
"Kuburkan.. jasad... saya... dengan... semestinya..." kata wanita bergaun merah lirih.
Sontak saja pak Suro, Guntur dan Kunto bergidik ngeri. Isi kepanya langsung dipenuhi dugaan-dugaan buruk pada sosok wanita bergaun merah itu.
"Jasad kamu dimana?!" Tanya pak Suro kian bergetar suaranya.
Pak Suro sangat yakin sosok wanita bergaun merah itu merupakan arwah penasaran. Lalu kenapa sampai mahluk itu meminta menguburkannya dengan layak? batin pak Suro.
Pak Suro tertegun memandang sosok wanita bergaun merah yang kini menunduk muram. Raut mukanya yang tertutup rambut panjang sangat kontras manampakkan warna pucat pasi, wajahnya menunjukkan kesedihan mendalam.
Kunto yang semula terus bersembunyi di balik punggung pak Suro perlahan-lahan memberanikan diri melihat sosok wanita bergaun merah itu penuh dengan perasaan ngeri. Keberaniannya sedikit muncul setelah mendengar Guntur memaksanya untuk melihat sosok itu. Sementara Guntur sendiri masih terpana melihat wanita bergaun merah dengan segala bentuk menyeramkannya terus mengayun-ayunkan kakinya sambil duduk diatas tepi genteng.
Suara wanita bergaun merah terdengar sangat lembut namun terasa menyeramkan hingga membuat bulu kuduk meremang itu seakan-akan menghionotis ketiganya. Membuat pak Suro, Guntur dan Kunto kini sama-sama menatapnya tanpa berkedip dengan perasaan hampa.
Sesaat berikutnya pemandangan disekitarnya berubah total. Tidak ada lagi rumah megah bertype 54, tidak ada lagi taman luas dengan hamparan rumput hijau dan tidak ada lagi tanaman-tanaman bunga yang bertebaran menghiasi halaman.
Pak Suro, Guntur dan Kunto seolah-olah diperlihatkan keadaan pada masa lampau. Ketiganya kini berada pada dimensi keadaan dan kondisi tahun 1980-an, dimana kondisi di tempat yang sama belum semodern dan seramai saat ini.
Posisi Guntur dan yang lainnya seperti dibalik. Jika sebelumnya wanita bergaun merah muncul di kehidupan Guntur, pak Suro dan Kunto, kini ketiganya muncul berada dalam dimensi dimana masa wanita bergaun merah itu hidup. Guntur dan yang lainnya diperlihatkan suasana di tempat itu dengan suasana orang-orang dengan berpenampilan sangat jauh berbeda. Di masa itu yang paling mencolok sedang terndi dengan model pakaian kerah lebar dan cut bray, sedang wanitanya mengenakan rok atau dres panjang dengan ujungnya mengembang.
Guntur, pak Suro dan Kunto merasakan seperti dipertontonkan sebuah film dokumenter, ketiganya melihat keadaan masa lampau itu yang tampak nyata. Di seberang lokasi tempat ketiganya berdiri terlihat tanah lapang, nampak banyak mobil angkot keluar masuk di tempat itu dan nampak pula lalu lalang orang-orang hilir mudik. Ada yang keluar dari angkot dengan bermacam-macam bawaan di tangannya, juga ada yang memasuki angkot-angkot yang sedang nge-tem.
Beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi malam, tiba-tiba kilatan cahaya muncul dari jalan raya menuju ke tempat Guntur, Pak Suro dan Kunto berdiri. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah angkot yang mendadak berbelok ke tempat itu. Tempat itu merupakan tanah kosong yang dipenuhi semak belukar.
Guntur dan yang lainnya melihat dengan jelas angkot itu berhenti di tengah-tengah semak belukar hingga menutupi keberadaan angkot tersebut. Sesaat berikutnya angkot itu mematikan lampu dan mesinnya, disusul suara gaduh terdengar dari dalam angkot. Suara jeritan dan teriakkan-teriakkan ketakutan dari seorang wanita terdengar histeris di dalam angkot hingga nampak dari luar angkot itu berguncang-guncang.
__ADS_1
"Tolooong...!" teriak suara seorang wanita dari dalam angkot.
Guntur, pak Suro dan Kunto tertegun mendengar jelas teriakkan minta tolong itu namun ketiganya tak bisa melakukan tindakkan apapun. Mereka hanya terpaku melihat itu semua.
"Lepaskaaan... tolong lepaskan saya....!" suara wanita dari dalam angkot terdengar histeris ketakutan.
"Jangan.... jangaaaaan... aaaaakkkkh...!!!" suara teriakkan wanita itu untuk terakhir kalinya terdengar.
Beberapa lama kemudian dari pintu samping sebelah kiri angkot satu persatu keluar tiga orang pemuda dengan wajah sangar dan bertato sambil membenahi celananya.
"Gimana nih?!" kata salah satu pemuda itu.
"Lu sih pake di bunuh segala, ah repot jadinya kan?!" timpal yang lainnya.
"Ya habisnya gadis itu meronta-ronta terus," balas pemuda pertama.
"Benar juga, ayo ayo gali tanahnya!" seru slah satu pemuda.
Dengan menggunakan peralatan seadanya seperti sebatanh besi, dongkrak dan batang kayu mereka menggali tanah untuk menguburkan jasad perempuan yang barusan mereka perkosa.
Guntur, Pak Suro dan Kunto terlihat mengatupkan giginya penuh kegeraman melihat perbuatan ketiga pemuda itu. Nalurinya segera bertindak untuk menghajar tiga pemuda itu akan tetapi kaki mereka serasa tidak bisa di gerakkan dan hanya bisa menyaksikannya.
Sesaat berikutnya salah satu pemuda terlihat memyeret seorang tubuh wanita yang mengenakai pakaian long dres warna merah dari dalam angkot. Sekilas terlihat sosok wanita yang terkulai itu berkulit kuning langsat tertimpa sinar bulan purnama, wajahnya cantik dengan tubuh montok.
Sangat biadab sekali perbuatan ketiga pemuda itu, selain mereka memperkosanya, wanita itu juga di cekik dan di tikam dengan pisau. Namun entah sudah tak bernyawa atau masih hidup tetapi ketiga pemuda itu memasukkan tubuh wanita itu kedalam lubang yang telah di galinya.
__ADS_1
"Hahahahahaha.... beres!" ujar ketiga pemuda itu tergelak sambil menepuk-nepukkan telapak tangan membersihkan sisa-sisa tanah yang ada di tangan.
Lalu ketiga pemuda itu bergegas masuk kedalam angkot dan segera meninggalkan tempat itu dengan seringaian puas tergambar di wajah ketiga pemuda. Angkot itu jelas melintas di hadapan Guntur, pak Suro dan Kunto, tetapi mereka hanya terdiam terpaku menatap kepergian angkot itu.
Guntur, pak Suro dan Kunto terlihat sangat geram, ingin rasanya menghentikan angkot itu dan menghajar ketiga pemuda berandalan itu namun lagi-lagi Guntur dan yang lainnya tak bisa menggerakkan kakinya sama sekali bahkan mulutnya pun terasa kelu seperti terkunci tak dapat meneriakinya.
Setelah angkot itu tak terlihat oleh pandangan Guntur, pak Suro dan Kunto, tiba-tiba suasana masa lampau itu lenyap seketika. Suasana telah kembali berganti dimana Guntur dan yang lainnya berdiri di halaman samping rumah dengan cahaya-cahaya lampu meneranginya.
Guntur, pak Suro dan Kunto seketika terkesiap. Mereka seolah tersadar dari situasi yang sepintas di lihatnya. Ketiganya langsung memutarkan kepalanya melihat keadaan di sekelilingnya yang terang benderang dan terdengar keramaian kendaraan dari jalan raya.
"Astagfirullah!" gumam pak Suro dengan suara ditekan.
"Apa yang terjadi barusan pak?!" tanya Guntur masih dengan wajah kebingungan.
"Iya pak, kok..." timpal Kunto yang tercekat penuh kebingungan pula.
"Kita barusan di perlihatkan satu peristiwa tentang wanita bergaun merah itu!" kata pak Suro, seketika teringat dengan wanita yang duduk dengan kaki menjuntai diatas tepi genteng.
Guntur dan Kunto reflek mengikuti pandangannya pak Suro yang mengarah pada sosok wanita bergaun merah itu. Akan tetapi ketiga-tiganya kembali terkesiap, soaok wanita bergaun merah itu sudah tak ada lagi di tempatnya. Di saat masih tertegun, tiba-tiba terdengar suara wanita yang begitu halus menggema di halaman rumah,
"Aku akan pergi jika jasadku di kubur dengan layak. Aku sudah ikhlas menerima nasib atas kematianku dan aku juga sudah membalaskan perbuatan tiga orang itu yang tak kalah menyakitkannya..."
Guntur, pak Suro dan Kunto dibuat ternganga mendengar suara wanita itu yang entah dari mana asalanya. Tapi yang jelas suara itu terdengar jelas dan dekat di telinga mereka.
......................
__ADS_1
🔴 BERSAMBUNG....