
Lalu lintas jalan Dago atas tak sepadat jalan Ir. H. Juanda, kendaraan-kendaraan yang melintas di dominasi mobil-mobil dari luar Bandung. Maklum saat-saat hari libur akhir pekan wilayah Dago ini menjadi salah satu destinasi wisata bagi para penikmat liburan. Di wilayah ini ada beberapa tempat wisata yang selalu ramai di kunjungi wisatawan, salah satunya adalah goa Belanda dan goa Jepang. Kedua goa tersebut merupakan tempat bersejarah peninggalan masa penjajahan Belanda dan Jepang yang berada di dalam satu kawasan.
Mobil yang di setiri Kunto sudah memasuki daerah Dago atas dengan jalanan sedikit menanjak.
“Dimana Gun rumahnya?” tanya Kunto.
“Pelan saja Kun, dikit lagi. Ambil lajur kiri aja,” ujar Guntur sambil melihat lokasi rumah melalui GPS di hapenya.
“Lokasi tujuan anda telah sampai.” Terdengar suara wanita operator dari Google maps.
“Stop, stop Kun,” seru Guntur.
Kunto meminggirkan mobil menunggu petunjuk selanjutnya, sementara Guntur langsung menelpon rekan bisnis yang hendak menjual rumah itu.
“Hallo, Dan... aku sudah ada di... di depan toko kelontong, toko Fajar ya toko Fajar,” kata Guntur sembari celingukkan melihat keluar jendela mobil.
“Oh, rumah yang di sebelahnya? Berarti kita maju lagi nih? Oke, oke,” ucap Guntur menyudahi telponnya.
"Di depan Kun, maju dikit lagi ada pagar besi warna cokelat," ujar Guntur pada Kunto.
Kunto pun melajukan mobilnya pelan-pelan sambil memperhatikan rumah-rumah di deretan sebelah kiri, "Ini kayaknya Gun," ujar Kunto.
"Iya, betul Kun. Itu si Daninya," sahut Guntur.
Tin.. tiin...!
Kunto membunyikan klakson untuk memberikan tanda sapaan kepada seorang pria berusia lebih tua sedikit dari Guntur sekitar 35 tahunan yang berdiri di depan pagar besi berwarna cokelat.
Pria bernama Dani itu melambaikan tangannya dan memberikan kode untuk memasuki pagar besi itu. Halaman rumah yang ditumbuhi rumput Jepang itu nampak cukup luas dan masih bisa menampung sekitar 3 mobil.
Tanaman-tanaman hias tertata rapih membentuk taman kecil. Beberapa pohon palm menjulang berjajar di sudut dan pinggir-pinggir pagar yang mengelilingi rumah.
Baru saja Kunto mematikan mesin mobil, ketika hendak turun tak sengaja matanya melihat sosok perempuan memakai gaun merah berdiri di bawah pohon palm di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Astagfirullah al’azim!” pekik Kunto tertahan, kemudian mengucek-ngucek matanya.
Sosok perempuan bergaun merah itu masih ada di sana. Matanya menatap lekat-lekat memperhatikan Kunto. Kunto merasa bergidik dibuatnya, bulu kuduk di tubuhnya langsung meremah. Lalu buru-buru Kunto melangkah menyusul Guntur yang nampak sedang berbincang-bincang dengan pria bernama Dani itu.
“Kenapa sih Kun, muka lu tegang gitu!” kata Guntur mengerutkan keningnya.
“A, anu, itu... mmm, kebelet!” jawab Kunto ngeles.
“Oh, mari-mari kesitu aja mas. Tuh di kamar ujung itu,” sela Dani sambil menunjuk bangunan kecil di samping garasi.
Deg!
Jantung Kunto serasa berhenti berdetak. Kamar toilet yang di tunjukkan Dani berada tidak jauh dari sosok perempuan bergaun merah.
“Ha, hhha, hatur nuhun pak,” balas Kunto gugup kemudian segera berlalu dari hadapan Guntur dan Dani dengan terpaksa.
Kunto kembali melirik ke tempat dimana wanita bergaun merah itu berdiri. Tapi buru-buru Kunto mengalihkan pandangannya lagi ke tempat lain.
“A,,anu, pak, maaf kalau orang yang berdiri disitu itu siapa pak?” Tanya Kunto.
“Mana?!” Tanya Dani dan Guntur bersamaan.
“Itu berdiri di bawah po...,” ucapan Kunto terhenti, ia memelototkan matanya ternyata perempuan bergaun merah itu memang sudah tidak ada di tempatnya semula.
Dani dan Guntur saling berpandangan heran melihat tingkah Kunto. Dan beberapa saat suasana senyap lalu Guntur memecah kekakuan suasana.
“O iya Dan, kenalin ini Kunto teman saya. Kun kenalin ini Dani, boss deller mobil-mobil mewah,” kata Guntur.
“Ah, bisa aja lu Gun,” timpal Dani, kemudian menjabat uluran tangan Kunto.
“Ya udah masuk-masuk yuk,” ujar Dani.
Kunto masih terlihat bengong, sesekali melihat ke tempat wanita itu dilihatnya. Tapi memang wanuta bergaun merah itu tidak ada. Kunto sangat penasaran dibuatnya, jelas-jelas wanita itu memeprhatikannya terus sejak turun dari mobil.
__ADS_1
“Aneh, lagian kenapa saya bisa melihat penampakkan ya,” batin Kunto.
Kunto merasa heran dan tidak mengerti kenapa bisa melihat penampakkan mahluk halus dan baru kali ini dia mengalaminya. Kunto bergegas menyusul Guntur dan Dani masuk ke dalam rumah.
"Kok sepi, anak dan istrimu kemana Dan?" tanya Guntur duduk di kursi sofa ruang tamu yang cukup luas.
"Mereka ada di Jakarta, sebetulnya kami sudah pindah sejak dua bulan yang lalu Gun. Yah, inilah kehidupan rodanya sedang berputar, hehehe..." jawab Dani tersenyum hambar.
"Sabar aja Dan, mungkin yang kamu alami sekarang bisa menjadi pelajaran dan ambil hikmahnya saja. Atau bisa jadi musibah ini sebagai teguran dari yang Maha Kuasa. Bisa jadi besok-besok rezekinya akan di ganti yang lebih besar lagi," ujar Guntur.
"Hikmahnya sih sudah jelas Gun, ketika kita dipercaya seseorang kita harus menjaga kepercayaan orang itu. Tidak seperti si borokokok Juan itu, hingga membuat saya hancur gini," ungkap Dani.
Guntur hanya mengangguk-anggukan kepalanya, ia memahami emosi yang di rasakan Dani. Kemarin Dani datang menemui Guntur di kantor dan menceritakan musibahnya pada Guntur kalau dirinya habis tertipu habis-habisan oleh orang yang bernama Juan. Mobil mewah merk terkenal asal pabrikan Itali yang di ordernya pada Juan tidak pernah datang.
Kala itu Dani tidak berpikir curiga dengan mobil impor yang di tawarkan Si Juan dengan harga murah yaitu setengahnya dari harga jual yang sebenarnya. Sehingga Ia langsung saja tergiur dan memesan 20 unit secara cash.
Sampai dengan waktu pengiriman yang di janjikan Si Juan tiba, nyatanya tidak ada barang impor satupun yang masuk ke dellernya. Dani mencoba menghubungi Si Juan lagi namun telpon selulernya tidak pernah aktif. Dia datangi kantornya, ternyata sudah tidak di tempati lagi dan parahnya di kantor itu Si Juan hanya ngontrak dan itupun bermasalah dengan pemilik gedungnya karena belum melunasi uang sewa. Dari uang kontrak 100 juta baru di bayar 10 juta oleh Si Iwan.
"Berapa kira-kira kamu lepas rumah ini Dan?" tanya Guntur sekaligus membuyarkan cerita musibah Dani.
"Saya hanya butuh 1 M saja Gun, biar cepat jadi duit buat memulai usaha lagi," ungkap Dani.
"Luasnya berapa sih ini Dan?" tanya Guntur lagi.
"Luas keseluruhannya sih hampir dua ratus meter persegi dan rumah ini type 54 Gun," jawab Dani kemudian beranjak mengambil surat-surat akte tanah.
Kalau di lihat-lihat luas dan bangunannya nyaris sama besarnya dengan rumahnya. Hanya saja bangunan ini arsitekturnya lebih modern. Guntur memang sangat tertarik dengan rumah tersebut dan ia merasakan ada kenyamanan di rumah itu.
Sepeninggal Dani dari ruang tamu, Kunto berbisik-bisik pada Guntur, "Yakin kamu mau beli rumah ini Gun?"
"Yakinlah, situasinya enak Kun nggak terlalu bising, kenapa Kun?" Guntur balik tanya sesikit keheranan.
Baru saja Kunto hendak mengatakan sesuatu, Dani sudah muncul kembali ke ruang tamu sambil menenteng map plastik transparan berisi kertas-kertas dokumen.
__ADS_1
......................