatapan tak percaya. Kemudian dia kembali mengucek-ngucek matanya lagi dan cepat-cepat dilihatnya orang yang melintas tadi.


"Ah, pasti halusinasi. Tidak mungkin! Tidak mungkin!" teriak pak Iwan didalam hati dengan tangan terkepal kuat-kuat.

__ADS_1


Tok... tok... tok...


Suara ketukan di pintu ruangan itu seketika membuat pak Iwan terkejut bukan main. Gurat kepanikan jelas tergambar di wajahnya.


"Masuk!" seru pak Iwan.


Pak Aming muncul membuka pintu ruangan pak Iwan sambil membawa segelas air teh diatas baki.


"Permisi pak, ini pesanannya..." ucap Pak Aming, kemudian office boy itu meletakkan gelas itu diatas meja pak Iwan.


"Makasih pak Aming," ujar pak Iwan acuh.


"Oh iya pak, bapak diminta menemui pak Guntur di ruangannya. Saya permisi," kata pak Aming kemudian meninggalkan ruangan pak Iwan.


Deg! Jantung pak Iwan serasa berhenti berdetak mendengar pak Aming menyampaikan itu. Dada pak Iwan seketik berdebar-debar kencang, akalnya berusaha menolak mentah-mentah.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" hatinya berontak tak percaya.


Pak Iwan buru-buru meninggalkan ruangannya menuju ruangan Guntur yang berada di lantai dua. Sepanjang jalan melangkah, pak Iwan tak henti-hentinya mengutuk Norman si pemimpin komplotan pembunuh bayaran dalam hati sekaligus bercampur antara percaya dan tidak dengan hasil pekerjaan komplotan yang dibayar mahal itu.


Tok... tok... tok...


"Masuk!" sahut suara dari dalam ruangan Guntur.


Pak Iwan pun segera membuka pintunya penuh dengan rasa penasaran. Dan setelah pintu dibuka, seketika matanya terbelalak tak percaya dengan yang ia lihat.


......................


Karmila duduk diruang tengah sambil melihat tayangan televis sejak sore. Instingnya mengatakan kalau putranya sedang tidak baik-baik saja dan berharap Karmila mendapatkan kabar dari berita di televisi.

__ADS_1


__ADS_2