TITISAN

TITISAN
RENCANA PAK SURO


__ADS_3

Kamar rawat nomor 15,


Diatas ranjang putih, tubuh Kunto terlihat sudah kembali terkulai lemas setelah diberikan suntikan obat penenang.


Otot- otot pada wajah Kunto yang sebelumnya terlihat jelas setelah kembali memgalami kontraksi hebat akibat pengaruh obat penenangnya hilang, kini perlahan- lahan sudah terlihat mulai normal.


Namun kerutan- kerutan di dahi Kunto bekas ketegangan itu masih terlihat jelas.


“Pak Guntur, ini harus segera diatasi. Kasihan mas Kunto, dia pasti merasa tersiksa sekali dengan keadaannya,” ucap dokter Hilman.


“I, iy, iyya dok. O iya, ini kenalkan pak Suro saudara saya dok. Beliau yang akan berusaha mengupayakan memberikan bantuannya,” ujar Guntur.


Pak Suro mengangguk ramah lalu mengulurkan jabat tangannya pada dokter Hilman. Dokter Hilman pun langsung menyambut uluran tangan pak Suro seraya berkata;


“Tolong bantu mas Kunto secepatnya ya pak.”


“Insya Allah dok,” jawab pak Suro sembari menganggukkan kepalanya.


“Kalau begitu saya pamit saya tinggal dulu pak Guntur, pak Suro.” Kata dokter Hilman sambil memberesi kertas- kertas diatas meja di samping ranjang.

__ADS_1


“Baik dok, terima kasih sebelumnya,” ucap Guntur kemudian mengantar dokter Hilman hingga sampai di pintu.


Setelah dokter Hilman keluar, pak Suro kemudian berjalan menghampiri Guntur yang hendak menutup pintu.


“Gun, sebaiknya bapak berangkat sekarang ya. Waktunya cukup mepet, dua jam lagi akan memasuki waktu magrib,” kata pak Suro sambil menepuk punggung Guntur.


“Oh, i, iya pak.” Balas Guntur sedikit terkejut.


“Sebentar pak!” kata Guntur tiba- tiba.


Pak Suro yang hendak berjalan keluar kamar seketika menghentikan langkahnya tepat di tengah pintu.


“Ada apa Gun?” tanya pak Suro mengerutkan dahinya.


“Tidak perlu Gun, bapak ada uang!” sergah pak Suro.


“Tapi pak...” timpal Guntur kaget dengan penolakkan pak Suro.


“Udah nggak apa- apa Gun. Bapak pergi sekarang ya, assalamualaikum...” ucap pak Suro.

__ADS_1


"Wa' alaikum salam, hati- hati ya pak." balas Guntur sambil berjalan mengantar pak Suro hingga di depan pintu kamar.


Guntur memandangi punggung pak Suro yang melangkah di koridor rumah sakit sampai tak terlihat lagi hilang dibalik persimpangan koridor.


......................


Lalu lintas sore hari kota Bandung tampak ramai lancar. Pak Suro duduk di bangku sebelah kanan persis dibelakang sopir angkot yang berwarna hijau jurusan Ci Caheum – Kebon Kelapa.


Di dalam angkot penumpangnya tak begitu penuh. Ada dua orang pria muda yang duduk di depan pak Suro, dari penampilannya nampaknya dua pemuda itu adalah mahasiswa.


Di sebelah kiri pak Suro ada seorang ibu- ibu paruh baya membawa keranjang sayuran, sepertinya habis belanja dari pasar. Dan di sudut belakang deretan pak Suro duduk seorang gadis seumuran anak SMA.


Pikiran pak suro larut ke dalam rencana yang sudah di susun sebelumnya. Ia memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi dengan dua planingnya yang akan ia jalankan ketika menghadapi Karbala.


Di dalam hatinya pak Suro sibuk merangkai kata- kata pada saat berbicara dengan Karbala nanti. Berulangkali pak Suro mengucapkannya dalam hati merangkai kalimat agar nantinya tidak memicu kemarahan mahluk genderuwo tersebut.


Beberapa saat lamanya akhirnya sampailah angkot yang dinaiki pak Suro melintas di lampu merah di seberang depan rumah Thafiz. Pak Suro segera berseru untuk berhenti;


"Kiri... Kiri...!"

__ADS_1


Pak Suro bergegas turun dari angkot lalu membayar ongkos dengan uang pas mengulurkan tangannya dari sisi jendela sebelah kiri kepada si sopirnya.


......................


__ADS_2