
Selepas sholat isya, Haji Abas, ustad Yusuf, ustad Ikhwan, ustad Jalal dan ustad Hadi berkumpul di ruang tengah. Ruangan tengah yang luas itu yang dulunya terdapat barang-barang elektronik seperti tape rekorder, DVD, televisi besar atau pun speaker aktif kini tidak ada satupun barang disana sehingga tampak lenggang dan semakin menambah luas saja ruangan itu.
Haji Abas dan keempat ustad duduk membentuk lingkaran saling berhadapan. Sesuai rencananya malam ini akan melakukan interaksi dengan mahluk yang mendiami pohon beringin atau lebih tepatnya mencoba melakukan negosiasi.
Haji Abas nampak berkomat-kamit dengan mata terpejam rapat sambil duduk bersila, sedangkan ustad Ikhwan dan kawan- kawan hanya memperhatikan saja menunggu hasil pengkoneksian Haji Abas dengan mahluk penunggu pohon beringin yang tak lain adalah Karbala. Sesaat kemudian, Haji Abas dan empat ustad mendengar suara siuran angin datang dari atas masuk ke dalam ruangan tersebut. Mula- mula terasa hembusan angin dari suara siuran tersebut kecil tetapi semakin lama semakin santer menerpa tubuh Haji Abas dan empat ustad itu.
Bersamaan dengan terpaan angin yang membesar tiba-tiba angin itu lenyap lalu muncul sesosok tubuh hitam dipenuhi bulu-bulu lebat disekujur tubuhnya. Kedua matanya menyorot merah menatap tajam kearah Haji Abas dan ke empat ustad, dari kedua sudut mulutnya mencuat taring berwarna putih yang berkilat diterpa cahaya lampu ruangan.
Keempat ustad terkesiap kaget bukan main, mereka kontan tersurut mundur dari tempat duduknya. Tetapi mereka semua kompak menahan pekikan dengan menutup mulutnya secara reflek. Wajah empat ustad memucat dengan mata membelalak melihat rupa seramnya Karbala. Lain halnya dengan Haji Abas yang tidak menunjukkan respon apapun karena kedua matanya masih dalam posisi terpejam. Meski begitu, Haji Abas dapat merasakan kehadiran mahluk lain di ruangan itu.
“Ustad dia sudah datang, apa kalian melihatnya?” tanya Haji Abas tanpa membuka matanya.
Ustad Yusuf, ustad Ikhwan, ustad Jalal dan ustad Hadi tercekat dengan tubuh gemetar memandangi sosok Karbala. Ingin menjawab pertanyaan Haji Abas, akan tetapi lidahnya seakan kelu tercekat di kerongkongan. Hanya sepasang mata mereka yang memelototi sosok mahluk berwujud Genderuwo yang berdiri persis di belakang Haji Abas.
Haji Abas yang merasa pertanyaannya tidak kunjung mendapat jawaban dari empat ustad pun mengulanginya lagi penuh dengan tanda tanya didalam hatinya.
“Ustad dia sudah datang, apa kalian melihatnya?” tanya Haji Abas lebih keras.
Di tunggu beberapa saat namun tak juga ada jawaban dari empat ustad tersebut sehingga membuat tanda tanya besar di dalam hati Haji Abas sekaligus dibuat penasaran. Haji Abas seketika membuka matanya, ia melihat keempat ustad itu sedang menutupi wajahnya masing-masing dengan telapak tangannya rapat-rapat. Tubuh ustad- ustad itu nampak terlihat gemetaran, Haji Abas semakin dibuat kebingungan tak mengerti sehingga ia celingukan untuk mencari tahu penyebabnya. Akan tetap Haji Abas tidak menemukan apapun di sebelah kanan dan kirinya.
“Ustad, hei ada apa?! Kenapa ustad?!” seru Haji Abas sambil menepuk-nepuk ujung lutut ustad Ikhwan.
Ustad Ikhwan berjingkat hingga nyari lari, ia kian ketakutan ketika lututnya di sentuh Haji Abas. Haji Abas buru-buru menahan ustad Ikhwan dan menenangkan tiga ustad lainnya.
“Ustad ada apa?! Tenang, tenang! Istigfar, kenapa ustad?!” sergah Haji Abas dengan sedikit menekankan suaranya.
__ADS_1
Perlahan-lahan ustad Ikhwan mengintip membuka matanya dan melihat situasi di hadapannya dari sela-sela jari- jarinya. Rupanya hal serupa juga di lakukan oleh tiga rekannya yang lain. Diawali oleh reaksi ketakutan ustad Ikhwan yang langsung mengangkat tangannya menunjuk lurus kearah belakang Haji Abas sambil memalingkan wajahnya tak mau melihat.
Haji Abas spontan mengikuti arah telunjuk yang diacungkan ustad Ikhwan, ia menolehkan kepalanya kebelakang.
“Astagfirullahal’azim!!!” pekik Haji Abas sembari reflek melompat dari duduknya.
Tubuh Haji Abas menimpa tubuh ustad Ikhwan yang berhadapan lurus dengan duduknya hingga ustad Ikhwan jatuh terjengkang kebelakang tertimpa tubuh besar Haji Abas. Sesaat kemudian Haji Abas buru-buru membetulkan posisinya untuk kembali duduk dan berusaha meredam keterkejutannya. Ia benar-benar tak mengira akan melihat sesosok yang sangat menyeramkan langsung di depan matanya.
Perlahan-lahan Haji Abas mulai bisa kembali tenang dan menguasai keadaannya. Mesaki pun bukan pertama kalinya melihat wujud mahluk halus yang menyeramkan itu, tetapi baru kali ini Haji Abas melihatnya secara jelas dan dengan jarak yang begitu dekat hanya satu meteran di hadapannya. Haji Abas bergidik ngeri juga melihat wajah merah sosok Genderuwo yang di penuhi oleh bulu-bulu lebat itu. Wajah mahluk itu semakin terlihat sangat menyeramkan dengan adanya dua taring yang mencuat di kedua sudut mulut Genderuwo itu. Tak dapat di pungkiri Haji Abas sendiri merasakan ngeri menatap sosok genderuwo tersebut, namun sekuat-kuatnya Haji Abas berusaha menyingkirkan rasa ketakutannya dengan membaca-baca penggalan ayat-ayat suci Al Quran.
Karbala menggerakkan kedua tangannya yang besar dengan menyilangkannya di depan dada. Dia merasakan ada hembusan hawa panas yang mengalir menerjang tubuhnya. Hawa panas itu datang dari tubuh Haji Abas yang terlihat komat- kamit tak henti mengggerakkan bibirnya. Merasa mendapat ancaman, Karbala mendengus geram, ia memelototkan matanya kearah Haji Abas yang mengeluarkan hawa panas. Karbala mengangkat tangannya tegak lurus keatas sambil terkepal erat, lalu dengan satu hentakkan marah, Karbala menghujamkan kepalan tangannya seperti gerakan memantek ke kepala Haji Abas.
Untungnya Haji Abas tidak sepenuhnya memjamkan mata, ia hanya menyipitkan matanya sehingga samar-samar melihat gerakkan serangan dari sosok Genderuwo yang menhujam diatas kepalanya. Haji Abas sepontan bergerak merentangkan kedua tangannya dan mendorong keras untuk melindungi ustad Ikhwan, ustad Jalal, ustad Sofyan dan ustad Hadi hingga membuat mereka semua terjengkang kebelakang.
Hujaman kepalan tangan Karbala pun hanya mengenai tempat kosong. Karbala semakin dibuat kesal, sepasang mata merahnya nampak berkilat kian marah menatap Haji Abas dan empat ustad yang bergelimpangan didepannya.
Sontak saja empat ustad itu langsung melaksanakan perintah Haji Abas karena tidak ada pilihan lain yang dilakukan oleh mereka. Diawali dengan membaca ayat Kursi secara berbarengan dengan suara berat dan bergetar ketakutan,
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim”
Karbala yang mendengar geremangan bacaan ayat Kursi sesaat mengernyitkan dahinya dalam-dalam, tetapi sesaat kemudian dia menyeringai sambil tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahahaha....”
“Hahahahahaha....”
__ADS_1
“Hahahahahaha....”
Suara sember dan besar dari mulut Karbala semakin membuat Haji Abas dan empat ustad bergidik ngeri. Bacaan- bacaan ayat- ayat Al Quran yang di kumandangkan oleh Haji Abas dan keempat ustad itu terdengar menjadi tergagap-gagap dan kacau sehingga tidak ada pancaran energi apapun yang di rasakan oleh Karbala dari bacaan-bacaan tersebut.
Karbala kembali membuat halauan, dia membuat gerakan menyerang. Kedua tangannya yang besar dan berbulu lebat di dorongkan kearah Haji Abas dan ke empat ustad di depannya.
Haji Abas merasakan bahaya dari hembusan angin yang menyongsong tubuhnya dan empat ustad itu datang dari sosok genderuwo. Haji Abas melihat hawa negatif terpancar dari udara yang datang kearahnya.
Haji Abas segera membuka mulutnya sepertinya hendak membaca amalan untuk menghadapi hawa negatif yang menyerangnya, namun sayangnya sebuah hantaman lebih dulu menyambarnya.
Buuugghhh..!!!
Buuugghhh..!!!
Suarara bergedebugan diatas lantai dan dinding terdengar dengar keras. Tubuh Haji Abas terpental hingga terdorong menghantam keempat ustad yang duduk di belakangnya membuat salah satu ustad terpelanting menghantam tembok ruang tengah dengan keras.
Haji Abas terbatuk-batuk beberapa saat lalu memuntahkan seteguk darah diatas lantai keramik. Lelehan cairan merah kehitaman nampak mengotori sekitar bibir dan dagunya.
"Hahahahahahaha....!!!"
"Hahahahahahaha....!!!"
"Hahahahahahaha....!!!"
"Menyingkir dari sini...! atau...!?" sentak Karbala dengan suara menggelegar, kemudian lenyap di hadapan Haji Abas dan keempat ustad tersebut.
__ADS_1
......................