
Haji Abas dihadapkan pada situasi yang paling sulit. Dalam dilema yang benar- benar harus membuatnya berpikir 1000 kali dalam melakukan serangan langsung, sebab yang dihadapinya adalah tubuh seorang anak kecil bukan murni wujud dari Genderuwo.
Akibatnya akan sangat berbahaya bahkan bisa fatal apabila amalannya yang paling kuat itu dihantamkan pada tubuh Arif.
Mungkin mahluk gaib yang bersemayam di dalam tubuh Arif bisa keluar, akan tetapi efek hantaman dari kekuatan amalan itu akan memberikan rasa sakit yang membekas di tubuh anak kecil itu.
Beberapa saat haji Abas berpikir keras, yang ada dipikirannya hanyalah satu yakni mengeluarkan genderuwo itu dari tubuh Arif tanpa mencederai atau melukai Arif.
Disaat yang bersamaan ustad Ikhwan muncul bersama ustad Jalal. Haji Abas pun segera memerintahkan dua orang ustad itu untuk meringkus dan mengunci tubuh Arif yang masih menggerak- gerakan tubuhnya dengan liar.
Mulutnya terus saja menyeringai mengeluarkan geraman yang bukan suaranya sendiri dengan tangan merentang dikedua sampingnya.
Ustad Jalal dan ustad Ikhwan langsung bergerak menangkap tangan anak kecil itu. Namun Arif nampaknya berontak tak mau kedua tangannya diringkus.
Arif menghentakkan kedua tangan yang sudah berhasil dicèngkeram ustad Ikhwan dan ustad Jalal dengan sekali hentak.
Bruuugghhh!
__ADS_1
“Aduh!” pekik kedua ustad bersamaan.
Kedua badan ustad Ikhwan dan ustad Jalal terhentak kedepan saling bertabrakkan. Lalu badan kedua ustad itu jatuh terjengkang saking kerasnya benturan.
Sangat diluar akal sehat, bagaimana bisa badan Arif yang 3 kali lipat lebih kecil dari kedua badan ustad itu mampu menghempaskan pemuda dewasa?
Tentu saja bisa, sebabnya kekuatan gaib yang merasuki tubuh Arif itulah yang menggerakkan kekuatan sepenuhnya. Sehingga kekuatan tenaga kasar dua orang dewasa itu dengan entengnya di hempaskan.
Haji Abas tercengang menyaksikan dua ustad pembimbingnya berjatuhan diatas lantai. Ia langsung bergerak maju hendak memposisikan dirinya untuk mengeluarkan mahluk gaib dari dalam badan Arif.
“Ingat! Pergi dari sini atau mati! Hahahaha... hahaha... hahaha...”
Getaran suara dari Arif itu membuat Haji Abas tersentak kaget bukan kepalang. Ia bergidik ngeri merasakan aura kemarahan dari ucapan mahluk gaib yang merasuki tubuh Arif.
Setelah mengucapkan peringatan itu, badan Arif langsung terkulai ambruk tak sadarkan diri.
......................
__ADS_1
Kediaman Guntur, 15 menit yang lalu...
Karmila nampak sedang menyirami halam samping rumah. Selang air yang dipegangnya diarahkan dari satu tanaman ke tanaman lainnya secara bergantian.
Udara sejuk daerah Dago berpadu dengan hangatnya sinar matahari pagi menerpa tubuh Karmila. Karmila sangat menikmati kesegaran pagi hari itu, namun tiba- tiba ia merintih sambil memegangi kepalanya.
“Aduh! Kepalaku...” rintih Karmila.
Selang air yang semula berada di genggaman tangan Karmila, langsung saja ia lemparkan. Karmila memegangi kepalanya sambil berusaha mencari tempat untuk duduk.
Sementara di rumah hanya ada Karmila seorang diri. Guntur sudah sejak jam 7 pagi sudah berangkat ke kantor, sedangkan Kunto baru 15 menit yang lalu berangkat ke kampus.
Karmila terpaksa terduduk diatas rumput, sebab untuk berjalan ke bangku taman rasanya tak sanggup akibat rasa sakit yang tiba- tiba menyerang kepalanya.
Dialam bawah sadarnya Karmila merasakan emosi yang meluap- luap. Tak lama kemudian ia merasa ada hawa panas yang mengantam tubuhnya.
......................
__ADS_1