
Udara terasa semakin dingin dirasakan pak Suro. Pak Suro melihat kearah jam dinding yang tergantung di tembok sebelah kirinya, jarum jam sudah menujukkan pukul 8 malam. Pak Suro buru- berdiri seketika teringat dengan Guntur dan Kunto yang ada di rumah sakit.
"Pak Suro mau kemana?!" tanya haji Abas terkejut melihat pak Suro tiba- tiba berdiri dari kursinya.
"Saya harus kembali ke rumah sakit pak haji," tegas pak Suro.
"Apakah kondisi pak Suro sudah kuat?" tanya haji Abas merasa khawatir.
"Saya tidak apa- apa pak haji, saya langsung pamit ya, terima kasih atas pertolongannya," kata pak Suro menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Biar saya antar saja pak Suro, punten pisan pak Suro saya khawatir dan masih belum yakin dengan kondisi pak Suro," ujar haji Abas.
"Ah, saya tidak apa- apa pak haji. Tidak usah repot- repot pak haji, saya bisa naik angkot," sergah pak Suro tak mau merepotkan haji Abas karena merasa tidak enak.
"Ini sudah jam 8 lebih pak, kemungkinan angkot dari sini sudah tidak ada," kata haji Abas.
Pak Suro tertegun mendengar penjelasan haji Abas. Wajahnya tampak bingung karena sudah menolak tawaran haji Abas, bagaimana dirinya bisa ke rumah sakit?
"Sudah jangan bingung pak Suro, mari saya antar, sekalian saya juga ingin membicarakan masalah ini dengan pak Guntur," kata haji Abas melihat pak Suro kebingungan.
"Tapi sebaiknya kita sholat isya dulu ya pak Suro," sambung haji Abas.
"Astagfirullah, saya juga melewatkan sholat magrib," sahut pak Suro.
Haji Abas mengajak pak Suro masuk ke dalam untuk melaksanakan sholat isya di dalam rumah. Sekaligus pak Suro mengkodho sholat magrib yang terlewatkan.
Sebelumnya haji Abas telah meminta Ustad Hadi menyampaikan pesan untuk ustad pembimbing lainnya agar menggantikan mengimami sholat isya karena dirinya harus menemani pak Suro yang kondisinya masih belum stabil.
Setelah beberapa saat lamanya, haji Abas dan pak Suro pun selesai melaksanakan sholatnya.
"Mari pak Suro kita berangkat," ajak haji Abas.
"Muhun," sahut pak Suro.
Pak Suro mengangguk mengiyakan
ajakan haji Abas. Kemudian turut berdiri mengikuti haji Abas keluar menuju
mobil yang di parkir di depan rumah.
......................
Rumah Sakit, kamar no 15,
Guntur berjalan mondar- mandir di
samping ranjang rumah sakit dimana Kunto berbaring. Seringkali Guntur melihat jam tangannya dengan wajah harap- harap cemas. Semenjak pak Suro berpamitan pergi ke rumah Thfiz untuk melakukan negosiasi dengan Karbala, kondisi Kunto hingga 3 jam lebih tidak mengalami perubahan apapun.
“Apa yang terjadi dengan pak Suro? Apakah dia gagal dengan rencananya?” Guntur bertanya- tanya dalam hati.
Sesekali Guntur memperhatikan Kunto yang tampak memejamkan mata tak bergerak setelah diberikan obat penenang oleh dokter Hilman. Pandangan mata Guntur terus saja memperhatikan sekujur badan Kunto dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan rasa iba sekaligus bingung dengan apa yang sedang menimpa sahabat karibnya tersebut.
“Kamu kenapa Kun?” gumam Kunto
__ADS_1
muram.
Guntur terlihat sangat gundah, jauh
di dalam lubuk hatinya dirinya sangat mengkhawatirkan keselamatan Kunto. Beragam pikiran- pikiran buruk sempat terlintas di benaknya, bagaiaman jika Kunto sampai meninggal dunia? Bagaimana jika keluarganya menuntut mempertannyakan sebabnya? Lalu apa yang akan dirinya jelaskan mengenai penyebab Kunto meninggal?
“Apa saya kabari saja keluarganya ya…?” tanya Guntur dalam hati, ia nampak dalam kebimbangan.
Guntur kembali berpikir dan menimbang- nimbang untuk memberikan kabar pada keluarganya Kunto. Ada hal yang tak ingin Guntur melakukannya, yang utama adalah dirinya tak ingin membuat kedua
orang tua dan adik Kunto merasa cemas dan khawatir. Dan yang kedua berkaitan dengan sakitnya Kunto yang tak wajar, hal ini pula yang sangat membebani pikirannya. Bagaimana dirinya menjelaskan semua itu pada keluarganya.
“Haaahhhh… ya tuhan apa yang harus
saya lakukan???” guntur menghempaskan nafasnya kuat- kuat seolah- olah ingin melepaskan beban cemas yang menderanya saat ini.
Tok… Tok… Tok…
“Assalamualaikum…” ucap suara dari
luar pintu kamar inap.
“Wa alakum salam,” sahut Guntur sedikit terkejut, lalu berjalan kearah pintu dan membukakannya.
“Pak Suro? Pak Haji Abas? Apa yang
telah terjadi?!” tanya Guntur cemas melihat kondisi pak Suro yang wajahnya tampak masih terlihat pucat.
“Kita duduk di luar saja pak Guntur,
“Iya pak Haji, mari,” Guntur pun
mengiyakannya, lalu berjalan keluar dari kamar rawat dan duduk di kursi yang berada di depan kamar tersebut.
Setelah ketiganya duduk, haji Abas
pun mulai menceritakan tentang pak Suro yang di temukannya dalam keadaan sudah tergeletak tak sadarkan diri sehingga menyebabkan kondisinya masih terlihat lemah dengan wajah pucat sampai saat ini.
“Namun pak Guntur, saya sendiri
tidak mengetahui kejadiannya seperti apa karena sebelumnya saya merasakan ada getaran seperti terjadi gempa. Sampai- sampai santri- santri saya pun menganggapnya getaran tersebut benar- benar gempa, namun saya langsung berpikir lain. Ingatan saya saat itu juga teringat dengan pak Suro, dan benar saja saya melihat pak Suro sudah tergeletak di bawah pohon beringin,” terang haji Abas.
“Karbala…!” gumam Guntur, wajahnya seketika membesi. Kedua tanganya terkepal didorong oleh rasa geram karena telah membuat pak Suro sampai
seperti itu.
“Apa yang diceritakan pak haji Abas
memang benar Gun. Dan rencana bapak sepertinya tidak bisa berlanjut, dia begitu kuat Gun,” timpal pak Suro.
“Mm, saya sebelumnya meminta maaf
pak haji. Karena saat transaksi penjualan rumah itu saya tidak menceritakan tentang pohon beringin di belakang rumah itu,” ungkap Guntur merasa bersalah. Dan ia menduga kedatangan haji Abas menemuinya pasti untuk meminta pertanggung
__ADS_1
jawaban dengan adanya pohon tersebut yang sebenarnya merupakan tempat tinggal mahluk gaib genderuwo.
“Saya tidak bermaksud mempermasalahkan itu pak Guntur, walau pak Guntur tidak memberitahunya sebenarnya
saya sudah mengetahuinya sejak awal. Dan saya pikir pada saat itu hal- hal
semacam ini gampang untuk saya singkirkan, tapi…” haji Abas menghela nafas sejenak lalu melanjutkan ucapannya.
“Tapi ya sudahlah saya tidak meminta
kompensasi apa- apa pak, saya datang kesini yang pertama untuk mengantarkan pak Suro dan yang kedua saya ingin menanyakan sejarahnya pohon beringin tersebut
serta apakah ada kejadian- kejadian yang merugikan pak Guntur dan keluarga selama menempati rumah tersebut?” tanya haji Abas.
Guntur tak langsung menjawab, ia
nampak sedang mengingat lagi masa- masa tinggal di rumah tersebut. Namun yang dia ingat hanyalah sekrimit- sekrimit rumah tangga orang tuanya, dirinya memang tidak pernah mengalami hal- hal mistis berkaitan dengan mahluk penghuni pohon
beringin tersebut.
“Semenjak dari kecil hingga saat ini
dan terakhir tinggal di rumah itu saya sendiri tidak pernah sekalipun diganggu atau mendapat teror apapun selama menempati di rumah itu pak haji. Makanya sewaktu saya menjual rumah tersebut tidak ada yang perlu saya ceritakan,” kata Guntur jujur.
“Tapi apa kaitannya pak Suro
mendatangi beringin itu yang katanya untuk menyelamatkan sahabat pak Guntur?” tanya haji Abas.
“Ceritanya cukup rumit pak haji, ada
yang mengatakan kalau Kunto sahabat saya itu sebelumnya melihat sesuatu, tapi entah apa dan jawabannya hanya ada pada Kunto sendiri kuncinya,” ungkap Guntur.
“Itu kejadiannya dimana sewaktu mas
Kunto itu ditemukan pak Guntur?” tanya haji Abas semakin dibuat penasaran.
“Di rumah baru saya pak haji,” jawab
Guntur muram.
“Lalu kenapa sampai bisa mengarah
pada mahluk penghuni beringin tersebut sebagai penyebabnya?” tanya haji Abas.
Guntur lantas menoleh pada pak Suro
yang duduk disebelahnya untuk menjelaskannya, sebab Guntur sendiri mendapat informasi tersebut dari pak Suro dan sepertinya pak Suro sangat tahu banyak tentang Genderuwo
tersebut. Pak Suro memahami isyarat dari Guntur, lalu ia pun menjelaskannya
dengan gamblang tanpa ada yang ditutup- tutupinya tentang keberadaan Karbala. Akan tetapi hanya satu yang pak Suro tutupi, yakni tentang hubungan spesial antara
Guntur dan Genderuwo tersebut.
__ADS_1
Haji Abas nampak mulai memahami
situasi dan kondisinya sekarang, ia meanggut- manggut mengerti sembari ikut memikirkan jalan keluarnya untuk menolong Kunto. * BERSAMBUNG