TITISAN

TITISAN
PENCARIAN


__ADS_3

Setelah mobil yang di naiki Guntur hilang dari pandangannya, pak Asep pun bergegas beranjak dari tempat duduknya keluar meninggalkan rumahnya.


"Ambu! Bapak pergi dulu mau ke rumah Mbah Dadan!" teriak pak Asep dari depan pintu rumah.


"Muhun!" sahut suara perempuan 50 tahuan dari dalam rumah.


Pak Asep berniat menemui orang pintar di kampungnya yang rumahnya berada di tepi sungai. Jaraknya kurang lebih hanya 500 meteran dari rumah pak Asep dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan masuk gang-gang kecil.


Mbah Dadan merupakan salah satu warga di kampung itu yang cukup di segani karena terkenal memiliki ilmu kebatinan. Entah tingkat ilmu kebatinannya tinggi atau rendah namun yang jelas Mbah Dadan menjadi andalan warga setempat untuk di mintai pertolongan berbagai macam persoalan, mulai dari mengobati orang sakit, kesurupan, pengasihan hingga kekayaan.


Untuk jenis pertolongan yang terakhir itu yakni 'KEKAYAAN' sedikit di ragukan. Jika masyarakat mau berpikir logis, Mbah Dadan sendiri hidup di dalam sebuah rumah yang masuk ke dalam golongan rumah tidak layak huni. Lalu bagaimana bisa sugestinya dapat memberinya petunjuk kekayaan?


Jika benar Mbah Dadan dapat memberikan jalan kekayaan lalu kenapa dia sendiri hidup tidak dalam gelimang harta kekayaan? Pertanyaan akal sehat seperti ini biasanya akan tersamarkan oleh satu alibi, yaitu PANTANGAN. Alasan pantangan itu membuat imej di mata masyarakat menguat dan menjadi maklum kenapa kehidupan Mbah Dadan tidak menjadi orang yang kaya.


"Punteeeen... Mbah..." ucap pak Asep di depan pintu rumah sangat sederhana itu.


"Mangggaaaa..." tak lama suara lelaki tua terdengar menyahut dari dalam rumah.


Kreeeeooooottttt....


Andaikan malam hari, suara derit pintu itu terdengar sangat menakutkan. Suaranya seperti menyimpan aura magis yang sangat kental terasa di telinga.


"Eee, pak Asep, mangga, mangga kaleubeut..." sambut Mbah Dadan begitu melihat tamunya.


Pak Asep pun masuk dengan mencopot sandalnya lebih dulu di depan pintu. Di dalam rumah itu pak Asep di persilahkan duduk diatas tikar pandan di ruangan yang menjadi ruangan tamu namun tanpa ada kursi maupun perabotan rumah lainnya. Hanya ada meja yang membatasi jarak Mbah Dadan dan Pak Asep dan diatas meja ada pedupaan yang terlihat sudah usang.


"Ada keperluan apa pak Asep datang ke sini?" tanya Mbah Dadan setelah kedua orang itu duduk bersila berhadapan.


"Anu, Mbah. Mmm, tolong carikan anak saya, Kunto mbah. Kira-kira dia ada dimana, soalnya menurut temannya itu Kunto semalam tidak pulang dan tidak diketahui keberadaannya," terang pak Asep dengan wajah penuh harap.


"Kunto, hilang? Dimana dia berada sebelumnya pak Asep?" tanya mbah Dadan.


"Selama ini Kunto tinggal di rumah temannya namanya Guntur di Bandung Mbah. Rumahnya ada di da.."


"Cukup pak Asep!" sergah mbah Dadan memotong kalimat pak Asep.


Mbah Dadan kemudian mengambil batu sebesar ujung jari manis dari sebuah pelastik diatas meja. Lalu batu berwarna coklat itu di masukkan ke dalam pedupaan di hadapannya. Seketika asap menyembul keatas keluar dari pedupaan dan menebarkan bau kemenyan yang sangat kuat.


Pak Asep berusaha menahan batuknya karena tak tahan dengan bau menyengat kemenyan serta asap yang terhirup. Nampak mbah Dadan memejamkan matanya sambil mulutnya komat-kamit dengan mengangkat kedua tangannya diatas pedupaan.

__ADS_1


Tiba-tiba wajah mbah Dadan nampak terkejut. Dahinya berkerut dalam-dalam, raut wajahnya seperti melihat pemandangan yang mengerikan. Melihat ekspresi mbah Dadan tersebut membuat pak Asep cemas, namun ia hanya menunggu mbah Dadan selesai ritual.


"Aakhhh!" pekik mbah Dadan tiba-tiba.


"Kemapa mbah?!" Ada apa?!" Sergah pak Asep kian cemas.


Mbah Dadan membuat gerakkan mengusap-usap matanya seolah-olah membuang sesuatu dari pandangannya. Pak Asep terus memperhatikan penuh dengan perasaan campur aduk tak menentu, namun ia hanya berharap Kunto dapat ditemukan keberadaannya.


"Kunto berada di suatu tempat pak Asep," ucap mbah Dadan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Suatu tempat dimana mbah?!" sela pak Asep.


"Saya sendiri tidak begitu jelas tempat apa itu, tapi sepertinya Kunto berada di alam lain," ungkap mbah Dadan.


"Alam lain?! Maksudnya Kunto sudah meninggal gitu?!" sergah pak Asep kian panik.


"Bu, bbbu bukan meninggal pak Asep, Kunto sepertinya ada yang membawanya ke alam gaib," ujar mbah Dadan.


"Hah?!" pak Asep membelalakkan kedua matanya mendengar penjelasan yang jauh dari perkiraannya.


"Apakah Kunto bisa kembali lagi mbah?!" sambung pak Asep.


"Ya, ya ya... bisa tapi..... nampaknya sangat sulit pak Asep," ujar mbah Dadan.


Mbah Dadan nampak menyunggingkan senyumannya, lalu ia mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata, "Antarkan saya di tempat sebelum Kunto hilang pak Asep!" tegas mbah Dadan.


......................


Bandung,


Guntur turun dari mobilnya yang di parkir di tempat khusus bertuliskan 'Parkir Boss'. Pak Agus, petugas satpam langsung menghampiri Guntur yang sedang berjalan kearah depan bukannya masuk ke dalam kantor.


"Punten, pak Guntur. Ada yang bisa saya bantu pak?" songsong Satpam Agus.


"Terima kasih pak Agus, untuk saat ini tidak ada. Saya mau ke kiosnya pak Suro, makasih ya silahkan kembali bertugas," ucap Guntur sambil terus melangkah sedikit tergesa-gesa.


Satpam Agus pun hanya melongo memandangi Guntur yang berjalan didepannya penuh tanda tanya karena ia melihat raut wajah bossnya seperti sedang ada masalah. Tetapi Guntur tidak meminta bantuannya.


"Kenapa pak boss ya?!" ucap Satpam Agus dalam hati sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


Suasana kota Bandung menjelang ashar terasa sejuk meski sinar matahari begitu terang menyinari tubuh Guntur yang berjalan keluar gerbang kantor. Guntur menengok ke aebelah kirinya nampak di kios buku loak pak Suro sedang ada beberapa pengunjung. Tiga orang perempuan memakai seragam SMA dan dua orang pria dan wanita berpenampilan seperti mahasiswa tengah melihat-lihat buku sambil duduk di kursi plastik.


Pak Suro sedang meladeni penginjung yang menanyakan judul buku-buku saat Guntur memasuki kiosnya, sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Guntur yang langsung masuk lalu duduk di sebelahnya.


"Astagfirullah, sudah lama Gun?!" ucap pak Suro terkaget-kaget tiba-tiba seseorang duduk di sampingnya.


"Hehehehe... baru sampe pak, ramai hari ini pak?" tanya Guntur basa-basi.


"Yah alhamdulillah Gun, hari ini lumayan nggak pernah sepi dari pagi," sahut pak Suro sambil memberikan sebuah buku yang di tunjuk salah satu pengunjungnya.


"Syukurlah... Adi gimana sekolahnya pak?" tanya Guntur.


"Mas, punten ambilin buku yang itu dong," suara perempuan berseragam SMA tiba-tiba memotong percakapan Guntur dan pak Suro.


"Yang ini neng?" Guntur menunjuk salah satu buku novel di sebelah kanannya.


"Muhun itu mas," sahut perempuan berseragam SMA itu sambil tersenyum genit.


Setelah beberapa saat lamanya satu persatu pengunjung kios itu pergi. Kini tinggal Guntur dan pak Suro di dalam kios.


"Ada apa Gun? kelihatannya kamu lagi ada masalah," ucap pak Suro setelah pengunjung terakhir pergi.


"Iya pak, jadi begini..."


Guntur menceritakan tèntang Kunto yang menghilang dari rumahnya. Ia menceritakan semuanya pada pak Suro sebatas yang dia dan mamahnua tahu karena hari itu ia sendiri sama sekali belum bertemu Kunto.


Pak Suro mengerutkan keningnya, ia mencoba menafsirkan keterangan Guntur. Bermacam-macam dugaan bermunculan di dalam kepalanya namun entak kenapa dari sekian banyak dugaan itu pikirannya tertuju pada Genderuwo.


"Nanti habis magrib bapak ke rumah Gun," ujar pak Suro.


Tiba-tiba terdengar suara dering hape di saku celana Guntur sehingga ucapan pak Suro pun terhenti. Guntur segera merogoh hapenya lalu melihat sekilas nama kontak si penelpon.


"Pak Asep?!" Seketika wajah Guntur berubah harap-harap cemas namun penuh dengan harapan dapat kabar Kunto di temukan.


"Hallo, assalamualaikum pak Asep," jawab Guntur.


xxxxxxx...


"Oh, ya ya pak, mangga, mangga... Di tunggu ya pak," ucap Guntur menutup telpknnya.

__ADS_1


"Ya sudah pak, kebetulan bapaknya Kunto juga mau ke rumah. Katanya membawa orang pintar juga," kata Guntur.


......................


__ADS_2