
Guntur berpikir keras tentang sesuatu yang mustahil terjadi di hadapannya itu. Seketika terlintas di benaknya dengan kejadian yang nyaris sama dengan pohon beringin di belakang rumahnya dulu. Pohon beringin itu gagal di tebang karena orang yang menebangnya mendapat celaka.
"Mm, pak Toro coba cari orang pintar warga di sekitar sini, yang ustad jangan dukun ya pak," kata Guntur setelah hening beberapa saat.
"Baik pak," sahut Toro kemudian mrlambaikan tangannya pada salah satu bawahannya.
"Pak Heri tolong carikan orang pintar ya, yang ustad jangan dukun," kata Toro meneruskan permintaan Guntur.
"Kenapa jangan dukun pak?" sergah pak Heri tanda tanya.
"Sudah cari aja ustad dulu, ya pak Guntur?!" kata Toro kemudian menoleh meminta persetujuan Guntur.
"Iya pak, cari ustad dulu. Kalau sekiranya nggak ada yang sanggup bolehlah dukun juga," sahut Guntur.
Guntur lebih mempercayai ustad atau kiyai ketimbang seorang dukun. Sebab menurutnya, berdasarkan pengetahuannya dari buku- buku jualannya pak Suro yang di bacanya kalau dukun kebanyakan ngibul. Selain itu akan di repotkan oleh permintaan syarat- syarat untuk sesaji dan segala macamnya.
Pak Heri pun berlalu dari hadapan Toro dan Guntur. Lalu Toro mengajak Guntur untuk berteduh di mess yang tak jauh dari lokasi dimana mobil Guntur di parkir sebelumnya.
"Mari kita ke mess, minum dulu pak." ajak Toro pada Guntur.
"Mari, mari..." sahut Guntur kemudian beranjak mengikuti langkah Toro.
Semilir ngin sore hari cukup spoy-spoy berhembus menerpa Guntur, Hafizah dan Toro yang duduk di kursi teras mess. Di hadapan mereka terdapat potong drum yang di jadikan sebagai meja.
"Pak Guntur dan ibu Hafizah mau minum apa? kopi teh botol atau air mineral?" Toro menawari Guntur dan Hafizah.
"Saya ikut mas Guntur aja pak," sahut Hafizah.
"Pak Guntur?" tanya Toro.
"Mm, es teh botol aja pak," timpal Guntur.
Toro masuk ke dalam mess untuk mengambil minuman yang di pesan Guntur. Di dalam mess dimana Toro tinggal selama penggarapan proyek perumnas tersebut sudah menyediakan minuman seperti yang di tawarkan Toro sebelumnya yang di simpannya di dalam kulkas sehingga tidak repot- repot lagi mesti pergi mencari warung.
Tak lama kemudian Toro sudah kembali membawa 3 buah teh botol beserta gelas yang sudah terisi es batu. Sambil menunggu orang pintar datang, obrolan seputar pengerjaan proyek pun mengalir santai. Sesekali Guntur menganggukkan kepalanya ketika ada sesuatu hal yang baru ia ketahui tentang teknis pengerjaannya yang di jelaskan Toro.
__ADS_1
Guntur tersenyum puas mendengar semua penjelasan dari Toro yang secara keseluruhan tidak ada kendala apapun terkecuali soal pohon tua tersebut yang sedikit menghambat dalam pengerjaannya.
Sekitar 30 menit kemudian, pak Heri datang mengendarai sepeda motor dengan membonceng seorang lelaki paruh baya berhenti di depan mess. Dari penampilannya yang mengenakan kopyah dan sarung, lelaki yang di boncengan itu sepertinya seorang ustad.
“Assalamualaikum...” ucap pak Heri diikuti pria patuh baya.
“Wa ‘alaikum salam,” sahut Toro, Guntur dan Hafizah bersamaan.
“Mari silahkan, silahkan pak...” sambung Toro mempersilahkan duduk.
“Ini ustad Sihab pak,” kata Pak Heri mengenalkan ustad pria paruh baya tersebut.
“Sihabudin... Sihabudin... Sihabudin...” ucap ustad Sihab mengenalkan dirinya sambil menyalami satu persatu kemudian duduk di seberang meja di hadapan Guntur.
“Gini pak...” kata Toro menjelaskan maksud dan tujuannya meminta bantuan ustad Sihab terkait pohon asam yang sukar untuk di rubuhkan.
Ustad Sihab menggut- manggut memahami apa yang menjadi persoalan utamanya. Ia terdiam menutup matanya sejenak sepertinya melakukan interaksi atau hanya sekedar melihat pohon asam itu dengan penglihatan mata batinnya.
Guntur dan yang lainnya hanya memperhatikan ustad Sihab menunggu penjelasannya dengan rasa penasaran ingin mengetahui apa yang menjadi penyebab pohon itu tidak bisa di robohkan.
“Astagfirullah!” pekik ustad Sihab.
“Ada apa pak?” sergah Guntur penasaran.
“Saya melihat ada sesosok mahluk berwujud ular besar yang mendiami pohon itu pak,” jawab ustad Sihab dengan suara sedikit bergetar.
“Hah?!” semuanya terkesiap kaget.
Guntur dan Hafizah sebagai anak muda yang hidup di jaman modern sangat terkejut dengan hal- hal yang berbau gaib. Otaknya berputar secara rasional antara percaya dan tidak dengan ucapan ustad Sihab. Secara kasat mata pohon asam itu terlihat biasa-biasa saja tidak ada yang ganjil. Akan tetapi jika mengingat kejadian Buldozer tidak bisa menggoyahkannya sedikit pun, mau tidak mau Guntur harus mengakui adanya peran campur tangan mahluk tak lasat mata.
“Kira- kira dapat diatasi nggak ustad?” tanya Guntur.
Ekspresi wajah Ustad Sihab berangsur- angsur kembali tenang, lalu menjawab; “Insya Allah pak, saya akan coba.”
Tulikiiit... tuliliiiiit... tuliliiit....
__ADS_1
Suara nada dering panggilan handpone milik Guntur berbunyi membuat Guntur mengurungkan ucapannya lebih lanjut, lalu merorog saku celanya mengambil handpone.
“Hallo, wa’ alaikum salam...” jawab Guntur menerima telpon.
“Ya mah?” sahut Guntur.
Beberapa saat kemudian dahi Guntur mengerut dalam- dalam, wajahnya yang tenang berubah menjadi tegang. Sementara Hafizah yang duduk di sebelahnya ikut cemas melihat perubahan Guntur.
“Iya, iya Mah. Saya segera pulang.... Wa’ alaikum salam...” Guntur pun menyudahi sambungan telponnya.
Wajah Hafizah dan yang lainnya diliputi tanda tanya melihat Guntur berubah cemas setelah menerima telpon.
“Ada apa mas?!” tanya Hafizah penasaran begitu Guntur menutup telponnya.
“Mamah tiba- tiba sakit, Neng,” jawab Guntur singkat.
“Kalau begitu, saya minta tolong ustad ya untuk mengatasi pohon itu. Dan pak Toro saya harus kembali ke Bandung sekarang ada hal urgen disana,” kata Guntur pada Toro dan ustad Sihab.
"Iya pak Guntur," jawab Toro.
"Insya Allah pak, insya Allah." timpal ustad Sihab.
Guntur pun kemudian pamitan terpaksa harus kembali ke Bandung. Rencana semula menginap beberapa malam di Jepara sampai kendala di lapangan beres pun terpaksa di batalkannya.
......................
30 menit sebelumnya, di halaman samping rumah, Karmila sedang menata pot- pot koleksi tanaman barunya berjenis Anggrek merah. Tiba- tiba datang desiran angin membentuk pusaran kecil menyelimuti tubuh Karmila hingga membuatnya limbung, ia merasakan seakan- akan tanah pijakkannya bergoyang- goyang. Sekop kecil di genggamannya pun reflek dilempatkannya lalu segera meraih batang pohon palm.
Karmila terdiam berdiri berpegangan pada batang pohon Palm di dekatnya, matanya dipejamkan rapat- rapat. Ia merasakan kepalanya seperti berputar- putar pening, dadanya tiba- tiba terasa sesak dan panas tanpa di ketahui sebabnya.
Karmila berusaha bertahan memegang erat- erat batang pohon Palm agar tubuhnya tidak ambruk jatuh ke tanah. Situasi itu berlangsung sekitar 15 menitan tanpa bisa berbuat apapun dan selama itu pula ia merasa tak ubahnya seperti sebuah siksaan yang sangat menyakitkan di sekujur tubuhnya.
Kepada siapa dirinya meminta tolong karena di rumah itu hanya ada dia sendiri, sementara Kunto sedang ada kegiatan di kampusnya. Yang dilakukan Karmila hanyalah sekuat- kuatnya bertahan untuk tetap tersadar tidak jatuh pinsan.
Di saat- saat kesadarannya diambang batasnya, guncangan dan pusaran angin yang menyelimuti tubuh Karmila itu seketika menghilang dengan sendirinya. Karmila jatuh terduduk dengan tubuh lemas dibawah pohon Palm. Ia menyandarkan punggungnya di batang pohon itu, matanya perlahan- lahan terbuka. Rasa panas dan sesak di dadanya pun berangsur- angsur hilang begitu juga dengan rasa berat dan pening di kepalanya.
__ADS_1
Setelah kepalanya tak lagi berasa pusing, perlahan Karmila bangkit menyudahi aktivitasnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Didalam pikirannya hanya satu, yakni "Guntur".
......................