
Rumah Tahfiz, pukul 7.49 wib...
Di teras depan, haji Abas beserta pak RT Parno dan 3 orang ustad pembimbing santri tahfiz sedang mengobrol sambil menunggu kedatangan seseorang.
“Kok belum datang aja ya pak RT, sudah mau jam 8 nih,” ucap haji Abas.
“Iya ya, saya telpon tadi pagi sih katanya baru saja berangkat menuju kesini,” jawab pak RT Parno.
Tiba- tiba terdengar suara klakson mobil dari luar pagar. Haji Abas dan yang lainnya kontan menoleh melihat ke sumber suara.
“Ki Wayan naik mobil pak RT?!” Tanya haji Abas menduga- duga.
“Ah, nggak mungkin pak haji. Udin bilang naik sepeda motor,” ujar pak RT Parno.
“Ustad punten, bukain gerbangnya mungkin tamu tahfiz.” Kata haji Abas pada ustad- ustad pembimbing.
Salah seorang ustad langsung beranjak dari kurainya dan melangkah menuju gerbang pagar untuk membukakannya.
Tak lama kemudian sebuah mobil Fajero warna putih pun memasuki halaman depan rumah tahfiz. Mobil itu berhenti tepat lurus menghadap tempat haji Abas dan yang lainnya duduk di kursi teras.
Haji Abas, pak RT Parno serta ustad- ustad hanya memperhatikan dan menduga- duga sambil menanti siapa tamu yang datang itu.
Kemudian dari kedua pintu depan sisi kanan dan kiri mobil keluar dua orang pria muda dan seorang perempuan cantik.
“Assalamualaikum...” ucap pria muda sambil melangkah menghampiri haji Abas dan yang lainnya.
“Wa’ alaikum salam...” sahut haji Abas dan yang lainnya bersamaan.
Wajah haji Abas kontan sumringah melebarkan senyuman ramahnya setelah melihat kedua orang yang datang itu.
Kedua orang itu tak lain adalah Guntur dan mamahnya, Karmila. Keduanya melangkah beriringan menuju teras dimana haji Abas dan yang lainnya duduk, lalu menyalami satu persatu.
“Masya allah, pak Guntur... ibu Mila, mari, mari...” sambut haji Abas menyambut uluran jabat tangan Guntur, kemudian mempersilahkan Guntur dan Karmila duduk.
“Bu Mila... Apa kabarnya bu?” ucap pak RT Parno saat menyambut ukuran tangan Karmila.
“Mmm... pak.. pak RT?” Karmila ragu- ragu menyebutnya sambil mengingat- ingat orang itu.
__ADS_1
“Muhun bu Mila,” sahut pak RT Parno tersipu- sipu.
Meski pun sudah 24 tahunan tidak pernah bertemu, namun perasaan debar- debar di dadanya masih saja muncul manakala melihat Karmila.
Dulu pak RT Parno yang masih gagah sempat mencoba peruntungannya berusaha mengambil simpatik dari Karmila dengan beragam alasan agar bisa bertandang kerumah mendekati Karmila disaat Aryo sedang di kantor.
Padahal saat itu Karmila sendiri tidak pernah mengambil hati sedikit pun dan menemui pak RT Parno hanya sebatas rasa hormat dan menghargainya sebagai tamu.
Namun keramahan Karmila ditanggapi lain oleh pak RT Parno yang merasa mendapatkan lampu hijau. Hal itu pula yang membuat pak RT Parno terlihat gerogi saat ini.
Karmila dan Guntur duduk di kursi di sebelah haji Abas, tanpa sadar pandangannya menjelajah ke berbagai sudut rumah yang dulu di tempatinya.
Bayangan- bayangan kenangan langsung menggambar di kepala Karmila saat kedua mata lentiknya memperhatikan sudut demi sudut rumah dan halaman yang tak banyak berubah tersebut.
Lain halnya dengan Guntur, dirinya benar- benar merasa heran sejak memasuki halaman dan memarkirkan mobilnya. Sebab berkumpulnya haji Abas, pak RT Parno dan 3 orang ustad itu sama persis seperti yang ada didalam mimpinya subuh tadi.
“Pasti pak haji sedang menunggu orang yang akan menebang pohon beringin,” batin Guntur.
Situasi saat ini dirasakan Guntur seperti tidak asing lagi dan seperti pernah melihatnya.
“Eh, iya pak haji. Ya sekedar mampir saja kebetulan lewat jalan ini, bolehkan pak haji,” jawab Guntur basa- basi menyembunyikan niat yang sebenarnya.
Karmila langsung tersenyum meng- iyakan ucapan Guntur. Seketika itu pula Karmila baru menyadari kalau situasi yang dilihatnya saat ini seperti pernah dilihatnya. Ya, situasinya sama persis seperti yang di lihatnya di dalam mimpinya.
“Ini pasti sedang menunggu dua orang yang akan menebang pohon beringin,” batin Karmila.
Pemikirannya sama persis dengan apa yang menghantui pikiran Guntur saat ini. Rasanya ingin sekali menengok ke halaman belakang untuk melihat pohon beringin.
Tepat ketika pukul 8.09 wib, terlihat sepeda motor datang memasuki halaman dan berhenti di samping mobil Guntur.
Deg!
Jantung Karmila dan Guntur serasa berhenti berdetak saat melihat dua orang yang turun dari sepeda motor itu.
“Assalamualaikum...” ucap Ki Wayan berjalan di depan menuju haji Abas dan yang lainnya yang sudah menantinya di teras.
“Wa’ alaikum salam...” sahut haji Abas dan yang lainnya bersamaan.
__ADS_1
“Nah, ini Ki Wayan dan yang itu Udin teman main waktu kecil saya dulu pak haji,” timpal pak RT Parno.
Kedatangan Wayan dan Udin di rumah haji Abas disambut dengan ramah oleh haji Abas yang didampingi beberapa ustad, pak RT Parno.
Guntur dan mamah Karmila tertegun melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Lagi-lagi situ ini sama persis seperti yang dilihatnya dalam mimpi.
Guntur dan mamah Karmila memperhatikan Ki Wayan bersama Udin yang membawa dua karung yang berisikan alat perlengkapan menebang pohon seperti gergaji mesin, tambang dan perkakas laiñya.
Guntur dan mamah Karmila saling memendam apa yang dialami didalam mimpinya. Karena keduanya sama- sama tidak saling menceritakan tentang mimpinya.
Guntur dan mamah Karmila terus merasakan situasi dan kondisi yang tidak asing dilihatnya sambil menduga- duga situasi berikutnya. Apa yang dilihatnya itu sama persis dengan yang ada di mimpinya.
Setelah Wayan dan Udin menyalami haji Abas dan yang lainnya, keduanya pun duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Punten, mau minum apa Ki, pak Udin?” Sela salah satu ustad.
Melihat seorang ustad menawarkan minum itu wajah Guntur dan mamah Karmila nampak terkesiap.
“Pasti dia minta kopi hitam sama teh tubruk,” kata Guntur menebak dalam hatinya menyamakan pada peristiwa di dalam mimpinya.
“Kopi hitam dan teh tubruk...” dugaan Karmila pun demikian mengingat seperti yang dilihatnya dalam mimpi.
“Kopi hitam saja ustad, Din?” jawab Ki Wayan kemudian menoleh kearah Udin di sebelahnya.
“Abdi teh tubruk kang,” sahut Udin malu- malu.
Seketika wajah Guntur dan mamah Karmila terkesiap. Mimpi itu memang sama persis dengan situasi saat ini
“Mm, punten sebelumnya Ki sekedar memberitahukan saja. Pohon yang akan Ki Wayan tebang itu ada penunggunya,” kata haji Abas membuka obrolan.
“Oh, muhun, muhun pak haji. Ya, sudah lumrah kalau soal itu mah. Rata- rata pohon yang usianya sudah tua 99 persen pasti didiami mahluk halus,” ujar Ki Wayan.
Dada mamah Karmila kian berdebar- debar mendengar percakapan tersebut. Percakapan itupun samar- samar sudah di dengarnya di dalam mimpi.
Guntur pun mengalami hal yang sama, jantungnya langsung berdegup kencang karena percakapan itu nyata sudah di ketahuinya.
......................
__ADS_1